
Zifa memeluk tubuh kakaknya dan tangannya menepuk-nepuk punggung sang kakak. "Apa Kakak ada ingat sesuatu?" lirih Zifa dengan suara beratnya. Zara pun mengangguk, menandakan bahwa ia memang mengingat kejadian di mana dirinya terakhir kalinya melihat ibunya sebelum meregang nyawa.
"Apa yang Kakak ingat dengan kejadian itu?" tanya Zifa, suaranya sangat berat.
"Ibu di paksa minum, Ibu menolak," lirih Zara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Setop Kak, setop." Zifa menutup kupingnya ia tidak tahan lagi membayangkannya. Ghava pun sama tidak kuat mendengar keterangan dari Zara. Tidak ada alasan lagi Ghava untuk tidak melindungi Zifa dan Zara karena memang dari penuturan Zara sudah sangat jelas kalau mamihnya lah yang telah membunuh ibu Fatimah.
"Fa, kamu yang kuat yah," lirih Ghava dengan suara yang sama bergetar. Sedangkan Zifa sudah menutup telinganya dan air mata yang mengalir dengan deras.
"Mas, kamu dengar kan, kamu dengar kalau Ibu aku dibunuh sama mamih kamu, lalu alasan apa lagi aku untuk sabar dan berdiam diri terus dengan semua ketidak adilan yang aku dapatkan," lirih Zifa dengan isakan tangis yang memilukan.
Ghava menarik tubuh Zifa yang berguncang dengan hebat, kedalam pelukannya dan mencoba menenangkan perasaan istrinya yang sedang marah dan kecewa.
"Kita akan cari keadilan untuk Ibu kamu secara bersama-sama. Aku janji tidak akan meninggalkan kamu untuk menghadapi ini semua," lirih Ghava tangannya mengelus rambutnya mencoba menenangkan Zifa. Sedangkan Raja dan Ratu pun ikut tercengang melihat tantenya menangis.
"Mba, Tante Ifa kenapa nangis?" tanya Ratu dengan menatap sedih tantenya yang masih terisak itu.
"Tante nangis apa kalena tidak kebagian mainan?" tanya Raja yang sama melihat tantenya menangis ikut sedih dan kasihan.
"Kalian istirahat aja yuk di kamar," lirih Sisri agar anak-anak asuhnya mengikutinya ke kamar untuk istirahat, dan Raja dan Ratu pun mengikuti sang pengasuh ke kamarnya untuk istirahat.
Zara hanya diam saja mematung dengan reaksi Zifa. "Ra, istirahat aja yuk," lirih Alwi yang taku kalau Zara juga memiliki trauma yang berlebih hanya saja ia lebih bisa memendamnya dalam hati dan hanya dia mematung. Nanti apabila suasana sudah tenang Alwi akan menanyakan lagi dengan apa yang terjadi di kala kejadian itu, dan Alwi akan merekamnya mungkin dari kesaksian zara itu akan menambah bukti untuk menjerat pelaku.
__ADS_1
Zara terkejut ketika tangan Alwi memegang pundaknya. "Kita istirahat," ulang Alwi.
"Ifa?" tanya Zara menunjuk Zifa, mungkin dia cemas dengan adiknya yang masih terisak di dalam pelukan Ghava.
"Ifa, tidak apa-apa ada Ghava, dan nanti sebentar lagi Ghava dan Ifa akan pulang," bujuk Alwi dan Zara pun menurut wanita itu berjalan menuju kamar pribadinya dan merebahkan diri di pembaringannya matanya di pejamkan dengan sempurna, meskipun ia tidak ingin tidur. Sedangkan Alwi yang melihatnya pun akan kembali beranjak meninggalkan Zara dan akan menemui Zifa dan Ghava.
"Dok," seru Zara ketika Alwi akan beranjak bangun.
Alwi pun kembali meletakan bokongnya di tempat duduknya. "Apa ada yang ingin kamu ceritakan?" tanya Alwi dengan suara yang lembut dan bersiap rekaman ia nyalakan agar bisa merekam obrolan mereka.
"Ibu di bunuh?" lirih Zara dengan tatapan yang kosong.
"Apa Ara tahu kejadiannya?" tanya Alwi dengan tatapan yang teduh agar Zara merasakan tenang.
"Apa ibu meminum air yang dipaksakan?" tanya Alwi dengan penasaran. Sakit Alwi juga mendengarnya. Kenapa ada orang yang begitu tega melakukan ini semua dan yang membuat Alwi semakin geram adalah sang pelaku justru secara dengan sengaja seolah-olah membuat bahwa ibu dari Zara dan Zifa meninggal karena sakit jantung.
"Kalau Ara sakit mengingatnya, jangan dipaksa. lupakanlah dan biarkan Ibu beristirahat dengan tenang," lirih Alwi dengan tangan yang mengusap punggung Zara agar Zara tenang dan jangan menangis lagi.
Zara menatap Alwi semakin dalam, seolah ibu dua anak itu tengah mengingat sesuatu. "Ibu menangis, menatap Ara." Isakan Zara semakin pecah dengan bibir di gigitnya agar suaranya tidak sampai keluar rumah.
Alwi pun semakin mendekat pada Zara dan memberikan pelukan agar Zara tenang. "Ini yang Alwi takutkan ketika Zara mengingat semuanya ia akan sangat trauma, dan Alwi pun terpaksa menggunakan suntikan penenang agar Zara tidak lagi terus memikirkan hal itu. Dan sudah bisa Alwi simpulkan seratus persen bahwa ibu dari Zara dan Zifa di bunuh. Alwi akan melakukan upaya hukum apapun agar pelaku itu mendapatkan hukumannya. Dan Alwi akan berdiri di belakang mereka.
"Keadilan harus kalian dapatkan Zifa dan Ara." Selanjutnya Alwi berjalan meninggalkan Zara yang sudah tenang, dan saat ini sedang tertidur dengan nyenyak. Bukan tenang karena dirinya bisa mengontrol perasaanya sendiri, tetapi karena tenang di saat adalah ia yang dalam pengaruh obat yang barusan Alwi suntikan.
__ADS_1
Cukup lama Alwi berada di kamar Zara dan Zifa sendiri dengan Ghava tidak terlibat obrolan yang berarti mereka lebih banyak berdiam. Dalam pikiran kedua orang itu sedang bergelut dengan pemikiran mereka masing-masing.
Wajah Zifa semakin tegang ketika melihat Alwi datang kembali ke ruang keluarga dengan wajah yang sedih dan lesu.
"Dok, apa yang terjadi dengan Kakak Zara? Kenapa kalian lama sekali di dalam sana?" cecar Zifa begitu Alwi sudah semakin dekat dengan dirinya.
Alwi menghempaskan bokongnya dengan kasar. Dihirupnya udara sebanyak-banyaknya dengan rakus, seolah laki-laki itu tengah kekurangan pasokan oksigen sehingga membutuhkan setok cadangan yang banyak.
"Ingatan Kakak kamu semakin bagus, tetapi kurang bagus untuk kesehatan mentalnya. Dia mengalami trauma. Aku paham betul dengan kondisi Zara, di mana dia menyaksikan langsung ibu kamu yang mereka eksekusi tidak mudah untuk melupakan itu. Mungkin ini yang merubah sifat kaka kamu semakin pendiam dan seperti selalu menjadi pengamat yang baik, dia tengah mencoba melindungi dirinya dan orang yang ia sayangi dengan caranya. Kasihan dia." Alwi tidak melanjutkannya. Dia sendiri andai berada di posisi Zara pasti akan trauma berat menatap sorot mata ibunya yang menangis meminta bantuan pada siapapun yang ada di dalam sana, tetapi dengan bengisnya orang-orang itu mengabaikannya. Termasuk Zara yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibu kandungnya.
Ghava sendiri dadanya semakin sesak, nafasnya tersengal dan kelopak matanya juga memanas membentangkan kekejaman ibu kandungnya sendiri. Ghava tidak menyangka sama sekali, wanita yang telah melahirkannya, dan wanita yang telah memberikan kehidupan untuk dirinya, tega melakukan perbuatan yang sangat kejam.
Terlebih Zifa semakin sesak dan ingin membalaskan yang sama dengan mereka. Alwi sendiri ingin memberikan rekaman dari Zara barusan tetapi ia tahu bahwa itu justru akan membuat Zifa semakin lemah. Sehingga Alwi akan membiarkan itu semua di tangannya hingga suatu saat apa bila dibutuhkannya maka Alwi akan memberikannya sebagai bukti.
"Dok, apa yang harus Ifa lakukan agar Ifa bisa mendapatkan keadilan? Ifa takut kalau nanti salah ambil langkah, dan nasib Ifa sama dengan Ibu. Hanya berakhir sia-sia dengan kematian, dan mereka akan bersih kembali?" lirih Zifa dengan tatapan yang menunduk dan air matanya sejak tadi sudah menetes entah berapa banyak air mata yang sudah Zifa produksi hari ini.
#Mohon maaf kalau ada yang bilang novel ini alurnya lambat. Ini novel yang othor tulis tentang kesehatan mental yang banyak terjadi di masyarakat dan untuk proses penyembuhannya sangat sulit dan butuh waktu yang lama. Jadi kalau tiba-tiba langsung sembuh rasanya mustahil, sebenarnya waktu tiga tahun yang di butuhkan Zara untuk mengolah emosinya waktu yang sangat cepat othor bahkan sampai baca-baca waktu tiga tahun termasuk paling cepat, biar nggak terlalu bertele othor ada yang pangkas dikit-dikit biar cepat ke konflik puncak.
Retardasi Mental, yang seperti dialami oleh Zara itu di masyarakat kita sangat banyak dan kadang orang menganggapnya biasa dan wajar, tetapi sebenarnya kalau ada penanganan yang tepat mereka akan bisa beradaptasi dengan normal dan baik sama seperti masyarakat normal lain.
Mungkin ada yang nilai ngapain ngangkat novel tentang mental?Pada kenyataanya banyak orang kena mental karena kurangnya pemahaman tentang sakit itu sendiri. Penyakit mental adalah sakit yang paling berbahaya baik depresi, baby blues (Banyak terjadi pada ibu hamil dan ibu yang baru melahirkan) Mereka butuh keluarga daan lingkungan yang bisa memahami isi pikirannya, kadang nyeleneh memang tetapi tugas kita adalah untuk melakukannya agar mereka bisa berpikir dengan normal lagi.
Happy reading dan semoga makin banyak orang yang sadar dengan sakit mental, dan tidak memandang mereka dengan aneh, dan menambah beban pikiran mereka.
__ADS_1