Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 154


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang hampir memakan waktu satu jam, akhirnya Omar sampai di rumah sakit, di mana Kemal di rawat. Dengan tangan yang dingin dan tubuh bergetar seolah ia akan menghadapi persidangan, laki-laki paruh baya itumelangkahkan kakinya yang terasa sangat berat, dengan bermodalkan petunjuk dari security akhirnya Omar menyusuri lorong rumah sakit. Kedua mata laki-laki paruh baya itu menangkap sosok yang sangat ia kenal yaitu Ghava, putra keduanya.


Omar langsung mengayunkan kakinya menuju Ghava yang Omar yakini saat ini sedang menunggu Kemal yang masih menjalani operasi. Namun sedetik kemudian ia berhenti ketika menangkap ada sesosok wanita yang nampak sedih di balik pelukan Ghava.


"Siapa wanita itu, apa wanita ini yang sebenarnya tadi Ghava cemaskan? Dan dia siapa kenapa terlihat dekat sekali dengan Ghava?" tanya Omar pada dirinya sendiri, dalam otaknya entah masalah apa saja yang berkumpul jadi satu. Dari Abas yang kondisinya kritis, Eira di penjara, pekerjaan, Kemal yang masih kritis juga, dan saat ini Ghava dan wanita misterius itu.


Omar mencoba bersikap tenang, meskipun masalah yang membelitnya sudah sangat-sangat banyak dan sulit untuk mengurainya. Kakinya kembali diayunkan, nanti akan ada situasi dirinya menanyakan siapa sebenarnya wanita itu. Saat ini yang terpenting adalah kondisi Kemal.


"Kemal kondisinya gimana Va?" tanya Omar yang langsung mengagetkan Ghava dan juga Zifa yang masih dalam pelukan Ghava.


"Papih, kok cepat sekali sampai?" tanya balik Ghava sembari beranjak berdiri. Ekor mata Omar menatap wajah gadis cantik yang tadi tenang dalam pelukan putranya. Dari wajahnya Omar bisa simpulkan bahwa gadis itu memang sedang dalam kondisi yang sangat sedih. Hal itu semakin membuat Omar penasaran.


"Papih langsung berjalan ke sini begitu mendengar kabar dari kamu. Kemal gimana?" tanya Omar balik.


"Duduk dulu pih." Ghava yang tahu kalau papihnya cape pun menuntun laki-laki paruh baya itu untuk duduk. Ghava juga menyodorkan air minum untuk papihnya yang pasti haus.


Zifa pun memberikan senyum terbaiknya ketika kedua matanya bertemu pandang dengan Omar, dan dia menganggukkan kepalanya sebagai salam pertemuan. Omar pun melakukan hal yang sama.


"Kondisi Ghava belum tahu, soalnya operasi belum selesai mungkin memang peluru bersarang di tempat yang sedikit rawan sehingga butuh kehati-hatian, dan memakan waktu yang cukup lama," jawab Ghava ketika melihat papihnya sudah sedikit tenang.

__ADS_1


Omar nampak menghirup nafas dalam, dan membuangnya dengan perlahan. Sesak itu yang ia rasakan tubuhnya terlihat seperti bukan Omar laki-laki itu sangat berbeda jauh dengan Omar yang biasanya rapih dan juga sangat terlihat modis, kali ini seperti orang yang tidak terawat. Begitupun Ghava bahkan pakaian sudah digulung-gulung entah seperti apa tampang mereka saat ini, kacau.


"Kenapa semua terjadi pada keluarga kita secara bersamaan. Abas di tempat lain juga sedang berjuang untuk kesembuhanya, dan sekarang Kemal di sini bahkan sampai detik ini dokter belum bisa memberitahukan seberapa besar dirinya akan bertahan hidup," ujar Omar dengan suara yang sangat sedih.


Zifa pun yang berada di sebelah Ghava ikut sedih mendengan ucapan Omar, dia memang marah dengan keluarga Kemal terutama Mamihnya, tetapi ketika mereka di uji dengan musibah yang serentak Zifa juga merasakan bersalah.


Bukan ini rencananya, dan juga bukan ini yang dia mau, dia hanya ingin membalas dendam dengan pelaku pembunuhan ibunya tanpa melibatkan Kemal. Namun, rencana tinggalah rencana sedangkan yang menentukan semuanya tetap Tuhan yang memiliki kuasa seluruhnya.


********


Di tempat lain Zara dan Alwi serta Raja,dan Ratu. Keluarga itu sudah sangat mirip dengan keluarga sungguhan, terutama ketika pagi menyapa seperti pagi ini, setiap pagi dua anak kembar ini akan berlatih renang, dan pelatihnya tentu sang papah angkatnya. Sementara itu Zara memilih memasak di dapur, ini adalah aktifitasnya yang membuat ia selama ini bisa melupakan kenangan buruknya terhadap kematian ibunya.


"Papah, lapar," celotel Ratu yang mencium wangi masakan mamahnya, saat ini mereka sedang di kolam renang, sudah hampir satu jam mereka berenang. Dari ia baru bangun tidur, maka dua anak itu akan langsung berlari ke kamar Alwi untuk mengajaknya berenang. Hal itu karena mbanya, Sisri tidak bisa berenang sehingga hanya Alwi yang bisa mengajarinya, dan berkat seringnya latihan mereka kini sudah bisa benerang.


"Iya Papah juga sudah lapar, kalau gitu ayo kita sudahan berenangnya habis itu mandi terus makan, pasti Mamah sudah selesai masaknya," ujar Alwi dengan memnggendong putri cantiknya.


"Yah, Papah Laja masih pengin belenang," protes si sulung yang masih seru bermain air.


"Ya udah kalau Laja mau belenang, silakan, kan Latu sama Papah lapal," celoteh Ratu, hal semacam ini sudah biasa bagi Alwi dan Zara, dua anak kembar ini akan saling berebut, dan saling tidak sejalan, dan ujungnya salah satu mereka ada yang menangis dan membuat kepala pengasuh, dan Alwi akan serasa mau pecah.

__ADS_1


"Besok kita main lagi Bang, sekarang udahan dulu kan Papah juga mau kerja." Kali ini Alwi yang mencoba menasihati Raja, dan ketika Alwi yang angkat bicara maka Raja pun akan nurut.


"Ya udah tapi besok mainya yang lama yah," oceh Raja sembari naik ke permukaan.


"Ok, Rajanya Papah." Alwi memberikan simbol OK.


"Sisri, tolong mandiin dua anak baik ini, setelah itu kita sarapan," ucap Alwi sembari menuntun kedua anak angkatnya.


"Kenapa bukan Papah yang mandiin kita?" tanya Raja dengan wajah memelas.


"Papah juga harus mandi, ini udah siang Papah harus kerja biar punya uang banyak nanti kita nyusuk Tante Ifa,"  jelas Alwi. Meskipun dirinya entah sudah berapa kali selalu memberikan penjelasan seperti itu tetapi namanya anak-anak mereka seolah akan lupa ketika papahnya harus kerja.


"Ya udah deh, sama Mba Sisi, tapi kalau Papah libul, mandinya sama Papah yah," imbuh Raja, mungkin dia sangat menginginkan sosok papah sehingga dua anak kembar itu sangat manja dengan Alwi.


"Tentu dong Sayang, kalau Papah libur, seharian Papah milik kalian berdua," jelas Alwi.


"Holleh... nanti kita  main yang lama, dan mandi baleng sama bobo baleng, sama Papah," Raja dan Ratu berjingkrak gembira.


Hati Alwi merasakan rasa yang teramat damai ia kembali mengingat anaknya yang telah meninggal dunia. "Mecca, sekarang Papah tidak bersedih lagi ada penganti Mecca untuk menemani Papah," lirih Alwi, mungkin suatu saat nanti Alwi akan mengajak dua anak angkatnya mengunjungi pemakaman putrinya, Mecca. Alwi akan memperkenalkan mereka ke pada Mecca anak yang baik dan juga ceria, sama seperti Raja dan Ratu.

__ADS_1


Mungkin kalau tidak ada Raja dan Ratu, Alwi masih dirundung kesedihan karena putranya yang telah berpulang.


__ADS_2