
Pukul tiga suasana ruko sudah berisik dengan suara dari alat-alat kue, di mana Zara, Tasi dan Beni sudah mulai membuat pesanan. Beni entah tidur jam berapa, tetapi begitu suara nyaring dari alat penyembang kue berbunyi laki-laki itu kembali bangun, dan memulai aksinya. Beni dan Tasi memang sudah biasa bekerja di toko kue sehingga sudah berpengalaman untuk urusan beking, sama halnya dengan Zara yang juga pandai urusan perkuehan dan juga mengolah makanan.
Dua laki-laki Alwi dan Ghava, justru masih pulas tertidur meskipun suara gaduh di dapur menggelitik telinganya, tetapi karena kelelahan dan bergadang hingga larut malam. Dua laki-laki dewasa itu mengabaikan suara gaduh itu. Alam mimpi bahkan masih enggan beranjak dari pelukan dua laki-laki itu.
Tidak berbeda dengan Ghava dan Alwi yang masih terlelap dalam buaian alam mimpi. Zifa dan dua ponakanya serta Sisri pengasuh Raja dan Ratu juga masih terlelap dalam alam mimpinya. Dua bayi kembar itu bahkan sudah terbiasa dengan suara gaduh. Di yayasan mereka juga sudah di latih dengan suara-suara yang selalu menggelitik telinga, dan di tempat ini mereka juga akan terbiasa dengan suara yang akan menemani keseharian mereka. Jadi bayi itu sudah kebal telinganya dengan suara nyaring dari alat-alat perkuehan yang saling beradu.
Pukul Enam Zifa baru membuka matanya terbangun karena ponakanya yang saling bersahutan meminta sarapan. Dengan sigap Zifa membantu Mba Sistri menyiapkan susu untuk Raja dan Ratu. Setelah mengurus dua ponakanya Zifa baru turun tentunya setelah mandi lalu mulai membantu mengerjakan semua pesanan dan mengirimkan sesuai alamat yang oder.
"Pagi semua," Sapa Zifa dengan ceria. "Jangan lupa berdoa yah semuanya supaya usaha yang kita rintis hari ini bisa sukses dan memiliki banyak cabang," ucap Zifa sebelum memulai aktifitasnya.
"Amin," jawab semuanya secara serentak. Terlihat juga wajah Zara yang berkeringat, karena dia sudah bekerja dari pukul tiga pagi, tetapi perasaan cerianya terlihat jelas di wajah Zara. Dalam batinya ibu dari dua anak itu, sangat senang karena ini lah cita-cita sebenarnya, dan hari ini berkat bantuan adik dan teman-temanya terutama Alwi, Zara bisa mewujudkan cita-citanya.
__ADS_1
Tangan Zifa dengan cekatan mengemas kue pesanan yang jadwal pengirimanya pagi, lalu setelah siap ia memesan ojek online untuk mengantarkan pesanan sesuai alamat yang sudah di kirimkan. "Alhamdulillah," gumam Zifa ketika satu oderan sudah di kirim. Selanjutnya ia melanjutkan dengan pesanan berikutnya di mana dia juga mulai menata kue-kue yang sudah matang di dalam etalase. Setelah terpasang dengan rapih dan menarik. tanganya kembali memeking oderan yang harus di kirim di jam selanjutnya, jam pengiriman customer yang menentukaan dan Zifa mengikuti permintaan pembeli, yang mau di kirim jam berapa-berapanya.
Sementara Zifa sibuk dengan pekerjaan pertamanya. Ghava yang baru membuka matanya ia berencana pagi ini akan melihar ruko yang Alwi maksud semalam. Sebelumnya Ghava menyalakan ponselnya dan ternyata laporan panggilan dari Eira, Wina dan Kemal saling berebut masuk, dan juga laporan pesan pun tidak ketinggalan saling dulu mendahului masuk ke ponselnya. Satu per atu pesan Ghava baca, setelahnya dia melempar ponselnya. Isi pesan yang ia baca hampir semuanya sama yaitu menanyakan Ghava keberadaanya di mana.
Dari pada pusing memikirkan orang-orang itu Ghava beranjak dari tempat tidur yang sempit itu dan menuju kamar mandi. Bukan tempat tidur yang mewah, kamar mandi yang mewah. Yang selama ini memanjakan hidup Ghava, hanya kamar seadanya, bahkan alas tidur pun jauh dari rasa nyaman, tetapi Ghava senang di sini, selain dia memang menyimpan rasa pada Zifa, Ghava juga merasakan memiliki teman baru. Alwi dan Beni baru tadi malam mereka bertemu dan terlibat obrolan, tetapi Ghava sudah merasakan nyaman dengan dua laki-laki itu. Terutama Alwi yang sangat terlihat sangat bijaksana.
Semalam Ghava sudah banyak saharing dengan dokter Alwi secara gratis, padahal dia adalah dokter psikologi, yang untuk sharing seperti yang Ghava lakukan semalam, biasanya akan membutuhkan biaya yang tidak murah.
Suara tangisan dari bayi berhasil menghentikan langkah Ghava. "Tangis bayi siapa itu," batin Ghava sembari mengintip ke dalam kamar yang berada di sebrang kamar yang Ghava tadi tempati. Hati Ghava tergelitik dengan suara bayi-bayi itu, sepintas pandangan matanya bisa menanggap dua bayi lucu yang sedang saling merengek bersahutan.
Tok... tok... tok... Ghava mengetuk pintu sebelum masuk, meskipun pintu terbuka setengah, dan itu tandanya tidak masalah kalau ada yang masuk, tetapi berhubung Ghava tamu dan juga ia laki-laki maka ia mengetuk pintu dan setelah mendapatkan izin baru masuk ke dalam ruangan yang ada bayi-bayi lucu itu.
__ADS_1
Sisri menoleh ke arah pintu di mana Ghava membalasnya dengan seulas senyuman tenduh dan juga kepala yang menunduk sebagai salam sapaan yang sopan.
"Masuk Mas," jawab Sisri meskipun dia tidak mengenal laki-laki itu sebelumnya, tetapi karena telihat sopan dan juga baik, Sisri pun mengizinkan Ghava untuk masuk.
"Kenapa anaknya Mba? Boleh saya gendong anaknya satu?" tanya Ghava dengan sopan. Pandangan matanya terhipnotis seketika oleh bayi-bayi lucu yang ada di hadapanya itu.
"Boleh Mas, ini yang nangis namanya Raja dan ini yang sedang mainan tangan namanya Ratu, mereka anak asuh saya. Anaknya Teh Ara," jelas Sistri karena sepertinya Ghava salah sangka, mengira dua bayi kembar itu anak dari Sisri.
Ghava terkejut, ternyata dua bayi yang lucu dan menggemaskan itu bukan bayi wanita yang saat ini sedang berbicara di hadapan Ghava. "Oh, jadi bayi ini bukan anak Mbanya?" tanya Ghava dengan kedua mata melebar.
"Bukan Mas, saya hanya mengasuh, Teh Ara sedang sibuk, tapi nanti begitu pekerjaanya sudah sedikit bisa ditinggal, akan datang kesini bermain dengan Raja dan Ratu," jelas Sisri, wanita paruh baya yang mengasuh dua anak Zara adalah pekerja yang terpercaya di yayasan sehingga Bunda Anna mengizinkan Raja dan Ratu diasuh oleh orang lain, terutama yang ngasuh Sisri yang terkenal ulet dan sabar.
__ADS_1