
Zifa terbangun ketika Zara yang ada di pangkuannya sudah bangun lebih dulu. "Ifa, ini di mana?" tanya Zara seolah ia tidak ingat apa yang semalam ia lakukan.
"Kakak sudah bangun?" tanya Zifa dengan suara seraknya, dan juga nyawa yang belum terkumpul dengan sempurna. Kepala juga sedikit berdenyut, mungkin karena ia yang masih sangat kurang tidur. "Ini di dalam mobil Kemal, kakak mau turun dan masuk kerumah?" tanya Zifa lagi dengan suara yang lebih lembut lagi. Yah sejak kejadian Zara kabur dari rumah karena dirinya yang membentak nya, sehingga Zifa berjanji bahwa ia akan belajar menahan emosi nya, dia tidak ingin membuat Zara ketakutan dan kabur dari rumah lagi.
"Kakak lapar Ifa," lirih Zara yang ternyata mungkin ia bangun karena kelaparan, terlebih kondisi Zara yang sedang hamil, sehingga mudah lapar. Zifa melirik ke kursi kemudi di mana Kemal masih pulas tertidur. Laki-laki itu juga baru bisa tertidur setelah azan Subuh berkumandang. Begitu pun dengan Zifa sama baru bisa terpejam matanya dengan sempurna setelah azan Subuh, dan sekarang ia di paksa untuk bangun baru jam menunjukan pukul enam pagi.
"Kalau begitu ayo kita turun dan kita masak bersama kakak mau nggak?" tanya Zifa agar Zara lupa dengan ibunya. Mungkin saja kalo Zifa mengajak Zara untuk masak bersama dia akan lupa dengan ibu yang sudah tidak ada. Yah, Zifa tahu dari ibunya dulu, bahwa kakaknya itu hobby dengan kegiatan dapur entah memasak atau apapun, dan ibu juga selalu mengajak Zara untuk membantunya ketika sedang memasak dan Zara akan lebih dominan untuk memasak. Zara juga sebenarnya memiliki kelebuhan yaitu olahanya rasanya enak, tetapi karena ibu takut kalo kakanya yang memasak ia akan terkena minyak panas maupun air panas, sehingga selama ini ibulah yang selalu masak makanan buat mereka. Peran kakanya hanya untuk membantu saja.
"Ayo, nanti Ara akan bantu Ifa masak," celoteh Zara, kembali ceria. Sehingga Zifa pun sedikit merasakan kelegaan karena kakaknya yang tidak lagi bertanya di mana ibunya berada. Jujur pertanyaan yang seperti itulah yang membuat Zifa terpancing emosinya. Dia juga sebenarnya belum sepenuhnya merelakan ibunya pergi. Di dalam hati kecilnya, Zifa masih terus berdoa bahwa ini hanyalah mimpi, ini hanyalah prank yang temanya buat untuk memberiak kejutan ulang tahunya. Sampai kapan Zifa akan terus berharap di hati kecilnya bahwa semua yang menimpanya hanyalah prank atau mimpi? Entah dia sendiri tidak meyakini perasaanya itu.
__ADS_1
Kakak beradik itu pun turun dari mobil Kemal dan masuk kedalam rumah yang mulai nanti malam Zifa harus mulai pindah dari rumah itu, rumah kenangan yang akan selalu menjadi tempat mengukir kenangan terindangnya. Banyak momen di dalam rumah ini yang tidak bisa Zifa lupankan. Sehingga Zifa rencananya tidak akan menjual rumah ini. Malah Zifa ingin apabila ada rezeki lebih, suatu saat nanti dia akan membangun kembali rumah ini menjadi rumah yang lebih layak lagi untuk dihuni dirinya dan kakaknya.
Tentu semuanya akan ia lakukan apabila ia sudah menemukan jawaban atas meninggalnya ibunya, dan juga atas nasib buruk yang menimpa kakanya itu. Zifa juga masih mengingat cita-cita ibunya adalah membangin rumah ini sehingga apabila hujan tidak lagi bocor di beberapa ruangan karena genteng yang mungkin sudah pecah, atau bergeser, tetapi kendala materi yang membuat ibu memilih untuk sementara menadahi bocoran dengan ember maupun baskom, nanti apabila ada rezeki baru akan di ganti gentengnya. Namun semuanya belum terwujud. Ibunya sudah di panggil oleh Tuhan. Dan kini nasib yang memaksa Zifa sementara waktu meninggalkan rumah ini.
"Kita masak apa yah kak?" tanya Zifa agar kakanya yang menentukan makanan apa pagi ini ia inginkan. Mungkin bayi yang ada dalam kandungan kakanya menginginkan sesuatu, sehigga Zifa bisa menurutinya. Seperti itu kira-kira alasan Zifa menanyakan kakaknya ingin makan apa?
"Nasi goreng Fa," jawab Zara dengan antusias sekali.
Zifa membiarkan kakanya meracik bumbu untuk masakan nasi goreng, dan dia mengamatinya." Yah, mungkin yang di maksud Kemal terapi itu yang seperti ini mengingat-ingat dari hal yang sepele hingga hal-hal yang cukup berat," batin Zifa, ada rasa sesal, kenapa sejak dulu dia tidak sampai terfikirkan sampai ke hal-hal kecil semacam ini. Mungkin saja andai Zifa melatih kakanya dengan ingatan-ingatan yang seperti ini dia kemungkinan akan mengingat semua kejadian yang menimpa dirinya.
__ADS_1
"Betul kata kemal bahwa semuanya belum terlambat," batin Zifa semangatnya kembali tersulut untuk melatih kakanya mengingat-ingat hal yang kecil dulu.
"Kak ini namanya apa?" tanya Zifa sembari menujukan bawang putih.
Zara tidak langsung menjawabnya. Wanita itu terlihat mengernyitkan dahinya seolah tengah mengingat sesuatu. Zara mengambil benda yang ada di tangan Zifa dan mengupasnya lalu menciumnya.
"Ini bawang putih, Ifa," jawab Zara sembari mengembalikan satu siung bawang putih yang telah ia kupas dan di belah menjadi dua itu.
"Kakak tahu ini bawang putih dari siapa? Lalu kalo yang ini apa?" tanya Zifa lagi, dia tengah berlatih mengajak Zara berinteraksi dengan melatih memorinya ingatanya dari hal yang ringan dulu.
__ADS_1
Zara mengambil benda yang ada di tangan adiknya lagi dan lagi-lagi kakanya itu menciumnya. "Ini jahe. Ibu bilang ini jahe, ini bawang putih," ucap Zara dengan menunjuk benda yang tadi Zifa tanyakan, dan lagi-lagi jawaban kakanya benar. Yah sehingga Zifa semakin yakin, bahwa memang ada kemungkinan kakanya bisa mengingat atas apa yang menimpa dirinya. Tidak hanya itu Zifa juga menyimpulkan bahwa kakanya itu memiliki penciuman yang tajam, dan itu mungkin bisa menjadi salah satu keistimewaan kakanya itu.
*Kemal sebenarnya dari sekolah menengah pertama tertarik dengan pendidikan kejiwaan semacam pskiater, alasanya klise karena dia melihat banyak anak/orang dengan gangguan emosi kurang penanganan yang tepat, sehingga banyak yang terjebak dengan sifat kebiasaanya. Namun mamih dan papihnya yang memiliki banyak cabang bisnis dan perusahaan mengharuskan anak-anaknya mengambil pendidikan bisnis juga. Namun tanpa sepengetahuan mamihnya Kemal masih ingin menjadi dokter sepesialis dalam penanganan gangguan emosional itu. Dan Kemal juga melihat tahun demi tahu orang dengan gangguan emosi bahkan sampai menyerang kejiwaanya semakin meningkat, itu tandanya lingkungan yang salah penanganan dan penghakiman masyarakat membuat makin banyaknya fenomenal seperti ini. Dan kebetulan Zara adalah salah satu korbanya, Kemal ingin membuktikan bahwa orang dengan gangguan emosi dan terjebak dalam imajinasi andai menemukan orang yang tepat bisa sama seperti manusia normal lainya, dan hidup berdampingan tanpa membedakan keterbatasanya.