Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Bayi Kembar


__ADS_3

Zara nampak bingung ketika Zifa yang mengatakan bahwa dirinya hamil, sehingga Zara langsung diam saja ketika Zifa menuntunya masuk ke ruangan praktik dokter.


Seperti kebiasaan pada umumnya ketika datang ke dokter, terutama dokter kandungan yang di tanya pasti suaminya juga. Seperti yang dItanyakan oleh dokter yang kini berada tepat dihadapan Zifa dan Zara, sementar Kemal berdiri diantara keduanya yang duduk.


"Apa ini suami dari ibu ini?" tanya dokter ketika akan mengisi buku untuk kontrol.


Zifa dan Kemal sempat saling lirik, bingung juga mau berkata apa, kalaupun berbohong wajah kemal yang masih sangat muda sepertinya akan menimbulkan masalah baru, lalu kalau di tanya kapan nikah dan kartu nikah, mau jawab apa mereka.


"Bukan, suami Ara ganteng," jawab Zara mengambil alih pertanyaan dokter yang belum bisa di jawab oleh  Zifa maupun Kemal.


"Bukan? Lalu suaminya kemana, atau...?? Pertanyaan dokter tidak di lanjutkan ketika melihat Zifa menunduk.


 "Zara ini jadi korban pemerkosaan oleh orang yang tidak memiliki peri kemanusiaan, di mana gadis ini mengindap down syndrom tetapi masi ada orang yang memanfaatkan keadaan gadis ini untuk memperkosanya dan sekarang Zara hamil, bisa dokter periksakan kira-kira sudah berapa bulan usia kandungan Zara," ujar Kemal, akhirnya laki-laki itu mengambi alih keheranan dokter.


"Astagah, saya mohon maaf sebelumnya, karena saya tidak tahu dengan apa yang terjadi. Memang kasus seperti ini banyak terjadi di negara ini, di mana bahkan orang yang gangguan kejiwaan saja masih sering menjadi korban pelecehan seksual, mungkin mereka berpikir bahwa orang seperti mereka dan termasuk Zara ini tidak akan bisa mengungkap kejahatan sehingga mereka dengan santai melakukan pelecehan itu. Kasihan para korban dan keluarganya yang harus menanggung kejahatan laki-laki be-jad kaya begitu. Saya berharap siapapun orang yang melakukan kejahantan pada Zara mendapatkan pelajaran yang setimpal, dan semoga dia menyesali perbuatanya dan setidaknya memohon maaf pada kalian, dan percaya atau tidak biasanya pelaku pemerkosaan pada anak-anak istimewa seperti Zara biasanya adalah orang terdekat." Dokter pun ikut kesal mendengan apa yang di ucapan Kemal, sedangkan Zifa di hatinya bisa merasakan sedikit kelegaan karena ternyata dokter tidak menghakimi kakaknya yang bisa hamil di luar nikah.

__ADS_1


Setelah mengisi data diri dan keperluan yang lainya, Zara pun di tuntun ke bad pemeriksaan di mana di sana akan diadakan pemeriksaan dan Kemal pun keluar setelah Zifa tidak merasa gugup lagi.


"Ifa ini apa?" tanya Zara ketika di atas perut mulusnya di olesi gel.


"Ini buat lihat anak kaka Zara," jawab Zifa setelah dibisikan jawaban oleh sang dokter.


Setelah mendengar jawaban Zifa, wajah Zara merah dan terlihat malu-malu seolah dia mengingat sesuatu, dan juga terlihat wajah yang senyum sendiri seolah Zara tengah bahagia, sampai dokter dan Zifa saling melemparkan pandangan dan seolah mereka bertanya sesuatu dan apa yang kiranya terjadi dengan Zara.


"Sepertinya Zara tengah menginggat serbuah kenangan yang mungkin saja kenangan manis," bisik dokter pada Zifa.


"Benar Dok, apa mungkin orang yang memperkosa kakak saya menjanjikan sesuatu sehingga kakak saya terlihat sangat bahagia?" tanya Zifa yang terlihat semakin dibuat bingung dengan apa yang kiranya terjadi dengan kakaknya


Zifa dalam hatinya kemballi dilanda kebencian. Zifa rasa dia memang harus mengikuti saran dari Kemal untuk melatih emosinya agar jangan mledak-ledak sehingga dia bisa menyembunyikan kemarhanya di balik senyum manisnya. Sebab kalau cara Zifa menghadapi ke marahan dengan cara seperti ini maka dia akan cepat ketahuan nanti apabila ia tengah menyamar bisa masuk kerumah itu dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Minimal Zifa bisa menahan rasa emosi tetapi kalau bisa memiliki wajah yang berkepribadian ganda Zifa  juga harus mempelajarinya.


Yah, Zifa benar-benar ingin merubah kepribadianya, demi misinya mencari keadilan dia tidak peduli kalau dia harus berubah menjadi wanita yang jahat, dan menghalalkan cara agar misinya berhasil.

__ADS_1


"Zifa, Zara coba kalian lihat." Dokter dengan antusias menunjukan apa yang membuatnya kaget dengan pemeriksaan kandungan Zara.


Zifa yang memang belum tahu dengan apa yang kiranya terjadi di layar pun bingung dan menyipitkan mencoba mengetahui apa yang terjadi di layar monitor. "Saya tidak tahu apa yang terjadi Dok," ucap Zifa pada akhirnya nyerah dengan apa yang terlihat di layar monitor yang ada dihadapan mereka.


"Itu ada dua kantong janin, dan itu tandanya anak kakak kamu itu kembar," ucap dokter dengan antusias. Bahagia justru dokter Marni lebih bahagia dari pada Zifa yang kini masih terkrjut.


"Dok, saya harus bersyukur atau bagai mana? Dengan kondisi kami yang seperti ini rasanya berat memiliki anak kembar," ucap Zifa dengan kedua mata masih menatap layar monitor.


Dokter yang melihat Zifa murung pun mengelus pundaknya dan mrncoba menenangkan Zifa. "Kenapa sepertinya kamu tidak senang, kalau kakak kamu memiliki anak kembar?" tanya dokter yang bernama Marni itu.


"Nasib kami sedang diuji Dok, ibu kami, orang tua satu-satu kami meninggal beberapa hari yang lalu. Saya menduga ibu saya di bunuh ketika mencari keadilan untuk kehamilan kakak saya yang baru diketahui satu hari sebelum ibu saya meninggal. Kami hanya tinggal berdua dan kaka saya pun akan saya titipkan di pasti khusus buat penderita down syndrom sementara saya sendiri mungkin akan tetap sekolah dan mencari bukti untuk keadilan ibu dan kakak Zara." Zifa bercerita dengan dokter mengenai ketidak siapanya memiliki ponakan kembar. "Maaf Dok, saya malah jadi curhat sama Dokter." Zifa buru-buru menyeka sisa air matanya dan mencoba memberikan senyum manis kepada Zara. Di mana Zara nampak kebingungan menatap adiknya yang menangis.


"Tidak apa-apa katakan lah apa yang bisa membuat kamu tenang. Kamu memang butuh teman untuk bercerita. Kalau kamu mau kamu bisa curhat lebih dengan aku, tapi tentu waktunya bukan sekarang dan di sini. Nanti kita bagi waktu yah. Aku benar-benar mengutuk siapapun yang melakukan itu pada keluarga kamu. Aku lihat kamu anak yang hebat, tunjukan dan tetap cari kebenaran, tapi kamu harus hati-hati jangan sampai kamu terbawa suasana malah membahayakan diri kamu sendiri. Apa kamu warga baru di lingkungan ini?" tanya dokter Marni di mana memang beliau baru tahu Zara dan Zifa.


"Iya Dok, kami baru pindah dari kota Jakarta, kami memutuskan pindah setelah merasa bahwa hidup kami tidak tenang takut mereka akan membahayakan kami, terutama kakak Zara." Tatapan Zifa dan Zara saling bertemu.

__ADS_1


"Kamu jangan takut kalau ada perlu apa-apa kamu bisa hubungi aku untuk memeriksa kakak kamu, dan kalau kamu butuh teman curhat bisa juga datang kerumah ku. Aku akan dengan senang hati menerima kamu?"


Zifa pun tersenyum lega ketika dia ditempat baru sudah mendapatkan banyak dukungan.


__ADS_2