Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 105


__ADS_3

Zifa terkejut ketika dari arah belakang ada tangan yang menutup matanya.


"Apakah ini Renal?" ucap Zifa dengan sengaja menyebut nama laki-laki lain, pasalnya dia sendiri sudah tahu dari parfumnya yang sangat memiliki ciri khas dan juga tangannya yang lembut seolah laki-laki yang ada di belakangnya adalah orang yang tidak pernah bekerja. Bahkan tangan Zifa dan tangan Ghava saja jauh sekali bedanya. Tangan Zifa kasar dan banyak kapal, sedangkan Ghava halus seperti pan-tat bayi.


Ghava langsung melepaskan tanganya dari dekapan mata Zifa, dan itu tandanya cara Zifa untuk mengerjai Ghava berhasil, sebab Zifa tahu sekali, kalau pun bibirnya menyebut nama Ghava, sudah bisa di pastikan laki-laki itu akan berkata bukan, alias akan terus menutupnya dan akan panjang urusanya.


"Siapa Renal?" Suara yang serius dan kecewa terlihat dari sikap Ghava. Laki-laki dengan setelan kemeja rapih dengan jas dan dasi, sebab laki-laki itu yang memang saking tidak sabarnya begitu kerjaan selesai ia langsung melanjutkan penerbangan.


"Oh... Renal? Aku pun tidak tahu siapa dia," jawab Zifa dengan santai dan tanganya terus bekerja mengerjakan peking kue yang akan di kirim. meskipun sudah ada yang membantu peking tambah satu orang lagi sesuai dengan usul Lyra, tetap saja tenaga Zifa sangat di butuhkan. Hal itu karena, pembeli lebih banyak yang online dari pada datang secara langsung.


"Bohong! Pasti Renal itu selingkuhan kamu. Selingkuhan yang nomor berapa?" Ghava semakin menunjukan keseriusanya. Zifa  pun sebenarnya sangat malas ketika harus meladeni Ghava, mungkin memang, karena kekasihnya itu yang sedang cape dan juga candaan Zifa yang kurang tepat, sehingga di pertemuan pertama justru dia sudah urung-urungan.


Zifa memberi kode pada Heni  untuk membuatkan minuman untuk kekasihnya, mungkin setelah minum kopi emosi dia akan mencair.


"Nanti aku ingat-ingat dulu Renal itu selingkuhan nomor berapa," jawab Zifa semakin memancing, biasanya kalau Zifa sudah semakin seriuz pasti Ghava dengan sendirinya akan tahu bahwa kekasihnya justru sedang bercanda. Memang cara Zifa yang bercanda cengan di balut keseriusan.


"Fa, aku serius," lirih Ghava suaranya semakin lirih, seolah laki-laki itu memohon keseriusana.


Zifa tanpa menjawab mengulurkan ponselnya. "Paswordnya tangan jadian kita, dan cari sendiri mungkin kamu akan menemukan jawabanya. Seingat aku Renal kekasih ke sebelas," imbuh Zifa. Dari jawaban-jawaban Zifa saja sudah sangat jelas kalau Zifa itu sedang bercanda.

__ADS_1


"Tidak usah dicek. Tapi kalau memang kamu ketahuan selingkuh aku akan bunuh laki-laki itu yang berani godain kekasih orang," gertak Ghava, dan  itu tandanya sampai sejauh ini Ghava masih percaya kalau Zifa tidak akan selingkuh. Tetapi  mungkin hal itu sebentar lagi akan terjadi akan ada pertumpahan darah, karena Zifa yang diam-diam terus menjalin hubungan dengan Kemal, adik kandung dari Ghava.


"Tidak masalah kalau kamu bunuh laki-laki selingkuhan aku. Asal kamu jangan bunuh aku, karena aku banyak memiliki tanggung jawab, terutama untuk Kakak Zara yang sampai detik ini masih sangat membutuhkan aku," balas Zifa dengan santai, dan itu menggambarkan bahwa Zifa tidak pernah takut dengan ancaman Ghava.


"Kalau gitu mana penyambutan untuk kekasihnya yang baru datang jauh-jauh dari luar kota dan langsung dilanjutkan menemui kekasih tercinta, tanpa memikirkan capenya seperti apa." Kini suara Ghava sudah terdengar lebih tidak ada lagi ketegangan seperti pertama datang. Mungkin laki-laki itu sudah sadar bahwa nama Renal itu hanya halusinasi Zifa saja, dengan kata lain tidak ada nama selingkuhan Renal.


Zifa langsung mengangkat wajahnya, di mana sejak tadi dia berbicara dengan Ghava masih fokus dengan paking kuenya. Lalu gadis itu membuang tatapanya jengah dengan yang di ucapkan Ghava.


"Ayolah Fa, sehari ini ajah. Kita jalan-****** habiskan seharian bersama kayak anak-anak ABG di luaran sana berkencan," permohonan dari Ghava dengan wajah sangat serius. "Bosen juga kan Fa seharian hanya nemanin kamu kerja," imbuh Ghava berharap kalau Zifa akan menuruti apa kemauanya.


Zifa tidak langsung menyetujui permintaan Ghava tetapi memang dia yang harus mempertimbangkanya. Tidak sembarangan buat Zifa bisa pergi sesuka hati, kasihan dengan karyawan yang lain kalau sampai kerjaan mereka bertambah sedangkan Zifa sendiri justru enak-enak jalan-jalan dengan Ghava.


"Mas, kamu itu baru banget datang kan, lebih baih hari ini Mas istirahat dulu. Kasian takutnya malah nanti sakit. Kalau Ifa maha ayo ajah buat jalan-jalan toh tinggal duduk. Mas Ghava yang seharusnya jaga kesehatan. Jangan karena pengin buru-buru kencan sampai lupa kesehatan. Untuk hari ini Masa Ghava istirahat ajah, jalan-jalan seharian, kencan ala-ala bisa disusul besok. Lagian kalau badan cape apa  enaknya jalan-jalan," lirih Zifa, dia berusaha menolak dengan cara yang halus. Zifa yakin menolak dengan cara menyelipkan perhatian-perhatian pasti akan membuat Ghava merasa di perhatikan lebih, dan jadi baper.


"Kamar Beni kosong kan?" tanya Ghava akhirnya menurut juga dengan usulan calon istri dan memang dia yang sedikit kelelahan juga.


Zifa membalas dengan anggukan. "Istirahatlah, jangan memaksa akan badan yang cape, nanti kalau sakit malah merepotkan semuanya," perintah Zifa dan langsung di balas anggukan dan hormat dari Ghava.


"Kalau gitu aku istirahat dulu yah, Awas jangan macam-macam dengan Renal!" balas Ghava yang tahu bahwa  tidak ada selingkuhan bernama Renal.

__ADS_1


"Udah sanah, aku meminta kamu untuk segera istirahat, karena Renal sebentar lagi akan datang," balas Zifa tanganya di goyang-goyangkan seolah dia sedang mengusir seekor ayam.


"Hish... kalau gitu salam buat Renal," seloroh Ghava sembari berjalan meninggalkan Zifa.


"Renal tidak suka laki-laki dia lebih suka wanita cantik seperti aku,"tegas Zifa, tetapi sepertinya Ghava sudah tidak mendengar ucapan terakhir dari Zifa itu.


Zifa menatap punggung Ghava yang mulai tertelan oleh bangunan lantai duanya. Ada rasa iba dan kasihan serta bersalah ketika ia harus menggunakan Ghava untuk membalas dendam. Tidak hanya itu Zifa juga dengan sadar dan tahu betul bahwa ia diam-diam menjalin hubungan dengan adik kandungnya Kemal.


Hati Zifa tidak bisa bohong, Zifa juga nyaman dengan Ghava yang Zifa nilai sangat cocok dengan karakter dia. Zifa yang senang bercanda dengan keseriusan selalu di balas dengan candaan lagi oleh Ghava. Mungkin kalau laki-laki lain cara bercanda seperti Zifa tadi akan menimbulkan peperangan, tetapi Ghava beda, percaya pada Zifa dengan yakin. Tetapi justru kepercayaan itu di manfaatkan oleh Zifa sebagai batu loncatan untuk membalas dendam, dan memanfaatkan adiknya pula.


Sore hari menjelang dan Zifa dengan dua kantong nasi datang untuk menghampiri Ghava, lebih tepatnya membangunkan kekasihnya itu.


"Dia tidur atau pingsan, sudah lebih dari enam jam tapi belum bangun juga," gerundel Zifa sembari menyusuri anak tangga menuju kamar Beni. Sedangkan Ghava yang memang kelelahan tentu tidak sadar kalau dia tidur sudah selama itu. Perasaan laki-laki itu baru satu atau bahkan dua jam paling lama padahal dia gtertidur sudah melewati makan siang dan sekarang juga sudah sore, tetapi tidak ada tanda-tanda kalau kekasih Zifa akan bangun.


"Kalau nukan karena ada misi, males banget baik-baikin gini antarin makan dan perhatiin biar nggak sakit," dengus Zifa, tetapi tentu suaranya di pelankan, bahaya kalau asal ucap nanti Ghava ternyata sudah bangun malah bahaya.


...****************...


Besti sembari nunggu kelanjutan Zifa dan Zara, mampir yuk ke novel teman othor.

__ADS_1


Dijamin pasti baper, kuy ramaikan....



__ADS_2