
'Apa kamu yakin Fa, kamu akan pergi kamu harus pikirkan perasaan Ghava, dia sangat mencintai kamu. Kalau dia tahu kamu pergi meninggalkan dia pasti dia sangat sedih," lirih Alwi yang tengah menasihati Zifa.
Yah, setelah berkangen-kangenan dengan keponakan dan juga kakaknya. Zifa menemui Diki untuk bercerita tentang masalah yang membelitnya.
Sudah lama memang Zifa ingin bercerita dengan Alwi, dan dihari ini baru terlaksana. Sehingga ia langsung meluapkan unek-unek nya.
"Ifa ingin menenangkan pikiran Ifa Dok," balas Zifa setelah wanita itu bercerita dengan Alwi.
"Kalau kamu mau menenangkan pikiran silahkan, tetapi tidak harus pergi Fa," imbuh Alwi, dokter yang sudah menganggap Zifa sebagai adiknya, tiak mau kalau Zifa itu salah mengambiil jalan.
"Tapi kalau Zifa tidak pergi malah akan semakin menyakiti Ghava?"
Alwi menatap tajam Zifa. "Alasanya apa, kenapa kamu bisa menyakiti Ghava? Sedangkan Ghava dari yang aku lihat sangat mencintai kamu. Ghava laki-laki yang baik dan sempurna, dia juga tidak ada rekam jeleknya selama aku mengenal dia, lalu kenapa kamu ingin meninggalkan dia?" tanya Alwi sedikit menyayangkan apa yang Zifa putuskan.
"Zifa takut tidak bisa melupakan Kemal," balas Zifa sembari menunduk tangan-tanganya saling bertaut dengan sempurna. Zifa bahkan tidak berani menatap Alwi.
Alwi menghirup nafas dalam, dan membuangnya perlahan. "Kamu bukan tidak bisa melupakan Kemal, tetapi kamu belum mencobanya. Coba kamu cari kebaikan Ghava dan kamu cari keburukanya apa ajah keburukkan Ghava?" tanya Alwi pada Zifa.
Wanita yang saat ini sedang duduk berhadapan dengan Alwi pun hanya menggeleng dengan lemah menandakan bahwa memang tidak ada keburukan di diri suaminya itu. Tidak memungkiri Zifa juga tahu kalau Ghava itu sangat baik dengan Zifa, dan lagi-lagi Zifa lah yang selalu membuat Ghava terluka, dan itu alasan Zifa ingin pergi, dengan alasan tidak ingin membuat Ghava sakit karenanya.
"Nah, itu dia Ghava tidak ada kekuranganya, Ghava tidak kasar. Dia juga baik, pengertian, sabar, cukup dan dari segi wajah dia tentu tidak ada ke kuranganya, jadi ayolah kamu jangan egois. Kasihan Ghava kalau kamu pergi, dia pasti akan trauma berat. Kamu mengalami gimana sulitnya menghilangkan rasa trauma berat, jangan sampai kamu salah jalan Fa. Penyesalan datangnya di akhir," jelas Alwi lagi, dengan sabar laki-laki itu menasihati Zifa.
__ADS_1
"Kamu jangan berpikiran kalau aku itu sok tahu dan lain sebagainya. Kamu jangan berpikir kalau aku seperti ini ikut campur dengan masalah kamu. Aku sudah menganggap kamu sebagai keluargaku. Jadi sudah sewajarnya aku berbicara seperti ini. Kamu sudah aku anggap adi sendiri, dan aku tidak mau kalau kamu sedih, bahkan menyesal dengan keputusan yang sudah kamu ambil. Aku perduli sama kamu," imbuh Alwi. Di mana dia melihat kalau Zifa itu sedang bimbang.
"Lalu apa hubungan kita ini bisa dilanjutkan Dok, mengingat Zifa itu menikah dengan laki-laki yang mana ibunya adalah orang yang membunuh ibu Zifa. Itu tandanya Zifa menikah dengan anak pembunuh. Zifa menantu dari pembunuh. Apa nanti ibu tidak sedih di alam kubur sana?" lirih Zifa.
Yah, Alwi akui memang yang jadi alasan sebenarnya adalah masalah kisah masa lalu orang tua mereka. Alwi sendiri pasti akan berpikiran sama dengan Zifa.
"Terlepas ibu kamu marah atau tidak di alam kubur sana, aku tidak tahu persis. Tetapi menurut kamu, ibu kamu akan bahagia kalau kalian juga bahagia, terlepas suami kamu anak dari pembunuh, atau bukan, toh Ghava tidak tahu kalau ibunya melakukan itu, bahkan saat kejadian Ghava ada di luar negri jadi tidak tahu kronologinya, yang dia tahu ibu kamu meninggal serangan jantung. Yang salah di sini adalah murni dari ibunya. Anaknya tidak ada salah apa-apa, jadi lebih bijaknya jangan disangkut pautkan dengan masalah pribadi kamu dan Ghava," jelas Alwi.
"Tapi nanti kalau orang-orang tahu gimana?" tanya Zifa lagi.
"Jodoh tidak ada yang tahu, yang menjalani pernikahan itu kamu sendiri, dan kamu yang menentukan bahagia atau tidak bukan tetangga atau orang lain. Kita mendengarkan kata tetangga akan selalu salah. Apa kamu tidak bahagia menikah dengan Ghava? Dan apa selama ini Ghava pernah perlakukan kamu dengan tidak baik, mungkin membentak berbicara kasar atau justru memukul kamu?" tanya Alawi lagi.
Dengan menunduk Zifa menjawab dengan gelengan kepala. "Bahkan berbicara kasar tidak pernah," jawab Zifa dengan yakin.
Zifa pun menangguk. Mata Alwi menangkap ada tanda merah di leher Zifa, dan Alwi sebagai laki-laki yang sudah berpengalaman pasti tahu tanda merah itu. Di mana itu adalah tanda cinta yang Ghava tinggalkan.
"Abang lihat hubungan kamu sudah makin baik, kenapa kamu malah ingin pergi?" tanya Alwi, yang justru kalau ini adalah bawaan ngidam yang kadang aneh-aneh, padahal bikin saja baru tadi malam.
Zifa mengernyitkan dahinya dengan heran. "Maksud Dokter Apa?" tanya Zifa yang tidak tahu kalau Ghava justru meninggalkan tanda cintanya di leher Zifa. apalagi tadi pagi ia mandi juga banyakan Ghava yang membersihkan tubuhnya. Dan karena buru-buru akan pergi untuk melihat dua ponakanya Zifa sampai tidak bercermin dengan benar.
"Tuh." Alwi menunjuk leher Zifa, dan Zifa langsung merogoh tasnya guna mengambil kaca kecil di dalam tas.
__ADS_1
"Astaga..." Wajah Zifa nampak memerah, karena kelakuan Ghava.
'Kenapa aku tidak sadar kalau Ghava ini bikin tanda ginian di sini, dan kalau tahu pasti aku tutup dengan fondation,' batin Zifa, matanya memejam, sungguh malu pada Alwi. Ingin pergi tapi malah ninggalin jejak dulu.
"Udah tidak usah malu, namanya suami istri memang gitu, kadang bimbang kadang ada saja yang membuat ragu dan ada masalah. Tapi saran Abang tetap kamu perbaiki komunikasi dengan Ghava dia orang baik dan juga dia itu sangat pengertian sama kamu, apalagi kamu sudah berhubungan sejauh itu. Kalau sampai pisah dan kamu hamil itu akan berpengaruh pada mental kamu, dan juga emosi kamu terganggu lebih baik jaga hubungan." Alwi menasihati kembali agar Zifa tidak melakukan kesalahan.
"Ngomong-ngomong kapan sidang terakhir?" tanya Alwi untuk mengalihkan pembicaraan, bahas Ghava terus nanti orangnya kesedak.
"Yang Ifa tahu akhir bulan akan ada sidang terakhir," balas Zifa sebenarnya malas kalau membahas sidang, bahkan Zifa saking malasnya tidak pernah mau datang hanya emosi apalagi melihat Eira. Darahnya langsung naik kembali.
Wanita itu tidak kuat mendengar pertanyaan satu persatu dan di jawab oleh Eira tentang gimana caranya dia membunuh ibunya. Zifa tidak kuat mendengarkan kesaksian ibunya di eksekusi dengan bengis. Bisa-bisa nanti ruang sidang akan gaduh harena ulahnya.
"Kalau gitu gimana kalau kita semua datang, ajak juga kakak dan dua ponakan kamu. Pelkenalkan mereka pada pelaku dan juga pada keluarga laki-laki itu, sekalian habis itu kita ke makam Ibu dan Ayah kamu. Abang ada sesuatu yang ingin di sampaikan pada mereka," lirih Alwi. Sontak Zifa langsung menatapnya heran.
"Abang mau ngomong apa sama Ibu dan Ayah, kayaknya serius banget?" tanya Zifa dengan curiga.
"Ada deh, nanti saja. Nanti kamu juga akan tahu kok," balas Alwi dengan sedikit jahil.
"Ini kabar bahagia atau kabar buruk?" cecar Zifa semakin penasaran.
Alwi terkekeh dengan ringan. "Pastinya bahagia dong."
__ADS_1
Sementara itu Zifa yang semakin penasaran pun mencoba berpikir dengan serius kira-kira apa yang membuat Alwi ingin mendatangi makam ibunya.
#Kira-kira Alwi mau apa yah?