
Zifa membiarkan Zara meracik bumbu nasi goreng, sesuai yang dia tahu, tetapi dia juga tidak sepenuhnya mengandalkan kakanya itu, ada peranya juga untuk membantu Zara. Karena kekompakan mereka sehingga tidak sampai empat puluh menit nasi goreng ala Zara sudah terhindang dengan sempurna. Berhubung nasi yang ada tinggal tersisa sedikit sehingga Zifa membiarkan Zara yang makan lebih banyak dan dia lebih sedikit, dan juga dia menyisihkan untuk Kemal.
"Kakak makan di sini dulu yah! Ifa mau panggil Kemal untuk sarapan bersama," ucap Zifa sebelum meninggalkan kakanya di ruang nonton TV, Zifa dengan sengaja menyetel chanel favorite kakanya, acara kartun dengan dua anak kembar yang botak-botak itu. Dan Zara akan tertawa apabila menurut dia tayanganya lucu. Begitu lah biasanya hiburan buat Zara.
Zifa menggoyangkan badan Kemal dan memintanya untuk ikut sarapan dengan dirinya meskipun sarapan ala Zifa hanya nasi goreng dan dengan telor ceplok tetapi setidaknya masih bisa buat ganjal perut terlebih semalam ia dan Kemal hujan-hujanan sehingga pasti perutnya pada kosong.
"Mal... mal... kemal bangun dulu Mal, sarapan yuk!" ujar Zifa dengan suara lembutnya. Kemal memicingkan matanya sebelah, seolah ia tengah memindai apa gerangan yang membuatnya memaksa bangun. Laki-laki itu terlonjak kaget ketika wajah Zifa yang pertama kali dia lihat. Yah, dia bahkan masih setengah mengumpulkan nyawanya, sehingga ia belum begitu sadar bahwa dia sekarang ini masih berada di halaman rumah Zifa.
"Zifa kenapa kamu ada di sini?" tanya Kemal dengan polos, ia masih mengira bahwa wanita yang ia cintai ada di dalam kamarnya. Padahal dia belum sadar bahwa dialah yang ada di depan rumah Zifa.
__ADS_1
"Kayaknya kamu masih mimpi deh, atau lupa? Kamu semalam bantu aku cari ka Zara, dan kamu sekarang ada di dalam mobil masih terpalkier di halam rumah aku (Zifa masih menunjukan rumahnya). Dan sekarang kita sarapan dulu yuk. Kak Zara masak nasi goreng, kamu wajib coba, karena rasanya enak banget loh," ucap Zifa menjelaskan apa yang terjadi pada Kemal, dan alasan dirinya membangunkan Kemal.
Laki-laki berwajah blesteran dan tentu tampan, pun menoleh ke arah Zifa menunjuk rumahnya, dan dia baru sadar kalo yang di katakan Zifa ada benarnya juga. Kemal langsung mengejek jam tanganya dan ternyata sudah jam tujuh.
Buru-buru ia menyalan mobilnya. "Maaf Mey, aku harus pulang, takut mamih aku marah dan untuk tawaran sarapanya terima kasih. Lain kali aku cobain masakan kak Zara dan sampaikan salam aku pada kakak kamu. Salam sahabat," ucap Kemal sebelum ia mengincak pedal gas dan melepas kuplingnya, secara perlahan mobil berjalan meninggalkan halaman rumah Zifa.
Zifa yang tahu bahwa Kemal tengah buru-buru pun tidak melanjutkan obrolan apa-apa lagi. Terakhir Zifa hanya memberikan senyum manisnya sebelum Kemal menutup pintu mobilnya. Zifa pun kembali lagi ke dalam rumahnya. Begitu membuka pintu, Zifa mendengar tawa renyah kakaknya. Gadis berambut sebahu itu pun melangkahkan kakinya lebih cepat karena penasaran apa gerangan yang membuat kakanya tertawa lepas seperti itu.
"Kakak ini nasi goreng kakak yang makan semua?" tanya Zifa heran kenapa kakanya makanya banyak sekali. Apa orang hamil makan sebanyak itu. Batin Zifa, kakanya itu makanya biasanya akan sulit dan biasa juga selalu di suapin ibunya, itu pun makanya tidak banyak hanya sedikit. Namun kali ini makanya berkali-kali lipat.
__ADS_1
"Lapar Ifa," ucap Zara seolah dia merasa bersalah karena adiknya tidak kebagian nasi gorengnya.
"Iya enggak apa-apa kok. Nanti kalo Ifa masih lapar bisa masak nasi lagi, dan kita goreng telor atau masak sayur kan bisa," ujar Zifa sembari mengelus rambut kakaknya yang panjang dan hitam itu.
Zifa memegang dadanya, rasanya sangat berat ketika harus memiliki sabar selebar lautan luas Terlebih kondisi kakaknya membuat Zifa sering menangis dalam batinya.
"Ifa tidak sekolah?" tanya Zara. Dia mungkin ingat bahwa kalo pagi kebiasaan adiknya yaitu sekolah. Dan Zara tahunya kalo di sekolah itu menyanyi. Zara yang tidak pernah sekolah sering merengek dan meminta agar Zifa mengizinkanya ikut kesekolahanya. Tetapi hal itu belum penah Zifa kabulkan.
"Oh, sekolah Zifa libur kakak," elak Ifa tidak mau kakaknya salah paham. Bahkan teman-temanya tidak tahu bahwa Ifa tengah berduka. Dia masih belum siap mengabarkan kabar duka itu. Di mana Ifa sebenarnya marah pada diri sendiri yang egois. Marah dengan ucapan ulang tahun, dan perayaan ulang tahun.
__ADS_1
****
Di kediaman Kemal, mamihnya tengah marah-marah dengan semua asisten rumah tangganya yang tidak melihat Kemal pergi malam tadi. Ibu tiga orang itu takut kalo Kemal pastie kali ada rasa trauma sehingga memilih pergi dari rumahnya. Untuk menenagkan fikiranya.