Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 137


__ADS_3

"Aw... Fa, ini sakit sekali," ringis Ghava, seperti dugaan dokter luka-lukanya mulai terasa sakit, di malam harinya laki-laki itu hampir tidak bisa tidur ketika wajahnya sudah mulai membiru dan banyak luka lebam di wajahnya terutama pipinya. Zifa saja sampai tidak tega. Untuk membayangkannya saja ia sangat kesakitan apalagi merasakannya.


"Mas coba tiduran di sini (Zifa menunjuk pahanya) tangannya sudah menyiapkan alat kompres untuk mengompres luka Ghava.


Laki-laki itu yang saat ini sedang duduk pun menatap Zifa dengan heran, "Kamu serius Fa?"


"Iya, susah Ifa buat mengompres lukanya," lirih Zifa sembari menepuk pahanya. Ghava pun merebahkan kepalanya di atas paha sang istri. Mungkin ini adalah kedekatan yang paling dekat dengan Zifa. Jantungnya sulit di kondisikan, dan Ghava hanya memejamkan matanya dengan tenang, tapi sangat berbeda dalam hatinya tidak bisa tenang.


"Mas, apa nanti kalau kita ke Jakarta dan ternyata orang tua Mas Ghava tidak merasa melakukan pembunuhan itu apa Mas akan tetap berdiri di belakang Ifa?"


Kedua bola mata Ghava di buka dengan perlahan meskipun mata sebelah kirinya cukup sakit ketika ia buka. Hal itu karena Kemal yang memberikan hadian di mata sebelah kirinya juga. Meskipun tidak sampai bengkak tetapi ada rasa sakit yang tersisa.


"Fa, apapun yang terjadi, aku berjanji akan berada di pihak kamu. Kamu boleh kutuk aku kalau aku berkhianat dari kamu," balas Ghava sembari tangannya mencium tangan Zifa.


Lagi, hati Zifa seolah goyah ketika ia harus di perlakukan manis oleh Ghava. Ingin dia mengatakan dan menjerit agar Ghava jangan lagi memperlakukan dia dengan sebaik itu, karena hanya akan menyakiti dirinya.

__ADS_1


"Terima kasih Mas, aku hanya takut aku akan berdiri di tengah karang sendirian dengan ombak yang besar, aku membayangkannya saja sangat sakit," lirih Zifa, dia adalah wanita yang lemah yang mudah di goyah. Itu sebabnya Zifa butuh laki-laki yang mampu melindungi dirinya ia butuh teman seperti Lyra yang lebih tegas dan bisa di percaya. Zia butuh kakak yang seolah tidak perduli, tetapi pada kenyataanya dia adalah kakak yang paling perhatian sepanjang hidupnya.


"Fa, kalau boleh tahu bukti apa saja yang sudah kamu dapatkan? Mungkin aku akan bantu kamu untuk mendapatkan keadilan," lirih Ghava.


"Jujur kalau berdasarkan bukti, Ifa sangat jauh dari kuat. Bukti Ifa semuanya masih bisa di sanggah dengan pembelaan yang mungkin mereka sudah siapkan. Ifa juga bingung mau maju atau gimana, tetapi kalau Ifa mundur pun sudah tidak bisa. Ifa tidak bisa kalau harus mundur. Biarpun Ifa akan kehilangan nyawa Ifa akan tetap maju, mekipun bukti yang Ifa miliki sangat minim."


"Kamu yang sabar yah, kamu tidak akan kenapa-napa aku yang akan berjanji pada kamu. Aku berjanji kalau kamu itu akan baik-baik saja dan semu yang kamu cari akan tercapai." Ghava kembali meminta bukti atau setidaknya apa yang   terjadi pada Zifa di ceritakan dengan jelas.


 Zifa pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Ghava. Ia menceritakan semuanya dengan detail termasuk dari video-video yang Lyra dapatkan dari  rumah Ghava.


Ghava mendengarkan apa yang Zifa katakan setiap katanya, terdengar berat, hal itu menandakan kalau Zifa sampai detik ini belum bisa mengikhlaskan kepergian ibunya. Ghava mengusap punggung tangan Zifa yang sedang terduduk dengan memangku Ghava. Bahkan rasa sakit Ghava hilang sudah dengan melihat Zifa yang sedang bersedih.


Pandangan yang awalnya terlihat berat diangkat oleh Zifa dan menatap Ghava. "Meskipun pembunuh yang aku yakini selama ini adalah orang yang pernah melahirkan Mas Ghava. Apa Mas Ghava tega nanti orang yang melahirkan Mas mendekam dalam penjara, karena tujuan Zifa mengumpulkan bukti adalah untuk menjebloskannya kedalam penjara. Bukan berakhir dengan  dan memaafkan.


"Itu memang pilihan yang sangat sulit untuk aku, tapi aku dulu pernah berjanji pada salah satu orang kalau aku akan membela orang yang benar dari pada kembali keluargaku yang jelas ia salah.  Kamu pasti tahu apa arti dari ucapan aku yang ini," balas Ghava yang matanya terus menatap sorot mata Zifa yang sedang sedih.

__ADS_1


"Aku memang tidak begitu tahu apa yang kamu alami, tapi aku tahu gimana perasaan kamu saat ini. Andai itu terjadi pada aku, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama dengan kamu, tidak akan aku biarkan orang yang telah membunuh ibuku lepas dengan bebas. Setidaknya akan ada balasan yang setimpal.


"Dulu, Kemal juga pernah bilang begitu, tetapi belakangan aku ketahui kalau Kemal mendekati aku daan memberikan semua fasilitas uang yang tidak sedikit, adalah upaya untuk membebaskan ibunya dari kasus ini, seperti itu kan?" tanya Zifa dengan menatap tajam pada Ghava seolah tengah meminta jawaban yang palin benar.


"Kamu jangan takut Zifa, Kemal dulu melakukan itu murni ingin melindungi kamu kok, dan aku membela Kemal bukan karena dia adikku, tetapi memang itulah kenyataanya, Kemal melakukan ini semua karena dia ingin melindungi kamu. Aku jug marah saat ini dengan Kemal, tetapi aku benar berkata yang benar tentang bantuan Kemal saat itu memang inisiatif dia untuk melindungi kamu dari mamih.


"Entah lah tapi sejak kejadian tadi Ifa jadi kesal banget dengan Kemal, Ifa pernah berpikir kalau dia itu adalah orang yang paling sabar, tetapi ternyata Ifa salah, dihari ini justru  Kemal membuat Mas Ghava sampai seperti ini."


Ghava terkekeh mendengar ucapan Zifa yang secara tidak langsung dia mengatakan kecemasannya pada Ghava.


"Mas, besok sebelum kita ke Jakarta lebih dulu ketempat dokter Alwi yah kangen dengan Raja dan Ratu dan juga ingin nitip ke dokter Alwi Kakak Zara dan kedua ponakan Ifa," ujar Zifa. Berat banget sebenarnya harus berpisah dengan Kakaknya dan dua ponakannya tetapi apa daya dia adalah orang satu-satunya yang diandalkan untuk  mencari keadilan itu.


"Boleh, kemana saja boleh Fa, aku tidak akan bisa menolak kamu karena kamu sudah jadi istriku. Istri yang paling aku cintai." Tatapan Ghava yang sangat dalam membuat Zifa jadi serba salah.


Zifa membalasnya dengan senyuman yang samar. "Terima kasih Mas," ucap Zifa dengan lirih. Kembali tangannya mengobrol luka Ghava. Mengoleskan dengan obat luar agar tidak makin membengkak.

__ADS_1


Semakin hari Zifa bersama dengan Ghava semakin ia melihat ketulusan cintanya. Namun dalam hati Zifa justru ia semkin dibuat bingung, dan juga rasa yang bersalah.


"Apakah aku bisa nanti meninggalkan Ghava setelah semua keadilan aku dapat." batin Zifa.


__ADS_2