Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Mencari Zara


__ADS_3

"Kak... Kakak... Kak Zara..." Zifa terus memanggil-manggil kakaknya. Tidak ada tanda-tanda kakanya ada di rumah. Zifa awalnya mengira kakanya ke kamar mandi, tetapi tidak ada, lalu mencoba mengecek ke kamar ibunya. Juga tidak ada.


"Kemana perginya kak Zara?" batin Zifa ia sudah mencari di setiap penjuru rumah, tetapi tidak ada kakaknya. Hujan di luar sana justru semakin deras, petir pun saling bersautan seolah tengah menunjukan keangkuhanya. Zifa yang bingung, cemas dan merasa bersalah, mencoba kembali ke kamarnya. Dengan keberanian yang hanya sisa sekian persen, Zifa mencoba menghubungi Kemal.


Pikiranya sudah sangat buntu, tidak ada lagi ia bisa mintain bantuan selain Kemal, sehingga Zifa mau tidak mau kembali meminta bantuan Kemal.


(Halloh... Kenapa Fa?) tanya Kemal dari sebrang telpon. Kemal yang memang belum tidur masih memikirkan Zifa dan kakaknya itu, begitu mendengar ponselnya berbunyi langsung mengangkatnya.


(Kemal, kak Zara hilang. Dia enggak tau pergi kemana.) Isakan kembali pecah. Bahkan tenggorokanya sangat sakit, padahal kata yang ia ucapkan tergolong pendek.


(Ok, aku ke rumah kamu sekarang.) Kemal tanpa pikir panjang langsung menyambar jaket dan konci mobilnya. Ia mengendap-endap takut apabila ia ketahuan akan pergi pasti dilarang. Seolah ia tengah mengikuti permainan uji nyali.

__ADS_1


Sampai di ujung garasi, ia bisa bernafas lega. Uji nyali akhirnya terlewati, Kemal langsung menginjak pedal gas mobilnya dalam. Membelah jalanan yang berkabut karena hujan masih tidak mau beranjak berhenti. Sepanjang perjalanan Kemal juga sembari menajamkan penglihatanya guna mencari di pinggir jalan mungkin saja Zara tengah terkatung-katung berjalan tanpa tau harus kemana, bahkan ini sudah mampir pagi tetapi Zara entah di mana keberadaanya.


Kemal memalkirkan mobil di depan rumah Zifa, tanpa menunggu lama Zifa berjalan menggunakan payung yang sudah tidak layak pake lagi. Yah sebelumnya Kemal mengabarkan agar Zifa menunggu di depan rumahnya, karena ia sudah hampir sampai.


"Maaf yah Kemal aku jadi merepotkan kamu. Aku tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Aku sangat cemas dengan kak Zara, makanya aku meminta bantuan sama kamu." Zifa begitu masuk ke dalam mobil sudah langsung meminta maaf karena lagi-lagi merepotkan Kemal.


"Aku senang bisa bantu kamu Fa, aku sampai kapan pun akan terus bantu kamu," ujar Kemal. "Kita mau cari kakak kamu di mana? Tadi aku sepanjang jalan lihat-lihat di sisi jalan, tidak ada lihat kakak kamu," imbuh Kemal, agar bisa menjadi bahan pertimbangan Zifa untuk mencari kakaknya.


Kemal tersentak kaget. "Kok bisa Zara kemakam ibunya, sementara ibunya di makamkan cukup jauh dari rumah mereka," batin Kemal sedikit heran "Kamu yakin Fa? Makam ibu kamu cukup jauh loh dari rumah kamu," tanya Kemal aga sulit masuk di akal sih, terlebih dengan kondisi Zara yang istimewa seperti itu.


"Di coba dulu yah Mal, kalo tidak ada kita baru coba tempat lain. Aku takut ada yang iseng sama kak Zara," ucap Zifa benar-benar di buat cemas dengan keberadaan kakaknya.

__ADS_1


Kemal pun mengikuti permintaan Zara, di mana ia kembali melajukan mobil mewahnya. Kemal yang memiliki fikiran normal saja sudah lupa lagi ke mana arah makam ibunya Zifa, sehingga Ifa yang menunjukan jalanya. "Lalu andai Zara benar-benar ingat jalan ke makam itu, berati kemungkinan Zara bisa mengingat semua yang terjadi dengan dia. Apa dia bukan downsyndrom seperti yang Zifa katakan?" batin Kemal, cukup heran dengan dugaan Zifa itu.


Zifa melihat kanan kiri sepanjang jalan, tidak ada kakanya. Sampai di depan pemakaman umum di mana ibunya di makamkan. Zifa dan Kemal menggunakan payung milik Kemal. Kebetulan Kemal tadi membawa payung tidak hanya satu, dan sudah jelas payung yang Kemal bawa masih layak pakai, tidak seperti payung Zifa. Keduanya berjalan memasuki area pemakaman dengan mengandalkan sebuah senter yang bahkan nyalanya saja tidak terlalu terang. Takut? Rasa takut sudah hilang tergerus dengan kecemasan. Yang ada di fikiran Zifa hanya kakaknya. Dia sangat takut ada laki-laki jahil yang memanfaatkan kepolosan Zara sehingga gadis itu kembali mendapatkan pelecehan s*ksual. Zara tidak sama dengan wanita lain yang tahu akan adanya bahaya didepan dia, sehingga ia bisa berteriak. Zara hanya biasa diam terlebih kalo diancam dia akan ketakutan.


Pandangan mata Zifa menangkap pemandangan yang sangat sesak. Air matanya kembali terkuras dengan hebat ketika melihat sang kakak tidur di samping pusaran ibunya dengan baju basah kuyup tidak tahu gimana dinginya kakaknya itu. Perlahan Zifa menghampiri kakanya.


Kemal pun sama meneteskan air matanya. Sesak dadanya melihat pemandangan seperti itu.


"Kakak..." Zifa menggoyangkan tubuh kakanya yang memeluk pusaran ibunya.


Zara terlonjak kaget, seolah ia tengah tertidur pulas dan tersentak terbangun karena Zifa yang membangunkanya.

__ADS_1


"Ifa... kakak tidur sama Ibu. Ibu ada di sini, Ifa," rancau Zara. Membuat Kemal dan Zifa tidak bisa berkata apa-apa lagi.


__ADS_2