Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Kepanikan Zifa dan Kemal


__ADS_3

Pukul sebelasĀ  malam Kemal sudah sampai di rumah yang telah ia sewa sebelum ia datang ke kota kembang ini. "Zifa... Fa, bangun dulu Fa ini sudah sampai di Bandung Fa." Kemal menggoyang-goyangkan tubuh Zifa yang mungkin saja ia baru bisa tidur belum ada setengah jam. Kasihan sebenarnya kalo harus membangunkan gadis berparas ayu itu, tetapi juga tidak enak kalo kelamaan di dalam mobil.


Gadis berambut sebahu itu menggeliatkan tubuhnya dan mencoba mengerutkan kedua alisnya, seolah ia tengah menyesuaikan cahaya dari lampu jalan yang coba menerobos masuk ke dalam mobil lewat kaca jendela.


"Sudah sampai yah Mal?" tanya Zifa dengan mengerjap-ngerjapkan matanya. Agar rasa mengantuknya hilang.


Udah, baru ajah sampai." Kemal pun langsung kembali merapihkan barang-barang yang akan ia bawa turun.


"Maaf yah, Ifa ketiduran abis berat banget matanya, kamu pasti jenuh banget yah nyupir sendirian," ucap Zifa sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Hahaha... enggak kok, kan bisa nyetel musik jadi hilang deh ngantuknya, lagian ini itu baru jam sebelas Fa, kalau cowok yang suka bergadang kayak aku jam sebelas itu masih sore lagi," ucap Kemal sedikit berkelakar.


"Kemal pun mengajak Zifa keluar dan juga Zara untuk pindah kedalam kamar. Kasihan tidur di dalam mobil pasti badanya pada sakit. Terlebih Zara sedang hamil.

__ADS_1


Beruntung Zara hamil tidak mengalami mengidam bahkan makan apa saja tidak pernah aneh-aneh. Mungkin calon buah hatinya tahu bagaimana kondisi mamahnya sehingga merek tidak nakal.


Dinginya kota Bandung langsung menyapa di kulit yang tidak terbungkus kain, sangat berbeda dengan udara dio kota Jakarta, di mana di Ibukota tidak ada istilah udara sejuk. Bahkan hujan sekalipun kadang cuacanya akan tetap terasa panas.


Zifa pun mengikuti apa kata Kemal ia membangunkan kakaknya, untuk berpindak ke dalam rumah yang terlihat sederhana tetapi cukup rapi dan kelihatanya nyaman tentunya lebih bagus dari rumah yang mereka tempati.


"Kakak, bangun yuk, kita pindah ke rumah baru kita," ucap Zifa setelah kakanya membuka mata dan nampaknya kakaknya itu masih kebingungan. Kedua bola matanya di edarkan kesana dan kesini. Seoilah wanita itu tengah mencoba mengingat apa yang sekiranya terjadi, dan mungkin juga ia tengah berusaha mengingat dia berada di mana. Zifa membiarkan kakaknya mengingat dan menghafal yang mungkin saja ia tahu dengan tempat ini.


"Ifa, kita ada di mana? Ibu mana?" Yah, lagi-lagi pertanyaan itu yang selalu Zara lemparkan. Ibu adalah orang yang akan selalu ada di ingatan Zara sehingga kemana pun dia pergi, ibu yang di takutinya akan berpisah denganya dan pergi. Tanpa kakaknya sadari bahwa ibunya memang sudah pergi.


"Tidak ada Ifa, Ibu tidak ada di atas sana (Menirukan Zifa menunjuk ke langit) Ibu ada di rumah, Ifa. Ibu ada di rumah," isak Zara, benar saja ketakutan Zifa menjadi nyata. Kakaknya menangis. Perasaan Zifa menjadi tidak karuan, sebab ia tahu bahwa kakaknya itu kalau nangis suka sulit di tenangkan dan akan menjerit-jerit seolah tengah dipukuli.


"Ifa, ayo pulang! Ifa ayo pulang!" rengek Zara yang membuat Zifa semakin bingung. Bertepatan dengan itu, Kemal masuk ke dalam mobil karena Kemal yang sedang menurunkan barang-barang Zifa dan Zara mendengar ada kegaduhan.

__ADS_1


"Ada apa Zifa?" tanya Kemal dengan suara di pelankan dan meletakan jari telunjuknya di depan bibir, mengisaratkan agar jangan menagis, mungkin saja Zara juga akan mengikuti arahan dia, agar tidak menangis yang nanti justru akan membuat warga berdatangan.


"Kemal, kak Zara tidak mau ikut turun, dia ingin pulang kerumah kita. Gimana ini Kemal," ujar Zifa yang sudah mulai ketakutan, dan matanya pun sudah memerah, seolah ia juga akan mengikuti jejak kakaknya yang menangis.


"Kamu tenang Zifa, jangan ikut kakak kamu panik. Kamu harus bisa ngontrol emosi, jaga kepanikan kamu nanti malah Zara dia ikut panik dan dia akan menangis lebih kencang," ujar Kemal. Sejujurnya Kemal juga takut ketika Zara akan menangis kencang dan membuat keributan. Kemal yang semakin panik karena ternyata semua usahanya dan usaha Zifa tidak bisa membuat Zara tenang. Jalan satu-satunya Kemal menghubungi temanya yang merekomendasikan Zara untuk di rawat di panti sosial ini. Dia adalah teman, tetapi juga bisa di bilang guru dan juga mentor untuk belajar pesikolog. Kemal lebih banyak belajar pengalaman dari Bunda Ana. Yah namanya Bunda Ana dia adalah ibu rumah tangga dengan satu anak, beliau yang juga memiliki adik dengan nasib yang hampir sama dengan Zara, sehingga Bunda Ana memutuskan mengambil kuliah dengan jurusan ini dan membantu orang-orang yang bernasib kurang lebih sama dengan adiknya.


Sekarang adik dari Bunda Ana sudah bisa mengolah emosi bahkan sudah bisa berdampingan dengan masyarakat umum. Di mana biasanya orang-orang normal akan kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang yang memiliki gangguan down syndrom. Maka dari itu bunda Anna merekomendasikan bahwa Zara di rawat di panti itu, dan kemungkinan besar Zara juga akan sama dengan adiknya, bisa berdampingan dengan masyarakat luas dan hidup dengan normal.


"Kenapa Mal?" tanya Bunda Anna dari sebrang telpon sana, setelah hampir empat kali panggilanya tidak di angkat, mungkin Bunda Anna sudah tidur.


"Bun, maaf menggangu malam-malam. Ini Kemal baru sampai di rumah yang Bunda sewakan, tapi masalahnya Zara tidak mau ikut turun dia justru menangis Bun. Sudah dibujuk tapi tidak mau juga Bunda. Apa Bunda ada ide atau mau bantu buat bujuk?" tanya Kemal, tidak enak sebenarnya hampir tengah malam seperti ini tetapi malah ia menganggu waktunya yang seharusnya di gunakan untuk istirahat.


"Tidak apa-apa Kemal, Bunda senang kok kalau Bunda bisa bantu kalian. Baik lah, kalian tunggu sebentar yah, Bunda akan ke sana." Sambungan pun di putus setelah mengucapkan salam.

__ADS_1


Hati Kemal cukup lega setidaknya mungkin saja Bunda Anna bisa membantu, di mana pengalaman beliau sudah jangan di ragukan lagi, beliau adalah orang tua dari banyaknya orang yang kurang beruntung seperti Zara.


__ADS_2