
"Nanti pulang kerja, kamu juga jemput aku lagi kan?" tanya Wina sebelum benar-benar turun dari mobil mewah Ghava, nada bicaranya di bikin selembut mungkin.
"Aku harus kerja Wina, dan tolong kamu mengerti, kali ini saja aku sudah telat banget. Tidak enak dengan yang lain masa aku kerja seenaknya sendiri. Aku itu masih baru merintis usaha, kalau aku malas gimana usaha aku mau maju," jawab Ghava, sebenarnya dia sudah sangat kesal dengan Wina yang seolah selamu memaksa keinginanya, tetapi dia terpaksa melakukan semua ini agar Wina tidak mengadu macam-macam sama orang tua mereka. Kalau sampai itu terjadi pasti urusanya akan makin ribet.
"Jadi kamu tega, biarkan aku pulang sendiri." Wajah Wina dibikin seimut mungkin, tujuanya agar Ghava smpatik, tetapi sayang Ghava justru semakin mual rasanya. Bahkan rasanya roti yang sudah mengisi lambungnya sebagai menu sarapan tadi pagi seperti mau keluar lagi, karena melihat kelakuan Wina, yang di sebut mamihnya sebagai calon istrinya paling pantas untuk dia.
"Kamu pasti ada sopir pribadi Win, tolong lah mengerti posisi aku, Biar kita juga bisa mengenal tanpa ada paksaan dan lain sebagainya. Kalau sikap kamu kaya gini malah nanti aku merasa kamu terlalu menuntut aku. Sehingga hubungan ini tidak nyaman aku jalani." Ghava benar-benar tidak tahu lagi, bagaimana cara membuat Wina bisa mengerti dengan kerjaan dia.
"Ya udah deh, tetapi kalau nanti kamu ada waktu kita jalan yah, soalnya kata Tante Eir kita harus sering jalan berdua biar kita makin dekat," ucap Wina sebelum turun dari mobil Ghava. Senyum tersunggung dengan sempurna diperlihatkan dari bibir Wina, karena senang, Ghava ternyata tampan dan yang membuat Wina semakin suka dan merasa cocok dengan Ghava adalah orangnya terlihat dingin dan itu menambah nilai plus di mata Wina, sehingga gadis itu diawal pertemuanya sudah jatuh hati dengan Ghava.
Berbeda dengan Wina yang meninggalkan Ghava dengan senyum sempurnanya, Ghava justru cemberut dan bingung bagai mana nasibnya ke depan. Mana waktu perkenalan dengan Wina hanya di kasih waktu tiga bulan. "Mau kabur tapi kabur kemana?" batin Ghava, kedua tanganya di gunakan untuk menjambak rambutnya dengan keras, rasanya dia benar-benar salah karena memutudkan sudah pulang ke tanah air. Bayanganya ia akan bekerja dengan damai malah pusing memikirkan gimana caranya untuk menggagalkan perjodohan antara dirinya dan Wina.
Mobil melaju membelah jalanan dengan kecepan yang cukup tinggi, bahkan Ghava tidak tahu mau kemana dia tidak ke kantor seperti yang di katakan tadi. Padahal ini adalah hari pertama yang seharusnya datang kekantor. Perusahanya yang laki-laki itu bangun sendiri, yaitu Ghava adalah pendiri aplikasi yang bisa di gunakan untuk mempermudah masyarakat luas, terutama penduduk di Indonesia bagi yang ingin melakukan perjalanan destinasi baik domestik maupun internasional. Banyak fitur yang di tawarkan dari aplikasi yang digagas oleh Ghava sehingga aplikasi yang dia dirikan terkenal amanah dan banyak di gunkan oleh sebagian penduduk Indonesia yang mau berlibur ke luar negri, maupun warga asing yang ingin menikmati wisata di tanah air.
Kendaraanya terus membelah jalanan, entah kemana tujuan Ghava, tetapi yang ada di benaknya saat ini ia ingin menenangkan pikiranya. Tentu sebelum ia kabur, ponsel sudah Ghava matikan. Sehinga mamihnya ataupun papihnya tidak bisa mencari Ghava.
__ADS_1
Laki-laki itu bahkan tidak perduli apabila mamihnya sampai marah atau nanti papihnya juga ikut-ikut menceramahinya. Intinya dia ingin lepas, ingin seperti burung yang bisa terbang bebas mencari pengalaman yang baru.
Mungkin orang tuanya mengira pencapaian yang di dapat Ghava sudah cukup, tetapi bagi Ghava pribadi itu masih sangat kurang. Dia ingin terus membuat perusahaan yang dia bangun semakin berkembang dengan banyak cabang.
****
"Tasi nanti kamu temanin aku belanja bahan-bahan kue," ujar Zifa, di mana mereka besok sudah mulai ada oderan dari pelanggan yang dulu sering oder kue di yayasan. Ia berbicara dengan Tasi, dan mencatat apa saja yang akan dia beli, dan tentunya melihat dari list oderan yang sudah masuk, dan kue apa yang akan di buat untuk isi toko perdana mereka, esok hari.
"Siap Teh," jawab Tasi dengan semangat. Zifa memilih jalan dengan Tasi sebab anak buahnya bisa naik kendaraan roda dua, sedangkan Zifa sendiri tidak bisa naik motor, yang Zifa bisa naik sepeda dia jago, tetapi kalau naik motor mah boro-boro, Makanya Zifa memilih Tasi yang mengatar dia ke toko bahan kue, dan mencari semua kebutuhan untuk pembukaan besok.
"Tasi, kira-kira kita beli apa yah buat makan malam kali ini?" tanya Zifa, mereka baru pindahan hari ini dan itu belum sempat masak, jadi mereka pun harus beli maakanan untuk makan malam mereka.
"Enggak tahu Teh, da Tasi mah makan apa aja hayu," jawab Tasi dengan pasrah.
Bebek bakar akhirnya menjadi pilihan untuk makan malam mereka semua kali ini. Dua ekor bebek bakar di pesan oleh Zifa. Selama menunggu Tasi dan Zifa bercerita ringan. Setelah kurang lebih menunggu setengah jam akhirnya pesanan sudah selesai, setelah membayar Zifa pun memberikan kantong berisi bebek bakar pada Tasi, dan dia berencana membeli seblak di ujung barisan tukang dagang.
__ADS_1
"Tas, aku mau beli seblak dulu yah," ujar Zifa setelah memberikan bungkusan bebek bakar.
"Heh... " jawab Tasi, di mana di tempat itu suara kendaraan rame, dan Tasi tidak begitu mendegar ucapan Zifa. Dengan pecaya diri Tasi melajukan motornya, dan Zifa yang sudah berjalan ke tukang seblak tidak tahu bahwa Tasi sudah jalan duluan.
Tasi dengan percaya dirinya jalan begitu saja tanpa menoleh ke belakang Zifa sudah naik atau belum, dan dia yang tiba-tiba perutnya mules pun semakin cepat melajukan kendaraanya tanpa mengobrol dengan Zifa seperti biasanya selalu ngoceh sepanjang jalan entah mereka membahas apa saja.
"Loh, Tasi mana?" batin Zifa bingung, "Perasaan tadi tuh anak ada di sini," gumam Zifa pandanganya diedarkan kesegala penjuru mungkin saja Tasi berteduh karena di sana juga gerimis.
Begitu sampai ruku Tasi buru-buru masuk kekamar mandi. Alwi yang heran kenapa tidak ada Zifa pun melempar pertanyaan pada Tasi. "Tas, Ifa mana?" tanya Alwi.
"Di belakang," jawab Tasi dengan buru-buru ingin segera menunaikan hajatnya.
"Terus belanjaan?" tanya Alwi lagi.
"Nanti di antar kurir," jawab Tasi pokoknya saking mulasnya dia jawab sebisanya.
__ADS_1
Alwi pun menyimpulkan dari jawaban Tasi. Mungkin Zifa sengaja pulang belakangan karena menunjukan jalan bagi kurir yang mau mengantar barang. Karena Tasi yang sakit perut sehingga memilih pulang duluan. Namun tanpa Alwi sadar bahwa Zifa tertinggal di barisan tukang dagang yang tadi sempat mereka singgahi.