
Pagi hari menyapa Zara sudah bangun dan kini tengah berdiri di depan jendela. Mungkin tadi dia akan keluar kamar, tetapi karena pintu kamar Zifa kunci dan dia kini berdiri di depan jendela, menunggu Zifa yang masih tidur pagi. Mungkin Zifa akan bangun lebih siang lagi itu semua karena semalam entah ia mengobrol dengan Kemal dan Bunda Anna hingga larut malam. Zara mengelus perutnya yang sudah membuncit. Mungkin dialam bawah sadarnya, dia menyadari bahwa di dalam perutnya ada sebuah kehidupan.
Pagi ini ia sedikit tenang tidak langsung mengringik meminta makan padahal perutnya sudah sangat perih. Namun, gadis yang memiliki keterbatasan itu masih mengingat apa yang ibunya semalam bilang kalo dia tidak boleh nakal, kasihan dengan Zifa yang cape. Ucapan itu masih sangat Zara ingat sehingga kini ia lebih baik menahan rasa laparnya karena kasihan untuk membangunkan Zifa yang sedang tidur.
"Kakak udah bangun?" tanya Zifa yang masih setengah nyawanya terkumpul sembari tangan mengucak-ucak kelopak matanya.
Zara langsung menoleh pada adiknya ketika mendengar adiknya yang sudah bangun. Senyum manis seperti biasa selalu terkembang dari bibir wanita itu. Seolah dia tidak merasakan kesedihan tetapi dalam hati Zara dia juga merasakan sedih yang jauh dari Zifa itu semua karena ia tidak bisa mengungkapkanya, sehingga hanya menjadi batu gondokan yang besar bersemayam di hatinya, dan ia selalu tutupi dengan senyum yang lembutnya.
Zifat merasa kakaknya pagi ini sangat berbeda seolah dia tengah murung, sedih berbeda dengan biasanya. Meskipun biasanya Zara juga ada menangis dan juga marah tetapi setelahnya dia akan biasa saja justru untuk menangis Zara seperti tidak mengungkapkan kesedihan di wajahnya. "Kakak kenapa?" tanya Zifa, mungkin kakaknya mau mengatakan apa gerangan yang membuatnya bersedih.
"Kakak lapar," ucap Zara yang belum bisa mengungkapkan apa yang tengah melanda kesedihan di hatinya. Zifa terkekeh ketika mendengar ucapan kakanya.
"Maaf Zifa yah kak, karena Zifa bangun siang kakak jadi kelaparan. Kenapa Kakak tidak bangunkan Zifa saja?" tanya Zifa sembari tanganganya ia gunakan untuk memanggil kakaknya agar duduk di sampingnya. Zara pun dengan ragu melangkahkan kakinya dan duduk di samping Zifa.
"Kakak ada makanan yang ingin di makan tidak?" tanya Zifa mungkin saja kakaknya ingin makan sesuatu, ia akan membelikanya sebagai kado karena kakaknya selalu ada buat dia dan ia juga ingin memanjakanya mumpung ia memiliki uangang yang cukup banyak sehingga rasanya mengambil lembaran uang yang di berikan oleh kemal rasanya tidak akan membuatnya salah. Toh hanya sekali-kali juga ia menghamburkan uang itu untuk membelikan makanan yang kakaknya inginkan.
Zara tampang diam lalu menunduk, karena dia takut kalau Zifa akan marah apa bila ia mengatakan apa yang ia inginkan, karena sepertinya Zifa akan marah dan bersedih setelah tahu makanan apa yang Zara inginkan.
__ADS_1
Zifa tahu kalo Zara ada yang ingin di makan, tetapi mungkin takut kalo adiknya akan marah atau malah tidak punya uang. Zara sudah biasa menahan keinginanya karena dulu ibu yang tidak kunjung punya uang untuk membelikanya apa yang ia inginkan.
"Katakan saja kakak mau apa, Ifa pasti belikan, toh ini juga buat ponakan Ifa juga," ujar Zifa sembari mengembangkan senyumnya agar Zara tidak takut untuk mengatakan apa keinginanya.
Zara lagi-lagi menunduk entah lah dia masih belum berani mengatakanya dengan pikiran yang nanti akan membuat Zifa marah.
"Kakak, jangan takut Zifa pasti akan membelikan apa yang kakak inginkan. Zifa lagi punya uang dan kakak tidak usah khawatir soal uang." Zifa dengan sabar dan nada bicara yang lembut mencoba membujuk kakaknya agar mengatakan apa yang di inginkan.
Zara menunduk dan memaikan jari-jarinya dan juga bibirnya di gigit, dia tengah berjuang mengungkap rasa apa yang menghalanginya untuk mengungkapkan keinginanya. Zifa pun membiarkanya sampai Zara bisa mengungkapkan dan mengalahkan hal yang membuatnya mengganjal, dan bisa mengatakan apa yang ia mau.
Sontak wajah Ifa langsung berubah seolah ingin memaki Zara. Dan gadis itu langsung menunduk lagi. Dia sudah siap apabila Zifa akan memarahinya, tetapi memang makanan itu yang sangat ingin Zara makan. Bahkan di dalam mimpinya ia sering memimpikan kudapan dengan rasa manis, dan juga gurih dari creamnya, membuat Zara menyukainya.
Zifa tidak menjawab apa-apa lagi, dia langsung bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintunya meninggalkan Zara yang masih ada di dalam sana. Sementara Zara meneteskan air matanya, ia tahu tidak seharusnya ia mengatakan apa yang dia inginkan, karena justru akan membuat adiknya marah sekarang tugasnya adalah meminta maaf pada adiknya.
"Zifa, ayo sini sarapan bareng! Aku udah beli makanan buat kalian," ucap Kemal yang ternyata udah bangun dan malah sudah terlihat segar dan rapih.
Zifa tersenyum, "Aku mau ke kamar mandi dulu," balas Zifa, sambil berlaku ke kamar mandi.
__ADS_1
Cukup lama Zifa di kamar mandi. "Ibu kenapa dengan diriku, kenapa aku tidak bisa mencontoh sabar dari Ibu. Kenapa aku selalu terpancing marah dari kak Zara. Ajarkan Zifa memiliki rasa sabar seperti Ibu," lirih Zifa di dalam kamar mandinya. Mungkin dengan dia mengadu ke ibunya, dia akan lebih sabar lagi.
"Mungkin ini ujian buat aku, kak Zara seolah datang untuk memberikan ujian padaku," batin Zifa, setelah ia merasa lebih tenang kini ia keluar kamar mandi.
Sementara Zara di dalam kamar terisak dengan sedih, ia ingin mememinta maaf tapi takut kalau Zifa akan marah lagi.
"Kak Zara mana?" tanya Kemal, begitu Zifa datang dan duduk di hadapanya.
"Ada di kamar," jawab Zifa dengan lirih, wajah marahnya masih terlihat dengan jelas.
"Kak Zara bikin kamu marah lagi? Kenapa?" tanya Kemal, mungkin dia bis membantunya.
"Aku lagi kesel ajah sama dia, kan tadi aku tanyain dia mau makan apa? Mungkin saja dia lagi pengin sesuatu gitu, biar mumpung Ifa lagi ada uang Ifa akan belikan, dan ternyata kak Zifa ingin makan kue ulang tahun. Dia seolah nguji aku Mal, dia tahu aku benci kue, aku benci ulang tahun, aku benci perayaan, tapi kenapa dia malah dia menginginkan itu semua," Zifa terisak samar, matanya yang merah dan wajah memerah karena menahan marahnya pun terlihat dari sana.
Kemal beranjak dari duduknya yang berada di sebrang sofa Zifa, dan kini Ia duduk di dekat Ifa. Tanganya ia gunakan untuk mengelus pundak Zifa. "Ini lah ujian kamu, tetapi kamu juga mrndapatkan ganjaran yang besar dari ujian ini. Aku tidak tahu gimana traumanya kamu dengan acara ulang tahun, tapi asal kamu tahu, ibu kamu meninggal itu bukan karena kutukan ulang tahun, perayaan, ataupun cake ulang tahun. Semuanya kembali ke takdir, ini takdir kamu, dan kebetulan semuanya terjadi tepat di hari ulang tahun kamu, jadi kamu jangan marah yah, kamu jangan kesal dengan kakak kamu, dia tidak salah dia tidak tahu kalo kamu benci kue ulang tahun. Kalo kamu kaya gini terus kasihan kakak kamu juga sedih loh, kalau fikiran dia terganggu terus dengan hal-hal begini malah nanti di sulit untuk ikut teraphi." Kemal mencoba menasihati Zifa, karena hanya itu yang bisa ia lakukan.
Zifa kembali terisak, fikiranya masih labil, sehingga sering terpancing hal-hal sepele yang di lakukan Zara. Padahal Zara hanya bisa bergantung pada dia saja. Kalau Zifa memiliki pikiran labil seperti ini terus gimana kira-kira nanti apakah dia bisa membalas dendamnya atau malah dia yang hanyut dan tenggelam dengan semua rencananya?
__ADS_1