
Seperti biasa Lyra menempuh jarak hingga tiga jam perjalanan hanya untuk mengunjungi Raja dan Ratu. Meskipun setiap hari Lyra selalu berkomunikasi dengan dua anak kembar itu, tetapi rasanya tidak bisa kalau Lyra tidak menemui dua anak-anak Abas dari Zara. Memang Raja dan Ratu adalah anak Abas, tetapi tidak sedikit pun Lyra membenci mereka. Justru Lyra sangat menyayangi mereka.
Setelah ke toko tetapi karyawan toko mengatakan bahwa Ghava dan Zifa sedang ada di rumah sakit, Ghava sedang sakit, Lyra pun kembali melanjutkan pertemuannya untuk dua anak kembar itu, yang sekarang sudah bisa berlari dengan cepat, berebut mainan hingga berebut makanan, dan saling berebut apapun itu, padahal mereka sudah mempunyai mainan satu-satu, dan sama pula bentuknya, tetapi bukan alasan mereka buat tidak saling berebut. Pasti akan ada saja yang membuat mereka memperebutkan benda-benda itu.
"Tante..." pekik Raja dan Ratu ketika melihat Lyra baru turun dari mobilnya, dua anak kembar yang baru akan menginjak usia dua tahun langsung berlomba lari, menuju Lyra.
"Awan, jangan lari nanti jat....(Belum selesai Lyra berbicara Ratu sudah menangis)
Huaaa... Huaa.... Ratu menangis dengan kencang, karena tangan Raja mendorongnya. Anak kembar itu selalu berebut kalau Lyra datang, karena mereka tahu pasti akan ada mainan baru atau tidak makanan dan juga pakaian. Seperti hari ini. Lyra membawa dua pepper bag untuk Raja dan Ratu, tetapi dua anak kembar itu tetap berebut berlari saling duluan sampai, padahal mau duluan atau belakangan Lyra tetap akan memberinya tetapi namanya anak-anak tidak seru kalau tidak ada yang menangis.
Sisri sebagai pengasuh mereka sejak mereka masih orok, langsung berlari untuk membantu Ratu, sedangkan Lyra sudah tidak bisa membantu Ratu, karena Raja sudah memeluk kakinya dengan kuat.
"Mana hadiah Laja, Tante. Kan Laja sudah menang," oceh anak laki-laki itu yang mana suaranya saja masih belum begitu jelas. Baca (R\=L)
"Tante tidak akan kasih Raja hadiah, karena Raja sudah dorong adik Ratu. Kakak Raja harus minta maaf dulu dengan adik Ratu baru Tante kasih hadiah." Zifa menunjukan paper bag yang berisi mainan mobil-mobilan dan tentu untuk Ratu adalah boneka, sesuai kesukaan masing-masing.
Raja pun langsung membalik badannya dan segera menolong adiknya yang tadi sempat menangis karena jatuh, dan Raja juga sempat mendorongnya.
"Latu, Abang minta maaf ayok aku bantu." Tangan Raja menjulur dan diraihnya oleh Ratu. Kini Raja dan Ratu pun berjalan bersama-sama menghampiri Lyra. Meskipun Ratu masih ada isakan yang tersisa.
__ADS_1
"Latu, kamu jangan nangis terus, nanti kita tidak diberi hadiah loh sama Tante Lyla," bisik Raja, ketika dua anak kembar itu sudah berada di hadapan Lyra. Sementara Lyra hanya terkekeh dengan kelakuan anak-anak Zara yang pintar-pintar, bukan hanya tampan dan cantik tetapi dua anak ini sangat pandai dan dewasa, dari cara berfikir anak-anak seusianya. Lyra yakin orang tuanya dan juga keluarga yang tidak menghendaki anak ini lahir pasti akan menyesal.
Ratu pun berusaha menahan isakanya, dan sang kakak pun datang mendekat lalu mengusap air mata di pipi adiknya yang masih tersisa.
"Apa kalian sudah baikan? Kalau belum baikan Tante tidak akan memberi hadiah-hadiah ini, bahkan Tante akan bawa pulang lagi ke Jakarta, dan Tante untuk beberapa minggu tidak akan datang kesini lagi. Karena kalian nakal-nakal." Lyra semakin gemas dengan reaksi dua anak di hadapannya.
"Latu, aku minta maaf. Abang janji tidak akan nakal lagi." Raja kembali mengulang permintaan maafnya pada adiknya Ratu, dan Ratu pun kini sudah tidak tersedu sedih lagi.
"Latu juga minta maaf Abang, karena Latu cengeng," jawab Ratu dengan meraiH tangan Raja dan dua anak kembar itu saling berpelukan, sangat manis. Sehingga Lyra sedikit bisa melupakan perlakuan keluarga mantan suaminya. Lyra memang sengaja datang ke tempat ini untuk menghilangkan keruwetan yang terjadi di dalam kehidupannya.
"Baiklah karena kalian sudah jadi anak yang pintar dan baik, ini hadiah untuk kalian." Lyra pun akhirnya memberikan hadiah sesuai kesukaan masing-masing.
"Horeeehhh... telima kasih Tante." Suara hampir bersamaan terdengar dari bibir Raja dan Ratu. Dua anak kembar itu pun langsung berlari kembali menuju dalam rumahnya. Padahal Lyra belum membalas ucapan terima kasihnya.
Andai Jarak jakarta dan Bandung hanya bisa ditempuh satu jam, sudah pasti Lyra akan rela datang setiap hari hanya untuk bermain dengan anak-anak lucu itu.
'Tuhan memang maha adil, ketika ibunya memiliki keterbatasan pikirnya, anak-anaknya sangat pandai dan mengerti kondisi ibunya. Raja dan Ratu tumbuh menjadi anak yang pandai, meskipun ibunya memiliki daya pikir yang lemah. Mereka juga tidak tumbuh menjadi anak yang nakal. Diusianya yang masih sangat kecil, mereka diajarkan untuk tahu kondisi keluarga mereka, tanpa banyak mengeluh. Mereka mau hanya diasuh dengan Sisri, sementara ibu mereka bekerja membuat kue untuk di jual.
"Kapan ya Allah di rahimku di berikan kepercayaan anak seperti mereka, tidak usah dua cukup satu saja, sudah berhasil membuat aku senang,"lirih Lyra sembari mengelus-elus perutnya. Meskipun wanita itu sendiri belum memikirkan kapan ia akan menikah lagi, rasanya masih terlalu dini apabila ia mencari pendamping hidupnya sedangkan dia bercerai sama Abas baru satu tahun.
__ADS_1
*****
Kini Ghava sudah di pindahkan ke ruangan rawat, dan hanya berdua dengan Zifa, apapun yang Ghava butuhkan selalu di bantu oleh Zifa.
"Terima kasih yah Fa, maaf aku malah datang kesini jadi ngerepotin kamu," ujar Ghava begitu Zifa mengambilkan air minum untu Ghava yang harus minum obat.
"Ini badan cape kayak gini juga tadi pagi minta jalan-jalan. Kalau Ifa turutin yang ada Ifa yang repot, Mas Ghava jatuh pingsan di tengah jalan," dengus Zifa mengingatkan gaya sok kuat kekasihnya itu. Padahal Zifa juga sudah tahu kalau Ghava itu kecapean.
"Hehehe iya Fa, maaf abisan sakitnya tiba-tiba," bela Ghava. Tetap yah ngeles, agar kelihatan tetap kuat.
"Tiba-tiba karena Mas Ghava menyepelekan dan tidak di rasa sakitnya. Dokter mengatakan kalau Mas itu sebenarnya sudah merasakan sakit dari beberapa hari yang lalu, tapi mungkin saking sibuk, atau saking bandelnya jadi baru sekarang Mas mersakannya, dan ketika semuanya sudah tumbang dan parah baru berhenti untuk istirahat. Dan mulai saat ini tidak boleh kerja yang cape-cape, kalau bandel Ifa bakal tinggalin pulang. Silahkan urus sendiri semua keperluannya selama di rumah sakit," dengus Zifa, dengan tatapan yang serius dan tidak bisa di bantah.
"Ok siap Sus, galak susternya nggak berani membantah," kekeh Ghava yang melihat kalau Zifa sudah mulai serius.
Mana berani Ghava membantah kalau urusannya sudah dengan Zifa.
****
Teman-teman sembari menunggu kelanjutan Zifa dan juga Ghava yuk mampir ke novel bestie othor, di jamin seru dan bikin baper....
__ADS_1
Kuy ramaikan...