
"Ini Pak polisi pasangan selingkuhannya," ucap warga sembari menunjuk Ghava dan Zifa.
Sontak Ghava geram dengan tuduhan itu. "Kami tidak pernah selingkuh. Ini buku nikah kami. " Ghava menyerahkan bukti itu pada polisi, dua orang polisi pun saling melemparkan pandang yang aneh.
"Siapa yang melaporkan adanya selingkuh?" tanya pihak berwajib yang mungkin merasakan tertipu setelah Ghava menjelaskan kejadian kenapa bisa ia dituduh selingkuh. Ghava mencoba mencari tahu siapa yang melaporkan pada polisi kasus keluarganya.
Warga pun mulai tahu permasalahan yang dialami oleh keluarga itu dan mereka yang mulai malas ada yang meninggalkan kerumunan dan kembali pada aktifitasnya dan Kemal. dan Ghava tetap dibawa ke kantor polisi karena dimintai keterangan kenapa bisa mereka menyebabkan keributan.
Tentu Ghava dan Zifa tidak masalah dengan permintaan polisi itu karena semua demi kebaikan bersama. Mereka pun mengikuti saja meskipun harus berurusan dengan pihak yang berwajib.
Plak... Wina menampar pipi Zifa begitu polisi pergi dan juga dia sudah dalam satu ruangan yang sama. Kemal dan Ghava yang berada di samping mereka langsung melerai. Ghava langsung menarik tubuh Zifa mendekati dengannya, ingin laki-laki itu juga melakukan hal yang sama pada wanita itu, tetapi sepertinya Kemal sudah mewakilkan dirinya.
"Wina, kenapa loe itu seperti ini sih? Kan udah gue katakan kalau kita tidak akan menyakiti Zifa," bentak Kemal sangat kecewa dengan Wina yang dengan tiba-tiba menampar Zifa. Sakit hati Kemal ketika wanita pujaan hatinya ditampar oleh Wina apalagi dengannya sangat keras.
"Bukanya loe juga janji kalau loe nggak akan melukai Ghava, tetapi apa loe buat Ghavaku sakit sekarang ini semua gara-gara loe, dan wajahnya babak belur juga karena loe," balas Wina, tidak mau kalah dengan apa yang Kemal ucapkan pada Wina. Sedangkan Zifa dan Ghava memang memilih banyakan diamnya dan akan berbicara apabila memang ia dibutuhkan kesaksian untuk membela dirinya. Buka Zifa dan Ghava takut dengan Kemal dan Wina, hanya mereka berdua tahu porsi yang di butuhkan untuk melawan semuanya.
Yah, tentu semuanya belajar dari Alwi dan Lyra juga seperti ini selalu mengalah dan membiarkan mereka yang merasa menang untuk menunjukan taringnya dan suaranya yang mengaung dengan keras tetapi perlu diketahui bahwa suara yang mengaung keras belum tentu ia akan berani untuk melawan dan menunjukan kebenaranya.
__ADS_1
"Ghava mengusap pipi Zifa, ingin dia membawa wanita yang sudah menyandang status suami istri kedalam pelukannya tetapi apa boleh dibuat situasi sangat tidak memungkinkan untuk dirinya yang memberikan perhatian pada Zifa, yang ada Wina makin kalap.
Zifa juga sangat tahu kalau situasi mereka sedang tidak baik-baik saja, dana dia memilih untuk diam.
Dengan di dampingi dua orang polisi masalah Ghava dan Kemal di sidang atas dasar kekeluargaan dan semuanya Ghava yang memintanya, untuk memulihkan nama baik dirinya dan juga nama baik Zifa tentunya yang di sebut pelakor oleh Wina, yang saat ini Wina sudah jelas tidak ada hubungan apa-apa dengan Ghava lagi.
Ghava dan Kemal menjelaskan masing-masing versi mereka pada polisi, begitupun Zifa dan Wina yang menjelaskan versi masing-masing cara mereka. Tentu Ghava dan Zifa menyerahkan buku nikah sebagai bukti kalau mereka sudah menikah, dan siapa yang benar dan juga siapa yang salah biarkan polisi yang menyimpulkannya.
Ghava dalam kasus ini tidak ingin mencari siapa yang salah dan juga siapa yang benar, Zifa hanya ingin meluruskan tuduhan Wina yang sangat tidak berdasar.
Mungkin dengan mereka menasihati, Kemal dan Wina akan mengerti dan tidak mengejar-ngejar dengan apa yang bukan miliknya.
Cukup lama mereka dapat wenjangan itu dan bukan hanya Wina dan Kemal yang dapat wejangan Zifa juga dapat wejangan.
Mereka pun diminta berdamai secara kekeluargaan dan kini semuanya sudah tidak ada maslah lagi, dan Zifa maupun Ghava pun mulai membubarkan diri. Rumah sakit adalah tujuan Ghava dan Zifa. Pasangan suami istri itu akhirnya akan menggunakan taxi berhubung mobil mereka rusak karena ulah adiknya sendiri.
"Tunggu Bang!!" Kemal mencoba menghampiri Zifa yang sudah lebih dulu keluar. Zifa dan Ghava yang sebenarnya sangat malas pun terpaksa menghentikan kakinya dan menoleh ke arah Kemal.
__ADS_1
"Aku minta maaf," lirih Kemal dengan tatapan yang mengiba, sedangkan Wina hanya berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari kerumunan tiga orang itu. Zifa yang sedang memegangi tubuh Ghava karena lemah pun hanya mematung menjadi pendengar yang handal.
"Maaf untuk apa? Semuanya sudah jelas di dalam sana sudah sangat terlihat jelas kalau kita sudah berdamai," balas Ghava, malas ucapan Kemal hanya akan membuang waktunya. Sedangkan dia sudah sangat lelah, dan tubuhnya sudah mulai panas dingin.
"Untuk semuanya tidak sepantasnya aku melakukan ini sama loe sedangkan loe adalah saudara gue," balas Kemal lagi dan Ghava pun mulai malas.
"Kita mau ke rumah sakit mungkin semuanya bisa di omongkan lain waktu," balas Ghava dengan pandangan yang sudah sangat malas dengan Kemal.
Sebenarnya Kemal ingin menahan Ghava lagi, tetapi ia juga tidak tega ketika melihat Ghava seperti itu karena dirinya yang ingin merebut Zifa, entah menyesal untuk seterusnya atau justru menyesal untuk sesaat saja, Kemal sangat tercubit hatinya ketika melihat kalau Ghava sangat kesakitan akibat diha-jar oleh adik kandungnya sendiri.
"Maaf yah," lirih Ghava pada Zifa yang sejak tadi hanya diam saja Zifa yang memang sedang sedikit melamun pun langsung tersentak kaget dengan apa yang diucapkan oleh Ghava.
Zifa menepuk-nepuk pahanya menandakan agar Ghava berbaring dengan beralaskan paha miliknya, dan Ghava pun melakukanya.
"Semuanya juga ikut andil dari aku Mas," lirih Zifa dengan sangat pelan.Tanganya terus mengusap-usap rambut Ghava.
"Mungkin kalau aku dan kalian tidak saling kenal semua tidak akan terjadi seperti ini. Aku akan tetap mencari keadilan untuk ibu dan Kak Ara dengan caraku sendiri, tanpa aku harus melibatkan kalian," lirih Zifa, tidak ingin memojokan Ghava, Zifa tahu kalau Ghava sedang sangat merasakan bersalah.
__ADS_1