
"Apa ada hubunganya Zifa dengan kejadian ini?" tanya Omar lagi, terlebih Ghava dan Kemal seperti sangat melindungi Zifa.
Ghava terlihat diam sejenak. "Zifa adalah anak dari asisten rumah tangga yang terbunuh di rumah kita," jawab Ghava, pandangannya menunduk tidak ada gunanya dia menyembunyikan ini semua, toh nanti juga akan ada masa, di mana papihnya tahu fakta semua ini. Sehingga Ghava berpikir lebih baik dia berkata jujur mengenai siapa Zifa dan rencananya.
Deg!!! Omar nampak terkejut, bahkan wajahnya pun terlihat pucat. 'Pantas saja pertama kali aku bertemu dengan dia aku seperti melihat ada kemiripan antara Farida dan wanita itu ternyata dia adalah putrinya.' batin Omar.
Laki-laki paruh baya itu nampak bingung dengan semua, bahkan ia sendiri mau bertanya apa lagi juga bingung.
"Pih, hubungan Abas dan Orlin gimana?" tanya Ghava, laki-laki itu curiga kalau abang dan kakak iparnya tidak berkomunikasi dengan baik. Terlebih ketika dirinya di rumah sakit yang mana keluarga Orlin seperti membatasi, komunitas antara mereka.
Lagi, Omar membuang nafas kasar. "Itulah Papih juga tidak tahu sebenarnya yang terjadi, hanya saja kalau Papih menganggapnya baik-baik saja, tadi juga Papih sempat menitipkan abang kamu pada mereka. Biarkan masalah Abas dan Orlin seperti apa yang terpenting kita tetap baik-baik saja. Jangan sampai tali silahturahmi kita terputus hanya karena masalah yang kita sendiri tidak tahu," lirih Omar. Ghava pun membenarkan ucapan Omar.
Tidak lama terlihat Zifa dan Siti yang datang dengan membawa beberapa kantong makanan. Mereka pun kaman bersama. "Fa, nanti setelah ini aku dan Papih akan pergi ke kantor polisi untuk menemui Mamih, kamu tidak usah ikut yah, masalah laporan kasus kamu. Kamu siapkan buktinya saja dulu, dan semuanya akan menyusul," ucap Ghava di tengah-tengah makan mereka.
Zifa dan Omar saling bertemu pandang. Namun sedetik kemudian Zifa memalingkan pandanganya. "Aku ngikut apa kata kamu saja Mas. Masalah bukti semua sudah ada di tangan Mba Lyra, Ifa hanya tinggal menghubungi mereka maka semuanya aman," balas Zifa, kembali menyupakan makanannya. Yang terasa sangat tidak nikmat.
__ADS_1
Bahkan makanan itu semua terasa hambar di mulut wanita itu. Andai Ghava tidak ada di hadapanya. Zifa memilih tidak makan. "Mas nanti bisa mampir ke rumah tidak, ambil ponsel Ifa ada di kamar. Lupa membawanya, takut dokter Alwi menelepon nanti malah mereka berpikir yang tidak-tidak," lirih Zifa.
Ghava pun merogoh saku celananya, untuk mengambil ponsel. "Kamu hubungi mereka kasihan kalau mereka mencemasan kamu di sana."
Zifa yang masih canggung dengan Omar pun lagi-lagi Zifa melirik laki-laki paruh baya itu. Zifa masih sangat penasaran dengan yang dikatakan oleh Eira, mengenai perselingkuhan alhamrhum ibunya dan laki-laki yang ada di samping suaminya, dan posisi Zifa saat ini berhadapan dengan laki-laki itu.
Tangan Zifa terulur mengambil ponsel di tangan Ghava. "Terima kasih." Zifa pun berdiri untuk menghubungi Alwi dan mungkin saja setelah bercengkrama dengan Raja dan Ratu, serta bercerita dengan Alwi dia akan sedikit tenang.
Omar, laki-laki paruh baya itu masih menatap punggung Zifa. "Ghava, bukanya Kakak dia hamil anak Abas, gimana kondisi anak-anaknya?" tanya Omar, kedua matanya masih mengawasi gerak-gerik Zifa yang sedang terlibat panggilan yang cukup jauh. Dia hanya bisa melihat dari ekspresi wajahnya tidak bisa mendengar percakapan Zifa dan orang yang ada di balik telepon sana.
"Anak Zara baik, cerdas, pandai. Zara melahirkan anak kembar satu laki-laki dan satu perempuan, mereka bernama Raja dan Ratu. Bahkan mereka semua tumbuh menjadi anak yang pengertian dengan kondisi ibunya yang berbeda, tapi Zara sekarang jauh lebih baik tidak seperti Zara yang dulu. Itu karena adanya dokter Alwi yang selalu membimbingnya dengan sabar sehingga dia sama saja seperti kita, normal. Yang bikin masalah justru memory dia yang melihat langsung ibunya dibunuh, itu yang mengganggu perkembangan otaknya. Malah terakhir kita mau pamitan dengan Zara, dia histeris karena kembali mengingat tatapan terakhir ibunya yang meminta tolong denganya," jelas Ghava, dengan suara bergetar.
"Apa kehidupan mereka tercukupi, dan soal Alwi dia siapa?"
"Sejauh ini mereka sanagt tercukupi, baik materi dan kasih sayang. Alwi sendiri adalah dokter psikologi yang mendampingi Zara terapi hingga sekarang dia sangat pesat perkembaanganya, dan laki-laki itu juga sudah menganggap mereka anak sendiri, bahkan Raja dan Ratu menyebutnya Papah." Ghava menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Raja dan Ratu adalah anak Abas, yang mana itu tandanya cucu Omar juga, Ghava berpikir untuk menjelaskanya, agar ia tahu kalau memang mereka itu memiliki cucu yang cantik dan Tanpan serta pandai.
"Apa kamu ada foto mereka?" tanya Omar yang sangat penasaran dengan cucu-cucunya, dari cerita Ghava saja, Omar sudah bisa membayangkan kalau cucunya itu sangat lucu dan menggemaskan.
"Ponsel Ghava sedang dipakai oleh Zifa," lirih Ghava dengan menujuk istrinya yang nampak asik mengobrol dengan orang di balik teleponya. Omar pun mengikuti jari telunjuk Ghava dan pandangan matanya pun menatap Zifa yang sedang asik bercerita. Entah berbicara apa, tetapi dia bisa mengetahui kalau obrolan mereka sangat seru.
Benar saja Zifa di tempat yang cukup jauh dengan Omar dan juga suaminya, sedang bercengkrama dengan dua ponakanya. Orang yang paling pertama dihubungi pastinya Kakaknya untuk menanyakan Raja dan Ratu, dan benar saja dua bocah itu saling berebut untuk memakai ponselnya, padahal mereka bisa meletakanya dan mereka mengobrol bersama, tetapi itulah uniknya mereka akan saling berebut dulu baru mereka akan saling mengalah ketika Sisri atau Zara sudah angkat bicara.
Dua bocah itu sedang asik bercerita di mana mereka sudah bisa berenang.
"Tante... Tante, kata Papah nanti kalau libul Laja dan Latu akan diajak ke makam Kakak Mecca," oceh dua anak kembar itu. Zifa sempat berpikir siapa Meca yang dua ponakanya maksud, tetapi pikirnya kembali mengingat di saat Alwi dulu pernah bercerita kalau dia adalah duda dengan istri dan anak yang meninggal dunia karena kecelakaan.
"Astaga kenapa aku baru ingat kalau Dokter Alwi ada anak, dan istri yang sudah lama pergi, pantas Dokter Alwi sangat sayang sama mereka." gumam Zifa kembali teringat cerita Alwi ketika ia pertama kali bertemu di yayasan bunda Anna.
"Boleh ikut Papah, tapi jangan nakal yah," pesan Zifa pada kedua ponakanya.
__ADS_1
"Siapa Tante," balas bocah cantik dan tampan itu dengan antusiasme.
Zifa pun merasakan lega, rasa kangennya sedikit terobati.