
Lyra menatap heran ketika tiba-tiba dihadapanya ada Abas yang tengah berdiri mematung di ambang pintu ruanganya. Setelah menatap heran pada laki-laki yang masih menyandang suaminya itu. Lyra kembali menundukan pandanganya pada barisan angka dan huruf yang ada di laporanya.
"Kita harus bicara!" ucap Abas, memecah kesunyian diantara pasangan suami istri itu.
"Soal apa, bicaralah. Apapun keputusan kamu, aku akan terima," lirih Lyra tetapi kedua matanya tetap tertuju pada pekerjaanya. Padahal kedua matanya sudah memanas tetapi ia coba untuk tetap menahanya agar tidak tumpah air matanya. Lyra tidak ingin terlihat lemah dihadapan suaminya.
"Aku tidak bisa bertahan dengan hubungan kita, aku tidak ingin terus-terusan menyakiti kamu. Perpisahan adalah jalan terbaik kita." Abas duduk dengan santai di sova yang jaraknya cukup jauh dari meja kerja Lyra.
Wanita yang berparas anggun dan cantik, menghirup nafanya panjang dan membuangnya perlahan. Ingin Lyra saat ini melampiaskan, rasa marah, kecewa, dan bencinya. Inikah balasan setelah sepuluh tahun ia berjuang dengan semuanya. balasan dari kesetiaanya dan balasan dari rasa sakit ketika ia harus dipaksa untuk mendapatkan seorang anak. Ingin Lyra lampiaskan agar Abas tahu gimana perasaanya. Seolah dia adalah barang yang sudah tidak terpakai lagi dan dengan sangat gampangnya dibuang begitu saja. Hanya karena ia belum bisa memberikan keturunan, lalu Abas dan keluarganya membuang ia begitu saja.
Tanpa perundingan dengan kepala dingin memutuskan sebelah pihak.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Kamu siapkan saja semuanya dan kalau butuh kehadiran dan tanda tangan dari aku, kamu langsung hubungi aku saja, dan satu permintaanku. Jangan kamu kabarkan perceraian kita pada keluargaku dulu. Papah aku sedang sakit dan saat ini sedang dirawat di Singapura. Mereka butuh pikiran yang tenang. Biar urusan keluarga aku, aku yang akan urus," ucap Lyra, suaraanya masih terlihat tenang, tetapi tidak dengaan hatinya, sudah bergemuruh hebat. Bahkan ingin Lyra membuat perhitungan yang luar biasa pada Abas, tetapi ia juga tidak bisa melakukanya karena Lyra yang terlalu mencintai laki-laki itu.
"Saya tidak akan bilang pada semuanya, dan soal harta gono gini akan saya serahkan pada pengacara keluarga," imbuh Abas, ia tidak mau egois. Malah Abas akan memberikan lebih banyak hartanya pada Lyra.
Laki-laki itu tidak menyangka bahwa Lyra akan dengan mudah menerima keputusanya. Padahal Abas sudah menyiapkan jawaban-jawaban kalau mungkin nanti Lyra melakukan perlawanan dan tidak ingin bercerai, tetapi dugaanya justru tidak seperti itu, Lyra dengan santai tetap menerima apa yang jadi keputusanya sepihaknya. Sebenarnya Abas merasakan bersalah pada Lyra yang dengan gampangnya ia ceraikan tanpa alasan yang masuk akal.
__ADS_1
Mungkin apabila wanita lain akan marah atau malahan akan menolak keputusan Abas, tetapi justru Lyra berbeda.
"Obrolan ini sudah selesai kan? Mohon maaf kalau sudah, kamu bisa pergi! Karena saya masih ada kerjaan," ucap Lyra dengan nada yang masih datar. Pandangan matanya tetap tidak ingin melihat Abas.
"Aku minta maaf kalau keputusan sepihak aku membuat kamu sakit, marah atau justru benci dengan aku, semuanya aku lakuin demi kebaikan kita. Kalau kita paksa bertahan pun ujungnya hanya akan menyakiti kamu. Aku tidak tega kalau harus melihat kamu sedih terus, kamu berhak bahagia dengan yang lain. Begitupun aku, bahagia dengan pasangaan yang lain," ujar Abas, bukanya ia bangkit dan beranjak pergi malah memperpanjang obrolanya dengan ucapan yang tidak penting.
"Aku tahu, dan aku terima keputusan kamu, tetapi apabila untuk memaafkan kamu dan keluarga kamu sepertinya aku tidak akan semudah itu. Aku masih memiliki harga diri, dan setelah aku di tendang dengan tidak hormat, aku tidak bisa berpura-pura baik-baik saja karena itu jatuhnya aku jadi pembohong. Aku lebih baik tidak mengenal kalian lagi, terutama kamu dan ibumu, dari pada aku akan terus-terusan di permalukan oleh kalian. Sudah cukup sepuluh tahun aku mendapatkan itu," balas Lyra dengan suara yang dingin dan kali ini pandangan tajam kearah mantan suaminya.
Abas diam seribu bahasa, tidak bisa membalas ucapan Lyra, ia juga sakit sama seperti Lyra, dan ketika istrinya bisa menerima keputusanya maka dia juga bisa menerema keputusan Lyra untuk tidak memaafkan dia.
Lyra terus menginjak pedal gasnya, mau kemana? Entahlah yang jelas wanita itu ingin menenangkan pikiranya. Pekerjaanya sudah di serahkan oleh asisten kepercayaanya dan semua tugas mengambil barang-barang berharga di rumah mertuanya pun sudah ditugaskan pada orang kepercayaanya, dia ingin beberapa hari hilang dari sibuknya dunia kerjanya Lyra ingin menenagkan pikiranya.
Air matanya yang sejak tadi ditahanya kini luluh begitu derasnya sampai-sampai sepanjang jalan tanpa sadar wanita itu menangis. Menangisi keputusan suaminya. Padahal ia sudah berbisik pada dirinya sendiri agar tidak menangis, tetapi hatinya yang terlalu sakit dan hancur tidak bisa di bendungnya Lyra.
Biarkan air matanya jatuh sampai habis dan setelah itu ia akan menata kembali kehidupan. "Apakah aku nanti setelah bercerai dengan Abas, dan ketika menikah lagi dengan orana lain akan Bernasib sama, tidak akan pernah merasakan gimana rasanya menjadi ibu," lirih Lyra.
Pandangan matanya diedarkan kesetiap sudut kota di mana saat ini Lyra menghentikan laju mobilnya.
__ADS_1
Sudut matanya melihat jam di pergelangan tanganya. "Ya Tuhan aku sudah bejalan lebih dari lima jam. Apa. aku benar-benar sudah gila?" batin Lyra kembali menatap sekitar.
"Mana perut lapar sudah malam pula," imbuh Lyra. Kedua matanya menangkap sebuah toko kue, di mana ia memang sedang ingin makan yang manis-manis, sehingga Lyra pun memutuskan membelokkan mobilnya toko itu.
"Raja dan Ratu, nama toko yang unik," batin Lyra.
"Selamat malam Mba, ada yang bisa di bantu?" sapa Zifa dengan ramah, dan senyum mengembang dengan manis.
Lyra pun Membalasnya dengan sempurna pula.
"Saya sedang pengi yang manis, kira-kira unggulan dari toko ini apa yah Mba?" tanya Lyra sembari memainkan telunjuknya di dahi.
Zifa dengan ramah kembali menunjukkan aneka kue yang masih tersisa, terlebih Lyra datang sudah memasuki toko akan tutup, tentu kue yang tersisa setok nya tidak banyak.
Setelah Lyra memesan beberapa kue dan kopi, kini wanita yang kedua matanya terlihat sangat bengkak karena terlalu banyak menangis.
Zifa pun sebenarnya menduga bahwa pelanggannya yang sedang menikmati pesanannya sedang banyak masalah. Zifa hanya menatap iba dan mendoakan agar masalahnya cepat terbatasi.
__ADS_1