Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 90


__ADS_3

 Begitu Zifa turun dari mobil Lyra. Justru perasaanya seolah jadi tidak tenang dan takut kalau persembunyianya kini malah ketahuan. "Aduh kira-kira Mba Lyra orang baik atau sebaliknya yah, kenapa aku bisa seceroboh ini sih, gimana kalau memang Mba Lyra adalah pelakunya, gimana kalau Mba Lyra sama dengan Kemal, mata-mata mereka," gerundel Zifa, perasaanya jadi tidak tenang, karena pertanyaannya tadi pada Lyra.


"Mudah-mudahan saja Mba Lyra lupa dengan pertanyaan yang aku tanyakan lagi. Mudah-mudahan, karena pekerjaan dia yang banyak dan pikiran yang bercabang, sehingga apa yang aku tanyakan akan masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri," batin Zifa. Kini wanita itu akan kembali lagi masuk ke dalam dan coba menanyakan yang lainya tentang Lyra pada kakanya siapa tahu ia akan menemukan kode-kode lain tentang apa yang terjadi dengan dia dan tentunya keluarga Kemal.


Zifa menatap kakaknya yang sedang bermain dengan Raja dan Ratu.


"Ifa kenapa?" tanya Zara ketika melihat Zifa merebahkan tubuhnya di samping Ratu.


"Kakak, apa lagi yang Kakak tahu tentang wanita tadi yang bernama Lyra? Selain ketemu di tempat Ibu kerja, Kakak tahu apa lagi?" Kini Zara sudah bisa mengingat sesuatu itu tandanya dia harus sering bertanya-tanya tentang tempat ibunya kerja dan lingkungan siapa tahu kakaknya akan ingat sesuatu yang ia cara.


Zara  menggelengkan kepalanya pelan, dan seolah ia tengah berpikir dengan pertanyaan Zifa.


"Baiklah kalau memang Kakak tidak ingat lagi, tidak apa-apa." Sesuai yang dikatakan dokter Alwi bahwa  Zifa jangan terlalu memaksa Zara untuk mengingat semuanya, karena itu justru semakin membuat Zara kebingungan yah seperti sekarang ini. Zara akan kebingungan.


"Aku nanti akan coba berkonsultasi dengan dokter Alwi mungkin saja dokter Alwi bisa membantu kami, dengan  masalah ini. Terlebih dokter Alwi sudah beberapa kali bertemu dengan Mba Lyra mungkin saja  dokter Alwi bisa menebak gimana kira-kira kepribadian Mba Lyra," batin Zifa, masih belum tenang dengan kecerobohanya tadi.

__ADS_1


Karena kejadian tadi Zifa sampai kepikiran bahwa tempat ini tidak aman lagi. Zifa takut kalau Lyra justru akan mencelakai dia, Raja dan Ratu dan tentu kakaknya, Zara. "Apa aku harus pindah dari tempat ini?" gumam Zifa, tetapi uang yang ia punya ingin di tabung yang mungkin kedepanya ia akan membutuhkan banyak uang.


"Nanti tanya dokter Alwi saja deh, siapa tahu nanti ada solusi dari beliau." Zifa mencoba menenangkan pikiranya, biar tidak setres malah, lagian kan belum tentu yang dia takutkan memang benar. Gimana kalau tenyata justru dari Lyra semuanya akan terbongkar?


*******


"Abas gimana sidang perceraian kamu dan Lyra, apa sudah beres?" tanya Eira, di sela-sela makan malamnya.


Sebelum menjawab Abas meneguk air minum satu gelas besar dan meletakan gelas yang sudah kosong dengan sedikit kasar.


"Besok keputusan terakhir," jawab Abas dengan suara beratnya. Eira menggerakan kepalanya naik turun, tandanya ia mengerti dengan jawaban yang Abas berikan. (Anggap aja Abas menggunakan orang dalam untuk mengurus perceraiannya agar tidak ribet dan memakan waktu lama)


Abas menggelengkan kepalanya. "Lyra yang meminta aku untuk merahasiakanya, karena kondisi Papahnya yang sedang sakit. Sehingga Lyra takut apabila dengar kabar buruk ini Papahnya akan semakin parah sakitnya," jawab Abas dengan sedikit malas untuk menceritakan ulang, sedangkan waktu pertama kali dirinya mengabarkan perceraianya bukanya Abas juga sudah menceritakanya dengan sangat detail, tetapi masih saja diulangnya pertanyaan yang sama.


"Tapi bagus juga keinginan dia, coba kalau orang tuanya tahu kalau kamu ternyata menceraikan anaknya secara sepihak dengan alasan anak, sudah bisa di pastikan kalau keluarganya akan membuat masalah dengan keluarga kita. Ada untungnya juga  Mantan mertua kamu sakit sehingga kamu bisa bebas. Dan mungkin kalau nanti mereka tahu kan tinggal kamu jelaskan, kalau pernikahan kalian memang sudah tidak sejalan lagi," ucap Eira, dengan nada yang terlihat santai.

__ADS_1


Abas tidak menanggapi ucapan Mamihnya, ia lebih fokus dengan makananya. Mungkin kalau ia  tidak menghargai orang tuanya lagi Abas saat ini sudah pergi dari meja makan ini, dan lebih baik menahan lapar, dan menghabiskan waktunya di dalam kamar seorang diri.


"Jadi karena perceraian kamu tinggal menunggu hari kamu nanti akan mamih kenalin dengan anak teman mamih dia juga penjual barang-barang bermereka dan sudah punya outlet barang-barang branded. Kamu pasti suka, dia cantik dan pastinya mandiri jadi tidak akan merepotkan kamu." Eira nampaknya sudah tidak  sabar untuk menikahkan anaknya lagi. Padahal perceraian anaknya saja belum ketuk palu, tetapi sudah membuat perjanjian untuk ketemuan dengan wanita yaang dijodohanya.


"Aduh Mih, nanti dulu lah kalau soal itu. Abas saja belum bercerai secara resmi dengan Lyra, kenapa Mamih sudah memikirkan penggantinya. Bahkan Abas ingin menenangkan pikiran dulu. Perceraian Abas dan Lyra itu cukup membuat Abas cape dan juga setres Mih, tidak mudah buat Abas melepaskan Lyra terlebih kita bersama sudah sepuluh tahun lebih. Banyak suka dan duka yang Abas lalui, tidak mudah tiba-tiba berpisah begitu saja," jawab Abas, malas sebenarnya apabila harus menjelaskan hal yang berulang-ulang, tetapi kadang Mamihnya itu terlalu berambisiu untuk melakukan apa-apa, dan tentunya tidak merasakan perasaan anaknya.


"Apa Mamih itu memiliki kelainan yang suka memaksa, dan apabila tercapai maka ia akan terus mencari sesuatu yang bisa untuk di paksa ke orang lagi," batin Abas, gemas sekali rasanya.


"Loh itu seharusnya tidak jadi masalah dong kan kamu dan Lyra memang bukanya sudah banyak masalah, dan kamu juga sering cerita dengan apa masalah yang terjadi dengan kamu, bukanya kalau Mamih bantu kamu keluar dari masalah dengan Lyra kamu akan terbebas dari masalah itu. Lagian ngapain sih mikirin Lyra, wanita itu juga belum tentu mikirin kamu," gerundel Eira.


Jelas Eira ikut campur dengan masalah Abas dan Lyra, lah Abas kalau adan masalah dengan istrinya masih sering curhat pada mamihnya, dan imbasnya pada hubungan mereka sendiri. Coba Abas apabila ada masalah baik dengan Lyra maupun dengan siapapun jangan cerita ke mamihnya sehingga tidak akan terjadi masalah yang seperti ini. Semuanya tentu berasal dari Abas sendiri.


"Iya memang kita sudah tidak harmonis, tetapi kita awalnya sedang berusaha memperbaiki hubungan ini, dan kami akan mencoba kembali usaha agar memiliki keturunan, tetapi justru semuanya tidak ada kesempatan lagi. Dan biarkan Abas istirahat sejenak jangan di tuntut soal anak-anak dan anak Abas cape Mih dengan masalah yang seperti ini, mungkin saja Abas memang yang mandul," ucap Abas dengan pasrah.


"Enak sajah kamu tidak mandul, kalau mandunl tidak mungin kamu mengamili Anak...

__ADS_1


Suara Eira terputus dan tidak melanjutkanya lagi.


Abas pun penasaran dengan apa yang mamihnya ucapkan. "Maksud Mamih apaan? Abas menghamili siapa, anak? Apa maksud dari anak? Apa ada yang Abas tidak tahu?" cecar Abas dengan mata yang memerah, menatap penuh mohon pada Mamihnya.


__ADS_2