
"Mas, kopi dan kuenya sudah siap tuh, yuk dicobain dulu." Zifa menghampiri Ghava yang ikut berjemur dengan Ratu, dan Raja. "Sini Ratu sama aku dulu." Ziaf mau mengambil Ratu dari gendongan Ghava yang sedang anteng, tidak tidur, tetapi bayi itu seolah sedang memperhatikan wajah Ghava dengan kagum.
"Biar Fa, aku aja yang gendong, kayaknya nanti aku malu melamar jadi baby Brother'nya Ratu deh. aku rela lah jadi pengasuh tuan Ratu." Ghava buru-buru menampik ketika Zifa mau mengambil alih untuk menggendong Ratu. Enak saja Zifa mau menggendong Ratu dia aja masih kangen, dan masih pengin berlama-lama menggendong bayi yang cantik itu.
Gadis itu pun tidak jadi mengambil alih Ratu dari gendongan laki-laki di hadapannya.
"Takutnya Mas mau makan, biar Ratu sama Ifa dulu, nanti kalau Mas sudah selesai makan baru deh gendong Ratu lagi." Zifa juga setengah memaksa agar Ratu di gendong dia.
"Enggak usah Fa, kasihan juga Ratu lagi anteng nanti malah rewel."
Kini Zifa dan Ghava sudah ada di dalam toko, dan kopi buatan Zifa juga sudah di hidangkan dengan aroma kopi yang menguai harumnya memenuhi hampir seisi ruangan yang di jadikan tempat nongkrong ala-ala masyarakat menengah ke bawah. Meskipun di peruntukan untuk masyarakat menengah ke bawah, tetapi tempat dan rasa kuenya tidak murahan, di lidah cocok dan bikin nagih, itu testimoni dari beberapa pembeli yang sudah membeli di toko kue Raja dan Ratu.
"Ya udah kalau Mas Ghava masih pengin gendong Ratu, tapi nanti kalau cape atau apa Mas Ghava bilang yah, biar Ifa gantiin." Zifa kembali mengerjakan pekerjaannya kali ini ia akan memesan bahan kue yang sudah hampir habis stoknya,
__ADS_1
"Fa, aku pelanggan pertama kamu berati yah?" tanya Ghava dengan percaya dirinya.
Zifa yang mendengarnya pun tersenyum samar, "Kalau untuk yang datang langsung ke sini iya Mas Ghava yang pertama, tetapi kalau untuk yang online sudah ada lima pembeli yang diantarkan pesanannya menggunakan ojek online." Zifa menunjuk ojek online yang kembali datang untuk mengantarkan orderan pembeli selanjutnya, mereka adalah pembeli yang malas untuk datang langsung ke toko.
"Berati kamu buka lapak online juga Fa?" tanya Ghava, salut dengan ide jualan Zifa yang mengikuti perkembangan zaman now.
"Kalau tidak gitu akan sulit untuk memasarkan prodak kita Mas, di mana banyakan dari warga kita sekarang itu mereka rata-rata mempunyai gadget dan untuk mencari makanan mereka sekarang malas, dan ingin cepat tersaji. Nah dari situ kita harus pandai-pandai memanfaatkan kema-geran orang-orang itu, untuk menjadi rupiah. Hidup itu keras Mas, iya kalau kita terlahir dari keluarga yang kaya. Tidak harus banting tulang buat menyambung hidup. Kalau kayak Ifa dan Kak Ara, untuk mengumpulkan materi itu sangat sulit. Bahkan dulu dari jaman sekolah dasar Ifa sudah biasa sepulang sekolah mencari tambahan uang untuk bisa tetap bersekolah. Jadi ketika ada kesempatan kayaknya harus di manfaatkan sebaik mungkin deh, " papar Zifa sedikit mengisahkan perjuangan hidupnya.
"Dua jempol deh buat kamu, tapi karena jempol yang satu ketindihan Ratu jadi pinjam dulu, tapi aku salut ama kegigihan kamu. Lagian kalau yang udah kaya dari lahir, kayaknya juga belum tentu bahagia, tetapi kalau kalian aku lihat bahagia hidupnya, apalagi ada Raja dan Ratu, mereka adalah anak yang baik. Buktinya anak kembar ini tidak rewel dari tadi. Apalagi Ratu di kayak betah banget sama aku. Apa dia ngira kalau aku itu Papahnya yah," kelakar Ghava sembari tangannya terus mengayun ayun Ratu.
"Fa, beneran kue ini Ara yang bikin?" tanya Ghava dengan kedua mata melebar sempurna.
"I... Iya Mas kenapa emang?" tanya Zifa, ia sedikit terbatas, dan jadi deg-degan dengan reaksi Ghava.
__ADS_1
"Ini enak banget Fa, dan pantas toko kamu biarpun baru buka, tetapi sudah di serbu oleh calon pembeli yang datang dari online. Emang rasanya enak ko," puji Ghava, tangannya terus mengambil kue-kue yang dihidangkan untuknya.
Bahkan Ghava yang sebenarnya tidak terlalu suka dengan yang manis-manis, jadi ketagihan dengan kue yang Zara buat.
"Alhamdulillah, doakan yah Mas nanti Ifa dan Kak Ara bisa membuka cabang di tempat lain, Ifa hanya ingin buktikan bahwa tidak selamanya orang miskin tidak bisa berkembang. Ifa ingin membuka banyak peluang usaha dan nantinya banyak membuka lapangan pekerjaan, kaya Mas Ghava yang udah jadi bos. Jadi enak enggak kerja juga udah punya banyak uang," balas Zifa, meskipun Ghava tidak menceritakan pekerjaannya, tetapi sepintas saja sudah kelihatan bahwa Ghava adalah orang yang memiliki pekerja cukup banyak. Terlebih hari ini ia tidak bekerja tetapi masih tetap santai.
"Amin aku yakin kalau kalian itu nanti bakal jadi orang yang sukses, terlebih kalian rajin, aku salut dengan kalian yang bisa membagi waktu dengan baik." Pandangan Ghava tidak bisa berpaling dari Zifa yang sedang sibuk dengan orderannya yang akan di kirim dengan mengunakan ojek online.
Laki-laki yang sekarang sedang menikmati sarapan dengan satu piring cup cake dan juga beberapa kue tradisional, serta secangkir kopi, dengan bayi cantik di tangannya dan duduk memperhatikan wanita yang cantik dihadapannya sampai lupa telepon genggam nya ada di dalam kamar. Sejak tadi ponselnya bunyi terus dan tidak ada tanda-tanda akan ada yang mengangkatnya. Ya iyalah wong Ghava juga sedang terhipnotis oleh tantenya Ratu dan Raja.
"Oh Tuhan, Bang loe lagi ngapain sih kenapa bisa telpon dari tadi tidak diangkat-angkat dan juga pesan berjibun yang gue kirim. Kenapa tidak ada tanda-tanda akan ada yang di balas," umpat Kemal di negara yang berbeda bahkan adiknya itu sampai tidur tidak nyenyak, karena terlalu cemas dengan Abangnya.
[Bang tolong kamu balas pesan gue, bilang hai, atau apa gitu, setidaknya gue bisa tenang, buat tanda kalau loe di sana masih baik-baik saja] Kemal mencoba mengirim pesan kembali untuk yang kesekian kalinya. Yang membuat Kemal curiga adalah ponsel yang aktif, tetapi kenapa abangnya tidak membalas pesannya.
__ADS_1
"Apa itu tandanya bahwa Ghava terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya," batin Kenal cemas, sehingga ia berusaha menebak-nebak kira-kira apa gerangan yang membuat Ghava tidak membalas pesannya, dan juga tidak mengangkat teleponnya.