Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Ghava dan Kemal


__ADS_3

Ada rasa lega di hati Kemal, ketika dia mendengar jawaban dari Abangnya, Ghava. Bahwa ia akan merahasiakan apa yang ia ceritakan. Kemal butuh dukungan, dia masih terlalu labil untuk menjalani ini semuan sehingga butuh penasihat seperti Ghava. Bukan tanpa sebab Kemal mau bercerita dengan Abangnya itu, selain karena Kemal dan Ghava yang memiliki keberanian untuk berontak dengan mamih dan keluarganya. Ghava juga sebenarnya memiliki keinginan menjadi seorang pengacara. Namun lagi-lagi Ghava harus mengubur cita-citanya demi ambisi keluarganya yang menginginkan anak-anaknya mengembangkan bisnisnya.


Memang terbukti dari ketiga anaknya Ghava paling berhasil. Semua bisnis yang ia bangun berkembang pesat. Maka dari itu Ghava adalah penolong Kemal dei setiap membutuhkan uang. Di samping dia tidak pelit dia juga abang paling bisa mengerti dia.


"Mau cerita tidak? Kalo tidak gue mau tutup ajah, loe tau kan Abang terbaikmu itu sibuk," beo Ghava dari sebrang telepon. Meskipun pertanyaanya hanya untuk membangunkan adiknya yang justru melamun.


"Cerita dong, ngapain gue telpon loe tapi gue malah enggak cerita rugi dong gue," balas Kemal tidak kalah jutek dari Ghava.


"Ya udah cepatan, waktu adalah uang. Gue harus jadi orang kaya raya, karen gue punya benalu yang kerjaanya mintaain duit terus," sindir Ghava tetapi tentu Kemal tidak tersinggung sedikit pun. Dia dan Abangnya sudah biasa saling ejek dan saling menjatuhkan, tetapi semuanya hanya candaan semata.


"Menurut loe kalo salah satu keluarga loe terlibat kejahatan, kayak pembunuhan atau pemerkosaan sampai korban hamil? Apa yang akan loe lakukan? Loe membela kuluarga loe, biarpun mereka bersalah atau loe akan ikut membantu keluarga korban menuntut keadailan?" tanya Kemal sebagai pembuka dari pertanyaanya.


"Tentu sajah gue akan membela dong," jawab Ghava dengan serius dari sebrang telpon.


"Kalo gitu memang sepertinya gue salah telpon sama loe," jawab Kemal ketus, dan dia lebih baik menutup telponya, dan tidak jadi meminjam uang senilai dua miliar pada Abangnya. Dia akan kembali ke rencana awal yaitu menjual mobil dan motornya yang paling dia sayang.

__ADS_1


"Loh, jangan salah paham dulu Jamal, maksud gue akan membela yang benar. Loe tahu dari dulu, gue ajah pernah bela tukang kebun yang di tuduh melakukan pencurian dan lain sebagainya. Gue pernah berantem sama nyokoap gara-gara gue yang membela asisten rumah tangga, yang kena marah padahal menurut gue kerjaan sangat baik, dan benar. Jadi kalo menurut gue, keluarga salah ya salah tidak bisa di bela. Kalo orang lain benar, ya gue akan maju buat bela. Tapi tentu semuanya harus berdasarkan bukti tidak langsung ngotot serang keluarga. Kalo bukti kuat  baru maju untuk  mencari kebenaran, tetapi tunggu. Ini ada apa sih ko bahasnya sepertinya berat banget," tebak Ghava dari sebrang telepon.


"Bu Farida, tukang cuci di ruamah kita meninggal. Dan anaknya juga hamil," ucap Kemal, sungguh ia bingung mau memulai semuanya dari mana, hanya konflik yang bisa ia langsung suguhkan, meskipun ia tahu bahwa Ghava otaknya pasti sudah tidak bisa dikondisikan mencari alur dari apa yang ia katakan.


"Meninggal kenapa? Apa anaknya hamil sama kamu, dan ibunya kamu bunuh?" tebak Ghava mengambil kesimpulan dari ucapan Kemal.


"Kemungkinan Ibunya memang di bunuh, dan kakaknya itu penyandang gangguan emosi semacam down syindrom, dan gue menduga salah satu kakak gue yang melakukanya," jawab Kemal meluruskan dugaan Ghava.


"Maksud loe? Abas? Meninggal, di bunuh juga sama Abas?" tanya  Ghava terkejut dengan kabar yang di bawakan oleh adik bungsunya.


"Tunggu apa maksud loe, meninggalnya orang itu di rumah kita, kenapa sepertinya kamu peduli sekali dengwn tukang cuci ini. Apa yang membuat kamu penasaran dan yakin bahwa mereka mendapatkan ketidak adilan?" tanya Ghava, dia mulai tertarik dengan kasus yang Kemal ceritakan. Bahkan sembari tanganya memegangi telponya, tangan yang satu lagi sibuk mencari petunjuk hukum yang kira-kira akan terjadi apabila kasus itu dilaporkan ke polisi.


"Iya, dia meninggal di rumah kita, dan di pulangkan dalam kondisi yang sudah tidak bernyawa kerumahnya, dan dengan keterangan meninggal dunia karena serangan jantung. Sangat janggal kematianya. Yang membuat bertambah curiga ketika di mandikan keluar busa dari mulutnya, sangat janggal bukan? Tetapi anaknya juga tidak bisa mencari tahu apa-apa terlebih mereka berasal dari keluarga kurang mampu. Ibunya yang meninggal adalah orang tua tunggal dan kakaknya hamil dengan kondisi mental yang berbeda dengan manusia normal yang lainya. Dan yang bisa diandalkan hanya Zifa seorang dan yang gue khawatirin Zifa dan Zara terancam hidupnya Bang," jelas Kemal mencerita kan dengan detail.


"Loe kenal mereka?" tanya Ghava dengan lebih santai, karena ia sudah bisa menjabarkan garis kesimpulan dari kejadian yang dialami tukang cuci dan setrika di rumahnya. Meskipun sebenarnya Ghava tidak begitu tahu orang yang Kemal maksud yang mana hal itu karena Ghava jarang berada di Indonesia dan kalau pun pulang ke tanah air ia akan sering tidur di rumah pribadi atau di apartemenya.

__ADS_1


"Zifa, anak kedua dari almarhum adalah teman sekolah Kemal. Tetapi Zifa tidak tahu bahwa Kemal adalah anak dari majikan ibunya. Kemal meminta uang sama loe, itu biar bisa bantu dia pergi dari sini. Sepertinya mamih tidak akan diam dan dia pasti akan menyingkirkan siapa saja yang mencurigai kematiannya. Asisten rumah tangga saja yang tidak percaya kalo kematianya karena serangan jantung mereka di rumahkan secara sepihak oleh mamih. Hal ini semakin membuat Kemal ingin melindungi mereka, dan biarkan mereka hidup dengan tenang. Tanpa di buntuti oleh rasa ketakutan," jelas Kemal, di hatinya sudah sedikit lega karena ia sudah bercerita dengan Ghava.


"Berapa uang yang kamu butuhkan untuk mengganti nyawa dan nasib buruk kakanya atas perbuatan Abas?" tanya Ghava dengan nada emosi karena dia bukan orang bodoh sehingga dari cerita yang Kemal bicarakan sudah bisa di tari kesimpulanya bahwa kemungkinan yang melakukan itu semua Abas. Ghava semakin di buat kesal dengan Abas itu, biarpun dia Abangnya tetapi ketika salah tetap salah.


"Gue sudah dapat satu miliar dari mamih. Gue ngarang cerita kalo abis nabrak anak kecil dan meninggal dunia untuk menutupi kasus itu keluarganya meminta ganti satu miliar dan mamih percaya. Dan rencananya gue mau pinjam sama loe satu miliar lagi, sehingga Zifa dan Zara bisa hidup dari uang itu, setidaknya sampai Zifa lulus kuliah dan bisa bekerja untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, kakak dan juga keponakanya nanti," jawab Kemal,  kali ini pikiranya bisa di bilang sudah tidak runyam lagi terlebih Ghava ada di pihaknya.


"Gue kirim dua miliar dan loe nggak usah ganti. Biar kan mereka bahagia dengan masa depan yang lebih baik lagi. Dan kalo bisa identitas dia ganti Mal, karena mamih dan Abas mungkin saja bisa mengendus kebohongan kamu dan mencurigai mereka. Hindari pembayaran lewat bank, apalagi rekening loe nanti bisa terlacak sama mamih. Bayarkan secara tunai sajah. Setelahnya mereka akan masukan kembali ke bank itu hak mereka yang penting mutasi rekening loe aman, jadi ketika ada pengecekan dari mamih loe tidak akan di curigai," ujar Ghava memberi tahukan solusi agar aman dari razia mamihnya. Sedangkan dia mah sudah jelas aman, karena Ghava memiliki beberapa rekening gelap.


"Baik Bang, thanks yah udah mau bantu cari solusinya. Jujur deh Kemal itu sudah beberapa hari ini murung banget karena masalah ini. Mana mamih nekan Kemal buru-buru nyusul loe buat sekolah dan lanjut kuliah di sana. Kan kalo masalah ini tidak selesai juga Kemal enggak bisa berbuat apa-apa. Kasihan nasib mereka." ibuh Kemal, dengan senyum di balik ponselnya mungkin kalo tidak sedang telpon dia akan koprol.


"Mal, bisa kirim cewek yang loe maksud itu?" tanya Ghava, tidak ada maksud lain sih hanya penasaran saja kenapa Abas bisa tergoda dengan cewek yang di katakan memiliki kelainan down syindrom itu.


"Kirim foto bukan buat mencelakai mereka kan?" tanya Kemal, jangan sampai sama Kemal di lindungi malah Ghava mencelakai mereka.


"Ya enggak lah, Giila apa aku sampe mau nyelakai mereka," kalo mau nyelakai mereka ngapain gue mau kasih uang gue cuma-cuma dua miliar lagi," dengus Ghava, adiknya kalo ngomong tanpa filter banget memang

__ADS_1


__ADS_2