
Uhukk... Uhuk... Kini giliran Zifa yang terbatuk ketika mendengarkan apa yang Tasi katakan. "Sejak kapan aku jadi pacar laki-laki itu?" tanya Zifa matanya melebar seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Tasi.
Tasi makin bingung dengan dua orang ini, bahkan Tasi mengira kalau Zifa dan Ghava sedang terlibat pertengkaran sehingga tidak mau mengakui hubunganya. "Tasi tidak tahu Teh. Mas Ghava yang bilang begitu kalau Tasi di minta membangunkan Teh Ifa, katanya di minta bilang kalau pacarnya datang," jawab Tasi mengikuti apa yang Ghava katakan.
"Dasar yah laki-laki sarap. Siapa juga yang minta dia datang," dengus Zifa, tetapi wanita itu akhirnya beranjak juga dari duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan akan menemui Ghava. Sedangkan Tasi kembali melakukan aktifitasnya.
Bertepatan dengan Zifa keluar dari kamar mandi, Lyra juga akan membersihkan diri, karena rencananya wanita itu pagi ini juga akan langsung kembali ke ibukota pekerjaan yang memaksa Lyra untuk kembali ke kota metropolitan itu, padahal Lyra sebenarnya apabila tidak ada pekerjaan ia betah di kota ini, apalagi ada Raja dan Ratu yang seolah anak kecil itu tahu kalau Lyra menginginkan buah hati, sehingga dia nurut dan tidak rewel ketika bocah itu bermain seharian dengan Lyra..
"Tumben Fa udah bangun?" tanya Lyra sedikit kaget ketika Zifa di jam setengah enam sudah bangun bahkan sudah mandi, berbeda dengan biasanya.
"Iya Mba lebih tepatnya dibangunkan, ada orang sarap yang pagi-pagi datang keruko," cicit Zifa tanganya dengan aktifnya menggosok-gosok rambutnya yang masih basah.
"Orang sarap siapa?" Lyra perasaanya sudah tidak tenang meskipun Lyra belum tahu yang di maksud oleh Zifa tetapi wanita itu sudah menduga bahwa yang datang adalah mantan adik iparnya. "Ghava datang kesini?" tebak Lyra, dia sudah ketakutan kalau-kalau Ghava tahu bahwa dia ada di ruko ini juga, bisa berabe urusanya kalau Ghava tahu bahwa Lyra kenal dengan keluarga Zifa. Bisa jadi malah Ghava curiga dan mengetahui rencana mereka.
"Yah siapa lagi orang saraf yang semalam datang kesini sedangkan dia berada di luar kota."
Lyra yang sudah tahu bahwa tebakanya benar pun langsung menarik Zifa kedalam kamarnya. "Fa kamu ajak Ghava pergi dulu dari sini, setidaknya sampai aku keluar dari ruko ini, jangan sampai mantan adik ipar aku tahu kalau aku ada di sini. Bisa-bisa rencana kita gagal, kalau dia tahu aku ada di sini usahakan kalau laki-laki itu jangan tahu kalau kita saling kenal apalagi kita adalah satu team," lirih Lyra.
Tidak hanya Zifa yang heran kenapa Ghava bisa sedemikian nekadnya datang ke tempat Zifa. Lyra juga terheran kenapa ada laki-laki yang mau datang cape-cape untuk menemui gadis yang belum jelas hubunganya.
"Mba Lyra tenang ajah, Ifa bakal bawa tuh laki-laki kalau perlu ke Mars," balas Zifa, sembari meninggalkan Lyra dan dia bersiap dan langsung turun dengan rambut yang masih setengah basah.
Ghava yang melihat Zifa turun dengan tubuh yang sudah wangi dan tentunya rambut setengah basah mencuri perhatianya. Senyum mengembang di wajah Ghava, dan tentu di balas dengan wajah jutek dari Ziifa. Namun wajah jutek itu yang membuat Ghava tidak bisa tidur kalau belum melihat wajah dan suara wanita juteknya..
__ADS_1
"Ngapain sih datang kesini?" tanya Zifa sembari duduk dihadapan Ghava dan melipat tanganya di depan dadanya, dan Ghava pun sangat menikmati kemarahan Zifa.
"Kenapa telpon aku nggak di angkat, dan pesan aku tidak di balas?" tanya Ghava balik sebelum menjawab pertanyaan Zifa. "Coba kalau telpoin aku tidak diabaikan, sudah pasti aku akan tetap di kota itu dan tidak datang kesini," imbuh Ghava, jadi jangan salahkan Ghava kenapa datang kesini tetapi salahkan Zifa yang tidak mau mengangkat telponya.
"Lagi sariawan," jawab Zifa jutek tingkat dewa.
Hal itu mengundang gelak tawa Ghava, dan karena sifat Zifa yang seperti ini yang membuat Ghava makin tertarik dengan wanita yang ada di hadapannya, dengan wajah di buat semenyebalkan mungkin.
"Kalau sekarang masih sariawan?" tanya Ghava, bukan pertanyaan serius hanya pertanyan yang menggoda. Bahkan karena jawaban Zifa yang jutek dan menggemaskan itu, rasa cape dan juga rasa ngantuknya hilang. Tidak sia-sia dia berkorban datang jauh-jauh ternyata dia dapat juga yang di mau. Wajah jutek dan galak dari wanita pujaan hati.
'Masih." Zifa menggigit bibir bawahnya seolah ia tengah mengunci bibirnya agar tidak lolos suaranya yang bisa membuat Ghava makin banyak bertanya.
"Mau di obatin tidak, kata orang kalau sariawan di beri vitamin C bakal sembuh," goda Ghava, ya kali kan usaha boleh ajah, dan ternyata dapat vitamin C berati nasib Ghava lagi baik.
Zifa yang bukan anak kemarin sore pun langsung melebarkan matanya dan menatap Ghava dengan tatapan yang sengit.
"Dasar keluarga mesum," dengus Zifa, kembali geram ketika mengingat kelakuan abang dari laki-laki yang mengaku sebagai pacarnya.
Sesuai yang di minta Lyra bahwa secepatnya dia harus mengajak Ghava untuk keluar hal, itu karena Lyra akan kembali dan tentu jangan sampai Ghava tahu bahwa mantan kakak iparnya bekerja sama dengan Zifa.
"Aku mau cari sarapan, kamu mau di sini saja atau mau mengantarkan aku?" tanya Zifa, suaranya tidak sejutek tadi hal itu karena memang ada rencana yang terselubung, agar Ghava ikut diriny harus dengan rayuan sedikit, tapi biarpun tidak di rayu Ghava akan tetap mau ikut. Meskipun Zifaa jutek setengah mam-pus.
"Aku tidak ada kendaraan, kesini naik Taxi dan nanti sore juga harus kembali ke tempat kerja, pekerjaan masih banyak, tapi karena kangen dengan calon istri jadi deh kabur dari kerjaan." Ghava menujukan wajah sok imutnya.
__ADS_1
"Bisa naik motor kan? Kalau mau, kita bisa pakei motor ajah, tapi kalau tidak mau aku mau pesan ojek online, buat antar aku cari sarapan, pengin sarapan di luar sebelum ngampus." Zifa yakin kalau Ghava tidak akan memberi izin dia naik ojek online. Tidak akan dia mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu.
"Eh... enak ajah naik ojek online, kita jalan. Naik motor kamu. Aku gini-gini dulu juga pembalap." Tangan Ghava di ulurkan untuk meminta kunci motornya. Dan Zifa yang sudah mempersiapkan pun langsung memberikan pada Ghava.
"Kapan lagi bisa jalan-jalan sama pujaan hati," gumam Ghava. Dalam hatinya menjerit bahagia karena bisa jalan-jalan dengan Zifa. Padahal dalam pikiran dia bisa bertemu dan mendengar suara Zifa saja sudah bahagia, tetapi justru dia bisa jalan-jalan dan menghabiskan pagi yang indah bersama pujaan hati.
"Fa, yang aku tanya kemarin gimana?" tanya Ghava dengan memberi kode agar Zifa ingat bahwa kemarin ia menembak wanita itu.
"Diam berati iya yah," ujar Ghava, dan Zifa pun hanya diam saja terserah Ghava menganggapnya apa, toh memang tujuanya Zifa dekat dari Ghava ya hanya untuk mencari tahu tentang fakta yang terjadi pada keluarganya, dan menggunakan laki-laki itu untuk mencari keadilan.
"Yes berati kita resmi pacaran," pekik Ghava terlihat sangat antusias, sedangkan Zifa diam saja.
"Kita mau sarapan apa pagi ini? Sebagai tanda jadian kita." Ghava menaik turunkan alisnya.
"Apa ajah lah, yang penting bikin kenyang."
"Ok deh, kita cari nanti kalau ada yang kamu pengin bilang aku untuk berhenti yah," ujar Ghava hatinya sangat bahagia.
"Tidak sia-sia aku berkorban menempuh perjalanan semalaman untuk datang kesini, dapat kejutan jadian," pekik Ghava dalam hatinya sudah menjerit bahagia.
...****************...
Teman-teman sembari menunggu kisah Zifa, yuk mampir ke karya besti othor di jamin pasti bikin baper...
__ADS_1
kuy ramaikan...