Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 158


__ADS_3

Cukup lama Zifa dan dua ponakanya berkomunikasi, bahkan dua anak itu tidak mau kalau tantenya mengakhiri panggilan mereka.


"Sayang udah yah, besok Tante telpon lagi ini ponselnya udah lobet mau mati ponselnya," ucap Zifa agar dua ponakanya mengizinkan dia mengakhiri obrolanya, kalau tidak begitu mereka akan menangis dengan histeris, dan jatuhnya kasihan Sisri dan kakaknya yang repot menenangkan mereka.


"Ya udah deh boleh, tapi besok Tante telpon lagi yah," racau Raja, dan langsung disahut oleh Ratu dengan ocehan yang lainya yang mengatakan kalau tantenya harus telpon setiap hari.


"Iya-iya Tante janji, kalau Tante pasti akan telpon Raja dan Ratunya Tante lagi, sehari Tante tidak telpon kalian sangat rindu," adu Zifa dan dibalas kekehan yang sangat menggemaskan ingin rasanya memeluk dan mecium wangi keringatnya, tetapi Zifa tahu betul kalau mereka juga kanget, tetapi mereka tahan untuk tidak bertemu dirinya.


Zifa sampai teringat kembali ucapan Ghava, di mana selangkah lagi dirinya akan mendapatkan keadilan untuk ibu dan kakaknya. Meskipun saat ini Zifa sendiri sangat yakin, kalau ia menuntut pengakuan dari keluarga ayah kandung dari Raja dan Ratu pasti mereka dengan senang hati akan mengakuinya, terlebih mereka sangat pintar dan cerdas, jadi tidak akan mungkin keluarga Ghava menolak untuk mengakui mereka.


Namun saat ini bukan pengakuan yang Zifa inginkan, tetapi penyesalan. Penyesalan di mana mereka dulu menolak kehamilan kakaknya. Zifa ingin menujukan meskipun mereka menolak kehamilan Zara, tetapi Zifa dan Zara bisa membesarkan Raja dan Ratu tanpa kekurangan satu apapun. Zifa yakin mereka akan menyesal kalau melihat dua ponakanya itu. Meskipun tidak dipungkiri semuanya karena peran Alwi juga sebagai orang tua angkat dua ponakan itu.


Setelah berkomunikasi dengan dua ponakan yang makin bawel, dan juga kakaknya. Zifa pun kembali menghampiri suaminya. Sebenarnya ia ingin menghubungi Alwi untuk bercerita masalahnya di sini, tetapi memang batrai ponsel yang sudah memerah, bahkan dayanya hanya tinggal sepuluh persen lagi.


"Gimana kabar mereka?" tanya Ghava ketika Zifa sudah dekat denganya dirinya, dan Zifa pun langsung menyodorkan ponsel suaminya.


"Kabar mereka baik, makin pintar, dan sudah jago berenang, yang jelas makin bawel dan tadi juga Mas ditanyakan oleh mereka, dan mereka menitip salam buat Mas. Maaf saking asiknya ngobrol sampai batreinya lowbat," ucap Zifa.


Ghava melihat ponselnya yang sudah hampir mati pun hanya terkekeh. "Tidak apa-apa di mobil ada carger. Bisa dicas nanti di mobil. Oh iya Fa kita akan ke kantor polisi, aku aku tinggal di sini tidak masalah kan?"


"Enggak Mas. Kan ada Siti di sini." Zifa lirik Siti yang duduk sedikit memojok dari majikanya. "E...Mas, Ifa boleh ngobrol berdua dengan Papih Mas nggak?" tanya Zifa, wanita itu sangat penasaran dengan apa yang terjadi sesungguhnya antara almarhum ibunya dan juga mantan majikan laki-laki

__ADS_1


Ghava cukup terkejut dengan ucapa Zifa, banyak tanya yang melintas seketika di dalam pikiran Ghava. Sementara Zifa yang sebenarnya canggung pun memberanikan diri, karena entah kapan lagi ia bertemu dengan laki-laki paruh baya itu. Dari pada mati penasaran mending Zifa beranikan diri untuk bertanya dan dia akan tenang setelah mendengar jawaban laki-laki itu.


Ghava dan Omar pun saling bertatapan, dan setelah itu Omar menangguk, dan berdiri. "Kita ngobrol di tempat itu." Omar menunjuk kursi yang tidak jauh dari Zifa tadi melakukan panggilan telepon, dan  wanita itu pun mengekor di belakang Omar. Sementara itu Ghava justru gelisah sangat penasaran dengan apa yang akan Zifa katakan pada papihnya.


'Kira-kira mereka membicarakan apa yah,' batin Ghava pandangan matanya menatap dua orang yang saat ini sedang duduk memunggungi Ghava, sehingga Ghava sendiri semakin penasaran, karena tidak bisa melihat ekspresi wajah Zifa dan papihnya.


'Kenapa Zifa sekarang semakin misterius sih,' batin Ghava lagi.


"Kamu sangat mirip dengan ibu kamu, pantas saja pertama aku melihat kamu seperti sudah kenal lama," ujar Omar sembari mengambil duduk di samping Zifa.


Zifa tersenyum masam, mendengar ucapan dari Omar. "Banyak yang bilang seperti itu, tetapi almarhum ibu sendiri mengatakan kalau saya sangat mirip dengan almarhum Ayah saya," balas Zifa dengan suara yang sopan dan pandangan mata pun tertuju lurus ke depan.


Dia terlalu takut kalau memang ibunya ada sekandal dengan laki-laki yang saat ini duduk di sampingnya.


"Sebelum Kemal  tertembak, Nyonya Eira mengatakan kalau dia membunuh ibuku, dengan alasan bahwa Anda telah selingkuh dengan ibuku. Bahkan Eira menuduh kalau ibuku yang menggoda Anda, apa yang dikatakan oleh Nyoya Eira itu benar adanya?" tanya Zifa, ia sangat berharap kalau jawabanya tidak benar.


Ibunya tidak mungkin  mau merendahkan harga dirinya untuk menggoda laki-laki lain, apalagi itu adalah suami majikanya. Mungkin kalau benar ia sudah kaya raya karena ibunya menjadi simpanan laki-laki kaya.


Omar terkekeh mendengar pertanyaan Zifa. "Aku dan ibumu sudah lama kenal, bahkan aku dan Ayah kamu adalah teman dekat, sampai ibu kamu bekerja di rumah kami untuk menyambung hidup ketika Ayah kamu sudah meninggal. Entah apa saja yang Eira katakan pada kamu, tetapi kalau aku mau selingkuh. Farida tidak akan aku biarkan menjadi tukang cuci di rumahku. Aku pasti akan tempatkan dia di mension yang nyaman, tetapi semuanya tidak aku lakukan, karena aku sangat menghargai ibu kamu yang sangat mencintai Ayah kamu. Memang Eira beberapa kali menuduh kami selingkuh, tetapi tidak ada yang bisa membuktikanya." Omar nampak serius dengan ucapanya.


"Tapi kenapa bisa Nyoya Eira sangat yakin kalau Anda selingkuh dengan ibuku. Apakan Anda  takut kalau saya akan marah dengan Anda, maka dari itu Anda mengelaknya?" tanya Zifa dengan nada yang dingin.

__ADS_1


"Aku tidak tahu Eira dari mana berpikiran seperti itu, bahkan aku beberapa kali memberikan bantuan pada ibu kamu untuk kebutuhan hidup kalian, mengingat aku dan Ayah kalian adalah teman, tetapi tidak sekalipun Farida terima uang-uang itu. Bagimana aku bisa selingkuh dengan ibu kamu. Ibu kamu itu sulit didekati, hanya Ayah kamu yang berhasil mengambil hatinya, dan itu ia buktikan sampai akhir hayatnya dia  tidak memiliki pasangan lagi." Dari nada bicara laki-laki itu sangat kecewa.


Yah mungkin dia kecewa dengan sang istri yang selalu menuduhnya selingkuh, padahal dirinya sangat setia dengan dirinya kalau dia mau maka dia akan melakukanya sejak dulu.


"Jadi yang dikatakan oleh istri Anda adalah sebuah kebohongan. Nyoya Eira mengatakan kalau almarhum ibuku adalah duri dalam pernikahan kalian oleh sebab itu dia menghilangkan nyawa ibuku." Zifa merasa lega setidaknya yang ia takutkan tidak menjadi kenyataan. Yang ia takutkan adalah dirinya akan  mendengar jawaban dari Omar yang sama dengan Eira.


"Aku sendiri malah bingung dia selalu mengatakan itu dasarnya dari mana, sedangkan aku dan Farida hampir tidak pernah terlibat obrolan, tetapi dia selalu menuduh hal itu-itu saja," adu Omar.


"Baiklah terima kasih jawaban Anda, dan saya berharap kalau yang dikatkan Anda adalah suatu kebenaran. Saya sampai tidak bisa berpikir dengan jernih, karena masalah ini. Namun, setidaknya sekarang saya sudah sedikit tenang. Ayo kita kembali bukanya Anda akan menemui Nyonya Eira." Zifa  pun beranjak berdiri dan akan kembali pada Siti untuk menjaga Kemal.


"Zifa, aku tidak tahu hubungan kamu dan kedua anaku, tetapi kalau saya boleh menyarankan jangan bikin kedua anak saya salah paham. Aku takut kejadin Eira akan terulang pada anak, dan cucu saya. Cukup istri saya yang berbuat salah, tidak pada kalian."


Omar teringat ucapan Ghava. Bukan dia ingin membela Omar karena dia adalah putra paling dekat denganya, tetapi dia sendiri juga ada rasa trauma ketika ada nyawa melayang karena kisa cinta yang terlalu bucin sampai orang dekat sedikit saja langsung dikaitkan dengan selingkuh.


Zifa membuang nafas kasar." Anda tenang saja Tuan, hal itu tidak akan terjadi. Saya tahu mana yang harus saya lakukan dan mana yang tidak. Terima kasih untuk waktu Anda." Zifa menundukan kepalanya dengan hormat, dan berjalan lebih dulu meninggalkan Omar.


Wanita itu memberikan senyuman terbaiknya pada Ghava yang sudah menatapnya dengan penuh pertanyaan. Hatinya sudah sedikit lega karena apa yang Omar katakan. Yang membuat bahagia adalah ibunya bukan duri dalam pernikahan Omar dan Eira.


Setelah mendengar jawaban fersi Omar, Zifa kembali yakin untuk melaporkan Eira.


"Ibu, tunggu selangkah lagi Ibu akan tertawa bahagia, karena orang yang membunuh ibu akan merasakan pelajaranya. Janji Ifa pada Ibu tinggal selangkah lagi.

__ADS_1


__ADS_2