Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 85


__ADS_3

Lyra mengangkat wajahnya menatap Zifa yang sebelumnya Lyra dari tadi menatap kearah dua bayi kembar perempuan dan laki-laki itu. "Kamu benaran Zifa memperbolehkan akau untuk menggendong bayi ini?" tanya Lyra dengaan wajah yang terlihat sangat bahagia.


Zifa hanya membalas dengan anggukan dan tentunya senyum yang ramah, dan di balas dengan senyum bahagia dari Lyra.


"Kenalin Tante Lyra ini namanya Raja yang ganteng banget, pokoknya paling ganteng di sini, nyalahin Om Beni dan Papah Alwi, dan ini yang pake baju pink-pink dan pake bando ada bunga besarnya namanya Ratu, anak paling cantik dan paling kalem," ucap Zifa memperkenalkan dua ponakanya yang sangat tampan dan cantik.


"Hay... Raja  anak yang paling ganteng, dan juga Hay... Ratu anak yang paling cantik. Kenalkan ini namanya  Tante Lyra," balas Lyra tidak lagi menangis seperti tadi.


Setelah itu dengan di bantu oleh Zifa, Lyra pun menggendong dua anak itu, biarpun sempat akan menangis tetapi setelah ditimang-timang akhirnya anak kembar itu anteng juga.


"Ifa, boleh aku minta fotokan dengan Raja dan Ratu kayak gini," lirih Lyra, ingin rasanya ia mengabadikan momen itu, di mana mungkin saja nanti dia juga akan punya anak kembari dengan pasanganya yang  mungkin akan bisa menerima dia apa adaanya.


"Tentu Mba, yuk ambil posisinya cakep biar Zifa fotokan," ucap Zifa, dan Lyra pun langsung berpose ceria dengan dua anak kembar yang ada di gendonganya.


"Ya Allah gimana rasanya kalau punya anak kembar kaaya gini yah Fa, pasti senang banget, tapi ngomong-ngomong dia anak siapa Fa?" tanya Lyra, karena Lyra tidak tahu di mana ibu dari anak kembar yang ada di gendonganya.


"Raja dan Ratu ini anak dari Kakak Ifa, namanya Ara, sekarang sedang bikin kue, dan karena  masih sibuk jadi Raja dan Ratu diasuh sama Mba Sisri dan Ifa yang sebelum berangkat kuliah bantu mengurus dua ponakan yang lucu ini," ucap Zifa dengan tanganya menunjuk Sisri untuk memperkenalkan pada Lyra. Dan Lyra pun membalas dengan senyuan sebagai salam perkenalan, ia tidak bisa berjabat tangan, terlebih kedua tangan dia digunakan untuk menggendong Raja dan Ratu.

__ADS_1


"Wah kalian disini hebat-hebat, aku yakin kalian nanti bakal jadi orang yang sukses. Apalagi jualan kalian produknya enak-enak aku acungin jempol untuk kue-kue buatan kalian, nanti kalau aku mau pulang ke Jakarta aku akan pesan kue buat oleh-oleh orang rumah," ujar Lyra, padahal dia bingung mau buat siapa juga, bukanya dia sendiri saat ini juga tinggalnya sudah sendiri tidak ada lagi suami  dan juga keluarga yang lain. Papah dan mamahnya juga sedang berada diluar negri untuk menemani papahnya yang sedang sakit. Sementara dua kakaknya juga tentu tinggal di rumah masing-masing dengan keluarganya masing-masing juga.


"Amin semoga saja Mba, usaha kami disini berkembang tidak sia-sia, kami setiap hari bekerja seperti ini. Tidak harus yang bergelimpang harta sih yang penting kami tidak dihina karena miskin," balas Zifa, setiap mengucap kata miskin hati Zifa masih perih, yah perih dan sesak. Sebab karena miskin keluarganya ditindas dengan sangat keji.


"Tapi ngomong-ngomong Papahnya Raja dan Ratu kemana? Kok dari tadi ceritanya ibunya terus, Papahnya kemana kerja?" tanya  Lyra, penasaran kalau mamahnya mungkin wajahnya akan mirip dengan Zifa bukanya Kakanya, tetapi kalau Kakaknya seperti apa kira-kira wajahnya. Apakah ada keturunan bule  karena kalau dilihat dari wajah dan mata Raja dan Ratu sepertinya papahnya ada keturunan orang luar.


Wajah Zifa langsung berubah. Meskipun Zifa tahu Lyra tidak bersalah memelemparkan pertanyaan seperti itu, justru sangat wajar kalau orang bertanya papahnya, terlebih seperti Lyra tidak tahu apa yang terjadu diantara mereka jadi sangat wajar bukan bertanya seperti itu. Namun tetap saja hati Zifa tetap dongkol dan kesal, marah dan dendam setiap ada yang tanya Papah dari Raja dan Ratu.


Lyra yang melihat wajah Zifa berubah pun sedikit tahu apa yang sebenarnya terjadi, "Aduh maaf Zifa kalau memang pertanyaan dari saya kurang sopan, kamu jangan jawab pertanyaan aku. Anggap saja aku tidak mempertanyakan itu," pinta Lyra, dan Lyra yang tahu bahwa ada yang tidak beres dengan suami kakaknya mungkin, memutuskan mengalihkan obrolan yang lain.


"Aduh aku kenapa jadi betah banget di sini sih, kalau aku izin menginap untuk beberpa hari disini di bolehin tidak yah, aku ingin lama-lama bermain dengan Raja dan Ratu," batin Lyra. "Baiklah nanti aku akan coba izin pada Zifa untuk menginap di sini lagi, biar saja aku bayar juga yang terpenting akau bisa bermain dengan Raja dan Ratu, dan benar saja berkat ada Lyra,   Mba Sisri jadi tidak terlalu repot mengurus Raja dan Ratu, karena bisa ganti-gantian. Ketika Raja dan Ratu diasuh Lyra, Mba Sisri bisa mengerjakan tugas yang lainya.


Lyra sangat menikmati menjadi seorang ibu, itu karena ia yang dipercaya oleh Zifa untuk ikut merawat Raja dan Ratu.


Seperti biasa Sisir menggendong Raja dan Lyra menggendong Ratu. Benar saja di bawah orang-orang sudah kumpulan untuk sarapan, tentunya yang masak Zara.


Kini Zara tidak terlalu sibuk membuat kue diyakini hanya sesekali membantu. Tugas Zara lebih memasak dan menjaga dua anaknya.

__ADS_1


Toh di dapur yang bikin kue juga sudah tiga, jadi sudah bisa bagi-bagi jadwal pekerjaan dengan baik.


"Pagi semuanya Ifa mau kenalin tamu yang semalam bermalam disini namanya Lyra." Zifa begitu gabung dengan team lainnya.


Lyra pun mengalami teman-teman barunya dan menyebutkan nama masing-masing, tidak ketinggalan Ara juga sebagai ibu dari Raja dan Ratu.


"Kenapa aku seperti mengenal Ara yah? Tapi di mana?" batin Lyra, pandangannya fokus tertuju pada Zara yang mengambil alih Anak-anak nya karena dia sendiri sudah sarapan, dan seperti biasa ketika pengasuhnya makan maka dia yang kebagian jaga mengasuh Raja dan Ratu, setelah pada sarapan semua baru toko akan buka.


"Hayu, Mba Lyra makan, biarin Raja dan Ratu sama Kak Ara." Zifa menoel Lyra yang justru melamun memprihatinkan Zara.


"Oh, maaf Fa aku hanya penasaran dengan kakak kamu, aku seperti pernah bertemu dengan dia tapi lupa di mana," ucap Lyra sembari mengalihkan pandangan pada temannya yang lain yang lebih dulu menikmati sarapan.


"Kapan? Soalnya sejak kejadian kelam itu Kakak tidak pernah lagi pergi-pergi jadi mungkin bukan Kakak Ara," jawab Zifa, biarkan saja lagian rasanya tidak mungkin Lyra mengenal kakaknya.


"Mungkin hanya orang yang mirip kali, dan aku juga kayak yakin dan tidak, tapi nanti aku sembari ingat-ingat lihat di mana." Lyra pun ikut sarapan bersama-sama.


Catatan:

__ADS_1


#Lyra memang selama tinggal di rumah mertuanya sejak kejadian Ibunya Zara meninggal baru lima bulan, dan juga Lyra bekerja, kalaupun tidak dia akan menghabiskan waktu di kamar. Begitupun Zara dia di rumah majikan ibunya ada bangunan sendiri untuk mencuci dan menyetrika dan Zara sehari-hari menghabiskan waktu banyak dibangunan belakang sehingga Zara dan Lyra tidak sering bertemu, hanya sekali-kali Lyra melihat, itu pun Lyra tidak begitu memperdulikan siapa saja pekerjaan di rumah mertuanya. Itu sebenarnya dia tidak begitu mengenal Zara.


__ADS_2