
Zifa yakin kalau saat ini Ghava belum tidur, dan sebentar lagi pasti ponselnya akan berbunyi, menandakan kalau laki-laki yang di kirim pesan oleh Zifa menelepon, dan ingin menghabiskan setengah malamnya untuk bercerita entah apa saja yang dibahasnya.
Satu... Dua... Tiga... Zifa menarik bibirnya sebelah, tersenyum sinis. Ketika profil dengan foto Raja dan Ratu memanggilnya.
Zifa tidak langsung mengangkatnya karena ingin tahu sejauh mana usaha Ghava untuk mendekatinya. "Pasti Ghava di seberang sana sedang mengumpat." Zifa terkekeh. Di mana setatus yang di tunjukan online tetapi Zifa tidak mau menangkatnya. Wanita itu nampaknya terlalu menikmati peranya ingin mengerjai Ghava.
[Kok tidak diangkat sih, nanti aku tidak bisa tidur, kalau belum dengar suara kamu.] Pesan yang dikirimkan Ghava. Lagi, Zifa hanya membacanya tanpa ingin membalasnya. Rasanya terlalu menikmati untuk mengerjai laki-laki itu.
[Ifa, kalau tidak diangkat juga, sa'at ini juga aku cari jadwal penerbangan dan langsung ke tempat kamu.] Pesan kedua Ghava kirimkan, berharap kalau Zifa akan mengangkat teleponya, atau paling tidak membalas pesanya. Namun rupanya sang gadis incaran benar-benar menginginkan kalau Ghava datang menghampirinya bukan sekedar telpon atau pun berkirim pesan singkat.
Zifa justru dengan sengaja hanya membaca pesan Ghava, ia merasa tertantang kembali, seberapa besar ucapan Ghava bisa di percayakah. Ia meletakan ponselnya, dan hanya membaca pesan-pesan yang masuk ke ponselnya, tanpa sedikit pun ingin membalas pesan-pesan itu, dan juga sambungan telpon yang Ghava lakukan langsung di putus oleh Zifa.
"Palingan juga nggak bakal datang kesini, siapa juga yang mau membuang waktunya, dan bercape-cape datang kesini hanya untuk gadis jutek." Pikir Zifa yakin kalau pesan-pesan yang dikirimkan Ghava adalah isapan jempol saja.
"Ya Tuhan cewek ini benar-benar beda, Ghava saat itu juga langsung mencari penerbangan ke Jakarta kalau tidak Ke Bandung yang terpenting ia akan buktikan pada Zifa bahwa dia tidak pernah main-main dalam ucapanya.
Sementara Zifa sendiri cuek, dan dalam pikiranya tidak mungkin Ghava mau jauh-jauh melakukan penerbangan hanya untuk mendengar suaranya.
Terlebih ini sudah malam dan laki-laki mana yang mau malam-malam menempuh perjalanan yang tidak sebentar. Setelah membersihkan tubuhnya Zifa pun merebahkan tubuhnya yang lelah di samping Raja dan Ratu. Dua anak yang bisa mengobati rasa lelahnya. Sebelum ia benar-benar tertidur Zifa lebih dulu menatap wajah kakaknya cukup lama. Membayangkan Abas menggera-yangi tubuh kakaknya tetapi wanita yang saat ini sedang tertidur dengan pulas hanya bisa pasrah tanpa bisa meminta bantuan pada siapapun.
"Lalu bagaimana dengan ibu? Apa yang mereka lalukan hingga bisa melakukan ini semua tanpa jejak," batin Zifa. Wanita itu sangat berharap kalau Ghava memang benar-benar datang dan ia diam-diam akan mengambil kontak Kemal.
Zifa kembali teringat dengan nasihat Lyra, bahwa ia juga harus dekatin Kemal dan mungkin saja dua bersaudara itu juga akan saling membenci. Hingga tanpa sadar Zifa pun pulas tertidur di samping ponakannya.
__ADS_1
Sedangkan Ghava sendiri di lain tempat, malam ini karena ingin membuktikan keseriusanya pada Zifa, ia rela melakukan perjalanan udara dan di lanjutkan perjalanan darat yang tidak sebentar pastinya. Laki-laki itu pun heran kenapa dia bisa mau-maunya melakukan perjalanan yang memakan waktu yang lama hanya untuk membuktikan keseriusanya pada sang wanita bahwa apapun yang diucapkan oleh dia bukanlah isapan jempol semata, atau sang wanita selalu bilang dengan istilah gombal.
"Tunggu Ifa aku akan buktikan kalau aku tidak pernah bohong pada kamu, kamu adalah wanita pertama yang aku cintai hingga segini gilanya. Mungkin aku akan benar-benar gila kalau kamu tidak mau menerima cintaku," batin Ghava. Laki-laki itu berjanji akan melakukan apapun untuk Zifa agar wanita itu mau mencintainya, sebenarnya Ghava yakin kalau Zifa juga mencintai dia.
Malam ini bisa di bilang keberuntungan bagi Ghava di saat ia mencari penerbangan untuk malam ini juga ternyata dia mendapatkan penerbangan itu. Sementara untuk biasanya akan sangat sulit mendapatkan penerbangan yang mendadak seperti yang saat ini Ghava alami.
Bahkan Ghava tidak peduli pekerjaan dia yang di tinggalkanya. Hanya seorang gadis yang selalu bersikap cuek dan masa bodoh. Namun dari sifat itu Ghava seperti mendapatkan tantangan yang baru, yang belum pernah ia dapatkan sebelum'nya.
Pagi menjelang dan Ghava saat ini sedang menempuh perjalanan darat. Tubuhnya cukup lelah karena ia hampir menghabiskan malamnya untuk menempuh perjalanan yang melelahkan.
"Kira-kira nanti Ifa bakal gimana yah reaksinya," batin Ghava, sepanjang perjalanan yang ia tempuh tidak sedikitpun ia memejamkan matanya. Perasaanya tidak sabar untuk bisa bertemu dengan gadis yang jutek itu.
Setelah melewati semalaman perjalananya Ghava pun sudah sampai di halaman ruko Zifa. Laki-laki itu sudah tahu kebiasaan penghuni ruko di mana jam tiga mereka sudah ada yang bekerja untuk memulai aktifitasnya. Pukul lima Ghava sudah sampai di Bandung dengan menaiki taxi, kepulanganya di rahasiakan tidak satu pun dari keluarganya yang tahu kalau Ghava pulang ke Jakarta dan dilanjutkan ke Bandung. Mungkin kalau keluarganya yang tahu ia akan di kawinkan saat ini juga dengan Wina calon istrinya. Sama seperti abangnya yang langsung dikawinkan begitu ia sudah bercerai dengan Lyra.
"Astagah, kenapa tidak ada yang membuka pintunya. Apa Ifa sudah bekerja sama dengan karyawanya agar tidak membukakan pintu untuk aku," grundel Ghava sedangkan udara di luar terasa semakin menusuk kulit-kulitnya.
Kreket... Srak... suara pintu di buka. "Ya Allah gusti kenapa ada orang di luar," pekik Tasi ketika wanita itu membuka pintu hendak membersihkan area luar toko, sebelum toko benar-benar buka.
"Ya Tuhan, jadi sejak tadi aku ketuk-ketuk dan mengucapkan salam tidak ada yang dengar," gerundel Ghava. "Ifa belum bangun?" tanya Ghava pada wanita yang pernah meninggalkan Zifa di lapak makanan karena kebelet pipis sampai lupa bahwa temannya belum naik ke motor, tetapi dia sudah tancap gas saja. Untung ada Ghava yang sempat dikira supir taxi online, dan dari kejadian itu hubungan Zifa dan Ghava lebih dekat hingga saat ini.
"Belun Mas, Teh Ifa biasanya bangun kalau Raja dan Ratu udah bangun dan akan turun jam delapan," jawab Tasi.
"Bisa bangunkan sekarang, bilang pacarnya ingin ketemu." Ghava dengan percaya diri yang tinggi meproklamirkan bahwa ia adalah kekasih Zifa.
__ADS_1
Uhuk... uhukkk... Tasi langsung tersendak ketika Ghava mengatakan bahwa dia adalah pacarnya. "Sejak kapan Mas Ghava pacaran dengan Teh Ifa?" batin Tasi, tetapi wanita yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu tidak berani menanyakan secara langsung.
"Ayo dong Tasi aku semalaman melakukan penerbangan dan juga disambung dengan perjalanan darat. Semua aku lakukan buat ketemu Ifa loh," ujar Ghava dan Tasi langsung buru-buru masuk kembali ke dalam toko dan membangunkan Zifa sesuai permintaan Ghava.
Zifa mengerjapkan kedua bola matanya ketika tubuhnya berasa ada yang menggoyang-goyangkanya. Matanya menyipit dan menatap Tasi dengan keheranan. Tumben Tasi membangunkan dia, apa ada sesuatu yang terjadi di dapur hingga Tasi membangunkan dia di mana Zifa apabila jam segini masih tertidur dengan pulas.
"Kenapa Tas?" tanya Zifa dengan suara yang serak.
"Di bawah ada Mas Ghava katanya dia meminta untuk membangunkan Teh Ifa," lirih Tasi, Dan Zifa saat itu juga langsung terbangun dan duduk terkejut.
"Ngapain laki-laki itu datang ke sini?" tanya Zifa heran, dan Tasi pun semakin heran ketika mendengar jawaban Zifa yang seperti tidak menyukai kalau Ghava datang.
"Kata Mas Ghava dia ingin bertemu dengan pacarnya." Tasi mengikuti ucapan yang di lontarkan Ghava.
Uhukkk... uhuukkk... saat ini Zifa yang terbatuk ketika iadengar apa yang Tasi katakan. "Sejak kapan kita pacaran?"
Tasi hanya meggedikan bahunya tidak mengerti, dan jawaban dari Zifa itu berhasil membuat Tasi tambah bingung.
...****************...
Teman-teman sembari nunggu kelanjutan kisah Zifa, yuk mampir ke karya besti othor dijamin baper...
kuy ramaikan jangan kasih kendor...
__ADS_1