Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 153


__ADS_3

"Kamu sekarang membersihkan diri dulu yah, tidak enak dilihat oleh orang lain," ucap Ghava, setelah Siti membawa paper bag berisi pakaian dan juga segala macam perlengkapan mandi hingga sisir dan juga parfum untuk Zifa gunakan.


Zifa menatap mata Ghava dengan iba. "Kemal, gimana kalau terjadi sesutu dengan Kemal?" tanya Zifa, Ghava bisa melihat gimana Zifa mencemaskan Kemal, dan itu tandanya Zifa memang sangat mencintai adik kandungnya. Baru kali ini Ghava merasakan kalau Zifa memang sangat  mencintai Kemal. Namun Ghava sendiri juga mencintai Zifa, meskipun Zifa belum mencintai sebesar ia mencintai Kemal, tetapi ia yakin suatu saat Zifa akan mencintai sama seperti ia mencintai Kemal.


"Kamu tenang yah, kemal ada Siti yang menjaganya dia  adalah laki-laki yang kuat dia akan melewati ini semua," balas Ghava dengan suara yang sangat lembut.


Zifa pun akhirnya pasrah saja dan Ghava pun dengan sabar mengajak Zifa untuk membersihkan diri di kamar mandi dengan sabar Ghava menunggu Zifa, laki-laki itu sangat tahu betul kalau Zifa juga sangat trauman, apalagi dia menyaksikan kejadian penembakan itu secara langsung. Pasti sangat trauma dan terbayang betapa mengerikanya di tempat itu.


Tidak lama Zifa sudah keluar dengan pakaian yang baru dan pakaian yang belumur darah Ghava  bungkus dengan plastik dan membuangnya. Wajah Zifa memang sudah terlihat lebih segar tetapi tidak mengurangi rasa takutnya, dia terlalu takut dengan apa yang dilihatnya tadi sehingga wajahnya seperti masih bingung.


"Duduk dulu Fa." Ghava menuntun Zifa untuk duduk yang Ghava lihat Zifa sendiri seperti orang yang bingung dan bahkan beberapa kali Zifa mencuci tanganya dan terlihat kalau dia bingung mau melakukan apa lagi.


Ghava dengan telaten menyisir rambut Zifa, "Kita nanti ke psikolog yah," lirih Ghava agar Zifa tidak terseinggung.


"Untuk apa?" tanya Zifa dia dulu selalu berpikir kalau psikolog itu hanya diperuntukan untuk orang-orang dengan gangguan mental (Gila) tetapi seiring berjalanya waktu, dan kakaknya juga masih rutin terapi dengan Alwi yang notabenya dia adalah dokter psikologi, sehingga Zifa sudah paham kalau psikolog itu untuk semua orang bukan yang bergangguan jiwa saja.

__ADS_1


"Kamu mengalami trauma yang sangat dalam. Aku tahu berada diposisi kamu tidaklah mudah makanya aku ajak kamu untuk mendatangi psikolog untuk menghilangkan trauma itu. Kamu mau yah," lirih Ghava tanganya masih menyisir rambut istrinya. Bahkan banyak yang menatap Ghava dengan pandangan yang berbeda. Ghava tidak memperdulikan dia yang terpenting istrinya nyaman dengan dirinya.


Zifa menggenggam tangan Ghava  menggenggamnya dengan hangat. "Aku masih berharap ini mimpi, kejadian itu sangat cepat," lirih Zifa dengan mata yang berkaca-kaca dengan isakan samar. Ghava pun langsung menghentikan tanganya yang sedang menyisir rambut Zifa, ia pun duduk di samping Zifa dan memberika dukungan dengan istrinya yang butuh teman untuk membagi kejadian mencekam itu.


Ghava menarik tubuh Zifa yang berguncang hebat ke dalam pelukannya.


"Makanya itu kamu butuh teman untuk mengungkapkan ini semua dan kamu bisa percaya kalau ini semua bukanlah mimpi, kamu harus bangit bukanya kamu akan mencari keadilan untuk keluargamu dan sekarang kamu tinggal menunggu  waktu semuanya akan terbongkar dengan sendirinya, dan kamu tinggal menyiapkan semua bukti-bukti yang kamu punya," ucap Ghava, laki-laki itu terlihat seperti sangat tegar, tetapi pada kenyataanya dia juga sama merasakan rasa yang sangat sesak di dadanya terlebih yang jadi tersangka adalah ibu kandungnya sendiri.


Ia juga tidak ingin di katakan demi wanita tega memenjarakan ibu kandungnya, gimana pun kelakuan Eira, ia adalah ibu kandungnya. Dia harus bisa berdiri dengan tegap ditengah tengah, agar kedua belah pihak tidak merasakan tersisih. Diposisi Ghava juga sangat tidak enak terlebih kedua sodara kandungnya masih kritis dengan kejadian yang berbeda, dan tempat yang berbeda.


Ghava lagi-lagi memegang tangan Zifa dengan lembut. "Kemal pasti kuat, dia harus kuat karena banyak  yang sayang dengan dia, dan itu termasuk kamu," lirih Ghava. Sakit, Ghava merasakan sakit, tetapi memang kenyataanya seperti itu Zifa lebih menyayangi Kemal dari pada dirinya. Mungkin memang  Ghava juga harus mulai  belajar merelakan, karena bukan tidak mungin Zifa akan memilih Kemal.


Tenggorokan Ghava sangat sakit untuk membayangkan hal itu. "Pantas saja Zifa tidak pernah mau menyerahkan kesucianya pada aku, karena memang yang ingin menjadi suaminya bukan aku, tapi adikku," batin Ghava semakin sesak apabila membayangkan itu, tetapi ini lah takdir untuk dirinya. Mencintai sebelah tangan, menikahi tubuhnya tetapi tidak memiliki jiwanya.


"Kita kembali ketempat tadi, takutnya Kemal sudah selesai operasi," ucap Zifa, dia sudah terlalu lama meninggalkan Kemal. Ghava pun lagi-lagi mengikuti kata Zifa, dia berdiri dan menggandeng tangan Zifa. Mereka pun kembali lagi ke depan ruangan operasi di mana Kemal masih menjalani operasi pengangkatan peluru.

__ADS_1


Dokter tadi sempat berkata pada Zifa bahwa peluru yang bersarang di punggung Kemal mengenai tulang belakang sehingga hal ini memakan waktu yang cukup lama untuk pengangkatan pelurunya.


"Siti gimana tadi ada kabar dari doker?" tanya Kemal sedangkan Zifa hanya diam menatap kosong ke lampu yang masih berwarna merah.


"Belum Tuan, mungkin sebentar lagi," ucap Siti, wanita  itu juga sama seperti Zifa dia panik dan masih trauma dengan apa yang terjadi, meskipun bukan dia yang menjadi ancamanya langsung, tetapi Siti juga berada di sana dan menyaksikan kejadianya secara langsung dengan kedua bola matanya.


Di tempat lain, Omar setelah menitipkan Abas pada keluarga Orlin ia langsung menyusul Ghava ke Jakarta. Tentu Omar juga mengatakan dengan jujur apa yang menimpa keluarganya, tidak lupa Omar juga meminta doa pada keluarga Orlin, untuk  kesembuhan  Kemal dan untuk Eira agar kasusnya tidak berbelit.


Omar memang menanggap kalau hubunganya dengan keluarga Orlin tidak ada masalah, dan memang dirinya tidak ada masalah dengan keluarga besannya sehingga dia bersikap baik dan hangat pada keluarga Orlin, dan Orlin pun sama tidak menganggap Omar orang lain. Mungkin kalau  bukan  Omar yang meminta tolong keluarga Orlin tidak akan mau menunggu Abas, tetapi karena Omar yang datang sehingga mereka mau, untuk sementara membantu menjaga Abas sampai dua asisten rumah tangganya datang untuk menjaga Abas.


Yah, Omar sebelumnya ia  sudah menghubungi dua asisten rumah tangganya untuk menyusulnya, dan saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit di mana Abas dirawat, setelah semua aman, Omar langsung pergi meninggalkan rumah sakit tempat Omar dirawat dan langsung menuju Jakarta untuk memastikan kondisi anak bungsunya, dan setelah itu menemui istrinya.


Sama seperti Ghava, perjalanan pun terasa sangat lama oleh Omar. "Fokus Omar tetap fokus jangan sampai kamu menambah daftar masalah baru untuk keluarga kamu," gumam Omar yang sejak tadi pikiranya tidak fokus ia terlalu takut kalau Kemal tidak tertolong. Apabila itu terjadi maka hal yang paling menyesal adalah dirinya membiarkan anaknya meninggal di tangan ibu kandungnya sendiri.


"Kalian bertahanlah Abas, Kemal, Papih tahu kalian anak-anak hebat." Doa Omar sepanjang perjalanan.

__ADS_1


__ADS_2