
"Kalau gitu gue pulang dulu yah, loe cepat sembuh banyak yang harus loe kerjaan setelah ini. Bantu Papih untuk menjaga Abas," pamit Ghava yang ia juga menjadi penasaran dengan kondisi Zifa yang Kemal katakan sudah pulang yang membuat Ghava panik adalah Zifa yang pulang hanya seorang diri.
Tanpa menunggu persetujuan dari Kemal, Ghava pun langsung mengayunkan kakinya dengan panjang. Bahkan andai ia boleh meminta ia ingin segera sampai apartemenya. Tangan Ghava merogoh kantongnya dan mengambil ponsel yang ada di sakunya. Nomor istrinya menjadi tujuan pertamanya untuk ia hubungi satu pangilan tidak terjawab. Ghava sendiri semakin panik, ia takut kalau terjadi sesuatu dengan Zifa.
Di tempat lain, Zifa yang baru sampai apartemenya dan wajahnya semakin terasa sakit, karena ulah Eira, bahkan ia saking lelah dan sakitnya setelah meminum obat, wanita itu tertidur dengan bergulung selimut, sementara ponselnya masih di dalam tas yang tergantung.
"Zifa apa kamu baik-baik saja, kenapa aku telpon tidak kamu angkat," gumam Ghava, ini adalah panggilan kelima tetapi tidak juga Zifa angkat. Pikiran Ghava sudah sangat cemas tetapi dia mencoba untuk tetap berpikiran positif mungkin Zifa tidak mendengar panggilanya.
Setelah melewati jalanan ibukota yang padat akhirnya Ghava sampai di apartemenya dan dia pun langsung kembali mengayunkan tubuhnya berjalan ke unite tempatnya tinggal.
"Alhamdulillah, ternyata kamu ketiduran," gumam Ghava yang rasa cemasnya langsung menguai, ketika melihat kalau Zifa ternyata hanya ketiduran, bahkan dia membawa mobil ugal-ugalan hingga beberapa kali diumpat oleh sesama pengguna jjalan, tetapi dia tidak peduli, yang terpenting cepat sampai rumah dan melihat kondisi Zifa.
Kamar mandi adalah tujuang utamanya, Ghava ingin membersihkan dirinya, entah mengapa dia merasa kalau Zifa memang akhir-akhir ini terlihat sekali menghindar.
"Apa aku tidak ada di hati kamu Zifa? Sampai sudah selama ini kita menikah, tetapi kamu juga belum mau aku sentuh?" Ghava mengamati tubuhnya yang telanjang di depan cermin tidak ada kekurangan dari dirinya, wajah tampan, tubuh sixpack , kaya dan juga baik, tetapi itu semua belum bisa membuka hati Zifa yang selalu tertutup. Yang membuat Ghava semakin sesak adalah tertutupnya pintu hati Zifa adalah karena ada pria lain di hatinya yiatu Kemal, adik kandunya sendiri.
"Aku pernah meminta Kemal untuk sembuh dan memberikan semangat agar mengejar cintanya, apa itu artinya aku harus melepaskan Zifa? Apa aku juga harus mengatakan kalau aku akan bahagia kalau Zifa bahagia?" Ghava masih terus merancau, padahal tangan-tanganya sudah keriput, karena ia terlalu lama di kamar mandi.
Zifa sendiri mengerjapkan matanya ketika indra pendengaranya mendengar ada seseorang yang mandi di dalam kamar mandi. Wanita itu meringis ketika wajahnya semakin terasa nyeri, dan juga rambutnya terasa sakit.
"Apa mas Ghava sudah pulang?" batin Zifa. Tangan mungilnya memegang kepalanya yang berdenyut terutama bekas jambakan dari Eira.
"Gila yah wanita itu tenanganya kuat banget wajahku rasanya bengkak semua," gerundel Zifa, sembari meringis menahan sakit.
"Padahal niatnya aku juga tadi ingin menunjukan gimana menggemaskanya dua ponakan aku, tetapi malah semuanya berujung keributan. Gimana persaan Nyonyah Eira kalau Kak Zara yang dia nilai idiot melahirkan dua anak yang tampan dan cantik?" Zifa bahkan ingin memperkenalkan mereka pada keluarga ayahnya, terutama Omar dan tentu Eira, apakan mereka akan menyesal atau tidak?
Zifa buru-buru memejamkan kedua matanya ketika ia tahu kalau Ghava sebentar lagi akan keluar. Padahal menjadi istri Ghava sudah menginjak usia tiga bulan, tetapi ia masih belum biasa melihat Ghava membuka pakaian dan juga berpakaian di hadapanya, sehingga apabila itu terjadi makan Zifa selalu memejamkan matanya.
"Fa, apa kamu sakit?" tanya Ghava sebari duduk di samping ranjang Zifa. Ini sudah cukup untuk Zifa istirahat sehingga Ghava berniat membangunkanya, tetapi sepertinya Ghava benar-benar tidak tahu bahwa Zifa sudah bangun dan tentunya ia tidur hanya pura-pura belaka.
__ADS_1
Tangan Ghava yang dingin memegang kening Zifa. Kedua matanya langsung melebar. "Zifa kamu sakit benaran?" tanya Ghava dengan nada bicara yang tidak biasa. Tanganya menari selimut yang menutupi tubuh Zifa bahkan sampai wajahnya ia tutupinya.
Betapa terkejutnya Ghava ketika melihat wajah Zifa, yang membiru di bagian pipi dan merah di hidung. "Kamu kenapa?" tangan Ghava memegang wajah Zifa yang sedang berusaha ia sembunyikan.
"Siapa yang berani berbuat seperti ini?" tanya Ghava dengan hati yang sakit. Sementara Zifa hanya menunduk masih berusaha menyembunyikan wajahnya.
Ghava bahkan saking paniknya ia tidak sadar bahkwa dirinya belum memakai baju, tubuhnya yang kekar hanya dibalut handuk berwarna putih, dan lagi-lagi mata Zifa tercemari dengan pandangan yang indah.
"Mas pakai baju dulu," lirih Zifa yang masih menunduk. Ghava pun melirik tubuhnya.
"Kita sudah suami istri, bahkan tubuh Mas halal di lihat oleh kamu tanpa sehelai benang pun, dan begitupun sebaliknya. Apa kamu belum bisa menerima Mas dengan hubungan ini? Sampai kapan?" lirih Ghava, akhirnya ia berani menanyakan hal yang sekama ini mengganggu pikiranya.
"Maaf Ifa terlalu takut menyakiti semuanya." Zifa semakin menuduk.
"Karena Kemal?" tanya Ghava dengan raut wajah yang berubah. Zifa hanya bisa terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan Ghava. Memang yang dikatakan Ghava ada benarnya dia membatasi Ghava ada perasaan yang ia jaga, tetapi ia juga jadi teringat dengan ucapan Kemal tadi siang di mana dia tidak mau kalau dia merusak hubungan keluarganya, dengan kata lain Kemal tidak akan mengerjar dirinya lagi, dan menginginkan Zifa tetap menjadi suami daei abangnya.
Jantung Zifa seolah berhenti berdetak.
"Memang kalau aku yang jaga kamu kenapa?" tanya Zifa dengan heran, tidak biasanya Kemal akan seperti ini. "Bukanya kamu dulu yang sering ingin bersama aku terus, kenapa kamu sekarang seolah membatasi interaksi di antara kita?" imbuh Zifa.
"Maaf Fa, tapi kamu sudah menjadi istri dari Ghava. Sementara Ghava adalah abangku sendiri, dan yang paling tidak pantas adalah Ghava abang kandung. Aku hanya tidak ingin hubungan keluargaku hancur hanya karena satu wanita," lirih Kemal dengan nafas tersengal dan dada yang bergemuruh hebat.
Ia sadar tidak bisa memiliki Zifa, meskipun Kemal juga sadar sekali kalau Zifa sendiri juga mencintai dirinya. Namun, Ghava adalah abangnya sekalipun Ghava merelakan Zifa untuk kebahagiaanya, ia tidak akan tega melakukanya. Terlebih Wina juga saat ini hamil dan itu karena kesalahanya. Ia harus bisa membuktikan kalau dia adalah laki-laki yang bisa tanggung jawab atas perbuatanya.
Zifa yang mendengar jawaban dari Kemal sontak kedua matanya langsung memanas. ia tidak menyangka kalau Kemal akan berkata seperti itu, tetapi Zifa juga dalam hatinya tidak menyalahkan apa yang dikatakan Kemal karena yang dikatakan laki-laki itu benar. Zifa sudah menjadi istri Ghava, meskipun selama ini Ghava diam dan itu pasti hanya di luarnya saja dalam hatinya pasti bergemuruh hebat.
"Apa semua ini ada hubunganya dengan Mba Wina juga?" lirih Zifa kali ini suaranya lebih lirih lagi.
"Bukanya tujuan kamu masuk ke dalam anggota keluarga aku sudah tercapai, dan saat ini kamu harus lebih fokus dengan masalah ibu kamu, dan keluarga kamu. Ada atau tidak hubungan aku dan Wina, biar jadi rahasia aku dan wanita itu, yang terpenting aku melakukan ini demi kebaikan keluarga aku." #
__ADS_1
Zifa mengingat kembali apa yang diucapkan oleh Kemal. Tidak dipungkiri Zifa pun membenarkan apa yang dikatakan Kemal. "Memang sebaiknya seperti itu."
"Lupakanlah aku bisa mengerti perasaan kamu. Aku akan berganti pakaian setelah ini aku akan obati luka kamu, pasti itu sangat menyakitkan," ucap Ghava ia memcoba tetap bersikap biasa saja, bukanya memang dia sudah berjanji akan menerima apa saja yang terjadi pada rumah tangganya. Dia tahu bahwa dia-lah yang datang ditengah-tengah Kemal dan Zifa yang sebelumnya sudah memiliki rasa. Ghava langsung beranjak dari duduknya hendak memakai pakaian.
Namun, tangan Zifa langsung menahan Ghava. Laki-laki itu pun cukup terkejut dengan apa yang istrinya lakukan, bahkan sejak tadi ia menunduk Zifa sama sekali tidak menatap Ghava.
Zifa menarik kembali Ghava agar duduk kembali di ranjangnya. Sementara itu Ghava yang laki-laki normal pasti merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya, padahal baru saja pegangan tangan.
"Kamu jangan begini Zifa, aku takut kalau aku tidak bisa menahanya dan aku akan menyakiti kamu," lirih Ghava hendak kembali bangun lagi dan memakai pakaianya.
"Ajarkan aku gimana caranya mencintai setulus kamu. Aku dan Kemal tidak akan bisa bersatu," lirih Zifa dengan tatapan yang dalam. Ghava pun tubuhnya semakin panas seolah ia saat ini sedang ada di atas bara api, ini bukan penolakan seperti yang Ghava terima, tetapi ini dalah kode bahwa Zifa akan belajar menerimanya dan melupakan kisahnya dengan Kemal.
"Tapi aku dan Kemal berbeda, aku hanya takut kalau kamu nantinya menyesal," lirih Ghava, meskipun seluruh tubuhnya menegang tetapi, laki-laki itu masih berusaha untuk menahan dan mengingatkan Zifa.
"Kalau kamu dan Ghava saja bisa berkorban untuk aku kenapa ku tidak berkorban untuk kamu, menikah itu untuk saling melengkapi bukan dan rasanya aku tidak adil kamu aku tidak bisa membahagiakan kamu, sedangkan kamu selalu berusaha membahagiakan aku," lirih Zifa, entah dari mana keberanian itu datang, tetapi Zifa cukup kecewa hari ini dengan Kemal, serta sangat kecewa dengan Eira, hingga niatnya untuk pergi dari Ghava justru berbanding terbalik dengan yang dia ucapkan.
"Apa ini adalah tandanya kamu mau menjadi istriku seutuhnya?" tanya Ghava dengan mentap dalam kemanik mata legam Zifa.
Sementara Zifa hanya diam menunduk malu. Yah Ghava tentu tahu arti dari diamnya adalah sebuah jawaban bahwa dia sudah siap menjadi istri seutuhnya.
"Aku tidak ingin melakukan semuanya dengan paksaan, aku ingin kamu melakukan ini karena sadar dan tidak akan menyesal." Ghava mendekat pada Zifa, setelah Zifa kembali diam, diangkatnya wajahnya yang biru dan di usapnya oleh Ghava.
"Apa ini sakit?" tanya Ghava wajah mereka saling berdekatan bahkan mungkin selama mereka nikah ini adalah wajah paling dekat dari yang pernah ia lakukan.
Zifa menggigit bibir bawahnya dan menggeleng dengan lemah. Ghava yang melihat Zifa pun tahu kalau ini adalah usaha Zifa untuk memperbaiki hubunganya. Namun ia juga tahu bahawa Zifa seperti ini mungkin ada peran Kemal yang mana mungkin Zifa seolah menawarkan surga dengan suka rela padanya.
"Apapun yang sudah kamu lakukan, Kemal. Aku berterima kasih karena setidaknya saat ini aku bisa memperbaiki hubungan ini."
Ghava yang melihat kalau Zifa terpejam pun langsung menempelkan bibirnya dan menyambar bibir mungil Zifa yang sangat menggoda di matanya.
__ADS_1