
Kemal seperti kehilangan arah setelah kembali ke negara ini, hatinya seperti kehilangan jati dirinya, kadang ia berpikir sangat dewasa, dan menyerahkan semua jalan hidupnya pada takdir, tetapi juga ada di suatu titik yang ia tidak mau menerima takdir seperti hari ini yang dia tidak bisa menerima takdir. Dalam hati Kemal ingin mengambil apa yang sudah bukan menjadi miliknya.
Emosi meledak-ledak dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, itu yang laki-laki itu rasakan.
"Ya Tuhan apakan ini adalah gejala kalau aku mulai depresi?" lirih Kemal nafasnya kembali diatur sendiri, dulu ia adalah penasihat yang handal, tetapi saat ini ia untuk mengatur emosinya sendiri justru tidak bisa.
Sepanjang perjalanan memorinya di putar ketika ia masih bersama Zifa dan lambat laun emosinya bisa terkontrol dengan kenangan-kenangan indah itu dan Kemal tidak mau mengingat kenangan pahit saa ini biarkan ia terjebak dalam memory masa lalunya yang terpenting dia tidak dikendalikan dengan emosinya.
"Apakah ini efek karena hidupku yang selalu diatur oleh Mamih, sehingga aku kehilangan jati diri aku sendiri."
Mobil mewah terus melaju melintasi jalan tol dari Jakarta menuju ke kota Bandung. Kemal dalam hatinya terus berperang seolah-olah sedang mengadakan pengaduan di dalam hatinya. Antara ia menerima takdir yang mengatakan bahwa ia harus menerima Zifa tetap satu kubu sisi lainya mengatakan jangan memberikan kesempatan pad a Ghava. Kamu adalah orang yang pertama mencintai Zifa sehingga Kemal sudah seharusnya patut mendapatkan Zifa bukan malah Ghava orang yang tidak ada kontribusinya dengan Zifa dulu, di saat Zifa butuh dukungan.
Kenapa sekarang setelah ia berjuang dengan sangat keras justru Ghava yang mendapatkannya.
Chhhiiiitt... Kemal menghentikan laju mobilnya yang tengah tinggi. Bahkan kecepatannya hingga di atas 100 km/jam, dan tentu apabila ketahuan CCTV di tol Kemal bakal bisa dikejar oleh polisi yang berpatroli.
Dirogohnya ponsel yang berbunyi dan mengganggu konsentrasi dengan perjalananya.
"Hallo..." Kemal sebenarnya sedikit malas mengangkat panggilan itu terlebih nomor dari yang tidak Kemal kenal. Tentu ia semakin malas untuk mengangkatnya.
"Kemal ini gue Wina. Loe ke rumah gue sekarang kita ke Bandung sekarang dan cari wanita pelakor itu dan gue pastikan loe bisa dapatkan tuh cewek gatel." Wina langsung nyerobot tanpa modal bicaranya.
__ADS_1
"Loe hati-hati yah jangan bilang Zifa pelakor apa lagi cewek gatel. Atau kalau loe ngomong seperti aku akan aku buat kamu tidak mendapatkan Ghava," bentak Kemal yang mana laki-laki itu terlihat jelas sangat marah karena Zifa yang ia cintai di sebut dengan cewek gatel.
"Terserah deh, loe mau manggil dia apa, yang jelas loe ke rumah gue sekarang cari wanita itu dan kita akan melanjutkan kerja sama, tetapi apabila tidak ada datang kesini makan kerja sama kita batal," balas Wina nggak kalah sengit.
"Baik gue ke rumah loe sekarang, tapi ingat jangan bilang dia wanita gatel, pelakor atau apalah aku tidak suka," ucap Kemal sebelum memutuskan sambungan teleponnya, dan meletakan ponselnya kembali ke saku celananya. Dan Kemal dengan setengah terburu ia langsung memutar mobilnya untuk kembali ke Jakarta. Padahal ia saat ini sudah berada setengah jalan meninggalkan Jakarta dan akan ke Bandung.
Hanya gara-gara Wina sekarang Kemal kembali harus bercape-cape menyetir ke Jakarta setelah itu akan kembali ke Bandung.
"Huh... kalau bukan karena Zifa, mana mau aku menyiksa tubuhku seperti ini," batin Kemal.
...****************...
"Maaf Mas, Ifa minta kelonggaran waktu Ifa ingin kita melakukanya setelah maslah-masalah yang mengelilingi kita selesai, jujur Ifa seperti seorang yang sedang di bawah tahanan dan sangat tidak tenang. Mohon pengertiannya Mas," lirih Zifa dan Ghava pun nampaknya mengerti.
"Baiklah Ifa, Mas akan coba mengerti kamu dan kamu juga jangan khawatir sekarang kamu sudah menikah dengan aku dan itu tandanya kamu sudah jadi tanggung jawabku." Ghava mengusap punggung Zifa, dan Zifa hanya membalasnya dengan seulas senyum yang samar.
Ghava pun memilih mandi mendinginkan tubuhnya yang mulai panas dan tegang, dan Zifa sendiri memilih tidur lebih awal. "Maaf Mas Ifa belum siap, dan pernikahan ini bukan karena cinta dan keikhlasan ada tujuan lain Ifa mau menikah dengan Mas," lirih Zifa yang semakin dibuat penasaran dengan obrolan apa yang barusan terjadi di antara Kemal dan Ghava.
Dengan langkah yang lesu Ghava melangkahkan kaki ke kamar Mandi. Sebenarnya tidak harus kecewa karena Ghava tahu kalau Zifa memang belum sepenuhnya menerima dia sebagai suami. Ghava tahu betul tujuan wanita yang saat ini menyandang setatus istri adalah dengan tujuan agar ia bisa melindunginya.
Tubuh yang sudah polos ia siram dengan air dingin. Cukup sejuk dan juga mengurangi tubuhnya yang mulai panas dan tegang.
__ADS_1
"Aku berjanji Fa, tidak akan meninggalkan kamu seorang diri, aku akan menjadi pelindung kamu sesuai dengan yang pernah aku janjikan untuk kamu."
Kini Ghava sudah selesai mandi dan tubuhnya kembali dingin dan tidak lagi merasakan gerah maupun panas terlebih ketika melihat wanita yang dicintainya sudah tertidur pulas. Saat ini yang terpenting untuk Ghava adalah bisa menatap Zifa setiap hari saja sudah sangat bersyukur.
"Tidur yang nyeyak Sayang, aku mencintaimu, Tidak akan aku biarkan orang lain mengambil kamu dari aku, sekalipun itu Kemal."
Ghava mulai merangkak naik ke atas kasur dan menyusul Zifa tidur.
Pagi hari Zifa bangun lebih dulu dari sang suami. Zifa sedikit lega karena malam tadi tidak terjadi apa-apa. Bahkan bantal guling yang ia letaknya untuk pembatasan di tengah-tengah mereka masih aman. Benda mirip risol itu masih berada ditempatnya. Dan itu tandanya kalau Ghava tidak berbuat yang aneh-aneh.
"Terima kasih Mas, kamu bisa memegang ucapan kamu," batin Zifa dan lagi-lagi ada hati yang tercubit ketika Ghava bisa memperlakukan dirinya dengan baik.
Namun, pikiran yang bertentangan dengan niatnya buru-buru ia tepis dengan tegas.
"Ingat Fa, kamu jangan gunakan hati dalam pernikahan ini, atau kalau tidak kamu akan jatuh dan sakit sendiri. Jangan sampai usahamu yang tinggal selangkah lagi gagal hanya karena perasan gila itu." Hati kecil Zifa kembali berperang.
Dengan hati-hati Zifa bangun dan akan menuju ke kamar mandi. Namun, langkah kakinya terhenti seketika ketika mendengar Ghava menjerit dan merancau tidak jelas.
"Auhhh...... Mamih, jangan tolong Mih, aku cinta Zifa, jangan pisahkan Ghava dengan dia Mih." Isakan samar terdengar setelah jeritan Ghava.
Bahkan tangan Ghava seolah tengah menghalau sesuatu.
__ADS_1