
Ghava tersenyum dengan masam. "Perasaan baru juga kemarin aku pulang dari rumah sakit dan sekarang aku kembali akan merasakannya lagi tinggal di rumah sakit yang bau obat-obatan ini," lirih Ghava, di mana saat ini lukanya sedang di bersihkan oleh perawat sedangkan Zifa berdiri di samping Ghava.
Zifa memberikan kode jari telunjuknya di depan bibirnya, agar laki-laki yang menyandang sebagai suaminya tidak banyak berbicara terus. Tidak enak juga banyak perawat yang membersihkan lukanya, pasti nanti banyak yang kepo dengan mereka. Kenapa bisa luka separah ini.
"Sus, Dok kalau luka seperti ini nggak usah di rawat bisa kan?" tanya Ghava, tentu sangat berharap biar istrinya saja yang merawatnya di rumah.
"Bisa Mas, ini hanya luka luar dan tidak ada luka dalam, jadi bisa di rawat di rumah oleh istri Anda," balas sang dokter, sontak saja bibir merah Ghava langsung melengkung sempurna.
Sejujurnya Zifa sendiri juga merasakan senang ketika Ghava juga bisa di rawat di rumah selain sepertinya saay ini rumah yang paling aman.
Namun, Ghava memiliki rencana, tidak akan tinggal di rumah itu lagi, Kemal dan Wina sudah tahu rumah dia sehingga saat ini rumah itu sudah tidak aman lagi. Sehingga Ghava harus mulai mencari tempat untuk mereka tinggal lagi.
Setelah Ghava menghabiskan hampir tiga jam untuk melakukan perawatan di luka-lukanya dan juga melakukan segala macam check dan adminitrasi. Kini Ghava dan Zifa sudah kembali menaiki taxi dan sesuai rencananya ia tidak pulang kerumahnya.
"Mas kok kita tidak ke rumah kita?" tanya Zifa setelah tahu bahwa jalan yang dilalui bukanlah jalan menuju rumahnya.
__ADS_1
"Tidak Fa, rumah itu sudah tida aman, bisa saja Kemal dan Wina atau yang lainya akan berbuat yang kurang baik dengan kita, jadi lebih baik kita yang pindah dan mencari rumah yang lain," lirih Kemal dan membiarkan sang supir mengemudikan mobilnya menuju jalan rumah yang sudah ia siapkan meskipun mengontrak karena Ghava takut kalau Kemal dan yang lainya mengetahui tempat persembunyiannya lagi.
"Mas, kayaknya Bandung sudah menjadi tempat yang tidak nyaman untuk kita, gimana kalau kita pindah saja ketempat lain?" tanya Zifa, dari pada mereka tinggal di Bandung seolah mereka sudah terkepung dan juga mau bertemu dengan ponakannya dan kakaknya sendiri sulit. Bukan lebih baik keluar dari kota ini dan orang-orang yang mencarinya juga meninggalkan tempat ini dan tentu Zara bisa aman.
Zifa takut kalau nantinya malah Zara, Raja dan Ratu justru menjadi terancam keberadaanya. Ghava dan Zifa keluar dari kota ini untuk mengecoh.
Ghava memalingkan pandanganya pada Zifa. Dan terlihat wajah Ghava sudah mulai memberi itu pasti rasanya sedang menyakitkannya. "Kalau Mas sangat setuju, tapi apa kamu juga setuju dan tidak terpaksa?" tanya Ghava dengan sangat hati-hati taku Zifa tersinggung.
"Kita tarik orang-orang yang sudah tahu lokasi kita, dan biarkan kakak Zara dan juga dua ponakan Ifa tenang. Kalau kita tetap disini, nasib mereka bertiga juga akan tidak akan," jelas Zifa ia bukan asal-asalan meminta keluar dari kota ini, Zifa sudah mempertimbangkan dengan matang.
"Baiklah kita mau kemana?" tanya Ghava, dia adalah pebisnis yang kerja di mana saja bisa, jadi tidak harus datang ke lokasi pekerjaan ia sudah pasti dia bisa tetap mendulang pundi-pundi rupiah.
"Ok, setelah Mas baikan kita akan pergi ke Jakarta, dan semua yang seharusnya kamu dapatkan aku berjanji akan mencarinya," lirih Ghava. Tidak akan ada waktu lagi untuk bersembunyi kalau lawan saja sudah tahu lokasinya.
******
__ADS_1
Di tempat lain.... Bruuugg... Wina menutup pintu kamar hotelnya dengan kasar mereka memang memutuskan tinggal di hotel seminggu ini. Kemal yang tahu suasana hati Wina tidak baik pun terus mengikuti wanita yang selama satu minggu ini menjadi partner kerjanya.
"Ngapain sih loe ngikuti gue terus, gara-gara loe gue kehilangan kesempatan untuk miliki Ghava," bentak Wina yang terlihat sangat marah itu.
"Loe pikir gue juga tidak kehilangan Zifa?" tanya Kemal dengan tatapan yang tajam menatap Wina yang sedang tertidur dengan terisak (Tengkurap seperti bayi).
"Itu derita loe, karena memang loe yang membiarkan Zifa pergi dan memilih Ghava, dan mereka akan hidup bahagia sedangkan gue hanya bisa menyesalinya," balas Wina yang semakin terisak memilikan.
"Terus kalau Ghava dengan loe dan Zifa dengan gue, apa loe bisa jamin Ghava bisa membahagiakan loe, dan loe juga bahagia dengan perlakuan Ghava yang dingin pada loe? Gue liat Ghava sangat tidak menghargai loe, itu sebabnya gue berhenti membantu loe untuk memperjuangkan Ghava, alasanya simpel. Gue kasihan dengan loe yang harus bertepuk cinta sebelah tangan dan lebih sakit lagi ketika kita tinggal dengan seseorang yang tubuhnya bisa kita dekap tetapi pikiran dan perasaanya tidak dengan kita. Gue hanya kasihan dengan loe Win, karena gue sudah merasakan nya lebih dari tiga tahun," lirih Kemal.
Sementara Wina yang awalnya menangis dengan tersedu dan sangat terlihat kesedihannya sejak mendengarkan nasihat dari Kemal, suara tangisnya bikin melemah. Memang benar yang dikatakan Kemal. Sebenarnya Wina juga paham tentang ilmu itu, tetapi entah mengapa Wina seperti terinjak-injak harga dirinya ketika Ghava dan Zifa seolah menang dan dia bersama Kemal salah dan malu juga pada warga yang mungkin saja mengenalinya.
"Lalu apa itu tandanya kita harus terima Zifa dan Ghava, itu sakit sekali Kemal, baru kali ini aku merasakannya. Ini adalah hinaan bagi gue," balas Wina dengan sisa tangisnya yang sudah mulai bisa memahami kenapa Kemal lebih baik mengakhiri semuanya.
"Ghava dan Zifa bersama belum tentu jodoh, mungkin mereka adalah jodoh yang tertukar. Mungkin lebih baik kita fokus dengan kehidupan kita semua," lirih Kemal. Tangannya memesan makanan dari aplikasi online yang ternyata perutnya terasa perih ia sejak siang belum makan karena terlalu fokus dengan Ghava dan Zifa, hingga perutnya terasa di remas-remas tetapi Kemal baru merasakannya saat ini,"
__ADS_1
Tidak lupa Ghava juga memesan beberapa minuman botol alkohol untuk menghangatkan tubuhnya. Kemal hanya ingin menenangkan tubuhnya, mungkin dengan meminum dua atau tiga gelas akan tenang dan bisa tidur dengan damai, dan memulai hari yang lebih baik lagi.
Tidak menunggu lama makanan dan minuman yang dipesan Kemal datang dan mereka pun makanan bersama sebelum Kemal kembali ke kamarnya.