
"Hah... ini loe ngomong serius kan Bang? Loe lagi nggak bohongin gue kan Bang? Ini bener-bener kabar gembira buat gue. Terima kasih yah Bang berkat bantuan loe akhirnya gue bisa sedikit menghirup nafas lega, karena pernikaha gue diundur hingga lima tahun kedepan," pekik Ghava, bahagia luar biasa, dari sebrang teleponnya ketika ia mendapatkan laporan dari Abas, abangnya.
"Iya sama-sama, ketika loe punya kabar gembira, tapi gue punya kabar buruk Va, gue udah cerai sama Lyra," balas Abas, laki-laki itu kini sedang sedih, dan murung. Entah menyesal atau apa, tetapi hatinya sangat sakit ketika ia sadar atas apa yang sudah ia lakukan, yaitu menceraikan Lyra secara sepihak. Abas juga yakin bahwa Lyra juga sama merasakan sedih dan kecewa, tetapi sepertinya yang paling sedih adalah Abas, itu yang dirasakanya, dan untungnya kali ini laki-laki itu sudah punya teman curhat yaitu Ghava yang siap mendengar keluh kesahnya. Sama seperti ia kemarin mendengar keluh kesah Ghava juga.
Uhuk...Uhukk...
Ghava tersedak, ketika mendengar kabar yang Abas katakan, perasaan baru semalan abangnya bercerita, dan mengatakan bahwa masih memiliki perasaan sayang terhadap istrinya, dan berkata juga kalau abangnya ingin memperbaiki hubungan dengan istrinya, tetapi kenapa belum dua puluh empat jam sudah lain hasilnya. Abas mengabaikan perceraiannya.
"Loe lagi nggak mabok, atau malah ngigo pas ngambil keputusanya kan Bang. Ini gila loe Bang, ambil keputusan buru-buru, nanti malah loe lagi yang menyesal. Apalagi loe dan Lyra menikah bukan hitungan bulan, udah sepuluh tahun. Belum tentu ketika loe menikah lagi ada yang bisaa menerima loe sama kayak Lyra menerima loe," cicit Ghava, ia sangat heran dengan Abas, cara berpikirnya gimana, sampai-sampai memutuskan berpisah dengan sangat gampangnya. Ghava sendiri bingung mau bilang apa karena ia malah jadi kepikiran dengan masalah Abas dan Lyra.
"Gimana lagi Va, aku bingung, pusing juga Mamih selalu menuntut aku untuk menikah lagi, Dari pada aku menyakiti Lyra terus-terusan, bukanya lebih baik aku menceraikan dia. Biarkan dia bahagia dengan caranya, aku juga kasihan melihat dia menjalani rumah tangga yang aku akui semakin kesini kami sudah tidak merasakan apa itu bahagia dalam pernikahan seperti dulu. Selalu saja ada pertengkaran- pertengkaran yang penyebabnya hampir sama seperti dulu. Aku lelah, dan Lyra juga pasti merasakan yang sama." Suara yang berat mulai terdengar dari seberang telepon, dan itu menandakan bahwa Abas sudah ingin menangis, dadanya dan tenggorokanya terasa sangat sakit.
Memang alasan Abas juga bisa di mengerti, sulit juga menjadi Abas, sehingga Ghava juga tidak ingin terlalu menyalahkan abangnya yang sudah jelas dan pasti Abas memutuskan menceraikan Lyra pasti ada alasanya.
"Lalu jawaban Lyra gimana?" tanya Ghava di samping ingin tahu perasaan Abas, Ghava juga ingin tahu reaksi kakak Iparnya.
__ADS_1
Cukup lama Abas tidak menjawab, di sebrang sana Abas sedang menahan agar ia tidak menangis.
"Jangan cengeng Abas, jangan cengeng mungkin suatu saat nanti akan datang ujian yang lebih berat lagi dari ini, sehingga kamu harus siap dengan semuanya," batin Abas, sembari menepuk-depuk dadanya, seolah laki-laki itu tengah mengusir bongkahan batu yang menghimpit dadanya.
"Lyra langsung menyanggupi keinginan aku untuk bercerai. Lyra bahkan tidak protes sedikit pun dan tidak menanyakan alasan aku ingin menceraikan dia. Mungkin juga dia sudah tahu alasan apa aku menceraikan dia, dan lagi mungkin dia sudah cape juga pura-pura bahagia berumah tangga dengan aku," jawab Abas, saat ini suaranya sudah kembali biasa lagi, meskipun tetap saja kesedihanya tidak bisa di bendung, dan juga tidak bisa disembunyikan.
"Ya udah Bang, gue nggak ngerti mau ngomong apa lagi dengan loe, karena ini juga sudah terjadi loe dan Lyra sudah berpisah. Yang jelas gue akan terus doain loe, dan misalkan loe butuh bantuan gue loe bilang saja, mungkin suatu saat gue yang bisa bantu loe. Saat ini loe sudah bantu gue, dengan membantu mengundur pernikahan gue dengan Wina, tetapi mungkin suatu saat nanti loe butuh bantuan gue, dengan senang hati gue pasti akan bantu loe," ucap Ghava, yang mencoba mengerti jalan pikiran abangnya.
"Terima kasih Va, nanti kalau gue butuh bantuan dari loe pasti gue akan hubungin loe," jawab Abas, setidaknya ada hikmah dari kejadian ini di mana saat ini Abas dan Ghava bisa dekat kembali. Dimana sebelumnya cukup lama ia tidak pernah bertegur sapa dengan Ghava, entah apa masalahnya tetapi tiba-tiba mereka berdua seperti orang yang bermusuhan, tetapi saat ini justru mereka berdua terlihat manis, bahkan saling membantu untuk mengeluarkan diri dari masalah ini.
"Sesuai keinginan Mamih kalau gue akan menikah lagi," jawab Abas dengan suara yang lemah, yah tanpa dijelaskan dengan detail seharusnya Ghava sudah tau dari nada bicaranya gimana perasaan Abas saat ini.
Uhukkk... uhuuukk... lagi, Ghava terbatuk, gara-gara mendengar jawaban dari abangnya.
"Loe serius Bang? Secepat ini? Apa tidak ingin dulu loe itu menenangkan pikiran loe, dan gue yakin kalau loe itu pikiranya sedang kusut, tapi malah ditambah lagi dengan pikiran-pikiran yang lain. Gue takut nanti loe gila Bang, coba lah sekali-kali menolak apa yang jadi keinginan Mamih, atau kalau tidak loe minta waktu untuk menenagkan diri dengan masalah loe," usul Ghava, meskipun ia tahu dan yakin kalau Ghava tidak akan mau begitu saja menerima apa yang jadi masukan Ghava.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya Va, hidup gue udah tanpa arah dan tanpa rasa, jadi ya udah apa yang terhidang dihadapaan gue, akan gue coba untuk menerimanya." Pasrah, itulah yang Abas lakukan saat ini ia benar-benar pasrah dengan apa terjadi dihidupnya.
"Terus loe nikah dengan pilihan Mamih dan Papih lagi?" Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu di lontarkan karena pasti jawabanya adalah iya, tidak mungkin bukan kalau kedua orang tuanya membebaskan anak-anaknya untuk menikah sesuai dengan yang mereka pilih.
"Loe udah tau jawabanya," balas Abas yang sudah jelas jawabanya adalah sudah pasti akan seperti itu, menikah dengan calon istri pilihan dari orang tuanya.
Cukup lama baik Ghava dan Abas terlibat kebisuan di sambungan teleponya. Ghava juga bingung mau ngomong apalagi, karena sekuat apapun Ghava memberikan solusi Abas tidak akan mudah menerimanya, ia akan tetap menjalankan apa yang jadi keputusan orang tuanya. Takut dosa mungkin itu yang di rasakan oleh Abas. Berbeda dengan Ghava yang tidak takut asal itu demi kebahagiaanya, maka kalau ada kesempatan untuk melawan pasti Ghava akan lakukan, begitupun Kemal yang memiliki sifat hampir sama dengan Ghava.
"Ini perceraian loe dan Lyra kan alasanya anak, Lyra tidak bisa memberikan loe anak terus kalau ternyata nanti loe tidak bisa memberikan anak juga dari wanita yang akan loe nikahi nanti. Apa itu tandanya loe juga akan di paksa untuk cerai lagi, dan menikah dengan yang lain lagi?" tanya Ghava, menurut Ghava alasanya sangaat aneh.
"Aku tidak tahu, bahkan hari esok aku ajah tidak bisa melihat akan bagaimana jadinya, gimana bisa memikirkan sampai jauh kesana," balas Abas, jangankan untuk berpikir beberapa tahun kedepan, hari esok saja Abas masih gelap gulita. Begitu kira-kira pikiran Abas sudah buntu.
Baik Ghava maupun Abas sama-sama menghirut udara dalam dan membuangnya secara perlahan. "Gue hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kehidupan loe. Gue saja bingung untuk permasalahan loe yang sudah sangat pelik," lirih Ghava.
Yah, bukan hanya Ghava, Abas pun akui masalah rumah tangganya memang sangat rumit.
__ADS_1