
Di sebuah rumah yang mewah...
Eira yang sejak tadi menghubungi Ghava tidak ada kabarnya langsung melampiaskan kemarahanya kesiapa pun yang berada di dekatnya. Entah sudah berapa asisten rumah tangga yang juga terkena imbas kemarahan Eira. "Apa di dalam rumah ini tidak ada yang tahu kemana perginya Ghava?" tanya Eira menghampiri keluarganya yang sedang menikmati makan malam.
"Tidak Mih? Ada apa memang dengan Ghava?" tanya Lyra yang sudah beberapa hari ini diam, karena masalah hubungannya degan Abas, akhirnya dia membuka mulutnya. Lyra awalnya juga marah dengan Eira dan mendiamkanya, tetapi makin kesini hubungan dengan ibu mertuanya semakin renggang, sedangkan caranya agar hubunganya baik lagi dengan Abas adalah harus dengan bantuan Eira, dan berati itu tandanya Lyra harus kembali mengambil hati ibu mertuanya. Karena hanya dari Eira, ia bisa tetap dianggap dari keluarga ini. Menujual kemanisan mungkin itu yang Lyra lakukan untuk menarik perhatian mamih mertuanya. Ia sudah terlanjur cinta sama Abas sehingga tidak ikhlas apabila harus berpisah dengan Abas. Apalagi membiarkan Abas menikahi wanita lain demi keturunan. Lyra tidak akan diam saja.
"Itu loh Ly, Ghava kan mamih jodohkan dengan Wina anak Tante Dira yang dokter kecantikan itu loh, dan dia juga sudah punya banyak klinik wajah kecantikan, tapi malah Ghava menghilang dan ponselnya tidak aktif. Mana ujan, seharusnya dia tadi menjemput pulang Wina, tapi kata Wina, Ghava tidak bisa karena dia ada kerjaan. Mamih jadi kesal sama anak itu. Sangat beda banget sama Abas dan kamu yang selalu ngertin Mamih, Ghava anaknya susah di atur," dengus Eira lalu meletakan bokongnya dengan kasar di korsi samping suaminya yang dari tadi hanya menyimak istrinya yang tengah panik, karena anaknya tidak pulang dan juga tidak memberikan kabar.
Sebenarnya tidak masalah sih Ghava tidak pulang kerumah orang tuanyanya, toh itu sudah biasa, tetapi setidaknya Ghava harus mau mengikuti kemaunya yaitu menikahi Wina, hal itu karena baik keluarga Wina dan juga keluarga Ghava baik papih dan mamihnya sudah setuju dengan pernikahan ini. Jadi jangan sampai Ghava membuat malu keluarga besarnya.
"Mamih sudah hubungin Kemal, mungkin anak itu tahu, biasanya Ghava itu dekatnya dengan Kemal. Coba Mamih hubungi Kemal untuk menanyakan Ghava. Mamih alasan apa gitu biar Kemal percaya kalau Mamih memang membutuhkan kehadiran Ghava," usul Omar, suaminya.
Eira menatap suaminya, tumben suaminya ikut campur soal perjodohan dan anak-anaknya biasanya suaminya akan diam saja atau malah pergi kekamar agar tidak tahu urusan apa yang terjadi dianatara istrinya dan anak-anaknya. "Tumben Papih cerdas," ucap Eira sembari tersenyum genit ke suaminya.
__ADS_1
"Iya itu semua Papih lakuin biar Mamih tidak berisik," balas Omar dengan santai. Hal itu berhasil mendaratkan cupitan kecil diperutnya dari istrinya.
"Mih, Pih, Abas dan Lyra kekamar dulu yah." pasangan suami istri itu yang sudah selesai makan malam lebih dulu pergi kekamarnya dan meninggalkan mamih dan papihnya yang sedang mengurus Ghava anaknya yang tidak pulang kerumah.
Hemz... hanya deheman dari Eira dan Omar sebagai jawaban.
"Halloh Mih, ada apa?" tanya Kemal dari negara yang berbeda, di mana anaknya itu masih sibuk dengan pekerjaanya mengurus bisnis kakanya, yang makin berkembang dari waktu ke waktu. Karena setiap orang membutuhkan hiburan dengan mengunjungi wisata-wisata yang jadi tempat favorite atau bahkan tempat impian, dan aplikasi yang ditawarkan oleh bisnis yang Ghava bangun sangat cocok untuk yang ingin mengunjungi tempat itu, dari mulai merencanakan hingga perjalananya, akan ada pemandu wisata yang mendampinginya sehingga jangan takut kesasar atau malah tidak bisa mengunjungi tempat impian karena terhalang bahasa dan lain sebagainya.
"Abang Ghava Mih? Bukanya dia ada di Indonesia yah? Kenapa tanya Kemal?" balas Kemal dengan heran dan bingung.
Dia tidak ada di Jakarta mungkin Ghava memberitahu kamu kemana perginya Abang kamu sampai dia tidak pulang dan ponselnya tidak aktif," dengus Eira.
"Masa sih, nomornya tidak aktif, biasanya Abang selalu mengaktifkan ponselnya soalnya kan pasti banyak rekan bisnisnya yang mencari Abang. Atau mungkin Abang lagi kerja dan sekarang lagi sibuk sampai belum bisa angkat telpon mamih. Tunggu saja Mih, nanti juga Abang akan hubungin Mamih, dan Mamih harus tahu kalau Abang itu adalah anak yang gila kerja, jadi tidak aneh ketika dia harus mematikan ponselnya untuk bisa fokus kekerjaanya." Kemal mencoba menenangkan mamihnya yang terlihat cemas. Dan setelah memastikan anak bungsunya tidak tahu di mana Ghava berada sambungan telepon pun di matikan oleh Eira.
__ADS_1
"Tumben Abang pergi dan telponya di matikan, apa terjadi sesuatu dengan Abang?" batin Kemal, begitu panggilan dari mamihnya di matikan, Kemal yang penasaran dengan ucapan mamihnya langsung mencoba menghubungi nomor Ghava dan benar nomor ponsel abangnya tidak aktif.
Kemal yang sebelumnya sibuk dan fokus dengan pekerjaanya, setelah tahu nomer Ghava tidak aktif jadi tidak fokus dan kembali menghubungi nomor Ghava, ia juga mengiri pesan apabila sudah membaca pesan itu agar segera menghubungi adiknya itu. Ada hal yang ingin Kemal tanyakan mengenai Maminya dan Papihnya.
****
"Kamu yakin Wina, akan tetap melanjutkan perjodohan ini? Mamah sepertinya melihat kalau Ghava tidak suka dengan kamu, dan Ghava juga seperti menghindar dengan kamu. Mamah takut kalau nantinya kamu malah sakit hati, dan kecewa dengan Ghava. Kalau kamu tidak yakin perjodohan ini masih bisa kamu batalkan kok." Dira mengingatkan Wina, di mana Wina saat ini juga sedang mencoba menghubungi nomor Ghava yang Eira berikan, dan nomornya tidak aktif.
"Mamah tidak usah khawatir, Wina pasti bisa membuat Ghava jatuh cinta dan berbalik cinta pada Wina, sudah banyak laki-laki yang bisa Wina taklukan jadi Mamah tenang saja. Wina juga pasti bisa taklukan Ghava," balas Wina dengan santai.
Wina malah seolah tertantang dengan Ghava yang seperti menghindar. Wanita itu seperti mendapatkan lawan yang sepadan, sehingga memutuskan tetap menerima perjodohan ini.
"Ya udah kalau kamu tetap ngotot ingin menerima perjodohan ini Mamah bisa apa? Selain hanya mendoakan kamu , dan juga Ghava tidak membuat kamu kecewa." Yah itu adalah cara yang paling aman mendoakan. Karena Dira juga tahu bahwa putrinya kalau sudah memilih sesuatu sulit untuk di rubah apalagi ini menyangkut jodoh. Dira sepenuhnya serahkan pada pilihan anaknya, karena dia yang nantinya akan menjalani.
__ADS_1