
Suara mobil sudah terdengar datang di halaman rumah Zifa, dengan terburu-buru Kemal merangsak masuk kerumah Zifa. "Maaf Fa, tadi ada masalah sedikit, sehingga jadi telat deh, kamu udah nunggu lama yah?" tanya Kemal dengan suara dikecilkan ketika tahu bahwa Zara sedang tidur.
"Tidak apa-apa Mal #, lagian ini juga baru jam delapan kok, jadi kita mau pergi sekarang kan?" tanya Zifa memastikan.
"Jadi dong Fa, masa aku sudah berjuang susah payah sampe minjam mobil orang tidak jadi." Kemal pun dengan di bantu Zifa langsung memasukan barang-barang yang sudah Zifa siapkan masuk ke dalam mobil setelah itu membangunkan kakanya untuk pindah. Beruntung Zara sedang tidur dan ketika di bangunkan dia tidak begitu paham bahwa mereka akan pergi dari rumah masa kecil mereka.
"Kamu udah siap kan Fa, tidak akan menyesal dengan keputusan yang kamu ambil?" tanya Kemal. yang melihat Zifa nampak murung.
"Siap dong Mal, tetapi siap tidak siap aku juga harus meninggalkan rumah ini, yang di ucapkan kamu itu ada benarnya semua, aku merasa sebuah tahanan yang berada di bawah pengawasan sehingga aku memang harus merelakan semuanyq. Meskipun aku tidak tinggal di rumah ini lagi, tetapi semua kenangan dari rumah ini akan selalu ada di dalam ingatanku," ucap Zifa dengan nada suara yang cukup yakin. Bahkan dia kali ini sudah tidak terlalu melow, karena ia tahu bermelow-melow secara terus menerus justru membuat dia semakin terpuruk.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kamu sudah tahu kan tujuan kita akan kemana?" tanya Kemal pada Zifa.
"Kota kembang kan? Bandung?" tebak Zifa, meskipun Kemal tidak memberitahukanya, tetapi Zifa bisa tahu dari internet kalo nama panti sosial yang sudah Kemal cari tahu info dan di panti itu nanti kakaknya di titipkan untuk mendapatkan terapi dan bantuan oleh team ahli yang nanti Zifa bayar dengan uang yang Ghava dan Kemal berikan.
Sementara tujuan Zara dititipkan di panti khusus penampung Down syndrom adalah agar Zifa bisa fokus mengenyam pendidikan juga. Sebab kalau kakaknya tidak di titipakn di panti, Zifa akan kesulitan mengatur waktu untuk pendidikanya. Sedangkan pendidikan itu bagi Kemal dan Zifa itu penting.
"Nanti kamu bisa cari rumah di gang sempit yang dekat dengan panti tempat kakak kamu di titipkan. Kamu bisa mengunjunginya kapanpun kamu ingin," hibur Kemal yang melihat ada gurat kesedihan di wajah Zifa.
"Bukan hanya itu Mal, apa nanti ibu tidak marah yah Mal, ketika aku menitipkan kak Zara ke panti. Sedangkan yang seharusnya merawat kak Zara adalah aku, adiknya, anggota keluarga satu-satunya," lirih zifa, sangat wajar di saat pertama kali akan berpisah dengan sodara yang selama ini selalu ada bersama dia rasa berat melepaskanya itu pasti akan di rasakan, seperti Zifa saat ini. Meskipun dia sudah belajar untuk menguatkan hatinya dan juga, merelakan bahwa ini semua demi kebaikan kaka Zara dan dirinya juga agar bisa mengungkap misteri semua yang mengganjal dari setiap masalah yang keluarganya alami. Tetapi rasanya kini sangat berat untuk berpisah dengan kakaknya, biarpun Zifa apabila merawat Zara masih sering marah dan membentaknya. "Kakak semoga kakak kelak akan tahu bahwa Zifa melakukan ini demi kebaikan kakak, dan juga Zifa berharap kakak tidak akan marah," ucap Zifa sembari mengelus rambut kakaknya yang kini tidur di atas pangkuanya.
__ADS_1
Zifa pandangi wajah damai kakaknya yang sedang terlelap tertidur. Rasanya berat sekali menjalani hidup seperti kakaknya.
"Zara tdak akan marah, dia malah nanti akan berterima kasih pada kamu karena sudah menempatkan dia di panti itu. Memang untuk pertama pasti ada rasa tersisih dan sedih, ketika di sekelilinganya adalah orang baru, tetapi dia lambat laun akan tahu maksud kamu. Kamu tidak membuang kakak kamu tetapi kemberikan perawatan yang tepat. Semoga kamu dan Zara bisa melewat masa-masa berqt ini," ujar Kemal membuyarkan lamunan Zifa dan lagi-lagi ucapan Kemal memang benar.
"Amin, aku akan tunjukan bawa Zifa. Anak dari tukang cuci tidak akan pernah menyerah, sampai keadilan aku dapatkan," ucap Zifa dengan hati yang sudah yakin bahwa tujuanya bertahan dengan ini semua hanya untuk mencari keadilan untuk ibu dan kakaknya. Andai Zifa tidak memiliki tujuan itu. Mungkin Zifa akan memilih merawat kakaknya sendiri dan akan mengesampingkan pendidikanya, yang penting hidupnya tenang. Namun karena tujuanya sudah yakin dan bulat sehingga ia harus tega menitipkan kakaknya di panti sosila, dan dia tetap memgenyam pendidikanya.
"Semoga keadilan berpihak pada kalian. Berjanjilan jangan termakan emosi, kamu boleh mencari bukti dan lain sebagainya tetapi harus dengan hati yang tenang, jangan terpancing emosi karena dari emosi bisa menghancurkan rencana kamu yang sudah matang. Dan berjanjilah kamu akan hidup dengan baik, sampai nanti kita bertemu lagi," ucap Kemal, yah, mau tidak mau dia juga akan mulai menjalani hidupnya sendiri. Dan meninggalkan Zifa dan Zara dengan kehidupanya masing-masing.
"Loh Mal, kamu mau kemana?" tanya Zifa yang heran kenapa ucapan Kemal seolah hari ini adalah hari terakhirnya bertemu.
__ADS_1