Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Hidup Dibawah Ancaman


__ADS_3

Di kediaman mewah keluarga Kemal....


"Kalian ini kerjaanya apaan sih? Enggak ada yang becus jaga rumah, dan kalian Bibi kerja pada tidur semua sampe-sampe Kemal pergi kalian enggak ada yang tahu. Udah kaya kalian semua pengin di pecat dengan tidak hormat?" omel Eira, mamih dari Kemal.


"Maaf nyonyah semalah den Kemal bilang kalo ada yang urgent sehingga den Kemal meminta saya membukakan gerbang. Meskipun saya sudah melarangnya nyonyah, tetapi kami tidak bisa menolak karena memang sepertinya ada yang sangat penting dan memaksa den Kemal keluar malam-malam," jawab security yang berjaga di depan gerbang. Mereka semua wajahnya tegang seolah mereka tengah menunggu giliran untuk diesekusi kematianya. Yah Eira memang terkenal sangat kejam. Tidak hanya mulutnya yang bicara tidak memikirkan perasaan orang lain. Eira juga selalu memeceat tanpa mencari dulu kesalahanya. Sehingga kerja di rumah mewah ini sebenarnya seperti masuk ke kandang singa. Yang suatu waktu akan dicabik-cabik sampai tidak bisa berkutik lagi. Seolah mereka semua tengah hidup di bawah ancaman kematiaan.


"Ehem...(Suara deheman Kemal) Maaf Mih, ini semua pasti karena Kemal yang pergi enggak kasih tau mamih yah?" tanya Kemal dengan wajah masih mengantuknya, tetapi harus berekting bahwa ia baik-baik saja, semuanya harus ia lakukan agar tidak ada yang kena pecat gara-gara dirinya yang pergi dari rumah tanpa pamit.


Semua yang ada diruangan itu, menghembuskan nafas kasar. Seolah mereka memang di beri aba-aba untuk melakukanya. Kemal tahu kedatanganya pasti memberikan nafas baru bagi mereka, terutama yang masih membutuhkan uang untuk menyambung hidupnya.


"Maafin kemal yah Mih, pagi-pagi malah jadi bikin mamih marah begini, Kemal semalah di telpon katanya orang tua dari anak yang kemal tabrak melakukan percobaan bunuh diri, dan kemal membawa mobil untuk membantunya membawa kerumah sakit. Tetapi setelah semuanya beres, harusnya Kemal langsung pulang, namun lagi-lagi karena mata yang sudah tidak bisa di tahan lagi jadinya ketiduran di mobil. Kali ini badanya pada sakit semua," adu Kemal dengan merangkul mamihnya, dan menuntunya supaya pergi meninggalkan para pekerja yang tadi di omelinya. Kemal pun memberi kode pada pekerja rumah semuanya. Untuk pergi membubarkan diri.


"Dia tinggal di mana sayang? Apa perlu mamih turun tangan agar kamu tidak lagi di repotkan oleh keluarga pemeras itu?" ucap mamih dengan nada dinginya dan seolah menyimpan kemarahan. Yah kemal tahu arti dari turun tangan bagi mamih. Dan apabila itu semua terjadi maka kesempatanya untuk membantu Zifa untuk lepas dari tanggung jawab tidak ada, karena mamih malah semakin memusuhi Zifa dan kakaknya. Apalagi kalo tahu bahwa dua kakak beradik itu adalah anak dari bu Farida, asisten rumah tangga yang meninggal di rumahnya.


"Mih, tolong kali ini sajah biarkan Kemal belajar menyelesaikan masalah yang Kemal buat. Kemal juga kasihan sama mamih yang selalu di repotkan dengan masalah anak-anaknya, Kemal ingin membuat mamih bangga kalo  Kemal juga bisa menyelesaikan masalah Kemal. Kemal tahu keluarga itu bukan sedang memanfaatkan Kemal, tetapi mereka memang sangat-sangat berduka. Coba mamih bayangkan anak yang Kemal tabrak dan meninggal dunia adalah anak satu-satunya dan anak itu sudah mereka tunggu selama sepuluh tahun pernikahanya. Wajar kalau mereka sangat berduka. Bahkan Kemal tahu bahwa ibunya mencoba melakukan percobaan bunuh diri itu dari tetangganya yang menghubungi Kemal. Jadi please untuk kali ini mamih beri Kemal kepercayaan penuh untuk menyelesaikan masalah apa yang kemal perbuat. Kemal sudah besar sudah sepatutnya Kemal berlatih mandiri menyelesaikan dan tanggung jawab dari apa yang Kemal perbuat," ucap Kemal dengan tatapan mengiba. Supaya mamihnya jangan ikut campur dengan masalah yang sedang ia hadapi.


Eira tampak berfikir dan tidak lama wanita paruh baya itu pun menganguk dengan lesu. "Tapi nanti kalo kamu melihat bahwa keluarga itu merusuhi hidup kamu dengan memeras uang yang kamu punya, kamu bilang ke mamih. Biar mamih yang turun tangan menyingkirkan ular-ularan sawah itu," ucap mamih dengan nada penuh ancaman dan tanpa belas kasih.

__ADS_1


Kemal pun mengembangkan senyumnya. Ini adalah kepercayaan mamih yang pertama kali setelah sekian lama dia tidak di beri kepercayaan untuk menyeselsaikan apapun masalah yang ia buat. Sehingga untuk kali ini Kemal harus usaha sungguh-sungguh supaya bisa membuktikan pada mamihnya bahwa yang ia lakukan tidak mengecewakan.


Setelah membuat mamihnya yakin, Kemal pun sarapan dengan mamihnya, jam tujuh di rumah ini sudah pada berangkat kerja Abas sudah berangkat kerja dari setengah tujuh, Lyra pun sama ia sudah berangkat ke tempat usahanya. Di mana Lyra juga anak orang kaya raya, bahkan keluarganya adalah pemilik showroom mobil mewah di Indonesia, maka dari itu mamih tidak mau melepaskan Lyra meskipun menantunya itu belum bisa memberikan cucu. Kebiasaan yang di terapkan di rumah ini memang sangat bagus dan tertata dengan rapih. Tetapi tertekan karena di manapun berada selalu menjadi pengawasan mamih. Begitu pun Kemal ia harus pandai-pandai sembunyi-sembunyi agar bisa menyakurkan hobby dan keinginanya.


"Mih, kemal mau isitrahat dulu yah, nanti sore Kemal udah janji mau menyarinyan keluarga yang malang itu rumah. Mereka udah setuju untuk pergi dari kota ini, dan nanti sore adalah kesempatan terakhir mereka ada di tempat ini," jelas Kemal agar mamihnya puas dengan semua keinginaya lagi-lagi bisa di jalankan dengan baik oleh kemal dan keluarganya.


"Bagus deh, lebih cepat lebih baik. Bilang sama mereka jangan datang lagi ke kota ini," ucap mamih dengan ketus.


"Baik Mih, nanti Kemal akan katakan," wajah Kemal di bikin semenyedihkan mungkin dan mengiyakan semua ucapan mamih. Bebohong, dan dosa mungkin itu kata yang  tepat untung semua yang sudah di lakukan Kemal, tetapi berbohong demi kebaikan.


Kemal pun langsung menuju kamarnya, tubuhnya sudah sangat lelah, dari kemarin malam hanya tidur di jam pagi dan itu pun hanya dua sampai tiga jam, mana tidur di mobil lagi. Sehingga badan'nya pada sakit semua.


Sementara Abas bisa dibilang paling malang hidupnya di antara mereke bertiga. Ghava dan Kemal tahu bahwa kehidupanya Gava sangat jauh dari bahagia. Kakak nomor satunya itu tertekan dengan semua peraturan mamihnya.


Percintaanya di paksa gagal dengan wanita yang dicintainya, dan dia harus menjalani pernikahan bisnis dengan istrinya Lyra. Sampai sekarang Abas harus bolak balik luar negri agar istrinya bisa hamil dan memberikan keturunan buat keluarga besarnya. Entah kutukan atau apa, sehingga sudah berapa kali Lyra dan Abas menjalanni bayi tabum, dan lain sebagainya, tetapi Lyra tidak juga hamil.


"Kenapa Mal?" tanya Ghava yang saat ini berada di Belanda bersama papihnya, mereka berada di sana tengah mengurus bisnisnya.

__ADS_1


Kemal membuang nafas kasar setelah abangnya akhirnya mau mengangkat telponya. Butuh menunggu sampai tiga kali panggilan, baru Ghava mau mengangkat telponya.


"Lagi sendiri apa sama papih?" tanya Kemal balik. Bukanya ia menjawab pertanyaan abangnya justru Kemal melemparkan pertanyaan balik pada abangnya dan mengabaikan pertanyaan Ghava.


"Baiklah gue akan pergi menjauh," jawab Ghava yang seolah tahu bahwa obrolan kali ini hanya boleh di ketahui antara dia dan adiknya saja. Sehingga Ghava memilih menjauh dari papihnya.


"Gue udah di ruangan kerja, ada apa gerangan adik bungsu?" tanya Ghava dengan lembut, dan tentu sok manis.


"Bagi uang! Gue lagi butuh uang. Nanti gue bakal ganti kalo udah kerja," ucap Kemal dengan berbisik.


Tawa renyah terdengar dari sebrang telpon. Seolah Ghava sedang meremehkan adiknya. "Loe ajah masih SMA JaMal( Pelesetan dari nama Kemal), mau kerja kapan? Dan emang mamih enggak kasih loe uang jajan sampe harus ngemis ke gue?" tanya Ghava dengan nada meremehkan.


"Mamih udah kasih, tapi baru dapat satu miliar, masih kurang. Butuh satu miliar lagi biar gue bisa pergi menyusul loe dengan tenang," jawab Kemal dengan jujur.


Sontak Ghava kaget dia pikir adiknya akan meminta uang beberapa puluh juta, dan itu sudah biasa karena biasanya Kemal akan membeli onderdil motor sport kesayanganya, tetapi kalo satu milliar kira-kira buat apa uang sebanyak itu? "Mal loe lagi enggak ngigo kan? Uang satu milliar itu enggak sedikit loh, buat apa uang sebanyak itu? Kesalahan apa yang loe perbuat sampe loe harus ganti rugi uang sebanyak itu?" cecar Ghava, bukan ia tidak mau memberi bantuan pada Kemal tetapi dia harus tahu betul uang buat apa sebanyak itu. Ini jaman aga aneh-aneh ini, kalo tidak pintar-pintar memilih pergaulan pasti terjebak di dunia gelap. Ghava takut kalau adiknya terjebak dalam dunia yang semacam itu.


"Sebenarnya bukan kesalahan Kemal, tapi kalo kemal cerita sama loe, apa loe enggak akan bocor dan menyampaikan ini semua sama mamih atau yang lainya?" tanya Kemal memastikan agar dia bisa membagi masalahnya dengan Ghava, mungkin saja Ghava bisa membantu menyumbang solusi gitu pikir Kemal. Sebenarnya Kemal tahu betul bahwa Ghava tidak akan bocor tentang rahasianya. Dia adalah penyimpan rahasia paling bisa dipercaya. Namun untuk masalah kali ini Kemal harus benar-benar teliti agar tidak salah cerita, yang ada Zifa dan Zara keselamatanya teranncam.

__ADS_1


"Hahaha... butuh bukti apa biar loe percaya bahwa gue enggak akan bocorin rahasia loe, bocah. Nyawa? Kalo nyawa bisa membuktikan maka gue akan serahkan nyawa ini buat sebuah rahasia loe," ucap Ghava dengan yakin dan itu tandanya rahasia Kemal aman di tangan Ghava.


Kemal menghirup nafas dalam, dia akan bercerita dengan abangnya, mungkin saja abangnya bisa membantu solusinya. Jujur Kemal juga sesak dengan masalah ini. Dan dalam keluarga ini yang menurut Kemal bisa diajak kerja sama hanya Ghava.


__ADS_2