
"Mas apa adik kamu akan datang ke rumah sakit ini?" tanya Zifa dengan bersikap tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa, sangat berbeda dengan isi hatinya yang saling bergemuruh hebat. Itu tandanya sebentar lagi rahasianya akan terbongkar.
"Iya, lagian kamu juga kan besok harus kuliah, nanti yang gantian jaga aku siapa kalau kamu kuliah. Tidak akan tega juga kalau aku malah merepotkan kamu kan," jawab Ghava, ternyata laki-laki itu sudah memperhitungkan semuanya.
'Baik sih niatnya, tapi nanti aku harus ketemu Kemal dong, kira-kira aku harus cari alasan apa yah,' batin Zifa benar-benar belum siap kalau harus bertemu Kemal saat ini juga.
"Kenapa Fa, kamu kayak'nya gelisah gitu?' tanya Ghava yang melihat Zifa dari tadi seperti orang yang banyak hutang.
Zifa tersentak kaget, Ah kalau aku pulang duluan tidak Mas, aku besok kayak'nya ada kerjaan yang belum di selesain deh," ucap Zifa berusaha cari alasan untuk Ghava mengizinkan dia pulang lebih dulu.
Ghava menatap iba pada Zifa. "Tunggu yah Fa, tidak akan lama kok, nanti begitu adik aku datang kamu bisa pulang, kamu bisa nungguin sambil tiduran," lirih Ghava dan Zifa pun lagi-lagi tidak bisa menolak keinginan Ghava. Dia sudah pasrah kalau nanti memang bertemu dengan Kemal. Ya anggap saja semua ini memang sudah jalannya semuanya terbuka.
Zifa pun tidak bisa membantah lagi dan dia pun berdiam saja duduk di sofa. Ghava nampak bersalah tetapi laki-laki itu memang ingin sekalian memperkenalkan adiknya pada kekasihnya. Tangan Ghava memegangi kepalanya yang tiba-tiba berkunang-kunang lagi.
"Fa, bisa tolong panggilkan dokter." Suara Ghava yang lirih dan bergetar terdengar oleh Zifa. Wanita itu langsung menatap pada Ghava dan meninggalkan ponselnya begitu saja.
"Mas Ghava kenapa? Sakit lagi?" tanya Zifa semakin panik. Sedangkan Ghava membalas dengan anggukan. Setelah itu kini Zifa berlari mencari dokter.
Brug... Begitu Zifa membuka pintu ia bertabrakan dengan Kemal. Namun Zifa yang sedang terburu-buru meninggalkan Kemal begitu saja, dan melanjutkan niatanya yaitu memanggil dokter.
"Zifa..." Bukankah tadi Zifa? Lalu sedang apa dia di kamar Abang?" gerundel Kemal, ia pun melanjutkan perjalananya melihat penghuni di kamar yang tadi sempat dia tanyakan pada resepsionis, dan mereka berkata bahwa nomor itu adalah kamar Ghava.
Namun, Kemal melanjutkan perjalananya dan melihat abangnya berbaring dengan mata terpejam dan tangan terus memijit pelipisnya.
Tidak lama Zifa masuk dengan seorang dokter yang setengah terburu juga. Kemal nampak bingung dan yang membuat ia kaget adalah Zifa berada di ruangan abangnya.
__ADS_1
Kemal yang bingung dan syok menarik Zifa keluar, membiarkan Ghava ditangani oleh dokter. Nafas Zifa bahkan masih tersenggal karena ia yang panik dan berlarian mencari dokter.
"Zifa kamu ngapain di ruangan Abangku?" cecar Kemal dengan suara yang setengah di tahan agar tidak lolos.
"Loh emang kamu dan Ghava sodara?" tanya Zifa balik, mulai memerankan sekenario yang sudah lama ia rencanakan.
Nampaknya apa yang Zifa perankan berhasil membuat Kemal bingung. Terlihat dari wajah Kemal yang sangat terlihat bingung.
"Ghava, itu abang aku," jawab Kemal. Lagi, Zifa nampak kaget dengan ucapan Kemal itu.
"Kamu tidak sedang berbohong dan mengerjai aku kan Kemal?" lirih Zifa dengan wajah yang kebingungan, nampaknya rencana Zifa berhasil membuat ia terjebak dalam situansi yang tidak mengenakan dengan tidak disengaja.
"Buat apa aku bohong, aku saja kaget ketika melihat kamu keluar dari ruangan abangku," balas Kemal nampak wajahnya tidak menyukai dengan situasi ini.
"Apa kamu mencintai abangku?" tanya Kemal, dengan tatapan yang tajam.
"Aku melihat ada sosok kamu di diri Ghava mungkin itu sebabnya aku menerima Ghava, dan ternyata kalian memang sodara," jawab Zifa, tidak menjawab dengan memojokan sesuatu tetapi seolah gadis itu berada disituasi yang salah.
"Kalau begitu kita pura-pura tidak saling kenal," jawab Kemal dengan wajah yang murung, siapa yang ingin disituasi seperti ini. Dimana wanita yang ia cintai sejak lama adalah kekasih dari abangnya, dan dari jawaban pertanyaan Zifa ada kemungkinan Zifa menyukai Ghava karena ia menemukan sosok Kemal ditubuh Ghava yang bisa diartikan kalau Zifa adalah menginginkanya Kemal bukan Ghava.
Zifa masuk keruangan setelah dokter keluar dan di dalam sana Ghava sudah istirahat kembali. Tidak lama Kemal pun menyusul, Zifa duduk di samping Ghava sedangkan Kemal duduk di pojokan sova. Pandangan Kemal terus tertuju pada Zifa yang sedang duduk disamping Ghava.
Cukup lama terjadi kebisuan baik Kemal maupun Zifa terjebak dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya banyak yang ingin Kemal tanyakan pada Zifa, tetapi Kemal juga takut kalau Ghava akan tahu hubungan mereka.
Ghava memegangi kepalanya yang semakin terasa berdenyut. Kelopak matanya di buka pelan-pelan dari bayang-bayang gelap, dinding bercat putih, dan yang paling membuat Ghava mual adalah aroma obat yang menambah ia semakin sakit perut.
__ADS_1
"Mas... Mas Ghava sudah bangun?" tanya Zifa begitu ia melihat Ghava membuka matanya dan juga tanganya yang memijit kepalanya. "Mana yang sakit?" tanya Zifa, sembari tanganya ikut memijit kepala Ghava yang Zifa tahu pasti pusing.
Sedangkan di sofa Kemal yang melihat pemandangan ini hanya bisa tersenyum masam. Hatinya sakit ketika tahu kalau abangnya adalah kekasih dari Zifa. Dan setelah menerima penjelasan dari Zifa akhirnya Kemal pun yakin dan tahu bahwa Zifa tidak tahu sebelumnya kalau Ghava adalah abangnya.
'Dunia ternyata sangat sempit yah. Kenapa aku dan abangku mencintai wanita yang sama,' lirih Kemal, tertawa dalam batinnya. Tetapi ia tidak berani mengatakan pada Ghava kalau Zifa adalah gadis yang ia cintai juga.
"Kamu belum pulang Fa?" tanya Ghava yang mengira kalau Zifa sudah pulang.
":Mana bisa Ifa pulang kalau Mas Ghava tadi pingsan lagi," dengus Zifa gara-gara Ghava pingsan dia yang tadinya mau kabur dan tentu menghindar agar tidak ketemu dengan Kemal malah saat ini terjebak dalam sItuasi yang tidak mengenakan. Untungnya Kemal percaya kalau Zifa tidak tahu kalau Kemal dan Ghava adalah sodara.
Lalu mereka saat ini harus memerankan peran masing-masing agar Ghava percaya kalau Kemal dan Zifa tidak ada hubungan, dan berati ia dan Kemal harus mulai jaga jarak.
"Aduh maaf yah, gara-gara aku kamu malah jadi tertahan di sini," ucap Ghava dengan meraih tangan Zifa, entah sadar atau tidak laki-laki itu, kalau dari pojokan ruangan ada sepasang mata yang mengawasi dengan jeli apa yang terjadi di hadapannya.
Sementara Kemal yang melihat pemandangan yang membuatnya iri pun langsung menyadarkan bahwa ada orang lain di ruangan itu. Bukan hanya iri tapi juga ingin posisi mereka berbalik tentunya.
"Ehemmzzz.... Bang, bisa hormatin jomblo kan"
*****
Teman-teman sembari menunggu kelanjutan Kemal, Zifa dan Ghava yuk mampir ke karya bestie othor di jamin kalian bakal baper sampai kronis....
Kuy ramaikan....
__ADS_1