Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 151


__ADS_3

"Lepas... lepasakan aku!! Aku tidak salah, wanita parasit itu sang salah, dia membuat anak-anakku membenciku dan memaksa aku melakukan ini," racau Eira, ketika polisi hendak membawanya ke kantor polisi. Bahkan polisi itu tidak sama sekali menyangka bahwa wanita itu akan sangat kuat tenaganya.


"Diam!! Kalau kamu terus-terusan berontak seperti ini yang ada nanti dengan terpaksa akan kami lumpuhkan kamu," ucap polisi yang lain, meskipun sudah beberapa kali diancam, tetapi Eria terus saja menjerit-jerit, merancau kalau dirinya tidak salah.


Dengan menggunakan mobil tahanan polisi membawa Eira ke kantor, untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya, meskipun wanita itu terus menerus merancau kalau bukan dirinya yang salah melainkan Zifa dan juga Kemal yang salah karena telah mengancam dirinya. Namun saksi dan bukti mengatakan dialah pelakunya, sehingga sekuat apapun ia mengatakan maka hanya akan sia-sia.


Kini wanita itu bukan lagi terlibat dalam satu kegiatan kejahataan, tetapi ditambah dengan kejahatan hari ini semakin sulit wanita ini untuk menghindar dari belitan hukum.


Sementara itu Ghava yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, yang mana di dalam kamar itu banyak polisi yang sedang melakukan olah tempat kejadian perkara. Tubuh Ghava langsung lemas seketika ketika melihat begitu banyaknya darah yang ada di atas lantai.


Dari darah yang berceceran Ghava bisa menyimpulkan kalau memang luka yang terjadi pada adiknya itu sangat parah.


"Pak apa ibu saya baik-baik saja?" tanya Ghava pada petugas yang sedang melakukan olah kejadian perkara.


"Pelaku sejauh ini baik-baik saja, sepertinya akan kami lakukan pemeriksaan kejiwaan untuk pelaku, untuk menambah bukti-bukti yang lain," jawab polisi yang saat ini posisinya berdiri di samping Ghava.


Ghava sendiri untuk membayangkan betapa menyerampakanya saat kejadian, kepalanya semakin berdenyut. Lalu gimana kondisi Zifa yang melihat secara langsung kejadian penembakan itu? Pasti Zifa sangat syok. Ghava pun langsung bergegas melanjutkan rencana selanjutnya menemui Zifa di rumah sakit, dia pasti sangat ketakutan saat ini (Itu yang ada dalam pikiran Ghava)


Setelah Ghava melihat tempat kejadian tragedi berdarah dan sempat berkomunikasi sedikit dengan polisi. Ghava kembali mengayunkan kakinya dengan tubuh gemetar. Bahkan kepalanya yang pusing karena melihat darah begitu banyak, dan membayangkan suasana yang sangat mencekam di dalam kamarnya. Suasana gimana adik dan istrinya dieksekusi oleh ibu kandungnya sendiri. Ia masih bersyukur karena semuanya buru-buru diamankan sehingga tidak menambah korban lain.

__ADS_1


"Kemal, kamu harus bertahan," gumam Ghava dengan mengayunkan kakinya menuju rumah sakit di mana Kemal akan mendapatkan pertolongan.


Namun, belum juga Ghava menaiki mobil, ponselnya sudah berbunyi, dengan tergesa Ghava melihat siapa gerangan yang memanggil. Ia takut kalau terjadi apa-apa dengan Kemal, dan Zifa akan langsung menghubunginya. Tetapi ia bisa bernapas sedikit lega, karena ternyata yang memanggilnya adalah Oamr, sang papih, yang Ghava ketahui pasti papihnya juga cemas di tempat yang berbeda.


[Ghava, apa kamu sudah sampai di rumah, lalu apa semuanya baik-baik saja?] tanya Omar, dengan suara yang terdengar sangat panik itu.


Ghava menelan salivanya dengan kasar, Ghava sendiri bingung jawaban apa yang harus dia berikan pada papihnya. Satu sisi dia tidak ingin berbohong, dan dia selaku anak yang paling dekat dengan Omar pun ingin meminta pendapat dari orang tuanya, tetapi Ghava juga takut kalau Omar akan makin cemas dan Abas tidak ada yang menjaganya. Mengingat kondisi Abas juga tidak baik-baik saja. 'Kenapa semuanya terjadi secara bersamaan Tuhan,' batin Ghava, menjerit dalam hatinya.


[Va, apa ada terjadi sesuatu, kenapa kamu diam saja?] tanya Omar lagi. Semakin Ghava diam Omar justru semakin yakin kalau terjadi sesuatu dengan anaknya itu.


[E... Anu Pih, tidak terjadi apa-apa Pih,] jawab Lucas dengan hati yang gamang, ingin ia jujur tetapi malah ia tidak bisa berkata jujur, yang keluar dari dirinya malah dia yang  berkata sebaliknya.


Ghava kembali diam, [Mamih Pih, Mamih menembak Kemal, dan sekarang kondisi Kemal, Ghava sendiri belum tahu, tetapi dari darah yang Ghava lihat lukanya sangat fatal,] jawab Ghava pada akhirnya ia menceritakan apa yang terjadi pada papihnya itu.


[Eira? Eira menembak Kemal? Apa yang terjadi Ghava, kenapa ini semua bisa terjadi?] tanya Omar dari tempat yang berbeda.


[Ceritanya panjang Pih, mungkin nanti ketika kita bertemu Ghava akan ceritakan dengan detail, dan sekarang Ghava mau lihat kondisi Kemal dulu dan setelah itu Ghava akan mencoba mencari tahu apa yang terjadi dari Mamih, kita juga tidak bisa biarkan Mamih menghadapi ini semua sendirian, kita harus bantu Mamih untuk memberikan kekuatan sehingga Mamih tidak merasakan sediri," lirih Ghava, hanya ini yang bisa dilakukan sebagai anaknya.


"Papih akan nyusul kalian,] ucap Omar dengan panik, dan tanpa berpikir panjang lagi ia memutuskan untuk menyelesaikan kekacauan ini semua.

__ADS_1


Ghava cukup terkejut, kalau papihnya datang ke Jakarta siapa yang menunggu Abas sedangkan kondisi abangnya tidak kalah parah dari Kemal.


[Pih, biar urusan di sini Ghava yang urus dan Papih cukup jaga Abas, kasihan dia kalau bangun tidak ada siapa-siapa yang menemaninya,]  sahut Ghava menahan papihnya yang sedang menjaga abangnya agar tidak menyusul ke Jakarta.


[Abas, sementara bisa kita titipkan dengan keluarga Orlin, dan nanti asisten rumah tangga kita bisa diminta untuk datang ke rumah sakit satu atau dua orang untuk menunggu Abas. Lagian Papih juga tidak bisa terus-terusan menunggu Abas, Papih harus bekerja dan  kalau Papih tidak bekerja akan banyak yang nantinya merugi, banyak karyawan yang bergabung dengan perusahaan kita] jelas Omar, agar Ghava tahu kalau tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga itu bukan hanya terfokus dengan Abas, banyak yang harus dia urus.


Apalagi ini yang membuat kegaduhan ini adalah istrinya sendiri. Omar bahkan sudah terlalu banyak menutupi kesalahan istrinya, dia selama ini diam bukan tidak tahu, tetapi pura-pura tidak tahu. Laki-laki itu berpikir kalau dirinya berpihak pada Eira, maka wanita itu akan memperbaiki perbuatanya, tetapi pada kenyataanya tidak. Eira justru semakin menggila dan saat ini memaksa Omar turun tangan untuk menyelesaikan semua kekacauan karena ulahnya.


[Ya udah kalau Papih mau datang ke mari, tapi Abas sudah dipastikan aman kan Pih," lirih Ghava dengan suara yang  sedikit bersemangat, setidaknya ia tidak menghadapi ini sendirian dia ada papihnya yang membantu dirinya mengurus terutama masalah mamihnya.


[Kamu tenang saja, Abas aman di sini.] Omar menatap anak pertamanya dari jendela kaca. 'Kenapa musibah ini datangnya secara bersamaan, kamu di sini dalam keadaan kritis, dan adik kamu di lain tempat juga mengalami hal yang sama dan yang lebih menyakitkan adalah pelaku yang membuat adik kamu kritis adalah mamih kalian,' batin Omar menatap Abas yang masih dalam keadaan kritis itu.


"Karma? Apa ini karma yang datang pada keluargaku?" imbuh Omar masih menatap puta sulungnya. Laki-laki itu jadi teringat ucapan Lyra tempo dulu atas perbuatan Abas. Meskipun semuanya tahu perbuatan Abas baik dirinya maupun Eira, tetapi mereka kompak menutupinya dan membiarkan gadis tanpa dosa itu hamil tanpa pertanggung jawaban.


Laki-laki itu kembali teringat niatnya untuk mencari cucunya dan juga wanita itu, tetapi semuanya belum terlaksana, tetapi justru semuanya sudah kacau. Karma sudah datang lebih cepat dari perkiraanya.


Setelah Ghava berkomunikasi dengan Papihnya, ia pun mulai melajukan kendaraanya menuju rumah sakit. Tidak sedikit pun ia akan terlintas kalau semuanya akan seperti ini. Mengorbankan adiknya dengan semua masalah yang dibuat oleh orang tuanya.


Bahkan perjalanan rumah sakit yang mana jaraknya tidak terlalu jauh pun harus Ghava rasakan kalau jarak rumah sakit sangatlah jauh, jarak rumah sakit lebih jauh dari jarak Bandung-Jakarta yang sebelumnya ia tempuh dengan sangat cepat.

__ADS_1


"Kenapa ketika diburu-buru waktu terasa lama dan jauh," umpat Ghava dengan memukul-mukul setir mobilnya.


__ADS_2