Cinta Bunda Pengganti

Cinta Bunda Pengganti
Extra Part 2


__ADS_3

Lena memukul tangan Tari. Membuat Tari tertawa terbahak bahak. Setelah di rasa semua sudah dibersihkan dari kepala Lena. Lena pun masuk ke kamar mandi. Sedangkan Tari dan Dania pun segera keluar, ketika melihat Reyhan yang sudah berada di depan pintu.


Lena tidak mengetahui jika Tari dan Dania sudah keluar dari sana. Yang ada tinggal Reyhan, suaminya.


" Tar...bantuin gue lepasin gaun ini, tangan gue gak nyampe nih, pintu gak gue kunci."


Lena berteriak dari dalam kamar mandi. Reyhan yang sedang menggulung lengan kemeja nya pun segera masuk ke sana. Lena tak menyadari jika Reyhan lah yang masuk. Bukan Tari, karena Lena membelakangi pintu.


" Gue gugup banget, Tar."


Reyhan hanya tersenyum mendengar istrinya itu bicara. Reyhan mendekat. Membantu melepaskan resleting gaun Lena. Reyhan meneguk salivanya, melihat punggung Lena. Tanpa ada pengait di belakangnya, Reyhan dapat memastikan saat ini bagian depan Lena juga tidak tertutup apa-apa. Gaun Lena merosot sempurna, menyisahkan leging panjang berwarna kulit.


" Tar, Lo kok diam aja sih. Horor ni gue."


Ucap Lena. Namun lagi-lagi Reyhan hanya diam. Reyhan sedang menikmati ciptaan Tuhan yang sedang berdiri di hadapannya. Karena merasa gemas, tak mendapat jawaban. Lena pun membalikkan badannya. Matanya membulat sempurna. Saat Lena akan menjerit, bibir Lena langsung di bungkam oleh Reyhan dengan bibir Reyhan.


Saat bibirnya bekerja, tangan Reyhan pun ikut bergrilya menjelajah setiap jengkal tubuh Lena. Mereka menikmati malam yang memang khusus untuk pasangan yang tadi pagi baru saja sah menjadi suami istri itu.


Sementara di kamar lain, Dania tengah meminta Pram untuk pulang, karena Dania terus kepikiran akan kedua anaknya. Hingga akhirnya, Pram melakukan panggilan video dengan maminya.


" Ada apa, Pram?"


Suara serak mami nya yang menandakan ibunya itu sudah terlelap.


" Mi, maaf Pram ganggu mami. Mi, anak-anak rewel gak Mi? Karena Dania terus saja minta pulang."


Fatma tertawa kecil, lalu kembali berbicara.


" Anak-anak gak rewel, sayang. Malahan mereka anteng banget. Kamu nikmati aja waktu dengan suami kamu ya, Sayang. Kasian loh, suami kamu itu. Percayakan semuanya sama mami."


Setelah berkata seperti itu, Pram dan Fatma pun mengakhiri panggilan itu. Pram meletakkan ponselnya di atas nakas. Sementara Dania menuju lemari dan mengambil pakaian untuk tidur. Saat membuka lemari, Dania terkejut melihat isi di dalamnya. Hanya ada lingerie yang tentu saja sudah satu tahun ini Dania tak pernah memakainya lagi. Sejak melahirkan Zaki, Dania memilih piyama karena Cilla yang terkadang suka ikut tidur bersama mereka.


Melihat Dania yang mematung di depan lemari, membuat Pram mendekat.

__ADS_1


" Kenapa sayang?"


Pram langsung melihat ke arah mata Dania. Pram tersenyum.


" Mas mau kamu pakai yang warna merah. Dan nanti kamu yang mimpin. Oke."


Pram berkata dengan lembut di telinga Dania, bahkan di akhir ucapannya Pram mengulum cuping telinga Dania. Membuat Dania meremang.


" Tapi...aku-"


" Gak perlu malu, Sayang. Kita sudah lama tidak menikmati momen ini, Sayang. Ayolah..."


Pram merayu Dania. Akhirnya Dania menuju kamar mandi, dan mengganti gaunnya dengan Lingerie berwarna merah seperti keinginan Pram. Dania melepas rambutnya, dan mengganti make up nya dengan lebih menantang, bahkan Dania memakai parfum agar Pram lebih tergoda. Dania keluar dari kamar mandi, dan berdiri dengan tangan sebelah di pinggang, san satunya lagi di pakai untuk menopang tubuhnya. Malam ini, Pram ingin Dania menjadi liar. Dan Dania menuruti keinginan Pram.


Malam itu, bukan hanya milik pengantin baru, Reyhan dan Lena, tapi juga Pram dan Dania. Mereka menikmati malam panjang ini dengan saling bertukar peluh dan Saliva.


Sementara Tari yang tidak memiliki pasangan, memilih untuk menghabiskan malam panjang ini dengan menonton drama Korea di kamarnya. Mereka semua menginap di hotel yang sama. Bahkan di lantai yang sama. Sedangkan Riko lebih memilih untuk masuk club' malam yang masih berada di kawasan hotel itu.


Tari yang merasa bosan pun akhirnya keluar dari kamarnya. Lalu pergi mencari udara segar di luar hotel. Tari sadar, ini waktu sudah lewat dari tengah malam, namun entah mengapa dirinya begitu ingin keluar kamar. Tari hanya berjalan-jalan keluar dari hotel, dan sampai di depan sebuah Club', tampak laki-laki yang sudah mabok menarik tangannya.


Tari berusaha melepaskan pegangan tangan Pria itu.


" Temani aku malam ini gadis cantik."


" Hei, lepasin, kamu salah orang. Lepasin."


Tari meronta, namun tetap saja tenaganya kalah dengan lelaki itu. Sampai pada akhirnya, Tari mendapat sebuah tamparan di pipinya. Pipi tari lebam seketika. Karena tenaga laki-laki itu begitu kuat. Bahkan kini Tari di tarik paksa olehnya. Tari pun tetap meronta. Bahkan kemeja yang di pakai tari sudah robek, akibat tarikan dari lelaki itu. Tari hanya bisa meronta dan menangis. Tenaganya kini sudah habis.


Saat lelaki itu ingin menariknya menuju mobil. Tangan Tari di tarik oleh orang dari belakang hingga membuat Tari oleng dan hampir terjatuh. Tari melihat siapa yang menariknya, lalu menggelengkan kepalanya.


" Bajingan Lo."


Sebuah bogem mentah di layangkan pada pria yang menarik Tari tadi. Setelah itu, tangan Riko di tarik oleh Tari.

__ADS_1


" Udah, Pak. Tolong."


Riko menatap tajam ke arah Tari. Lalu menampilkan senyum sinis.


" Kenapa? Apa kamu memang ingin di kerjai oleh laki-laki itu. Iya? Hah?"


Tari menangis, memegang bahunya.


" Jawab.."


Ucap Riko dengan nada tinggi. Membuat Tari semakin menunduk ketakutan.


" Sssaaayaaa, malu pak, seandainya terjadi kekacauan, saya yang akan di jadi tontonan orang."


Ucap Tari, lalu berjalan menjauh dari Riko. Air mata Tari terus saja keluar. Dengan wajah yang lebam, dan juga baju yang robek di bagian bahu serta lengan yang membiru akibat cekalan lelaki tadi, Tari terus saja berjalan. Membuat Riko menghela nafasnya kasar.


" ****.."


Umpat Riko. Riko pun berlari kearah mobilnya. Dan mengejar Tari. Tari yang terus saja berlari tanpa sadar, mobil Riko sudah ada di sampingnya. Riko memberhentikan mobilnya, lalu memanggil Tari.


" Tari...tari...tunggu, kamu mau kemana?"


" Lepasin Saya Pak. Saya mau pulang."


Riko melihat wajah Tari, dan melihat keadaan nya. Lalu mengambil hoody yang selalu di letakkan nya di kursi penumpang.


" Pakai.."


Tari melihat ke arah Riko. Tari hanya diam. Riko yang telah habis kesabaran nya pun memakaikan hoody untuk Tari. Saat tangan Riko memegang lengan Tari, saat itu juga tari meringis kesakitan. Riko tau, pasti lengan itu terluka. Riko membuka pintu mobil di bagian penumpang.


" Masuk.."


Tari hanya diam, tak bergerak.

__ADS_1


" Masuk, Tari. Apa perlu aku memaksamu?"


__ADS_2