
"Kemal," lirik Zifa tiba-tiba kedua kelopak matanya terasa panas dan itu karena dia mendengar cerita dari Bi Tini, "Apa Kemal Yang Bi Tini maksud adalah Kemal yang selama ini ada ketika aku butuhkan?" batin Zifa, tetapi dia tidak ingin marah dan kecewa dulu dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi apakah benar Kemal yang di maksud adalah Kemal sahabatnya selama ini. Zifa mencoba menghirup nafas dalam, mencoba menghilangkan kekecewaan yang belum yakin kebenaranya.
"Kamu kenapa Fa, kenapa kamu jadi menangis kayak gini?" tanya Bi Tini yang bingung dengan sikap tiba-tiba Zifa yang berubah. Bi Tini takut kalau Zifa mengingat ibunya.
"Bi, apa Kemal yang Bibi maksud dia sekolah di sekolah SMA Pelita Bangsa?" tanya Zifa dengan suara bergetar, menahan kekecewaan pada sosok Kemal.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, apa kamu kenal dengan Den Kemal?" tanya Bi Tini dia juga justru semakin penasaran dengan Zifa dan Kemal yang seolah saling kenal dan bersangkutan.
"Kalau Kemal yang Bibi maksud adalah orang yang sekolah di Pelita Bangsa, berati dia adalah teman Zifa, dan malah Zifa jadi curiga pada dia karena kaka Zara seolah sangat benci dengan laki-laki itu dan apa mungkin Kemal yang..." Air mata Zifa tidak bisa di bendung lagi dia menangisi nasibnya yang sangat memilukan, sungguh ini adalah kabar yang sangat membuat hatinya kembali hancur. Pikiran Zifa kembali terbang ke masa di mana dia mengobrol dengan Kemal, yang mana laki-laki itu seolah ketakutan dengan apa yang akan terjadi dumi masa depan. Dia takut kalau nanti Zifa akan membenci Kemal. Saat ini Zifa tahu apa maksud dari ketakutanya Kemal. "Jadi ini yang kemal sembunyikan, jadi uang tiga milliar itu dia berikan untuk membeli nyawa ibunku dan juga apa yang terjadi sama Kak Zara, uang ganti rugi dengan apa yang sudah dia lakukan. Pantes saja Kak Zara selalu seperti, ketakuatan dan benci dengan Kemal, ternyata dia adalah anggota dari pelaku. Atau jangan-jangan memang Kemal yang selama ini baik adalah pelaku dari semuanya." Hati Zifa tiba-tiba panas, kepalanya berdenyut, dan pandangan pun gelap.
Bruggg... Zifa jatuh pingsan. "Zifa... Zifa kamu kenapa Zifa...?" Bi Tini mulai panik, dan Bi Tini mencoba memanggil satpam yang tengah berjaga untuk membantu menggotong Zifa ke kamar pembantu yang ada di belakang rumah mewah majikanya.
Cukup lama Zifa pingsan, dan Bi Tini sudah berusaha memijat dan juga memberikan rangsangan bebauan, tetapi Zifa tidak juga bangun. Baru setelah hampir satu jam Zifa baru sadar.
__ADS_1
"Zifa, apa kamu baik-baik saja? Kamu sedang sakit?" tanya Bi Tini ketika Zifa baru sadar.
Zifa memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, entah kenapa dia tiba-tiba dia pusing, apa mungkin karena ia terlalu takut kalau semua yang dia takutkan adalah kenyataan. Zifa menangis menumpahkan ketakutanya, ia tidak kuat dan tidak ikhlas apabila Kemal lah pelakunya. Padahal itu baru bayangan Zifa saja, tetapi dia sudah sangat ketakutan bagaimana kalau Kemal memang benar-benar pelakunya.
Zifa bahkan sampai lupa ingin menanyakan apa yang terjadi pada ibunya sebelum ajal menjemputya. Apa saja kecurigaan Bi Tini yang sangat ingin Zifa ketahui semenjak dia masih di Bandung. Zifa lupa akan rencana itu semua. Di pikiran Zifa saat ini hanya Kemal, Kemal yang ia takutkan dan curigai, bukan Abas tetapi Kemal, apalagi dengan kepergian kemal ke luar negri dan semua upaya yang di lakukan Kemal, sudah membuat Zifa semakin yakin bahwa pelakunya adalah Kemal.
Namun bagai mana cara Zifa saat ini untuk membalaskan dendamnya terutama pada Kemal, terduga satu-satunya yang sangat kuat bukti dan ciri-ciri pelakunya sibuk menutup bukti dan kabur menyelamatkan diri. Zifa ingat ia menyimpan foto Kemal dan dia juga berteman di sosial medianya. Gadis itu buru-buru membuka tas rangselnya, tanganya meraih ponselnya dan membuka galeri di mana dia menyimpan foto Kemal, niat hati untuk mengingat Kemal apabila kangen tetapi rasanya niatnya berubah. Foto itu sebagai tanda bahwa betapa berbahayanya orang terdekat, terutama yang terlihat sangat baik.
Bi Tini meraih ponsel Zifa dan juga dia mengamati gambar yang ada di ponsel Zifa. "Dari mana Zifa kenal Kemal?" tanya Bi Tini, dengan heran.
"Jadi benar Kemal yang anaknya majikan Ibu adalah Kemal yang ini?" tanya ulang Zifa untuk meyakinkan bahwa memang Kemal yang itu hanya ada satu.
"Iya Fa, itu Kemal yang anak bungsu majikan ibu kamu," jawab Bi Tini, semakin tidak mengerti ketika Zifa tertawa renyah, yah dia menertawakan kebodohanya.
__ADS_1
"Seharusnya aku tahu dan sadar bahwa di dunia ini tidak akan ada orang baik dan benar-benar baik, mereka baik hanya ingin aku pergi dari sini dan mereka akan tetap aman, dengan fikiran aku akan kesulitan menyelidiki semuanya dan akan lupa seiring berjalanya waktu. Atau mereka akan berfikiran aku akan menyerah dengan.uang yang sudah Kemal berikan." Zifa semakin geram, dan kembali tertawa renyah, benar-benar menertawakan otak dia yang terlalu bodoh, tidak memiliki perasaan curiga sedikit pun, dia terlalu larut dengan kebaikan Kemal hingga tidak curiga bahwa kebaikan yang laki-laki itu lakukan hanya untuk menutupi kesalahanya.
"Maksud kamu apa Fa?" tanya Bi Tini tidak mengerti apa maksud dari yang di katakan Zifa.
"Zifa sepertinya sudah tahu Bi siapa yang melakukan kejahatan semua ini," ujar Zifa, agar bibi juga bisa berhati-hati yang mungkin saja Kemal akan mencoba merayu Bi Tini untuk membantu membersihkan nama baiknya. Yah musuh yang palin mengerikan adalah musuh yang menyaman menjadi teman dekatnya, dan itu adalah Kemal.
"Apa Zifa menduga kalau Den Kemal yang melakukan ini semua?" tanya Bi Tini dengan mata penasaran.
"Zifa yakin kalau pelakunya adalah Kemal, sifat dia selama ini sangat beda dan itu juga Kemal pergi keluar negri secara tiba-tiba untuk apa kalau bukan untuk kabur?" dengus Zifa sangat malas kalau kembali mengingat kebaikan Kemal.
Bi Tini diam sesaat. "Tapi kenapa Bibi kayak enggak percaya yah. Den Kemal selama Bibi bekerja dengan majikan yang duluan, Den Kemal dan Den Ghava adalah orang yang baik. Rasanya enggak mungkin Den Kemal." Bi Tini masih ragu ketika Zifa mengatakan kecurigaanya.
"Yah seperti itu lah orang jahat sesungguhnya dia bisa menyembunyikan kejahataanya di balik kebaikanya, sehingga tidak ada yang akan curiga, karena orang-orang tahunya dia orang baik. Dan orang yang baik tidak akan melakukan semua ini pada Zifa," sungut Zifa kesal ketika di Bi Tini tidak percaya dengan kabar yang Zifa bawa.
__ADS_1