Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Cinta Bunda Pengganti 67


__ADS_3

Pagi itu, setelah Pram dan Cilla berangkat. Dania datang menemui Fatma, mertuanya.


" Mi, Mami sibuk? Dania mau bicara."


Fatma yang tengah duduk di kamarnya pun, meletakkan majalah yang ada di tangannya.


" Masuk, Sayang. Mami gak sibuk kok."


Dania pun masuk, lalu duduk di hadapan mertuanya itu. Dania memberanikan diri untuk menatap mertuanya.


" Mi... Dania ingin minta izin ke Mami."


Fatma mengerutkan keningnya. Melihat Dania yang meminta izin darinya.


" Minta izin apa, Sayang?"


" Dania ingin tinggal di desa. Dania ingin menenangkan diri, Mi. Rasanya Dania sudah gan sanggup berada di sini lagi. Banyak hal yang membuat Dania berat untuk tetap bertahan, Mi."


Dania akhirnya menangis di hadapan mertuanya. Fatma langsung memeluk menantu yang sudah dianggap putrinya sendiri itu.


" Sayang, Mami akan dukung apapun keputusan kamu. Tapi mami minta, setelah kamu tenang, kembalilah ke rumah ini lagi. Kamu tetap menantu mami. Kamu tetap Bunda nya Cilla."


Dania mengangguk. Fatma yang sadar, bahwa Pram masih di landa kebingungan pun mendukung keputusan Dania. Fatma hanya ingin, Dania tenang, dan kehamilannya berjalan lancar.


" Mami akan meminta Tejo untuk ngantar kamu. Tidak ada penolakan Dania. Mami mohon."


Dania pun tak bisa menolak. Di bantu oleh mertuanya, Dania mengemasi beberapa barang-barang bawaan miliknya. Dania menulis sepucuk surat untuk Pram. Dan juga menulis surat untuk Cilla. Air mata Dania tak berhenti menetes, saat menulis surat untuk Cilla. Karena sebenarnya Dania sangat berat hati meninggalkan Cilla disini. Namun Dania juga perlu menjaga kewarasan nya, agar kehamilannya berjalan dengan semestinya.


Di bantu oleh Tejo, Dania membawa koper miliknya. Fatma selalu mengingatkan Dania untuk terus menghubunginya. Dan juga menjaga kesehatannya. Mereka saling berpelukan, saat Dania akan masuk ke dalam mobil yang akan menghantarkan dirinya ke desa di mana kakek dan neneknya pernah tinggal. Sedangkan mobil Dania di bawa oleh supir yang lain.


Sementara di perusahaan nya, Pram merasa aneh dengan perasaanya yang tiba-tiba saja berubah. Pram ingin segera pulang. Namun adanya meeting penting hari ini membuatnya mengurungkan niatnya. Panggilan ke ponsel milik Dania juga tak mendapatkan respon apa-apa. Pram semakin cemas, saat meeting berlangsung pun, Pram tak bisa konsentrasi dengan semua penjelasan yang di berikan. Akhirnya setelah selesai makan siang, Pram bisa bernafas lega, karena dirinya sudah bisa pulang. Pram meminta sekretarisnya untuk mengirim file yang akan di kerjakan di rumah hari itu.


Pukul dua siang, Pram tiba di kediamannya. Saat setelah mengucapkan salam, Pram pun menghampirinya Fatma yang tengah duduk di taman depan. Fatma sama sekali tak memberitahukan mengenai kepergian Dania pada Pram. Fatma ingin Pram menyadarinya sendiri.


" Sayang..."


Pram membuka pintu kamar dan memanggil Dania, namun tak ada orang disana. Pram mengetuk pintu kamar mandi, tak ada juga Dania. Lalu Pram mulai mencari Dania ke kamar Cilla, namun Pram tak juga menemukannya.


" Dania..."


" Dania...."


Pram mulai memanggil nama Dania. Kedua asisten rumah tangga mereka hanya saling pandang. Tak bisa berkata apa-apa.

__ADS_1


" Sayang..."


" Sayang...kamu dimana, Mas pulang."


Pram mulai berkeliling di rumahnya yang lumayan besar. Mulai dari kamar semua di cari, taman belakang, bahkan kini dasi dan beberapa kancing kemeja Pram sudah terbuka. Fatma yang mendengar Pram mencari-cari Dania pun hanya diam, dan membolak-balik majalahnya.


Pram, mendekati maminya yang duduk dengan santai di kursi teras rumah itu.


" Mi, Dania kemana ,Mi? Pram udah nyariin ke seluruh penjuru rumah kita. Tapi Dania gak ada, Mi."


Pram berbicara sambil sedikit ngos-ngosan, karena mencari Dania yang tak kelihatan di rumah. Fatma hanya tenang dan tak menatap Pram.


" Mi...jawab Pram dong, Mi. Pram bingung mau nyari Dania dimana. Kemana Dania, Mi?"


Fatma meletakkan majalah yang sedari tadi di pegang dan di bacanya. Lalu menatap ke arah Pram.


" Kamu masih peduli dengan Dania? Mami kira, kamu udah gak peduli lagi. Kamu lebih peduli dengan sahabat kamu itu."


Jawab Fatma santai. Namun menusuk bagi Pram.


" Mi, tolong mi. Pram bingung, Dania gak ada. Dania baru aja pulang drai rumah sakit, Mi."


Fatma tersenyum sinis. Lalu menatap tajam ke raja Pram.


Pram melotot, tak percaya dengan apa yang di ucapkan ibunya itu.


" Mi, jangan becanda. Ini gak lucu, Mi."


" Apa mami pernah bohong ke kamu. Kamu lihat aja sendiri. Dan Mami harap setelah kamu melihat sendiri, kamu sadar. "


Fatma pergi meninggalkan Pram begitu saja. Pram berteriak frustasi.


" Aaarrrrrggggghhhh...."


Sambil menghempaskan tangannya. Pram mencoba menghubungi nomor Dania. Namun Dania tak menjawab. Berulang kali, bahkan Pram sampai puluhan kali.


Pram berjalan lesu menuju kamarnya. Saat membuka lemari, Pram memejamkan matanya, melihat isi lemari yang tampak lenggang. Dania benar-benar pergi. Pram menangis, meruntuki kebodohannya, menyesali setiap kali Dania bertanya, Pram tak bisa menjawab secara tegas.


Pram menangis di tepi ranjangnya. Saat matanya menyapu seisi kamar, Pram menatap kertas di atas nakas. Surat yang di tulis oleh Dania untuk dirinya.


" *Assalamualaikum, Mas. Maaf, aku harus pergi. Rasa nya sangat berat bertahan disisi kamu. Aku tahu, aku salah, karena pergi tanpa izin dari kamu. Tapi ini demi kebaikan kita. Saat ini, aku hanya ingin menjaga hatiku, dari rasa curiga dari rasa cemburu yang terus menyerang.


Mas, jika dengan kepergian diriku. Kamu bisa bersatu dengan cinta pertamamu, aku akan ikhlas. Aku gak mau menghalangi kebahagaian mu.

__ADS_1


Terima kasih untuk tiga tahun ini.


Love you...Dania*..."


Pram meremas surat yang di tulis Dania. Hatinya tersayat, membaca surat itu. Pram menyesali setiap tindakannya.


Saat Pram sedang merenungi kebodohannya. Cilla datang menemui Pram.


" Papa...."


Pram segera menyeka air matanya. Dan berjalan mendekati Cilla. Bocah kecil itu tampak menahan air matanya.


" Cilla dapat ini di kamar. Cilla minta mbok untuk bacain. Bunda pergi ya, Pa.."


Cilla berkata dengan suara yang bergetar. Lalu air mata menetes jatuh di pipi gembul miliknya.


" Cilla janji, Cilla jadi anak yang baik, nurut sama Oma."


Ucap Cilla di sela isakannya. Membuat Pram merengkuh gadis kecil itu dalam pelukannya.


" Maafkan Papa, Sayang. Ini semua salah Papa."


Pram membelai rambut Cilla. Dan Pram pun mengambil surat yang ada di tangan Cilla.


" Cilla mau belajar ya, Pa. Kan Cilla janji sama Bunda. Kalau Cilla gak akan jadi anak nakal."


Cilla berlari ke kamarnya dengan sesekali mengusap air matanya. Sungguh saat ini, pemandangan ini jauh lebih sakit, dari pada saat Cilla menangis tapi Pram tak mampu membujuknya.


.


.


.


**Assalamualaikum, reades...


Makasih ya, dukungannya. Aku usahain Up ya siang ini, sebagai permohonan maaf karena ketidak pastian Up ....


Terima kasih semua...😘😘😘😘


Jangan lupa , like, komen, gift dan vote nya ya...


Love you All...🥰🥰🥰😘**

__ADS_1


__ADS_2