
Ghava melangkahkan kakinya, memasuki kamar di mana di dalam kamar itu ada dua bayi yang mencuri perhatiannya, bahkan rasa laparnya hilang. Karena dua bayi yang menggemaskan itu.
"Boleh saya gendong satu bayinya?" tanya Ghava dengan ragu-ragu. Bahkan dia tidak tahu bagaimana caranya menggendong bayi, tetapi dengan percaya diri dia menawarkan diri untuk menggendong bayi lucu itu. Ghava menepuk-nepuk tangannya dan membuat sapaan untuk anak bayi itu dengan Cilukba tangannya di buka dan di tutup di wajahnya, tetapi dua bayi itu sepertinya malah kesal dengan Ghava, mungkin berisik sehingga Raja tetap menangis dan Ratu yang tadinya sedang mainan pun ikut merengek ketika Ghava mencoba menenangkannya. "Gagal deh kalau jadi Daddy," lirih Lucas dengan wajah di Tekuk.
"Boleh Mas, Masnya mau coba gendong?" tanya Sistri, dengan mengambil Ratu.
"Itu juga kalau boleh Mba, soalnya aku sebelumnya tidak pernah menggendong anak bayi apa tidak apa-apa kalau aku gendong salah satu di antara mereka?" tanya Ghava, bahkan laki-laki itu belum menggendong bayinya, tetapi dadanya sudah deg-degan. Jantungnya sudah memompa lebih kencang, seolah ia telah lari maraton.
Sisri memeragakan tangan Ghava lalu, Ratu di letakan di tangan Ghava. Sisri memilih Ratu yang di gendong oleh Ghava soalnya anak bayi perempuan itu lebih kalem dan tidak cengeng seperti Raja. Sedangkan Raja lebih sensitif.
"Ngomong-ngomong ini, yang ini cewek yah Mba? Namanya siapa?" tanya Ghava, sembari tegang, tubuhnya bahkan seperti robot yang takut rusak. Tangannya diayun-ayunkan mengikuti cara Sisri tadi.
"Iya betul yang Mas gendong itu cewek, namanya Ratu. Nah kalau yang ini cowok namanya Raja. " Sisri setelah memastikan bahwa Ghava bisa menggendong ratu dengan aman pun gantian mengambil Raja untuk menimangnya.
__ADS_1
Bayi yang di gendong Ghava entah sudah berapa kali di ciumnya. Terlebih Ratu yang lucu dan tidak rewel membuat Ghava gemas, rasanya kalau boleh ingin membawa pulang satu.
"Ini gimana cara buatnya yah, kenapa bisa beruntung banget dapat kembar dia kaya gini, mana cantik dan tampan banget lagi, jadi enggak sabar pengin buru-buru bikin yang kaya gini," gumam Ghava, tetapi suaranya masih bisa di dengar oleh Sisri.
Sementara Sisri yang tahu betul kisa Zara, hanya tersenyum kecut. Bahkan wanita paruh baya itu mengutuk laki-laki yang tega membuat Zara hamil dan memiliki anak selucu ini.
"Mas, bisa bantu bawa ke bawah kan. Soalnya saya mau jemur Raja dan Ratu mumpung cuacanya sedang bagus-bagusnya," ucap Sisri. Wanita itu kini satu langkah di depan Ghava dengan membawa kasur bayi untuk dua anak asuhnya.
Sisri terkekeh, tetapi mereka berdua, tetap berjalan menuruni anak tangga satu per satu. "Di jemurnya di sinar matahari yang masih hangat kaya gini Mas, dan itu juga paling beberapa menit untuk menghangatkan kulit aja kok, jadi tidak nangis karena kepanasan," jawab Sisri.
Sebelum Raja daan Ratu berjemur sebelumnya menyapa Mamahnya yang sedang sibuk dan dua Tantenya Zifa dan Tasi, serta Omnya Beni. Sementara Papahnya Alwi sudah pulang, tetapi sebelum pulang sudah menyempatkan diri untuk menengok Raja dan Ratu. Lagian juga nanti bakal kesini lagi, bahkan Alwi sehari bisa tiga kali datang hanya untuk bermain dengan dua anak asuh kembarnya
Zifa terkekeh melihat cara gendong Ghava yang masih kaku sama kaya dia pertama gendong bayi, tetapi masih mending Zifa dari pada Ghava yang kaya robot gitu. "Mas Ghava gendong Ratunya lucu banget." Zifa menghampiri Ratu lalu menciumnya dengan gemas, bayi yang tengaterpejam pun menggeliat karena aksi Zifa yang menciumnya dengan gemas.
__ADS_1
"Ifa, awas nanti anak aku nangis," dengus Ghava sembari menimang-nimang Ratu yang mau nangis itu, untungnya anak perempuan dengan pita pink di atasi kepalanya tidak menangis. Kalau menangis bisa berabe mana dia tidak bisa menanganinya.
"Anak aku? Kapan bikinnya itu ponakan Ifa. Mas Ghava mau cobain kue buatan Kaka Ara tidak? Menu jualan kita. Suka tidak sama kue?" tanya Zifa, dia bahkan sudah lupa dengan kejadian semalam, padahal Ghava tadi mau turun dia ragu-ragu takut kalau Zifa masih marah, ternyata gadis itu sudah lupa kejadian semalam. Padahal di atas kepalanya sudah berpikir bagaimana caranya meminta maaf pada Sifa lagi, tapi ternyata malah tidak perlu melakukanya, karena Sifat sudah bersikap normal lagi.
"Boleh deh Fa, sekalian sama kopi yah. Aku mau belajar jadi Daddy dulu, jadi nanti kalau punya anak betulan sudah bisa gendongnya, dan sekarang aku mau jemur anak aku dulu," ujar Ghava mengikuti Sisri yang sedang duduk di kursi dan di tempat yang terkena sinar matahari.
Pandangan Ghava menuju pada ruko yang semalam Alwi bilang dan rencananya, Alwi dan Ghava siang ini ketika jam makan siang akan menemui pemilik ruko yang ada di sebrang toko kue Raja dan Ratu dan tempatnya benar kata Alwi cukup strategis, karena tidak jauh dari tempat itu ada persimpangan, dan ada pasar dan juga mol besar. Hal itu memungkinkan toko kue Raja dan Ratu akan laris.
Kini pandangan Ghava kembali pada anak yang di gendong dan anak yang sedang sisri gendong. Dalam benak Ghava ada hal yang mengganjal, dia ingin bertanya soal Papah dari dua anak kembar yang menggemaskan, wajahnya lagi-lagi seperti familiar buat Ghava, tetapi pikirnya tidak bisa menangkap wajah siapa yang mirip dengan dua bayi kembar yang salah satunya sedang ada di gendongannya.
Ghava mengira Alwi adalah Papah dari dua bayi kembar ini, tetapi apabila Papahnya seharusnya bayi-bayi ini tidur bersama Ara dan Alwi selalu orang tuanya, tetapi dua bayi ini justru tidur dengan team putri. Mereka saling menjaga, dan Alwi juga semalam bilang kalau di akan pulang kerumahnya. "Kenapa aku jadi mikirin siapa ayah dari bayi ini yah. Ya udah jelas Alwi, lagian Alwi kan juga di panggilnya Papah oleh bayi-bayi ini. Mungkin ada satu dua hal yang membuat Alwi dan Ara tidak bisa bersama," batin Ghava mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Biarpun Ghava penasaran dengan siapa sebenarnya ayah dari bayi kembar Raja dan Ratu, Ghava tidak akan menanyakannya karena rasanya kurang sopan ketika dia terlalu ikut campur dengan kepribadian orang. Yang terpenting adalah Ghava merasa nyaman dengan dua bayi itu.
__ADS_1