
"Emang kamu mau kemana Mal? Kenapa omongan kamu seolah-olah kita akan berpisah cukup lama dan ini adalah pertemuan kita yang terakhir?" tanya Zifa dengan terkejut. Entah Kemal yang belum bercerita atau memang Zifa yang lupa Kalau sebenarnya Kemal sudah membagi cerita akan rencana keluarganya, sehingga gadis itu nampak terkejut dengan berita yang kemal bawa.
"Kamu Emang lupa yah Fa, bukanya aku sudah pernah cerita kalo aku itu akan pergi ke luar negri, karena kedua orang tuaku di pindah tugaskan ke tempat yang jauh dari Indonesia. Jadi mau tidak mau aku harus mengikuti rencana mereka. Toh semuanya demi kebaikan bersama," ucap Kemal yang memilih mengarang cerita semacam itu agar Zifa percaya bahwa ia memang akan pindah ke luar negri karena kedua orang tuanya yang pindah kesana karena tugas negara. Kemal tidak ingin kalo Zifa tahu dia siapa sebenarnya, tetapi serapat-rapatnya dia menutupi ini semua, Zifa ujungnya bakal tahu juga siapa Kemal sebenarnya. Di saat itu terjadi harapan Kemal hanya satu, agar Zifa tidak marah dan mengerti berada di posisi dia itu tidak mudah. Bahkan dia ibarat sedang bermain kucing-kucingan dengan mamih, dan keluarganya.
"Emang iya kamu pernah bilang seperti itu (Zifa berusaha mengingat apa yang di sampaikan Kemal,) Ah mungkin memang iya dan aku yang lupa. Kalau kamu pernah mengatakan hal itu pada aku," ucap Zifa sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Hahaha... makanya jangan kebanyakan fikiran, jadi lupa kan. Aku sudah pernah bilang sama kamu kok, kayaknya kamu yang lupa deh, atau jangan-jangan waktu itu aku ngomong kayak gitu kamunya lagi enggak fokus jadi aku berasa ngomong sendiri," kelakar Kemal, ia ingin menghidupkan suasanya dalam mobil yang sepi, seolah tidak ada kehidupan lain selain dirinya yang tengah menyupir. Dari tadi di dalam mobil udah kayak uji nyali, di dalam mobil sepi plus horor. Kalau sepi nanti malah ngantuk lagi.
"Kayaknya ia Mal, waktu itu aku lagi enggak fokus, jadi kamu ngomong apa aku nggak nyimak," ujar Zifa merasa sedikit bersalah. Memang waktu ibunya baru meninggal itu semuanya tidak ada arah, gelap gulita bahkan kalau tidak ingat kakaknya dan dendamnya mungkin Zifa juga akan bunuh diri menyusul ibunya. Soal Dosa persetan dengan dosa yang terpenting dia tidak lagi sakit hati.
__ADS_1
Bahkan sejak kejadian yang menimpanya secara berturut-turut, Zifa menjadi anak yang tidak begitu percaya akan takdir dan juga akan Tuhan. Mungkin itu bentuk kekecewaanya dengan takdir yang di gariskan oleh Sang Pencipta, seharusnya ia bisa menyikapinya dengan adil dan ada orang yang mau dengan berbaik hati mengarahkan dia ke jalan yang baik dan tidak tersesat. Namun dia tidak menemukan itu semua, sehingga Zifa seolah menjadi orang yang tidak mengenal agama. Padahal sebelum ibunya meninggal Zifa adalah anak yang taat agama, begitupun ibunya yang dengan sabar selalu mengingatkan akan dosa-dosa apabila meninggalkan perintah dari Tuhan.
Mobil yang di kendarai Kemal terus membelah jalan tol Jakarta-Bandung. Zifa tidak bisa tidur difikiranya masih banyak yang mengganjal, ingin ia tanyakan dan rundingkan dengan Kemal tetapi Zifa takut justru nanti membebani Kemal. Zifa merasa sudah terlalu banyak merepotkan Kemal, tetapi juga Zifa tida bisa kalau semuanya di tanggung sendiri ia butuh tempat untuk berbagi.
Setelah berperang di dalam batinya akhirnya Zifa memutuskan akan mencoba berbagi penderitaan dengan Kemal lagi, meskipun ada rasa takut merepotkan tetapi, semuanya sudah terlanjur juga Kemal ikut campur dengan keluarganya jadi tidak ada salahnya lagi dia membebankan satu masalah yang mengganjal di pikiranya pada Kemal.
"Kemal, apa aku boleh meminta bntuan kamu lagi tidak?" tanya Zifa dengan suara ragu-ragu mungkin takut apabila Kemal menolak memberikan bantuan.
"Aku ingin ajak kak Zara periksa kandunganya, aku penasaran dengan usia kandungan kakak aku itu, soalnya aku lihat perut kakak itu sudah besar, dan mungkin aku akan mulai mempersiapkan segala keperluanya," terang Zifa, ia rasa alasan seperti itu sudah membuat Kemal yakin untuk membantunya.
__ADS_1
Kemal terkekeh dengar ucapa Zafa. "Itu urusan gampang Zifa, cuma ke dokter kandungan atau bidan semua akan beres, kenapa kamu berkata seolah kamu akan meminta bantuan yang berat seperti membunuh seseorang mungkin," kelakar Kemal, yang baginya Zifa itu terlalu parno.
"Aku belum pernah pergi ke dokter kandungan atau yang kamu sebut bidan sekali pun makanya aku takut kalau malah nanti aku akan membuat masalah," jelas Zafa dengan ragu, yah dia takut kalo nanti ada pertanyaan dari bidan yang menyulitkan dia sehingga dia tidak bisa menjawabnya, seperti nama ayah dan lain sebagainya. Sehinggaa Zifa berfikir bahwa semuanya butuh bantuan Kemal. Dia berpikir bahwa memeriksakan diri ke dokter kandungan itu sangat menakutkan dan akan diintrogasi seperti tahanan.
"Ok-ok kamu jangan cemas semuanya akan baik-baik saja dan besok pagi kita akan pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kehamilan kakak kamu secara bersama sama," jawab Kemal dengan santai. Dia juga sama belum pernah menemani atau mengantarkan siapapun untuk mengunjungi dokter kandungan, tetap Kemal tahu dan yakin bahwa dokter kandungan itu tidak sehoror itu.
Zifa bisa bernafas lega setelah mendengar jawaban Kemal, setidaknya ia akan berusaha agar kakanya mendapatkan pelayanan terbaik, dan juga calon keponakanya harus hidup dengan baik. Mungkin saja Zifa suatu saat akan bisa memanfaatkan keponakanya untuk membalas dendam. Dan secercah harapan lagi, ketika fikirany di tarik mengingat cerita ibunya malam sebelum ibunya meninggal dunia.
"Bukankan Ibu malam sebelum memutuskan menemui Abas, Ibu berkata bahwa laki-laki itu dan istrinya sudah lama menikah dan tidak juga memiliki anak, istrinya tidak kunjung hamil. Ah... Aku berharap kalo istrinya tidak akan pernah hamil, supaya aku bisa memanfaatkan ponakan aku untuk menghancurkan rumah tangganya. Yah, sepertinya rencana itu bagus," batin Zifa dalam batinya, dia tertawa membayangkan hal itu terjadi, dan dia akan tertawa dengan puas di balik wajah lugunya.
__ADS_1
"Semoga kamu sehat-sehat yah ponakan tante. Mungkin kita nanti akan menjadi partner kerja yang handal, buat membalaskan apa yang terjadi dengan hidup Mamah kamu," batin Zifa sembari mengelus-elus perut kakanya yang semakin membuncit, terlihat makin jelas kehamilanya. Kalau mereka bisa tega membunuh dan memperkosa ibu dan kakanya, maka Zifa pun akan lebih tega membalaskan perbuatanya berkali-kali lipat. Senyum membunuh terliat di wajah Zifa, tetapi Kemal tidak bisa melihatnya karena suasana mobil yang gelap.