
Zifa dan Zara secara bersamaan ke luar berjalan dari ruangan mediasi, meninggalkan Abas yang masih menangis. Menyesali perbuatan mereka, dan juga Omar yang menatap kosong punggung dua adik kakak itu.
"Apa kakak sudah merasa lega?" tanya Zifa pada sang kakak, yang hari ini Zifa lihat bahwa Zara sangat berbeda sekali.
"Rasanya seperti satu per satu ikatan yang membelit tubuh Kakak terlepas," balas Zara dengan memberikan senyum kemenangan.
Zifa pun membalasnya, "Ibu dan Bapak pasti bangg pada Kakak," puji Zifa dengan mengacungkan kedua jempolnya. Mereka pun berjalan menemui Raja dan Ratu. Di mana di sana juga ada Ghava dan juga Kemal.
"Udah ngobrolnya?" tanya Ghava dengan senyum seperti biasanya. Zifa cukup kaget ketika Ghava bersikap biasa saja, lalu sedetik kemudian membalasnya juga dengan anggukan.
"Ayok kita mau ke makam orang tua kalian kan, nih dua anak ini sudah bertanya terus rumah Opa dan Omanya," ucap Alwi yang sejak tadi mengasuh Raja dan Ratu, untung dua anak itu baik dan nurut dengan alwi sehingga aman.
"Yuk kita juga kangen," balas Zifa.
"Mba Lyra mau ikut?" tanya Zifa pada Lyra yang sedang ngobrol dengan Kemal.
"Tidak deh Fa, maklum wanita karir kerjaanya tidak ada hentinya," balas Lyra dengan menujukan wajah lelahnya. Kalau bukan permintaan Zifa yang ingin Lyra menjadi saksi juga, Lyra pasti akan memilih tetap bekerja apalagi ada mantan suaminya, tetapi karena Zifa yang memaksanya sehingga Lyra pun akhirnya mau juga menerima permintaan Zifa untuk datang ke pengadilan keputusan akhir dari kasus ibunya.
Sekali melihat wajah penyesalan mantan suaminya
"Ya udah, Ifa hanya mau bilang terima kasih banyak sudah membantu Ifa sampai detik ini, kalau tidak ada Mba Lyra mungkin Ifa akan tetap terjebak dalam ketakutan buat ngungkapin kasus ini. Ifa tidak bisa membalas jasa Mba Lyra yang bahkan sampai mau mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk kasus ini. Ifa ucapkan banyak terima kasih, dan semoga Allah balas kebaikan Mba Lyra." Zifa memeluk Lyra dengan sangat hangat sebaliknya pun Lyra melakukan sebaliknya.
"Kalau gitu kalian baik-baik dan salam untuk almarhum Ibu dan Bapak kalian yah," pamit Lyra dia pulang lebih dulu, karena pekerjaanya yang banyak. Mengingat papahnya masih sakit sehingga semua pekerjaan papahnya digantikan oleh Lyra.
Mba Lyra," panggil Zifa ulang.
Lyra pun yang sudah berjalan beberapa langkah langsung membalikan badanya lagi. Sebelah alisnya diangkat, seolah bertanya 'Apah'?
"Apa Mba Lyra juga nggak menitipkan salam untuk Mas Berondong?" tanya Zifa, dengan nada yang menggoda, dan sontak saja Lyra langsung melebarkan kedua bola matanya, kaget. Kenapa dia bisa tahu hubunganya, tentu Lyra tahu siapa yang Zifa maksud 'Mas Berondong'.
"Mas Berondong kasih salam loh, gimana diterima atau tidak?" tanya Zifa dengan senyum ditahan, sementara yang lain, yang belum tahu hubungan Lyra dan Beni pun pada penasaran siapa yang dimaksud oleh Zifa.
"Terserah kamu deh Fa, lagian juga kenapa kamu bisa tahu, pasti dia yang cerita yah?" balas Lyra dengan nada yang kesal.
__ADS_1
"Tidak, hanya kebetulan baca chat kalian waktu meeting berdua," kekeh Zifa.
"Ya udah salam boleh deh." Akhirnya Lyra tidak bisa mengelak lagi padahal tadinya mau tetap bersembunyi-sembunyi apalagi nanti pasti akan banyak yang meledeknya dengan hubunganya.
Selanjutnya Lyra pun kembali ke kantornya dan Zifa serta Zara menuju rumah mereka dan akan dilanjutkan ke makam kedua orang tuanya. Seperti biasa Kemal tidak ikut, karena ingin memberikan waktu untuk keluarga iparnya dan dia tentu akan menemui pujaan hatinya, Mbak Wina.
Sudah lama Kemal tidak datang ke kantor Mbak galaknya, sehingga Kemal akan datang menemui calon istri dan sekalian untuk mencari persiapan yang mungkin masih kurang, mengingat satu minggu lagi Kemal dan Wina akan menikah.
Zara dan dua anaknya satu mobil bersama dokter Alwi, sementara Zifa sudah pasti dengan Ghava suaminya.
"Apa kamu tidak marah dengan aku?" tanya Zifa pada Ghava begitu mereka naik ke dalam mobilnya. Ghava membalas dengan tatapan yang bingung.
"Marah? Kenapa marah?" tanya Ghava, sifatnya tetap tenang seperti biasanya.
"Aku sudah membuat keributan di tempat sidang tadi, dengan membawa Raja dan Ratu dan aku pun sudah membuat Ibu kamu malu dan juga Abas," balas Zifa dengan menunduk. "Aku pikir kamu akan marah dan akan menceraikan aku, karena malu aku biang masalah dan juga mempermalukan ibu kamu."
Ghava masih terlihat tenang. "Aku masih menganggap ini wajar, maaf bukan karena terlalu cinta sama kamu, tetapi sebelum kamu berkata seperti tadi sudah pasti ibu aku sudah mengatakan kalimat yang lebih kejam dari yang kamu katakan. Aku mencoba mengerti ada di posisi kamu, dan aku juga mencoba menenangkan ibu aku, jadi aku tidak akan berpihak sama satu orang saja. Terlebih aku adalah suami kamu, dan aku juga anak dari Mamih. Aku akan berusaha untuk tetap adil tanpa memihak salah satu," ucap Ghava dengan nada bicara yang tenang.
"Terima kasih karena kamu sudah bisa ngertiin aku," balas Zifa mulai bisa membuka hatinya seperti yang Alwi katakan.
Zifa pun menggelengkan kepalanya dengan yakin. "Aku tidak akan melarangnya, karena memang benar apa yang dikatakan kamu. Kalau Nyoya Eira adalah tetap Ibu kamu dan seorang laki-laki baktinya akan terus belanjut pada ibunya sekalipun dia sudah menikah, jadi tetaplah jalani kewajiban kamu dan aku akan mengerti hal itu," balas Zifa tidak ingin juga di cap sebagai istri yang durhaka.
"Sekarang aku mengerti kenapa Tuhan mentakdirkan aku menikah dengan kamu, bukan Kemal. Karena kamu sangat dewasa, sangat cocok dengan aku yang masih kekananakan. Entah apa jadinya kalau aku dan Kemal yang menikah mungkin akan lebih sering bertengkar," kekeh Zifa, dia pun perlahan bisa mengimbangi kasih sayang Ghava.
"Dan Kemal sekarang mendapatkan wanita yang lebih tua dan itu sangat cocok dengan sifatnya yang manja," kelakar Ghava, ia cukup kaget ketika Kemal mengatakan bahwa dirinya akan menikah dengan Wina, terlebih ketika Kemal mengatakan bahwa Wina sudah hampir berumur dua puluh sembilan, perbedaan lima tahun, apabila untuk suami dan istri pasti akan dikatakan wanita dapat berondong.
Padahal keseriusan seseorang laki-laki tidak bisa dilihat dari umur saja tetapi juga dari tanggung jawabnya dan juga kebaikanya. Kalau memang laki-lakinya baik bersikap dewasa, bertanggung jawab, serta tidak kasar tentu wanita yang lebih tua juga akan nyaman dengan laki-laki itu meskipun jaraknya cukup jauh.
"Tapi aku liat mereka cocok loh, lucu bertengkar terus apalagi Kemal itu iseng masak sama calon istri sendiri panggilnya Mbak," kekek Zifa yang memang sudah beberapa kali bertemu Kemal dan Wina. Awalnya Wina pasti marah-marah terus ketika bertemu Zifa, tetapi lama kelamaan Zifa dan Wina bersikap biasa sajah.
"Nah itulah uniknya Kemal, dia kalau dilarang jangan, malah suka. Seperti nama panggilan itu Wina sudah bilang sebe,l kesel dipanggil dengan nama itu, malah dia sengajain bikin panggilan sayangnya dengan embel-embel Mbak, tapi dia baik dan tanggung jawab kok.," bela Ghava yang tahu gimana sifat adiknya.
"Yah, Zifa tahu, kalau tidak baik dan tidak tanggung jawab sudah pasti Mba Wina tidak mau menerima lamaran dia," ucap Zifa.
__ADS_1
Karena terlalu asik mengobrol, perjalanan pun tidak terasa kini sudah ada di depan rumah peninggalan orang tuanya, yang ternyata sudah rapih, dan itu karena tetangga Zi fa yang selalu membersihkanya.
Kedua mata Zifa pun berkaca-kaca, berbeda dengan Zara yang terlihat lebih tenang dan terlihat sudah ikhlas dengan kepergian ibunya.
"Bunda apa ini lumah Opa dan Oma?" tanya Raja dengan celotehan yang lucu.
"Iya sayang, kalian main sanah," ucap Zara, dia ingin ke kamar ibunya di mana dulu tempatnya tidur bersama ibu sepanjang malam sampai hal itu tidak lagi ia rasakan lagi, dan baru Zara tahu ternyata ibunya meninggal dunia karena di bunuh.
Raja pun kembali lari ke halaman rumah di mana di sana, Ratu dan yang lainya sedang memetik jambu yang ada di halaman rumah mereka.
Bahkan kedua bocah itu nampak antusias, Ghava yang memanjat pohon jambu itu dan dua anak itu yang di bawah pohon jambu tertawa dengan renyah setiap Ghava melemparkan jambu-jambunya. Sementara Alwi merekam setiap momen indah itu, bahkan ayah angkat dari dua anak kmbar itu hampir setiap hari merekam pertumbuhan mereka, agar nanti bisa menjadi kenangan untuk mereka di saat mereka sudah dewasa. Tidak hanya kenangan manis seperti ini, tetapi momen nangis momen berebut mainan Alwi juga meminta Sisri untuk merekamnya.
Di tengah-tengah keseruanya, Alwi pun menghubungi Sisri agar dua anak angkatnya bercerita keseruan saat di rumah opanya.
[Mba kita lagi metik jambu, nanti mau petik lambutan abis ini.] adu Ratu dengan menujukan layar kameranya pada jambu-jambu yang sudah di petik dan tidak lupa juga layar kameranya di tunjukan pada Ghava yang sedang memanja pohon.
[Wah, jambunya banyak sekali,] balas Sisri dengan wajah berbinar.
[Mba tidak boleh sedih, nanti Laja bawakan yang banyak buat Mba sisi,] balas Raja yang juga ikut nimbrung pada percakapan ratu dan Sistri.
[Terima kasih Abang, Mba terharu ternyata Abang ingat sama Mba,] jawab Sisri.
[Iya dong Abang dan Laju kan juga sayang Mba Sisi yang baik, tapi bawel-bawel dikit.] Sontak saja Alwi dan Ghava yang mendengarkan percakapan mereka pun ikut tertawa dengan renyah.
Alwi bangga, karena Raja dan Ratu tidak kekurangan satu apapun, bahkan di usinya yang belum genap tiga tahun mereka bisa diajak ngobrol dengan lancar. dan bisa mengertiin orang lain tidak egois dan tidak jadi anak yang nakal, mereka bisa menghargai Sisri meskipun mereka adalah pengasuhnya.
Bahkan kalau mereka berbuat salah akan meminta maaf untuk kesalahanya, dan merapihkan mainanya sehingga tidak selalu mengandalkan Sisri atau asisten rumah tangga yang lain.
Rezeki memang tidak selalu berupa lembaran uang, memiliki anak yang pengertian seperti Raja dan Ratu sudah menjadikan rezeki yang tiada henti.
Di saat Raja dan Ratu menikmati kebahagiaanya dengan keluarga yang tulus menyayanginya, sementara Abas dan Eira tiada hentinya menyesalinya. Terutama Abas yang mana setiap ia mengingat betapa teganya ia dengan bermodalkan permen dan makanan-makanan ringan tega membodohi gadis polos itu dan melampiaskan nafsu bejatnya pada gadis memiliki keterbelakangan mental. Dan yang lebih teganya ia tidak mengakui kesalahanya.
Penyesalanlah yang menjadi teman dalam hari-harinya.
__ADS_1
Selamat menikmati penyesalan itu Abas....