
"Kamu yakin Bang bakal bantu aku?" lirih Ghava ketika Abas megantarnya kebandara. Yah, atas kesepakatan mereka berdua akhirnya Ghava membuka bisnis baru di kota lain lagi, hal itu agar mamih dan papihnya percaya tanpa meragukan omongan Ghava maupun Abas.
"Udah loe tenang ajah gue urus semuanya, yang penting loe tetap mengerjakan semua yang sudah kita bahas semalam, jangan bayangkan ini itu, kalau semuanya sudah beres baru loe mau balik ke Bandung atau ke mana ajah terserah loe ajah, tapi untuk saat ini loe fokus dengan bisnis yang berada di kota itu," ujar Abas, ia takut adiknya malah keras kepala dan ujungnya rencana yang sudah mereka atur gagal semuanya.
"Baiklah Bang, terima kasih yah udah mau bantu gue untuk mengurus kekacauan ini, dan mau kerja sama dengan gue buat bikin semuanya aman," balas Ghava.
"Tidak apa-apa lah kalau aku dan Ifa berpisah untuk sementara yang terpenting aku dan Wina tidak jadi menikah dalam watu dekat ini," batin Ghava, hatinya sedikit berbunga-bunga karena ada harapan untuk menemukan jodoh sesuai dengan keinginannya.
Setelah mengantar Ghava kebandara Abas pun kembali pulang kerumahnya dan acara selanjutnya akan menemani mamihnya untuk kerumah Wina, guna meminta keringanan untuk Ghava. Padahal kerjaan Abas banyak sekali, tetapi demi masa depan Ghava agar tidak seperti dirinya pun ia rela melakukan semua, yang terpenting Ghava tidak salah dalam mengambil keputusan, cukup rumah tangganya yang sampai saat ini tidak ada kejelasan, cukup ia yang di jadikan boneka oleh orang tuanya, cukup hanya Abas yang merasakan gimana tidak enaknya hidup selalu diatur oleh orang tuanya, setidaknya adik-adiknya kelak bahagia dengan pasanganya.
"Kenapa Abas mau melakukan ini semua demi aku yah? Apa dia tulus melakukan ini semua atau dia sedang berusaha menebus sebuah kesalahan agar aku tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dia. Kenapa dia lebih bersemangat membantu masalah aku, sedangkan rumah tangga dia sendiri juga sedang dalam masalah yang besar. Apa dia tidak ingin memperbaiki rumah tangganya," batin Ghava, justru dia didalam pesawat menuju lokasi ke tiga pembukaan kantor cabang di sibukan untuk memikirkan Abas yang tiba-tiba berubah.
__ADS_1
"Ifa maaf yah kita untuk saat ini tidak bisa bertemu dulu, aku akan fokus dengan bisnis aku, dan kamu juga bisa fokus dengan bisnis kamu, dan aku berharap kamu bisa mewujudkan cita-cita kamu. Aku akan terus berusaha agar kamu dan aku suatu saat nanti berjodoh, aku akan menunggu kamu sampai kamu siap menikah dengan aku," lirih Ghava tanganya mengusap layar pintarnya yang saat ini menampilkan gambar dirinya, Zifa dan kedua ponakan kembarnya, yaitu Raja dan Ratu. Ghava setiap hari justru semakin dibuat jatuh cinta dengan sosok Zifa.
****
"Abas, apa benar adik kamu itu sedang sibuk dengan pembukaan kantor cabangnya, apa sebegitu banyaknya kerjaan dia sampai dia tidak bisa ikut ke rumah Wina, Mamih perasaanya tidak enak takut kalau nanti keluarga Wina marah dengan cara Ghava yang kurang sopan," tanya Eira, di mana saat ini Abas dan mamihnya itu sedang berada di dalam mobil, hendak menuju kediaman Wina.
Abas menanggapinya dengan senyum tipis dan lebih santai.
Brukkk... Eira memukul pundak Abas. "Kamu kalau ngomong jangan sembarangan, Mamih dan Paih serta keluarga Wina itu sudah berteman baik dan mereka juga sudah menjadi teman mamih cukup lama, serta perjodohan ini sudah terencana dari jauh-jauh hari jadi tidak bisa sembarangan dong mau membatalkan begitu saja," sungut Eira. "Ini bukan usaha kerja sama kamu dan Ghava kan?" tanya Eira lagi, dengan tatapan penuh selidik terhadap Abas, tetapi Abas yang sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu pun tetap santai.
"Mamih kayaknya tahu aku seperti apa, lagian aku dan Ghava dari dulu Mamih sangat tahu hubungan kami seperti apa. Bukanya Ghava juga lebih dekat dengan Kemal dibandingkan dengan Abas, terus gimana caranya Abas dan anak itu bekerja sama. Abas tahu rencana Ghava dengan semua target-targetnya ajah baru tadi pagi, dan karena Abas lihat proyek Ghava yang sangat bagus itu sebabnya Abas mau susah-susah untuk membantu anak itu. Karena Abas sebagai pembisnis tahu betul gimana butuh waktu untuk mengembangkanya, dan kita sebagai keluarga wajib mendukungnya. Lagian cuma diundur lima tahun kok, sekalian biar anak-anak itu pada tambah dewasa," ucap Anas dengan kata yang sangat meyakinkan, jadi apabila Eira masih ragu juga berati mamihnya itu tidak bisa mendengar masukan dari siapapun.
__ADS_1
Saking asiknya sharing tentang kemungkian-kemungkinan yang terjadi dengan kedatanganya di rumah Wina sampai mereka tidak sadar kendaraanya sudah terparkir di halaman rumah mewah Wina.
Rupanya kedatangan Abas dan Eira sudah di tunggu oleh orang tua Wina dan tentu Wina sendiri ada diantara mereka. Wajah Wina, kembali murung dan itu semua karena ia tidak melihat Ghava, di mana dalam otaknya sudah membayangkan bahwa calon suaminya akan datang juga.
Memang Eira tidak memberitahukan niatnya berkunjung kerumah calon besanya, Eira cuma mengatakan ingin bersilaahturahmi untuk membicarakan pernikahan Ghava dan Wina, tetapi Eira tidak mengatakan akan meminta keringanan untuk mengundur pernikahan mereka apalagi sampai lima tahun, dan Eira juga tidak mengatakan bahwa yang akan datang adalah Abas bukan Ghava.
"Loh Tante, Ghava enggak ikut? Bukanya kata Tante Ghava kemarin malam pulang ke rumah?" tanya Wina, matanya masih menatap kearah pintu yang mengira bahwa Ghava belum masuk ke dalam rumahnya, mungkin Ghava masih di dalam mobil sehingga masuknya telat.
"Iya semalam Ghava memang pulang, tetapi ia kembali lagi pergi dari rumah ke bali karena kerjaanya harus dihadiri dia jadi pagi tadi Abas sudah mengantarkan Ghava ke bandara, karena Ghava harus sudah berada di bali setelah makan siang," jawab Eira, sementara Abas masih diam memberikan kesempatan mamihnya untuk berbasa basi dulu dengan keluarga Wina dan nanti apabila sudah bagianya maka Abas akan mengambil jatah bagianya untuk berbicara.
Lagi, wajah Wina berubah menjadi mendung, ketika tahu bahwa Ghava tidak datang kerumahnya, padahal gadis itu sudah merencanakan jadwal jalan dengan calon suaminya karena Wina mengira bahwa Ghava memang libur kerja sehingga mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk kencan. Tetapi lagi-lagi ia harus sadar bahwa Ghava memang tidak bisa berkencan dengan dia.
__ADS_1
"Ghava, aku sudah cinta dengan kamu sampai kapanpun kamu akan jadi milikku, meskipun kamu tidak suka pada aku dan kamu sengaja menghindari aku,"