
"Kemal, kamu sudah datang kamu kemana saja, Sayang?" tanya Eira, langsung memeluk tubuh putra bungsunya, tetapi justru Kemal seolah biasa saja, dan seperti orang kebingungan. Laki-laki itu masih teringat apa yang dikatakan oleh Zifa sebelum dirinya benar-benar pergi dari rumah sakit.'Kamu cemburukan dengan Ghava, karena aku lebih memilih dia.'
"Mam, maaf yah Kemal sedang tidak enak badan," jawab Kemal dengan suara yang lirih dan hal itu membuat Eira langsung menyipitkan kedua bola matanya, dan mematung bingung. Akhir-akhir ini dua anak laki-laki yang berbeda dari biasanya.
Tanpa menunggu persetujuan dari Eira dan anggota yang lain, Kemal langsung berjalan meninggalkan mereka, kamar pribadi adalah tujuan utamanya. "Apa yang sudah aku katakan pada Zifa, sampai-sampai Zifa terlihat marah sekali?" gumam Kemal, sepanjang perjalanan Bandung sampai Jakarta, laki-laki itu hampir tidak fokus pada jalanan, untung saja ia masih selamat dan dilindungi nyawanya.
Meskipun laki-laki itu sudah mencoba keras mengingat-ingat apa yang ia katakan, tetapi masih saja ia tidak mengingatnya. 'Apa aku tadi ngomong dalam keadaan mabuk? Atau aku sedang mengigo? Tapi kayaknya aku tidak minum alkohol, dan juga tidak sedang tidur," batin Kemal, kepalanya tiba-tiba berdenyut kencang.
'Sial kayaknya mulut ini sudah membuat Zifa marah besar, jangan-jangan Zifa membuka rahasia kita,' batin Kemal. Kali ini dia justru ingin pergi lagi ke Bandung, untuk menanyakan kata-kata apa sebenarnya yang sudah dikatakan oleh mulut Kemal sehingga Zifa menampar pipinya sampai panas.
'Bagimana kalau ternyata malah Zifa membuka rahasia kita? Apa aku juga harus membuka rahasia perselingkuhan Ghava dan Zifa pada mamih dan juga Wina?' Kemal semakin tidak tenang. Bahkan tubuhnya yang cape tidak bisa sama sekali terpejam. Pikiranya lagi-lagi lari pada kejadian tadi di rumah sakit. Wajah marah Zifa masih teringat dengan jelas. Entah bagaimana lagi caranya agar Kemal bisa mengistirahatkan tubuhnya sehingga nanti bangun ia bisa berpikir dengan jernih.
*******
Sementara Di rumah sakit. "Kenapa aku merasa ada yang di rahasiakan antara kamu dan Kemal Fa," lirih Ghava setelah beberapa kali Ghava bertanya pada kekasihnya, tetapi tidak juga Zifa menjawabnya.
Setelah Zifa mencoba berpikir dengan jernih. "Sebenarnya aku dan Kemal sudah kenal cukup lama, dan mungkin lebih tepatnya kita adalah teman sekolah, sebelum Kemal pindah ke luar negri." Zifa merasa memang sudah saatnya di bongkar tidak ada lagi yang harus di tutup-tutupinya. Dari pada nanti Ghava tahu dari Kemal yang mungkin saja laki-laki itu mengatakan yang sebaliknya, atau pun malah Kemal akan menyudutkan Zifa akan lebih berbahaya lagi. Maka dari itu, setelah Zifa merundingkaanya ia lebih baik berbicara jujur dan apa adanya dari pada nanti dia yang tersudut, dan Ghava marah, lalu rencananya gagal. Saat ini Zifa bukanya harus mencari simpati sebanyak banyaknya, terutama dari Ghava, agar ia tetap bisa berlindung di bawah kepercayaan Ghava.
__ADS_1
"Apa kalian memiliki hubungan yang lebih?" tanya Ghava dengan suara yang lirih, tetapi Zifa masih bisa lihat keseriusannya.
Zifa menggeleng pelan. "Hubungan kita hanya sebatas teman, meskipun Kemal sudah beberapa kali menyatakan cintanya, aku tidak bisa membalasnya, ada dinding yang besar yang menghalangi kita. Dan jujur Ifa kaget banget ketika kemarin tahu kalau Kemal adalah adik dari Mas Ghava, sehingga Ifa seperti menghianati Kemal demi Mas Ghava, tetapi ada satu teman yang terus memberi aku semangat. Kalau Ifa memang nggak tahu semuanya akan berakhir seperti ini. Ifa tidak tahu kalau dunia sangat sempit sehingga Ifa jadi kekasih dari abang laki-laki yang Ifa tolak hanya karena perbedaan ekonomi yang baagai langit dan bumi." Zifa mengatur nafasnya.
Kali ini gantian Ghava yang nampaknya diam mendengarkan penjelasan dari Zifa. Wanita itu pun tidak tahu harus bicara apa lagi.
"Apa kamu cinta pada Kemal? tanya Ghava, kali ini suaranya sudah terlihat seperti menahan emosi.
"Jujur dulu Ifa sempat berjanji pada diri sendiri, apabila Tuhan mempertemukan kita kembali dan juga Kemal masih mencintai Ifa, mungkin Ifa akan menerima Kemal, tetapi setelah dipertemukan kali ini, dan Ifa melihat perbedaan Kemal yang sekarang dengan Kemal yang dulu rasa yang dulu ada sudah berganti dengan kebencian. Ifa kalau suka akan bilang suka, tetapi kalau tidak Ifa tidak akan memaksa, Ifa tidak ingin jadi wanita yang munafik, tetapi itulah yang Ifa rasakan. Terlebih kejadiaan hari ini, jujur Ifa kecewa banget. Terserah Mas Ghava mau nilai Ifa seperti apa, Ifa hanya ingin mengungkapkan apa yang Ifa rasakan," batin Zifa semakin sesak.
"Aku percaya dengan kamu. Jujur aku pun melihat ada yang berbeda dengan Kemal. Dan saat ini aku bisa menyimpulkanya. Dia memang cemburu, karena dia masih menyimpan rasa cintanya pada kamu, tetapi kamu tidak bisa membalasnya, karena kamu sudah jadi milikku. Mungkin itu yang membuat Kemal selalu urung-uringan. Tetapi kamu tenang saja, aku tahu kok mana yang berkata jujur dan mana yang tidak." Ghava kembali mengusap punggung Zifa. dan tentunya Zifa merasakan lega karena Ghava sudah percaya pada dirinya.
Ghava menggenggam tangan Zifa. "Kita akan lalui bersama-sama." Ghava sendiri juga tahu bahwa hubungannya dengan Zifa tidak akan mulus, dua-duanya ada rahasia, dan mungkin justru permasalahan paling berat adalah datangnya dari Ghava sendiri.
Zifa menatap tajam kedua bola mata Ghava. "Sebenarnya aku sangat malas untuk ada di posisi seperti ini, tetapi kembali lagi aku harus lalui ini semua. Karena aku teringat omongan seseorang, kalau cinta juga perlu diperjuangkan," lirih Zifa, pandangannya masih saling terikat dengan Ghava.
"Terima kasih, kamu sudah percaya, dan mau berjuang dengan aku," balas Ghava. Tanganya menyusuri pipi Zifa yang cantik. Perlahan tapi pasti bibir keduanya pun saling bertaut, ada gelenjar aneh yang Zifa rasakan.
__ADS_1
'Ini bukan kemauanku, tetapi kenapa rasanya sulit sekali untuk melepaskan ini,;' batin Zifa semakin ia terhanyut dalam permainan sendiri.
Zifa buru-buru memalingkan pandanganya, dan pertemuan bibir itu pun saat itu juga terhenti. Wanita itu sadar ini bukan yang dia rencanakan, ini sudah jauh dari permainan dan tujuanya. 'Sadar Zifa, kamu akan semakin sulit untuk bebas dari permainan ini apabila kamu selalu menggunakan hati kamu," batin Zifa, kedua matanya di pejamkan dengan kuat.
Kemal melihat Zifa dengan sangat bersalah. "Maafkan aku Fa, aku salah, dan tidak seharusnya kita melakukan ini, tetapi percayalah aku sangat mencintaimu. Mungkin kalau harus menukar nyawa pun akan aku lakukan agar aku dan kamu saling bersama-sama." Ghava terus menatap Zifa yang masih merapatkan matanya.
"Aku takut kalau hubungan ini hanya akan menyisakan luka. Kamu dan Kemal adalah abang dan adik. Kamu memiliki tunangan yang dipilihkan dengan orang tua kamu, andai ada jalan untuk mundur. Aku akan memilih jalan itu," ucap Zifa, wanita itu sudah semakin sadar bahwa , ia sendiri sudah berada di posisi yang sulit, yang harus ia amankan saat ini adalah kakaknya dan juga Raja dan Ratu.
Zifa semakin sadar bahwa secepatnya semuanya akan terbongkar. Pilihannya hanya ada dua maju atau mundur, kalau mundur berati Zifa dan kakak serta dua ponakannya harus meninggalkan semuanya termasuk tempat ini. Apa bila maju yaitu dia harus mengamankan tifa keluarganya, dan dia akan berdiri dengan sisa tenaganya untuk melawan mereka.
Seperti yang sudah jadi tujuannya Ifa akan tetap maju!
********
Teman-teman sembari menunggu kelanjutan dari kisah Zifa daan Ghava yuk mampir ke novel bestie othor yah, di jamin bikin baper dan seru...
Kuy ramaikan...
__ADS_1