Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Sopir Taxi Online


__ADS_3

"Sesuai aplikasi yah Bang," ujar Zifa begitu naik ke dalam mobil mewah yang di tumpangi Ghava. Saat itu Ghava yang sudah melewati berjam-jam di dalam mobil dan melihat bebek bakar rasa laparnya, ingin menikmati makan malam dengan seporsi bebek bakar yang menggugah selera, tetapi begitu berhenti... Tidak butuh waktu lama Zifa masuk dengan percaya dirinya mengira Ghava adalah taxi online yang dia pesan barusan.


"Apa Mba, bisa di ulang?" tanya Ghava dengan bibir tersungging menertawakan nasib dirinya yang di kira supir taxi online.


"Sesuai aplikasi Mas...." ulang Zifa dengan suara selembut mungkin dan mendayu-dayu sehingga sangat lembut terdengar di telinga Ghava.


Ghava di balik kemudi menahan tawanya, yang hampir saja kelepasan. Mungkin andai benar Ghava adalah taxi online, ini adalah taxi online dengan tarif termahal. Yah tentu termahal mobil yang di pakai Ghava bukan seperti mobil yang di gunakan orang-orang untuk mengais rezeki dengan menjual jasa antar jemput itu. Mercedes-AMG SLC 43, yang di bandrol dengan harga kurang lebih dua miliar, sehingga tarifnya mungkin bisa di sesuaikan dengan merek mobilnya.


"Kok bengong sih Mas, ayo dong jalan nanti ke buru malam lagi," dengus Zifa dengan memperhatikan Ghava yang tampan dan berjas persis seperti bos-bos yang bekerja di kantor dengan gaji selangit.


"Oh, iya-iya maaf, saya kaget. Karena ternyata yang naik mobil saya seorang bidadari," ucap Ghava  berusaha mencairkan suasana. "Untung cantik, biarin deh dianggap sopir taxi juga, yang penting penumpangnya bening," batin Ghava, tidak lama pun Ghava melajukan mobilnya.


"Ini kemana Mba?" tanya Ghava ulang, dia baru di tempat itu dan dia sampai tempat ini juga karena asal ajah mengikuti kemauan hatinya menyusuri jalan, dan niatnya ingin makan malam dengan bebek bakar malah ketemu Zifa yang mengira dia adalah sopir taxi online yang dia pesan.


"Sesuai aplikasi, Mas," jawab Zifa santai, pandangan matanya mengamati Ghava, pikiranya sebenarnya janggal dan bertanya-tanya sepertinya terlalu aneh Taxi online wanginya luar biasa dan sangat berbeda dengan Taxi yang biasa beroperasi. Belum sopirnya yang pakeianya seperti CEO di novel-novel. "Apa ini setrategi marketing, agar banyak penumpang yang memnggunakan taxi ini, dan kasih bintang lima dan ulasan yang bagus," batin Zifa, kedua matanya serus mengamati Ghava.


"Loh Mas kok kesini sih, tempat tinggal saya seharusnya belok ke kanan bukan ke kiri," protes Zifa.


"Lagian kenapa Mbanya enggak kasih  tunjukin jalanya saja, arahin belok kemana belok ke kiri atau kanan, sayakan enggak tahu daerah sini, mana baru juga pertama ini datang kesini," jawab Ghava santai, dan tetap melajukan kendaraanya.


"Kan tadi saya sudah bilang sesuai aplikasi," balas Zifa dengan ketus, karena dikira Ghava mau mengerjai Zifa.

__ADS_1


"Aplikasi mana aplikasi, saya bahkan enggak tau aplikasi yang mana." Ghava memberhentikan mobilnya, dan meminta penjelasan pada wanita yang sedang ke bingungan juga, duduk dibangku belakang.


"Bu... bukanya aku tadi sudah kirim alamat waktu pesan taxi ini dan ongkos taxi empat puluh rebu, sudah jelas kok." Zifa berusaha mengingat ingat cara ia memesan taxi, dan semuanya seperti biasa tidak ada perbedaanya.


"Yakin Mba pesan taxi mobilnya ini?" tanya Ghava suara di lembutkan agar Zifa mengecek dia salah tidak untuk memesan taxinya.


Zifa nampak mulai gelisah, dan dia sepertinya mulai merasa bahwa memang dia yang salah, terlebih ketika Ghava meminta turun dan menunjukan plat nomornya sama atau tidak dengan yang ia pesan.


Bush... wajah Zifa merah padam ketika ia benar-benar menyadari bahwa dia memang salah naik mobil. Kedua matanya dirapatkan dengan erat dan wajahnya menunduk, malu banget rasanya Zifa ingin menghilang saat ini juga. "Pantesan mobilnya wangi banget, sopirnya juga tampan banget, ternyata bukan sopir taxi online," gumam Zifa matanya masih di rapatkan karena malu.


Sementara Ghava justru terkekeh dalam kebisuanya melihat reaksi Zifa dan juga wajah merah Zifa yang sangat terlihat malu-malunya. "Astagah ini cewek cantik banget sih," batin Ghava justru ini kesempatan Ghava untuk mengamati wajah Zifa dengan lebih dekat dan jelas.


"Mba... Mba gimana mau diantar sesuai aplikasi?" tanya Ghava dengan nada bicara yang mengejek.


Ghava terkekeh sama melihat kelakuan Zifa yang bagi dia saangat lucu, apalagi ekpresi wajahnya ketika tahu bahwa mobil yang ia tumpangi bukan taxi online yang dia pesan, seketika beban di pikiran Ghava langsung hilang. "Mba mau ke mana memang?" tanya Ghava dengan suara lembutnya. "Biar saya antar asal Mba tunjukan jalanya kapan saya harus belok dan kapan saya harus lurus, jangan bilang sesuai aplikasi lagi, saya bingung." Ghava mana tega membiarkan cewek cantik ditinggal sendirian, mana jalanan cukup sepi dan makin malam juga, belum cuaca yang gerimis rintik-rintik.


"Tidak usah Mas, biar Ifa pesan ojek online ajah kalau tidak taxi online lagi," jawab Zifa tanganya buru-buru di gerakan-gerakan dengan maksud menolak.


"Udah enggak apa-apa aku ikhlas kok mau antar Mba Ifa, jangan takut aku orang baik ko, bukan orang jahat, lihat ajah dari wajahnya tampan gini," ucap Ghava dengan percaya diri, dan senyum menggoda.


"Dih PD banget," desis Zifa dengan pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Ghava.

__ADS_1


"Percaya Diri modal hidup Mba, kalo enggak PD sulit buat berinteraksi dengan yang lain, yang ada tidak bisa mencari uang. Ayo buruan masuk, nanti keburu ujan makin besar lagi," ujar Ghava dengan menggerakan kepalanya.


"Tapi...


"Enggak usah pake tapi, aku nggak akan culi kamu juga," balas Ghava dengan cepat, bahkan tidak membiarkan Zifa berbicara makin panjang.


"Nanti ngerepotin Masnya enggak?"


"Mana ada ngerepotin, kan aku yang nawarin kamu. Berati aku udah siap buat antar kamu," jawab Ghava.


"Ya udah boleh deh, kalau enggak merepotkan Masnya." Zifa pun akhirnya menerima tawaran Ghava. Lagian memang gerimis juga, kalau mesan taxi atau ojek harus nunggu lama lagi.


"Duduknya jangan di belakang, jadi berasa sopir buat majikan akunya. Di depan ajah. Aku jinak kok." Ghava menahan ketika Zifa mau membuka pintu belakang. Dan Lagi, Zifa kembali mengikuti apa arahan dari Ghava.


Zifa masuk kembali ke mobil mewah Ghava dengan kaku ia duduk di samping Ghava, Wangi. Ghava yang melihat Zifa seolah tegang pun kembali terkekeh dalam batinya.


Tubuh Ghava di condongkan ke tubuh Zifa. Gadis itu yang kaget karena melihat Ghava tiba-tiba seolah mau penciumnya reflek memukulkan tas tangan yang di bawa sama gadis itu.


Plukkk... Satu timpukan dari tas tangan Zifa berhasil mendarat di kepala Ghava.


Aduhh... Ghava memekik dan kembali menarik tubuhnya, tanganya mengusap-usap kepalanya bekas timpukan Zifa, tasnya sih kecil tapi rasanya cukup bikin benjol.

__ADS_1


"Mau ngapain kamu?" Zifa melotot dengan tubuh siaga satu.


__ADS_2