Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Rencana Untuk Zara


__ADS_3

Bunda Anna cukup terkejut dengan apa yang di katakan Zifa mengenai Kemal. "Masa sih Kemal tega melakukan itu. Di mana Kemal sepertinya kepribadianya baik, lalu untuk apa dia tega berbohong segala. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Kemal," batin Bunda Anna.


"Bunda bukanya mau bela Kemal, atau pun tidak percaya dengan ucapan kamu Zifa, hanya saja Bunda ingin kamu jangan terlalu curiga dulu dengan Kemal. Kita harus benar-benar mencari tahu semuanya dengan benar-benar, sebab apabila langsung menuduh kasihan jatuhnya fitnah." Bunda Anna mencoba menasihati Zifa, meskipun Bunda Anna ada rasa curiga juga, kalau memang di lihat dari gelagat dan cerita yang Zifa ceritakan.


"Iya Bun, Zifa juga tidak akan gegabah Zifa akan lebih hati-hati dalam kasus ini sebab sepertinya ini tidak melibatkan satu individu, tetapi sepertinya memang ada yang menutupi kejadian ini juga. Zifa saat ini akan tetap fokus kesekolah Zifa, tetapi tetap mencari informasi juga penting," balas Zifa, yang merasa lelah juga pikiranya menebak-nebak hal yang belum pasti.


Setelah Zifa dan bunda Anna berbincang mengenai kasus yang menimpa Zara dan juga ibunya. Kini mereka pun mengobrol ringan terutama dengan perkembangan Zara dan rencana kedepanya.


"Assalamualaikum..." sapa Alwi dengan ramah.


'Walaikumsallam," jawab Zifa dan Bunda Anna secara bersamaan, dan senyum ramah terlihat dari dua wanita yang berbeda generasi. Berbeda dengan Zara yang sepertinya sedang asik dengan dunianya yang baru. Mungkin ini adalah hal yang sangat Zifa nantikan sehingga ia sampai lupa dengan hal-hal sekital.


"Lagi bahas apa Bun, kayaknya seru banget?" tanya Alwi yang langsung mengambil duduk di sebrang Zifa dan bunda Anna.

__ADS_1


"Ini Dok, kita sedang ngebahas Zara, kira-kira untuk kedepanya akan dilatih yang di fokuskan itu apa? Atau dokter Alwi ada saran?" tanya Bunda Anna.


"Kalu saya belum tahu kemampuan Zara apa saja Bun," jawab Alwi, tetapi pandangan matanya sejak tadi memperhatikan Zara yang cuek dengan dia dan juga seperti tidak perduli dengan lingkungan sekitar.


"Ini kue buatan Kak Zara, Bang. Ini gambar yang di bikin oleh Kak Zara menurut Bang Alwi kalau di fokuskan lebih baik dimasakan dan kue, atau gimana?" tanya Zifa, sebenarnya Zifa lebih setuju dengan masakan tetapi apabila Alwi dan Bunda Anna menyarankan gambar atau lukisan. Zifa akan tetap menerimanya.


Satu potong kue, Alwi ambil dan mencicipinya seperti apa rasanya, apakan enak atau kurang menurut lidahnya. "Kalau dari rasa dan tekstur untuk orang dengan ketebatasan pola pikir, seperti ini sudah jauh bagus banget hasilnya, dan memang sepertinya Zara itu ingatanya kuat, buktinya untuk membuat kue dan mewarnai bisa bagus seperti ini, lalu apa yang di ragukan dari Zara? Hanya tinggal menunggu waktu semuanya akan terungkap dan Zara akan mengingatnya," ucap Alwi di mana saat ini dia tengah melihat hasil gambar Zifa.


"Lebih baik masakan atau kue Fa, kalau untuk gambar atau lukis bisa dikerjakan juga tetapi hanya hiburan saja. Selain kalau Zara bisa mengolah berbagai jenis kue dan lain sebagainya, kedepanya Zara kalau ada yang mengarakan bisa untuk memulai usaha sehingga kalian bisa membuka bisnis kue atau cetering," usul Alwi dan di benarkan oleh Bunda Anna, dan tentunya Zifa juga setuju dengan saran Alwi, dan bunda Anna.


"Kalau begitu Bunda Akan meminta orang yang ahli di bidang perkuehan untuk melatih Zara, dan juga sepertinya kalau masak Zara akan lebih merasa bahagia, soalnya kata Zifa kan, Zara dulu sangat sering masak dengan ibunya. Bukan begitu Fa?" tanya Bunda Anna.


"Betul Bun, hampir setiap hari Kak Zara membantu Ibu memasak," jawab Zifa.

__ADS_1


"Kalau begitu lebih bagus dong, karena siapa tahu dengan kegiatan itu Zara malah jadi semakin cepat untuk mengingat semuanya," balas Alwi tidak kalah senang juga.


Setelah obrolan selesai dan semua kegiatan untuk Zara kedepanya sudah terancang dengan baik. Kini Zifa pun pamit untuk pulang kerumah di mana Zifa tinggal nantinya.


Rencananya sisa waktu yang ada Zifa akan gunakan untuk mencari sekolahan untuk dia melanjutkan sekolahnya. Zifa tidak mencari sekolah yang bagus dan elite, dia lebih mencari sekolah yang tidak terlalu ramai dan diusahakan tempatnya tidak terlalu dekat dengan jalan raya. Tentunya dia lakukan agar persembunyianya tidak terendus. Dan juga bisa lebih fokus belajar.


Zifa saat ini tidak mau terganggu dengan hal apapun yang membuat konsentrasinya terganggu, terutama untuk belajar dan tentunya untuk memperhatikan dengan Zara. Di mana Zara sekarang sudah di tanganin oleh orang-orang yang profesional dan juga kemajuanya sudah terlihat dengan sangat baik, lalu apa lagi yang di ragukan dari Zara yang saat ini tengah menjalani terapi. Zifa tinggal butuh keyakinan bahwa semuanya akan terjawab, asalkan dia juga tidak gegabah, dan dia tinggal menata dirinya agar memiliki masa depan yang baik. Hidupnya bukan hanya mencari keadilan semata, akan banyak perjalanan hidup yanh mengelilinginya dengan segala warna. Bekal hidup bukan sebatas materi sesaat tetapi juga ilmu yang akan dia butuhkan untuk bekal di masa depan.


"Bu, doakan Zifa dan Kak Zara bisa menjalankan ini semua dengan baik. Sekarang Kakak sedang di latih untuk memiliki ketrampilan semoga kak Zara nantinya akan menjadi orang yang sukses dengan kepiawaianya yang dimiliki Kakak, mengolah masakan dan kue. Ibu juga sebentar lagi akan punya cucu kembar. Doakan yah Bu, semoga semuanya lancar. Baik Kak Zara maupun anak-anaknya semuanya sehat. Dan orang yang telah membuat Kak Zara menderita semoga saja cepat mendapatkan balasanya tidak sabar rasanya melihat hari itu akan tiba, hari di mana orang-orang itu bersujud mengakui kesalahanya," batin Zifa tetapi lagi-lagi pikiranya menangkap Kemal yang melakukan hal itu, Kemal yang memohon dan meminta ampun karena kejahatan yang diperbuat.


Satu demi satu sekolah yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya Zifa sambangi, untuk melihat di mana kira-kira hatinya yang nanti akan merasa nyaman untuk bersekolah.


Setelah menemukan sekolah yang cocok dengannya. Besok rencananya Zifa akan kembali mendatangi sekolah itu untuk mendaftar sebagai murid pindahan, di mana semua surat dari sekolah sebelumnya pun sudah sampai. Yah, Zifa memang menyampaikan keluar secara online atau virtual. Mungkin terkesan tidak menghargai, menghormati guru atau teman-temanya, tetapi bersyukurnya baik guru maupun temanya semua mengerti gimana kesedihan Zifa saat itu. Di mana ujian hidupnya benar-benar diuji dengan cobaan yang sangat berat. Justru Ibu guru dan teman-temannya bersyukur karena Zifa masih mau melanjutkan sekolan lagi, meskipun bukan di tempat mereka lagi. Yang penting Zifa tidak berlarut dengan kesedihanya.

__ADS_1


__ADS_2