Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Cinta Diambang Derita #Episode 175


__ADS_3

Sesuai yang direncanakan oleh Zifa bahwa persidangan hari ini benar-benar sesuai dengan yang ia inginkan. Eira menangis tergugu, bahkan wanita paruh baya itu ingin menyentuh, mencium dan memeluk cucunya Raja dan Ratu.


Namun dari pihak Zifa tidak mengizinkanya dengan alasan keamanan. Kejam?


Yah, mungkin memang mereka terkesan sangat kejam, tetapi inilah konsekuensi yang didapatkan oleh Eira. Sudah diberitahukan tentang anak itu saja seharusnya Eira dan keluarganya sudah bersyukur. Bukan  malah meminta lebih, dan juga niat kedatangan Zifa memperkenalkan Raja dan Ratu, bukan untuk meminta pengakuan.


"Zifa, Zara aku mohon, berikan aku satu kesempatan untuk memeluk atau hanya memegang mereka," lirih  Eira entah itu ucapan keberapa kali dirinya memohon pada dua wanita yang cantik dan juga pakaian yang mereka kenakan bukan pakaian murahan.


Mereka juga sekarang bisa  membeli pakaian mahal, seperti Eira dulu, dan bisa digaris bawahi Zifa dan Zara membelinya bukan hasil merampok uang anak-anak Eira, dia membelinya dari hasil usaha mereka yang makin berkembang dengan pesat.


"Maaf Nyoya, kami tidak mengizinkan, bukanya Anda bisa melihatnya, aku rasa sudah cukup. Kenapa harus memeluk dan memegangnya. Bukanya Anda juga bilang kalau mereka itu anak haram, lalu kenapa Anda ingin memegangnya? Barang yang haram apabila di pegang akan berdosa untuk Anda," balas Zifa dengan sengit. Wanita itu tidak akan berkata seperti itu apabila Eira tidak memulainya.


Dia hanya mengembalikan apa yang seharusnya Eira dapatkan.


"Zifa, bahkan aku sudah menanggung keadilan atas meninggalnya ibu kamu, kenapa kamu tega pada diriku, kalian tidak mengizinkan aku menyetuh cucuku." Eira masih berusaha membujuk Zifa.


"Perlu digaris bahawi oleh Anda, Nyoya Eira yang terhormat. Kami datang dengan membawa  Raja dan Ratu itu bukan ingin mendapatkan hak atas semua yang seharusnya didapatkan oleh mereka, bukan! Dan kami pun tidak menuntut pengakuan dari kalian. Kami hanya ingin kalian tahu bahwa anak yang dulu kalian hina sekarang tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas pandai dan juga baik serta pengertian dengan kondisi kami. Tujuan kami hanya membuat Anda MENYESAL," ucap Zifa dia sudah terlalu marah dengan Eira, bagaimana tidak marah. Ucapan kata MAAF untuk perbuatanya tidak diucapkan barang satu ucap pun.


Meskipun Zifa tidak akan memaafkanya, tetapi setidaknya Eira menyadari perbuatanya, dan mengatakan penyesalan atau apalah yang terpenting ia mengakui perbuatanya. Dia buka Eira yang dulu yang bisa menunjuk apa saja maka bisa menjadi keinginanya. Sekarang dia hanya seorang narapidana yang harus mendekam di tahanan besi.


Setelah Zifa dan Zara cukup berbicara dengan Eira, wanita paruh baya itu pun akhirnya kembali dibawa ke tahanan tanpa bisa memeluk cucu-cucunya yang dia akui kalau itu adalah keinginan terakhirnya.

__ADS_1


Kali ini Zifa dan Zara akan keluar untuk menemui puta putrinya yang sedang bermain dengan Lyra daan Alwi.


"Zifa, Zara bisa kita bicara sebentar." Kali ini Omar yang ingin bicara dengan dua adik dan kaka itu.


Zifa dan Zara saling pandang untuk meminta perestujuan. Zara mengangguk dan Zifa pun akhirnya menyanngupinya juga. Zifa dan Zara mengikuti Omar kesalah satu ruangan mediasai, tidak ada siapa-siapa di dalam ruangan itu hanya ada Omar dan Abas yang sedang duduk di atas kursi roda.


Zifa dan Zara pun saling tatap kembali dalam diam, antara melanjutkan untuk masuk ataukah  meninggalkan mereka.


"Kakak Gimana? Apa kakak siap untuk bertemu dengan dia (Abas)?" tanya Zifa untuk memastikan, terlebih ini pasti lebih membahas soal masa lalu Zara, sehingga Zifa tidak mau membuat Zara tertekan.


Wanita yang berdiri di samping Zifa diam sejenak, tetapi beberapa saat ia pun mengangguk. "Kakak siap," lirih Zara dan mereka pun kembali melanjutkan masuk ke dalam ruangan itu.


"Terima kasih Zifa dan Zara telah memberikan waktunya untuk sekedar berbicara dengan kami," ucap Omar dengan suara yang parau dan berat. Zifa dan Zara pun hanya membalas dengan anggukan lemah. Zifa sekilas menatap Abas yang tengah menunduk dengan penuh penyesalan. Bahkan matanya terlihat merah.


"Panggil Papah saja, kamu adalah menantu saya," balas Omar, lebih terlihat kalau orangnya memang baik, sangat berbeda dengan nada bicara Eira.


"Zara aku mau minta maaf," lirih  Abas yang langsung memohon maaf pada Zara. Sementara Zara sendiri tetap terlihat tenang. Baik Zifa dan Omar pun hanya diam, menyimak apa yang tengah menjadi obrolan antara Zara dan Abas.


"Kalau memaafkan itu yang kamu inginkan, aku akan memaafkan perbuatan kamu, tetapi kalau untuk melupakan dan bersikap baik-baik saja, kami tidak bisa. Terlalu sulit aku menghadapi hidup ku selma ini semua, tidak bisa dilupakan meskipun hanya sekedip mata. Perlakuan kalian, aku masih ingat dengan jelas dan aku tidak akan lupa atas hari-hari setelah ibu meninggal dan sampai detik ini." Zara bericara dengan memejamkan matanya dengan kuat, dia tidak bisa melihat ekspresi wajah Abas maupun yang lainya.


Zifa pun cukup terkejut dengan yang di katakan Zara. Tangan Zifa menggenggam dengan lembut tangan sang kakak, untuk memberikan dukunganya. Wanita itu yakin kalau Zara lebih bisa mengontrol emosinya dari pada Zifa. Sebenarnya Zara lebih kuat dari pada Zifa yang kadang masih butuh seseorang untuk memberikan pengarahan. Kalau Zara seperti orang bodoh, tapi otaknya adalah pengamat yang baik.

__ADS_1


"Aku tahu aku memang udah terlalu jahat pada kamu, aku bukan manusia yang baik, tapi apa kamu tidak memberika kesempatan untuk dekat dengan anak-anak kita," isak Abas, dia tidak lagi mementingkan harga dirinya. Laki-laki itu menangis dengan sedih d hadapan Zara dan Zifa.


"Tidak!! Berubahlah baik, tapi bukan untuk aku dan anak-anak aku, untuk orang yang menyayangi kamu. Jangan sakiti hati siapapun. Biarkan aku bahagia dengan anak-anakku. Masalah Raja dan Ratu tenang saja suatu saat ketika mereka sudah besar akan aku beritahu siapa ayah kandungnya, dan pilihan dia mau memaafkan kamu atau tidak aku tidak ada hal untuk itu, biarkan mereka memutuskan mana yang terbaik untuk hidup mereka." Lagi, Zara berbicara dengan tegas.


"Kalau gitu berikan waktu aku untuk memeluk mereka," mohon Abas.


"Kalau melihat silakan, dan mengobrol biasa, tetapi kalau memeluk berinteraksi lebih. Aku tidak mengizinkan!!" Zifa pun sangat puas dengan keputusan kakaknya.


"Tapi kenapa laki-laki itu bisa memeluk anak-anaku dengan bebas?" protes Abas, iri mungkin itu yang Abas rasakan.


"Karena Alwi adalah ayah angkatnya, dia yang merawat anak-anaku ketika aku sedang sakit mental. Dia tidak menganggap jijik pada anak-anakku meskipun dia lahir dari ibu yang tidak tahu siapa yang telah memperkosanya. Dia tidak pernah membedakan anak-anaku hingga mereka tahu mana orang yang sangat tulus sayang dengan mereka tanpa aku katakan kelebihanya dan kekuranganya." Zara semakin dibuat geram dengan pertanyaan Abas, bahkan suaranya terdengan berat karena tenggorokanya sakit.


"Zifa ayuk kita pulang, bukanya kita akan ke makam ibu dan Bapak untuk mengabarkan kabar bahagia ini," ucap Zara dengan beranjak berdiri.


"Zara apa Papah boleh bertemu dengan Raja dan Ratu?" tanya Omar dengan suara yang tenang.


"Anda adalah mertua dari adik saya, jadi silahkan datang kalau ingin bertemu mereka," jawab Zara dengan memberikan seulas senyum pada Omar bukan pada Abas. Dua wanita itu pun meninggalkan ruangan itu tanpa memberikan salam perpisahan.


"Apa kakak Lega?" tanya Zifa, sembari menggenggam tangan Zara semakin kuat.


"Rasanya satu per satu ikatan di tubuh kakak sudah lepas."

__ADS_1


#Kalian wanita kuat ( Emot love)


__ADS_2