
Tengah malam, Dania dan Pram tiba di negara Singapura. Pram tidak langsung menuju kediaman Ibu dari Maminya. Tapi mereka lebih dulu, menginap di salah satu hotel yang ada di dekat bandara.
" Mas, bersih-bersih dulu, baru tidur."
Pram mengangguk, tas yang berisi beberapa pakaian baru sudah ada di sana. Pram masuk ke kamar mandi, dan Dania pun menyiapkan pakaian untuk Pram. Sepasang piyama sudah disiapkan oleh Dania. Namun saat akan mengambil pakaian miliknya mata Dania membulat.
" Apa-apaan ini...Mas Pram..."
Saat Dania merentangkan pakaian itu, Pram.pun keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk di pinggang dan juga sebuah handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
" Kamu suka?"
Dania langsung membalikkan tubuhnya. Dan menyimpan lingerie itu di balik tubuhnya. Pram tersenyum penuh arti. Lalu menarik Dania mendekat dengannya.
" Gak usah malu, Mas suka kamu pakai itu. Sekarang ganti ya. Kamu liat Anaconda udah siap masuk sarang."
Pram berkata sambil melirik ke arah bawah. Dan benar saja, Anaconda sudah siap memasuki sarangnya.
" Tapi...."
" Tapi apa, hm..?"
Dania bingung harus mengatakannya bagaimana.
" Tapi, aku sedang ada tamu bulanan."
Pram langsung membulatkan matanya. Dan menatap Dania tajam. Sedangan Dania hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya. Kepala Pram langsung berdenyut saat itu juga. Rasanya ingin marah, tapi ini bukan kesalahan Dania.
" Sejak kapan?"
" Baru aja, setiba kita di hotel."
" Lalu sampai kapan?"
" Seminggu lah...mas aneh, ini kan bukan pengalaman pertama untuk kamu, Mas."
Pram memegang kepalanya yang berdenyut. Gagal sudah rencana yang di bangunnya. Padahal sejak di Indonesia, Pram sudah berkhayal malam ini akan membuat Dania lemas dan kesulitan berjalan. Namun kini, dirinya lah yang harus menahan rasa itu.
Pram langsung mengambil piyama yang sudah tersusun di atas ranjang. Lalu memakainya di dalam kamar mandi.
" Dia kenapa sih, aneh.."
__ADS_1
Sementara di kamar mandi, Pram terus saja mengutuk keadaan. Bahkan kini dia harus menenangkan Anaconda yang ingin masuk ke sarangnya.
" Ayo tidur...tidur Anaconda, Sarang mu sedang tidak bisa di datangi, ayolah...jangan buat aku pusing...,"
Pram terus bergumam sambil menenangkan Anaconda miliknya. Hampir tiga puluh menit, Pram ada di kamar mandi, sampai Dania harus berulang kali mengetuk pintu kamar mandi.
" Mas, aku juga mau pake kamar mandi. Cepetan dong."
Saat Pram keluar,Dania melihat wajah Pram yang sepertinya sedang kesal. Dania masuk ke kamar mandi, karena sudah sangat tidak nyaman dengan kondisinya.
Di dalam kamar mandi, Dania mencari pembalut, namun ternyata tidak ada. Mau tidak mau, Dania meminta tolong Pram untuk membelikannya.
" Mas, bisa minta tolong...."
" Apa..."
Belum sempat Dania berbicara, Pram sudah memotongnya. Dan ekspresi nya sangat tidak enak di mata Dania. Dania hampir menangis mendengar suara Pram.
" Gak jadi,.."
Dania pun keluar dari kamar mandi, mengambil tas nya dan melangkah ke pintu. Pram yang melihat Dania ingin pergi, langsung menatapnya heran. Dan saat melihat bagian dress belakang Dania, mata Pram membulat dan langsung mengejar Dania.
" Kamu mau kemana?"
" Minggir, Mas. Aku mau cari keperluan aku sendiri."
Pram menghela nafasnya. Lalu menatap Dania yang sedang menyeka air matanya.
" Maaf,.."
Pram memeluk Dania dan mencium pucuk kepalanya.
" Maaf ya, Mas tadi kasar sama kamu."
Dania mengangguk di dalam pelukan Pram. Pram pun melerai pelukan itu, dan menangkup wajah Dania.
" Kamu disini aja. Biar Mas yang mencarinya."
" Biar aku aja, Mas."
" Mas gak mungkin biarin kamu pergi, dan kamu juga gak mungkin keluar dengan kondisi seperti ini."
__ADS_1
Dania mengerutkan keningnya, bingung. Pram membawa Dania ke depan sebuah cermin, dan memutar tubuh Dania, hingga Dania dapat melihat dress bagian belakang nya yang sudah sedikit bernoda. Dania menunduk malu.
" Kamu tunggu disini aja, ya?"
Dania pun mengangguk setuju. Lalu Pram mengganti pakaiannya dengan celana jeans dan juga kaos membuat penampilan nya sangat menarik.
Pram langsung keluar dari hotel dan mencari toko yang masih buka di waktu yang hampir tengah malam gini. Beruntung tak jauh dari hotel ada sebuah toserba yang masih buka. Dan kemungkinan buka hingga dua puluh empat jam.
Pram masuk dan langsung mencari rak tempat dimana Dania membutuhkan benda itu. Pram mengambil beberapa dan saat melewati rak pakaian dalam, Pram juga mengambil beberapa untuk Dania. Setelah di rasa cukup, Pram pun langsung membawanya menuju kasir.
Sang pelayan pun sesekali melirik ke arah Pram. Bahkan sang pelayan toko itu pun menawarkan obat pereda nyeri kepada Pram. Dan Pram langsung mengambil obat itu juga. Pram kembali ke hotel dengan membawa dua kantong besar besar yang berisi barang keperluan Dania.
Pram menuju lift dan memencet nomor lantai tempatnya menginap. Sedangkan Dania sudah selesai mandi dan kini hanya menggunakan bathrobe. Pram membuka pintu kamar, dan melihat Dania yang sedang berdiri menunggunya.
" Kenapa berdiri?"
Dania melotot melihat banyaknya barang yang di beli Pram.
" Mas, banyak banget?"
Dania memeriksa satu persatu kantongan itu. Sedangkan Pram menggaruk alisnya yabg tak gatal.
" Habisnya Mas gak tau, kamu pakai yang mana. Jadi mas ambil aja."
Dania pun mengambil kotak yang berisi pakaian dalam wanita. Pram pun canggung lalu menggaruk lehernya.
" Kamu kan gak mungkin pakai dalaman yang model begitu..."
" Tapi, Mas. Malam ini aku tidur bagaimana? Gak mungkin pakai dress itu kan."
Dania menunjuk ke satu-satunya dress yang akan di pakainya besok untuk berkunjung ke rumah Oma nya.
" Kamu pakai itu aja, tapi sebelum kamu keluar, kamu lapisin pake ini, ya. Mas gak sanggup Dania."
Ucap Pram pasrah, membuat Dania hampir saja meledakkan tawanya. Dania pun masuk ke kamar mandi dan berganti pakaian disana. Benar saja, Dania keluar menggunakan kembali bathrobenya. Pram pun langsung memunggungi Dania.
" Maaf ya, Sayang. Mas gak sanggup liat kamu pakai gaun itu, Anaconda gak bisa di ajak kompromi, kalau lihat kamu pakai begituan."
Pram berkata sambil memunggungi Dania. Dania tersenyum geli sekaligus kasihan melihat Pram yang tersiksa akibat ulahnya sendiri. Dania pun naik ke ranjang, setelah terlebih dahulu membuka bathrobe nya. Meninggalkan lingerie di tubuhnya.
Sementara Pram masih memunggungi Dania. Saat Dania sudah merebahkan tubuhnya. Malam ini mereka tertidur dengan saling memunggungi. Namun saat menjelang pagi, Pram sudah dalam posisi memeluk tubuh Dania. Pram membuka matanya perlahan, saat merasa tangannya memeluk hangat sesuatu. Pram membulatkan matanya, saat melihat tubuh bagian atas Dania yang terbuka.
__ADS_1
" Sayang...kamu benar-benar menyiksa Mas."