
"Ngomong-ngomong anak bayi yang kemarin kamu jadikan foto profil anak siapa Va?" tanya Abas, laki-laki itu masih dibuat penasaran dengan siapa dua bayi kembar yang cantik dan tampan
"Kan udah dibilang Bang kalau dia itu anak aku," jawab Ghava, gemas sendiri dengan abangnya sudah di bilang kemari, dengan membalas pesan Abas, bahwa anak yang jadi poto profilnya adalah anaknya, tetapi Abas tidak percaya juga. Memangsih kalau tidak percaya, Ghava juga maklum pasti secara logika Abas tidak percaya dengan yang diucapkan adiknya. Tidak semudah itu mengakui anak orang sebagai anak sendiri bambang.
"Anak dari mana Va, loe jangan bercanda, lagian bukannya loe di belanda ajah lebih dari satu tahun, sedangkan wanita hamil sembilan bulan itu anak kan kayaknya baru lahir, enggak masuk akal lah," terka Abas, bahkan Abas secara detail menjabarkan tebakannya tidak masuk akal.
"Ko detail banget, aku jadi enggak bisa bohong lagi deh. Mereka anak tukang kue yang berada di dekat dengan kantor cabang yang baru. Kenapa kok, kayaknya Abang, penasaran banget? Udah pengin punya anak banget yah?" tanya Ghava, lihatnya Ghava juga kasihan sih, apalagi pernikahan sepuluh tahun bukan pernikahan yang sebentar dan juga segala cara sudah di coba tetapi tidak juga punya buah hati, ketika melihat Raja dan Ratu yang kembar itu pasti Abas kepengin juga punya anak seperti itu.
"Kirain anak kamu benaran, pintar banget sih kamu bisa buat kayak mereka, aku itu iri kalau ada anak seperti mereka yang bikin gemas banget, aku pengin punya anak satu ajah tidak di beri, padahal udah pengin banget dapat rezeki kaya gitu biarpun diberi cuma satu, sedangkan orang itu punya anak langsung dua, mana ganteng dan cantik lagi," puji Abas. Dalam ingatan Abas masih ingat betul bagaimana wajah dua anak kembar itu.
"Iya Bang, aslinya mereka luar biasa cantik dan ganteng mana lucu, rasanya ingin bawa pulang satu." Ghava entah sengaja atau tidak membuat Abas semakin berkecil hati. Ingin dia memeriksakan diri lagi, untuk memastikan lagi, apakah Abas ada masalah atau tidak dengan kesehatanya kenapa dia tidak bisa menghamili wanita. Namun, baru-baru Abas menolak pikiranya itu, di mana Lyra sudah beberapa kali hamil, berati dia tidak ada masalah, hanya saja kandungan Lyra yang bermasalah.
Pandangan Abas mengamati kamar Ghava di mana di kamar ini hampir lima bulan Abas selalu melampiaskan hasrat seknya dengan Zara, anak tukang cuci di rumahnya yang bekerja sejak anak dia masih kecil. Namun anak pembantunya itu juga tidak ada tanda-tanda kehamilan hingga nasib buruk menimpa ibunya di temukan tewas ketika bekerja di rumahnya, tentu hal itu membuat seisi rumah kaget, termasuk Abas dan semua anggota kerluarganya tidak kalah kaget dengan kabar tiba-tiba itu.
__ADS_1
Setelah kematianya ibu dari Zara, Abas seolah kehilangan mainanya, mainan yang selalu bisa memuaskan dirinya.
"Zara sekarang kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja," batin Abas dengan kembali membayangkan permainan panas mereka.
*****
"Hist... kebiasaan ini orang," dengus Zifa ketika membaca pesan singkat yang Ghava kirimkan untuk dia. Dimana Ghava meminta Zifa meneleponya dan ingin melihat Raja dan Ratu. Zifa melihat ke ranjang dua ponakanya, di mana Raja masih melek sedangkan Ratu sudah tertidur dengan pulasnya.
Zifa pun akhirnya menekan ikon gambar ponsel, hingga ada tulisan memanggil hingga berganti sampai berdering. Ghava yang sedang mengobrol sembari memegang telpon genggam pun langsung melihat siapa gerangan yang memanggilnya. Sedetik kemudian ujung bibirnya ditarik dengan sempurnya, wajah bahagia terlihat dengan jelas, sampai-sampai Abas yang melihatnya pun kaget.
"Hist... Mas Ghava jangan mancing-mancing deh," decak Zifa dengan memalingkan pandanganya malas, meskipun Zifa sudah menebak bahwa ketika menghubungi Ghava pasti gombalan-gombalan seperti ini seolah selalu akan terdengar sebagai salam sapaan.
"Loh kok hist sih, aminin kek, siapa tahu kan nanti kamu adalah memang tulang rusuk aku kita kan enggak tahu. Tinggal diaminkan, biarin deh Abang nunggu Neng sampe lulus kuliah dan kalau perlu sampai semua cita-cita neng Ifa sampai tercapai Abang akan sabar menunggu," racau Ghava, sembari nada yang menggoda.
__ADS_1
"Ini jadi pengin liat Raja enggak, kalau Ratu udah tidur, tinggal Raja yang masih melek, tapi kalau enggak jadi enggak apa-apa aku matiin terus aku maau mandi," ungkap Zifa, tetap bicaranya dengan nada ketus, tetapi justru yang seperti itu yang membuat Ghava semakin ter Zifa-Zifa. Pokoknya dalam doanya hanya satu jodohnya yaitu Zifa. Tidak ingin ada yang lain, Wina atau wanita lain tidak ada dalam incaran Ghava.
"Jadi dong cantik, aku sampe belum tidur nungguin kamu telpon masa udah telpon malah enggak jadi buat liat ponakan aku rugi dong," goda Ghava. "Selagi aku bermain sama ponakan, kamu mandi yang Fa, baunya sampai sini," ledek Ghava lagi, seolah ledekanya tadi masih kurang buat Zifa kesal. Sontak Ghava pun langsung dapat plototan mata yang sangat Ghava kangenin. Ketika Zifa sedang dalam mode galak seperti ini menambah semangat Ghava buat dekatain Zifa, laki-laki itu pun seolah memiliki keyakinan bahwa di balik sifat galaknya Zifa dia juga memendal perasaan pada Ghava. Hanya saja Ghava tahu batasnya ia juga ingin Zifa bisa sekolah dulu yang bener soal pacaran atau Nikah urusan belakangan.
"Kalau di tempat Mas Ghava bau kayaknya bukan karena aku yang belum mandi, tapi mungki Mas Ghava sedang tidurannya di pinggir tempat sampah," balas Zifa, ponselnya pun langsung diarahkan pada Raja yang sedang bermain jari-jarinya yang imut.
Hahaha... Ghava tertawa renyah, hingga laki-laki itu bisa melupakan sedikit bebanya, yaitu perjodohan yang orang tuanya buat dengan Wina. Disaat Ghava, bahagia dengan orang berada di balik telponya, Abas pun dari tadi menjadi pendengar setia Ghava. Meskipun Abas sebenarnya juga sangat penasaran dengan apa yang sedang adiknya obrolkan. Ingin Abas bertanya siapa di balik telepon itu, tetapi melihat sepertinya Abas sangat bahagia pun tidak jadi bertanya.
Laki-laki yang sedang duduk di samping Ghava hanya menyimak obrolan adiknya itu, dengan lawan bicaranya, dan terlihat sekali bahwa Ghava sangat bahagia. Hingga tanpa dijelaskan Abas juga bisa menebak bahwa Ghava sedang mengobrol dengan wanita yang dicintainya. Tidak mungkin bukan siapa-siapa kalau wanita itu bukan wanita sepesial. Itu yang jadi pikiran Abas.
Dia tentu pernah muda dan pernah juga kasmaran yang ciri-cirinya sama seperti Abas sekarang ini.
"Kasihan Ghava dan cewek itu, terpaksa hubungan mereka pasti tidak akan berakhir bahagia, kalaupun mereka bisa bersatu, pasti akan sulit sekali mendapatkan restu mamih dan papih belum juga Wina yang akan jadi istri Ghava akan di taro di mana," gumam Abas pandangan matanya masih menatap Ghava yang masih asik berbicara dengan orang yang ada di balik telponya, jauh di sana.
__ADS_1
Abas menajamkan pendengaranya, justru dia semakin kepo dengan obrolan Gahav. Tidak hanya kepo obrolan nya, Abas pun kepo kira-kira siapa wanita yang sedang ngobrol. dengan Ghava terus.