
Pram merasa tak tenang, saat Dania pergi ke kamar mandi. Pram juga mengikuti Dania, dan ketika melihat Dania dalam bahaya, Pram mencari cara agar bisa menyelamatkan Dania, tanpa melukai Dania dan juga calon anaknya. Pram menelpon Reyhan, begitu ponsel di jawab oleh Reyhan, Pram pun memanggil Chelsea.
" Sea.."
Chelsea yang mendengar suara Pram. Pun bergegas berbalik, tapi tetap dengan mendekatkan pisau di perut Dania.
" Akhirnya kamu disini, Pram."
" Sea, apa yang kamu lakukan? Lepaskan Dania, Sea. Aku mohon."
Pram terus berusaha membujuk Chelsea. Namun Chelsea masih tetap dengan kenekatannya. Reyhan yang mendengar dari ponsel pun segera berlari ke arah dapur. Dan membuat semua orang juga panik, karena Reyhan yang berlari kearah sana. Dan pada akhirnya, semua orang pun melihat ke arah Reyhan berlari.
Kini hampir semua tamu melihat kejadian itu. Bahkan Oma Salma memekik histeris melihat Dania dalam keadaan seperti itu.
" Daniaaaa...."
Begitu juga teman-teman Dania. Tak kalah histeris melihat keadaan Dania.
" Usir mereka semua...cepat, atau aku akan melukai istri dan calon anakmu. Kamu bisa pilih."
Akhirnya tamu yang hadir pun di minta untuk pergi dari rumah itu. Kini hanya tinggal Reyhan, Riko, ketiga temannya dan seluruh keluarga. Pram lagi-lagi masih membujuk Chelsea agar segera melepaskan Dania. Sedangkan selama membujuk Chelsea, Reyhan mencoba mencari jalan lain untuk menyelamatkan Dania.
Reyhan memutar bagian belakang, dan dengan bantuan tukang kebun keluarga Pram, Reyhan bisa meringsek masuk melalui jalan belakang.
" Sea, aku mohon lepaskan Dania. Aku akan menuruti semua keinginan mu. Tapi lepaskan Dania."
Dania masih di sandera oleh Chelsea pun merasakan perutnya yang sakit. Namun Dania masih berusaha tenang. Agar dirinya tidak terluka, begitu juga dengan calon anaknya. Riko mencoba membujuk Chelsea, bahkan menjanjikan akan memberikan semua yang di inginkan.
" Aku mau kamu menikah denganku, Pram. Aku mencintaimu."
Dania membulatkan matanya. Mendengar permintaan Chelsea. Namun Riko langsung mengiyakan. Membuat Pram membulatkan matanya terhadap Riko.
" Tenang aja, Sea. Nanti gue yang akan menanggung biaya resepsi Lo dan Pram. Bahkan gue yang akan membiayai honeymoon kalian. Lo percaya kan sama gue?"
Pisau di perut Dania mulai sedikit longgar. Karena Chelsea mulai termakan omongan Pram.
" Lo gila ya, Dania istri gue."
__ADS_1
" Gampang kan, ntar Dania pisah aja sama Lo. Biar ntar Dania jadi istri gue. Gimana Sea? Baguskan ide gue."
Namun Riko segera memberi isyarat kepada Reyhan, agar segera membekap Chelsea dari belakang. Dan Pram yang melihat ekspresi wajah Riko langsung paham. Dan terus saja membuat Chelsea merasa di untungkan.
Reyhan dengan gerak cepat, memegang tangan Chelsea yang memegang pisau, dan Chelsea pun langsung memberontak, hingga membuat ujung pisau itu menggores perut Reyhan. Lena langsung histeris melihat perut Reyhan yang mengeluarkan darah, sementara Dania sudah di tarik dari genggaman Chelsea. Dania merasakan perutnya semakin sakit. Karena stres dan kecemasan yang berlebihan membuat Dania merasa kan kontraksi.
Reyhan di bantu Riko dan tukang kebun rumah Pram, langsung membekuk Chelsea. Hingga Chelsea terus berteriak.
" Rey, perut Lo."
Ucap Riko, membuat Reyhan pun sedikit limbung, namun masih di tahan agar Chelsea segera di amankan.
Semua orang panik luar biasa ketika melihat air keluar dari sela-sela kaki Dania. Dania mengalami pecah ketuban. Hingga kini kepanikan semakin menggila. Chelsea tiba-tiba tertawa melihat Dania yang sedang merasakan kontraksi.
Riko dan tukang kebun Pram pun langsung membawa Chelsea ke kantor polisi. Sedangkan Kena langsung berlari memeluk Reyhan. Dan Pram pun panik ,meminta supir untuk segera menyiapkan mobil. Jangan di tanya Fatma dan Oma Salma, kedua wanita beda usia itu, hanya bisa menangis dan berdoa semoga kekacauan ini akan segera berakhir.
" Mas, sakit..."
Ucap Dania saat merasakan kontraksi di perutnya. Sedangkan keringat dingin langsung keluar dari dahi Pram.
" Cepat, Pram. Dania akan segera melahirkan. Bawa kerumah sakit segera."
" Sabar sayang. Kamu pasti kuat. "
Pram terus memberikan semangat pada Dania. Di bagian depan ada Om Robert dan Tejo yang berada di balik kemudi. Sedangkan di mobil lain, ada Tari, Tante Delila, Fatma, Lena serta Reyhan. Lena yang mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, membuat Reyhan yang berada di sampingnya takut bukan kepalang.
" Sayang, pelan-pelan aja bawa mobilnya."
" Gak bisa Kamu harus segera di obati. Aku juga gak mau kita tiba terlambat."
Ketiga wanita yang ada di kursi belakang hanya bisa berdoa, semoga tiba dengan selamat. Di mobil depan, Dania masih terus menggenggam erta tangan Pram. Sedangkan Pram masih terus menyemangati Dania.
" Mas sakit...sssaaaakkiiitt Maaaasssss....."
" Sebentar lagi kita tiba. Jo cepat,..."
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit keluarga. Tejo langsung turun dan membuka pintu untuk memudahkan Pram dan Dania turun. Perawat yang berjaga pun langsung membantu Dania untuk berbaring di atas brankar. Pram terus menggenggam erat tangan Dania. Memberikan dirinya kekuatan.
__ADS_1
Sedangkan mobil yang di kemudikan Lena pun tiba setelah mobil Pram. Para wanita yang ada di bagian kursi belakang pun langsung menghembuskan nafas lega, saat mobil yang di kemudikan Lena selamat sampai di rumah sakit.
" Alhamdulillah, gue masih selamat."
Ucapan Tari mengundang semua orang yang berada di mobil ke arahnya. Tari pun tersenyum kikuk.
Kini mereka semua langsung menuju ruang persalinan. Pram masih menemani Dania yang saat ini masih berada di ruang bersalin. Sedangkan Lena langsung membawa Reyhan menuju ruang IGD.
" Dokter, tolongin calon suami saya, Dok. Cepat Dok."
Lena mengguncang lengan dokter itu. Dan membuat dokter itu membulatkan matanya. Ternyata calon suami yang di maksud Lena adalah Reyhan yang juga dokter di rumah sakit itu.
" Iya Bu, tenang. Kami akan merawat calon suami ibu."
Lena terdiam sesaat. Dan bergumam.
" Calon suami?"
Gumamnya pelan. Sementara Reyhan tersenyum mendengar Lena menyebutnya sebagai calon suami.
" Loh kok ibu bingung, kan ibu sendiri tadi yang bilang kalau dokter Reyhan ini calon suami ibu, bukan begitu dokter Reyhan?"
" Iya dokter Andi."
Lena pun langsung teringat akan luka di perut Reyhan. Dan langsung menyeret Reyhan menuju ranjang di ruangan IGD itu. Dokter Andi membuka kemeja yang di pakai Reyhan. Beruntung luka itu tidak dalam, tak perlu tindakan yang besar. Dokter Andi membersihkan luka itu dan menutupnya dengan perban.
" Cara merawat lukanya sudah paham kan dok? Kalau perlu, ibu itu saja yang merawat dokter selama luka nya belum sembuh."
Dokter Andi menggoda sepasang kekasih ini. Membuat wajah Lena bersemu merah.
.
.
. **Assalamualaikum readers... terima kasih atas dukungannya, tetap like, komen, gift serta vote ya..
Oiya, ikuti terus kisah Dania ya...karena hanya tinggal beberapa episode lagi nih. Tapi jangan dulu di unfav ya...karena setelah ini, akan ada cerita baru juga ..😘😘😍😍😍
__ADS_1
Terima kasih semua...love you all...😍😍😘😘