
Kemal langsung memalkirkan mobilnya di baseman tempat mobil Ghava. "Wih, keren memang Abang gue, mobilnya bukan ecek-ecek. Sultan beneran memang Abang gue yang satu itu. Tidak salah gue porotin dia terus, tapi kayaknya ini semua karena gue porotin terus, sehingga uangnya tidak habis habis," kelakar Kemal yang bangga dengan Ghava yang sudah sukses di usia muda, tetapi yang membuat Kemal senang dengan Ghava dia tidak mnyombongkan diri. Meskipun apabila dengan Kemal, akan menjadi orang paling sombong di dunia ini, tetapi dia tahu bahwa hal itu buat hiburan semata. Aslinya Ghava itu rendah hati dan selalu menolong orang-orang yang kesusahan. Itu mungkin sebabnya rezeki dia mengalir seperti derasnya sungai. Dari Ghava juga, Kemal belajar untuk mengikuti jejaknya yang tidak terlalu patuh dengan mamihnya. Ghava memutuskan hidup mandiri sejak sekolah menengah atas, meskipun awalnya di tolak oleh mamih, dengan alasan keamanan, tetapi pada akhirnya Ghava diizinkan hidup sendiri, dengan tinggal di apartemen. Namun tentu sesekali pulang kerumah kerluarga besarnya.
Kemal dengan langkah kaki seribu langsung menuju apartemen Abangnya dan memasukan kode kunci rahasianya, bahkan yang tahu kode itu adalah Ghava dan Kemal saja. Karena sudah di beritahukan letak konci mobilnya sehingga Kemal tidak harus mencarinya, laki-laki itu hanya butuh waktu sepuluh menit di dalam ruangan apartemen abangnya itu. Selanjutnya Kemal kembali ke basemen dan kali ini mencoiba mobil baru kakaknya yang terlihat paling mewah diantar mobil-mobil kelurga mereka.
Tidak lupa laki-laki itu tetap menyempurnakan penyamaranya, topi dan masker masih menempel di wajahnya. Benar saja kata Ghava mobil yang mengikui dirinya masih ada di bawah pohon di sebrang apartemen kakanya, sedang menunggu mobil Kemal keluar.
"Kalian nikmatilah hingga malam hari atau kalo perlu pergantian hari, minggu bahkan bulan kalian akan tetap di tempat ini," ucap Kemal berbicara sendiri sembari matanya menatap dengan jeli mobil yang mengikutinya. Bahkan nomor polisinya Kemal sampai hafal.
__ADS_1
****
Di rumah Zifa, setelah Zifa mengetahui bahwa Kemal akan datang telat ia pun kembali merapihkan barang yang masih bisa di pakai kedalam wadah yang sekiranya aman untuk menyimpan barang hingga waktu yang belum bisa ia tentukan.
Sebenarnya berat sekali ketika Zifa di paksa oleh keadaan harus meninggalkan rumah masa kecil mereka. Bayangan di saat mereka masih kecil, terus melintasi pikiran Zifa. Dia menatap setiap ruangan yang sekarang sudah rapih, bahkan kasur pun sudah Meyra gulung dan tutup dengan plastik besar agar tidak rusak. Gadis itu kembali menatap kakanya yang masih tertidur di atas sofa usangnya.
Lagi-lagi Zifa tertuju dengan perut kakanya, dia sangat heran dengan perut kakanya itu. Berapa bulan sebenarnya kakanya hamil? Kenapa perutnya seolah sudah besar? Zifa memutuskan sebelum kakanya di titipkan ke panti sosial yang di khususkan untuk terapi orang dengan keadaan istimewa seperti Zara, maka Zifa akan lebih dulu memeriksakan kandungan kakanya supaya Zifa juga tahu kakanya sudah hamil berapa bulan. Sehingga bisa menyiapak semuanya.
__ADS_1
Zifa berjanji akan menjadi ibu pengganti keponakanya nanti, sampai kakaknya bisa di andalkan untuk mengasuh buah hatinya. Lagi, hatinya teriris pilu, manakala membayangkan anak dari kakanya lahir tanpa tahu siapa papahnya. Apakah anak itu juga akan menyimpan dendam seperti Zifa yang tujuan hidupnya saat ini hanya untuk membalas dendam.
Cita-cita yang sudah ia rangkai dengan sangat indah dulu, bahkan dia rela berpanas-panasan agar bisa tetap menyisihkan sedikit rezekinya. Supaya dia bisa menggapai cita-citanya dan bisa mengangkat keluagranya dari kemiskinan, tentu menjadikan kebanggan untuk ibu adalah cita-cita Zifa, tetapi tidak sedikit pun dia kefikiran bahwa hidupnya akan semenyedihkan ini. Tidak ada bahagia yang tersisa, semuanya direnggut dengan paksa oleh orang tidak berbelas kasih.
Langkahnya yang dulu tegak karena ada ibu yang membuat ia semangat untuk menjalani hari, kini langkah itu telah rapuh bahkan cacat untuk berjalan. Namun Zifa tetap berusaha tetap melangkah karena keadilan untuk keluarga membutuhkan dirinya.
Zifa sebelumnya sudah menitipkan satu kunci rumahnya kepada tetangganya, orang yang selama ini selalu membantu keluarga Zifa, agar membantu menjaga rumahnya, tentu dengan sedikit uang untuk ucapan terima kasih. Tidak lupa Zifa juga menitipkan kalo ada yang mencari dia atau kakaknya supaya di kabarkan bahwa Zifa sudah pulang kampung. Yah, Zifa mengatakan bahwa ia akan pulang kampung untuk mengelabuhi kemungkinan orang yang ingin berbuat kurang mengenakan terhadap keluarganya. Tanpa terkecuali mungkin guru dan teman sekolahnya yang akan datang ke rumahnya, karena ia yang tidak pernah masuk sekolah lagi. Bahkan dia tidak lagi aktif di grup sekolah. Sikap Zifa yang tiba-tiba menghilang itu pasti menimbulkan banyak dugaan yang tidak-tidak dan kemungkinan besar salah satu perwakilan dari sekolah akan datang kerumahnya. Untuk mengantisipasi itu Zifa sudah menitipkan surat permohonan maaf. Ia tidak berani mengatakan secara langsung, karena ia masih belum begitu terima dengan kondisi yang sekarang menimpanya, dijungkir balikan oleh takdir seperti roller coaster.
__ADS_1