Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Bukan Wanita Impian


__ADS_3

"Wina, sini!" Dira memanggil anak perempuanya yang baru turun dari tangga.


Mata Ghava yang penasaran dengan sosok Wina, di mana mamihnya bilang dia akan menjadi istrinya. Tepat sesuai dugaan Ghava bahwa calon istrinya itu adalah wanita yang sangat memperhatikan penampilan harus sempurna, dari pakeian pas dengan bentuk tubuhnya dan wajah yang orang-orang sebut dengan istilah glowing, memancar sempurna bak di olesi sebuah minyak, bahkan mungkin kalau ada nyamuk yang menempel binatang itu akan jatuh tergelincir karena wajah yang licin.


Cantik? Yah, di mata Ghava Wina adalah wanita yang cantik, boddy yang terlihat bagus dan penampilanya anggun, tetapi bayangan sifat Eina sudah terpancar dari cara dia berpakeian dan berjalan. Tidak seperti wanita idaman Ghava. Cantik relatif yang penting sifatnya, itu adalah wanita idaman Ghava. Sehingga ketika matanya menangkap sosok Wina, ia kurang menyukainya karena wanita itu terlihat seperti arogan, dan juga sepertinya Wina adalah wanita yang tidak penah menyentuh dapur atau bahkan sekedar mencuci piring dia tidak bisa.


Ghava mencari istri yang bisa melayani suaminya, dalam hal apapun karena Ghava sudah bisa mencari uang sendiri dan mampu menafkahi calon istrinya apabila istrinya juga sibuk mencari uang. Ghava takut nanti peran ia sebagai kepala keluarga kurang di hargai. Ghava ingin istri yang solehah yang mengerti kewajiban utamanya menjadi istri. Sehingga melihat Wina dia sudah bisa menyimpulkan dengan yakin, seyakin yakinya bahwa wanita yang sekarang duduk di hadapanya dengan anggun bukan kriteria istrinya.


Akal pikirnya ia putar, bagaimana caranya menolak Wina sebagai istrinya. Tanpa menyinggung semuanya, terutama Eira, Mamihnya yang apabila kecewa dengan Ghava orang lain bisa ikut kena dampaknya.


"Wina, kamu mau kerja yah? Kebetulan Ghava calon suami kamu juga mau kerja, gimana kalau kalian bareng berangkatnya. Sekalian kenalan juga biar makin dekat. Pepatah bilang 'Tidak kenal makan tak sayang' kalau gitu kalian kenalan gih, biar kalian sayang." Eira mulai memerankan peranya. Cara klasik banget di perjodohan.


Ghava membuang nafas kasar, jengah dan melirik matanya tanda dia malas melewati cara yang tidak menari sama sekali. 'Jodoh dalam perjodohan' hanya sekian persen yang berhasil, selebihnya mereka akan saling menyakiti pasangan bertahan karena memikirkan perasaan keluarga dan mengorbankan perasaanya, tanpa hidup bahagia. Ghava untuk memikirkannya sajah isi kepalanya mulai berdenyut. Bagaimana ia akan menjalaninya.

__ADS_1


"Kalau Wina sih mau ajah Tante, tapi kayaknya Ghavanya tidak suka dan tidak mau dekat dengan Wina," adu Wina dengan suara yang di buat manja dan sedih. Ghava yang menengar aduan dari wanita yang akan menjadi suaminya langsung merinding.


"Ngeri banget nih cewek, aura-aura dia tukang ngadu dan tukang memutar balikan fakta," desis Ghava dalam batinya, terus memperhatikan interaksi antar wanita, tanpa mau ikut nimbrung, meskipun Wina dengan terang-terangan menyenggol dirinya untuk bereaksi, dan membuka obrolan, tetapi Ghava malas meladeninya. Kalau wanita itu cerdas, seperti penampilan yang menggambarkan bahwa dia wanita yang isi kepalanya penuh. Seharusnya Wina tahu bahwa diamnya Ghava adalah penolakan yang nyata, agar dia tidak satu mobil dengan wanita tukang adu itu.


"Kata siapa Ghava tidak mau, anak Tante itu pendiam jadi lebih baik kamu yang ajak duluan, dia memang seperti itu kalau belum kenal suka jaim." Eira terus berjuang agar Wina dan Ghava jalan bersama dan saling pendekatan.


"Dih manis banget ngomongnya. Sejak kapan gue jadi pendian dan jaga image. Perasaan dari dulu yang namnyaa Ghava selalu jadi apa adanya, kalau saat ini gue diam berati itu tandanya gue memang sedang malas buat debat dengan loe," batin Ghava. Rasanya dia saat ini juga pengi ngerasain diculik sama peri dan di bawa kekayangan, biarin dah tidak di pulangin lagi juga dari pada di pulangin dengan lingkungan yang ngeri kayak gini. Sok tahu dengan hidupnya.


"Ghava, ayo dong kamu ajak Wina jalan, katanya tadi kamu mau berangkat kerja," bisik Eira di samping teling putranya yang justru santai ajah dari tadi.


Gurat kebahagiaan terlihat dengan nyata di wajah Wina. Mungkin dalam hatinya berkata 'yes renca aku berhasil'.


Setelah berpamitan dengan Eira dan Dira Ghava berjalan lebih dulu ke kendaraanya di parkir. Duduk termenung di belakang kemudi dan otaknya berkelana, memikirkan bagaimana caranya ia bebas dari rutinitas, antar jemput calon istrinya itu.

__ADS_1


Pria matang itu bukan anak kemarin sore yang tidak tahu rencana selanjutnya yang mamihnya rencanakan. Setelah mereka jalan bersama kali ini, pasti akan ada cara dan alasaan mamihnya untuk membuat Wina dan dirinya jalan bersama lagi dengan tujuan pendekatan. Gimana mau bisa dekat kalau untuk perasaan saja sudah tidak nyaman. Itu yang di rasakan Ghava saat ini, di awal di sudah merasa seperti di jebak, sehingga untuk mencoba pendekatan sulit hatinya merasa srek.


Brakkk... suara pintu mobil tertutup tidak terlalu kenjang, tetapi cukup mengagetkan Ghava yang pikiranya sedang terbang melalang buana, mencari ide agar dia bisa pergi lagi dari kota ini, atau malah dia akan balik lagi ke tempat kakeknya, dan kembali mengolah bisnis di negara itu.


"Maaf kalau  kamu jadi terpaksa harus mengantarkan aku. Tante Eira sudah banyak bercerita tentang kamu, dan itu sebabnya aku menerima perjodohaan ini. Kamu jangan marah sama aku yah, karena Tante Eira yang datang dan meksa aku menjadi istri kamu, kata Tante Eira hanya aku yang pantas jadi istri kamu." Wina memulai obrolan diantara mereka.


Ghava hanya menanggapinya dengan tertawa. "Aku justru baru tahu kalau Mamihku seperti tengah menawarkan putranya seperti sebuah barang saja," desis Ghava tetapi pandangan matanya tetap tertuju kejalanan ibukota.


"Apa katanya, memaksa agar dia jadi istriku dan dia wanita satu-satunya yang pantas jadi istriku?" Ghava tertawa dalam batinya, menertawakan ucapan Wina yang terlalu percaya diri.


"Tapi kamu mau kan kalau kita menikah, aku sudah suka loe, ketika melihat kamu di pandangan pertama kita tadi," imbuh Wina.


Nyuttt... Kepala Ghava seketika berdenyut semakin kencang mendengar pertanyyan calon istrinya, sudah kelihatan gimana sifat Wina, padahal mereka di dalam mobil belum ada sepuluh menit, tetapi Ghava bisa menyimpulkan bagaimana sifat calon istrinya.

__ADS_1


"Tempat kerja kamu di mana? Aku buru-buru ada miting soalnya." Ghava mengalihkan obrolan mereka, Mengamankan kepala agar tidak meledak itu lebih baik.


__ADS_2